Program CKG Dinilai Bantu Tingkatkan Kesehatan Berkualitas di Sekolah
Jakarta – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah dinilai menjadi langkah strategis pemerintah dalam memperkuat kualitas kesehatan peserta didik sekaligus mendukung peningkatan mutu pendidikan nasional. Upaya ini dipandang penting karena kondisi kesehatan siswa memiliki hubungan langsung dengan kemampuan belajar, konsentrasi, hingga produktivitas di lingkungan sekolah.
Pengamat Kebijakan Publik, Trubus Rahadiansyah mengatakan bahwa program CKG Sekolah tidak hanya berfungsi sebagai pemeriksaan kesehatan rutin, tetapi juga menjadi instrumen deteksi dini terhadap berbagai persoalan kesehatan anak usia sekolah yang selama ini kerap luput dari perhatian. Banyak siswa mengalami gangguan kesehatan yang berdampak pada kualitas pembelajaran, mulai dari penyakit degeneratif hingga penyakit menular.
“Program ini mendesak karena ditengarai banyak anak-anak sekolah terkena penyakit yang sifatnya degeneratif. Selain itu juga ada penyakit-penyakit jenis menular, jadi penyakit-penyakit ini kan bisa dideteksi melalui CKG ini,” ujar Trubus.
Pelaksanaan program CKG Sekolah dinilai relevan dengan kebutuhan dunia pendidikan saat ini. Selama ini, fokus peningkatan kualitas pendidikan sering kali lebih banyak diarahkan pada aspek kurikulum, teknologi pembelajaran, dan peningkatan kompetensi guru. Padahal, faktor kesehatan siswa merupakan fondasi utama yang menentukan efektivitas proses belajar di kelas. Siswa dengan kondisi kesehatan yang buruk cenderung mengalami penurunan konsentrasi, mudah lelah, dan kesulitan mengikuti pelajaran secara optimal.
Selain membantu mendeteksi penyakit sejak dini, program CKG juga dianggap mampu memberikan basis data kesehatan siswa secara nasional. Data tersebut dapat digunakan pemerintah untuk memetakan persoalan kesehatan anak sekolah secara lebih sistematis sehingga kebijakan intervensi yang dibuat menjadi lebih akurat dan terukur. Pendekatan berbasis data seperti ini penting agar program kesehatan dan pendidikan tidak berjalan secara terpisah, melainkan saling mendukung dalam membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Trubus juga menyoroti pentingnya edukasi kesehatan kepada masyarakat, khususnya orang tua siswa. Menurutnya, masih banyak orang tua yang belum memahami pentingnya pemeriksaan kesehatan berkala bagi anak-anak mereka. Karena itu, keberadaan program CKG dapat menjadi sarana edukasi publik mengenai pentingnya menjaga kesehatan sejak usia sekolah.
Sementara itu, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI Muhammad Qodari mengatakan bahwa kondisi kesehatan siswa sangat memengaruhi kualitas pembelajaran di sekolah. Pemerintah menjalankan program CKG Sekolah untuk memastikan pemeriksaan kesehatan dilakukan lebih dini sehingga penanganan terhadap masalah kesehatan siswa dapat dilakukan lebih cepat.
“Melalui program ini, pemerintah tidak hanya menjaga kesehatan siswa. Ini juga membangun fondasi SDM yang lebih sehat, produktif, dan siap menghadapi masa depan,” ujar Qodari.
Hasil Program CKG Sekolah 2025 menunjukkan masalah kesehatan siswa masih cukup tinggi, terutama gangguan kebugaran 60,69 persen, karies gigi 47,24 persen, dan anemia 27,49 persen. Sementara hingga awal Mei 2026, sebanyak 4,8 juta siswa di 45.596 sekolah telah mengikuti skrining kesehatan. Data terbaru juga mencatat masalah kesehatan terbanyak berupa gigi berlubang 41,5 persen, tekanan darah meningkat 22,1 persen, dan penumpukan kotoran telinga 8,6 persen. Temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan anak sekolah masih memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak.
Keberhasilan program CKG tidak cukup hanya bergantung pada pemerintah pusat. Dukungan pemerintah daerah, sekolah, tenaga kesehatan, hingga keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting agar program dapat berjalan berkelanjutan dan menjangkau seluruh wilayah, termasuk daerah 3T. Dengan pelaksanaan yang konsisten dan merata, program CKG berpotensi menjadi salah satu fondasi penting dalam menciptakan generasi muda yang sehat, produktif, dan memiliki daya saing tinggi di masa depan.
