Category Collection

Popular

September Hitam Harus Jadi Ruang Ingatan Kolektif, Bukan Mobilisasi Emosi

Oleh: Rania Zafirah)* September kembali menjadi momentum bagi masyarakat untuk mengingat berbagai peristiwa kelam dalam perjalanan bangsa. Istilah September Hitam berkembang sebagai simbol untuk mengenang sejumlah kasus kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang masih menjadi bagian dari ingatan publik. Momentum tersebut penting karena mengingat sejarah bukan sekadar menghadirkan kembali luka masa lalu, tetapi juga membangun…

Read More

September Hitam Jangan Menjadi Panggung Mobilisasi Kebencian yang Merusak Demokrasi

Oleh: Indah Prameswari)* Setiap September, ruang publik Indonesia kembali diwarnai refleksi mengenai berbagai peristiwa yang pernah menjadi bagian dari perjalanan bangsa. Momentum ini dapat menjadi kesempatan bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memahami sejarah, memperkuat kepedulian terhadap nilai kemanusiaan, serta melihat pentingnya menjaga kehidupan demokrasi secara sehat. Refleksi terhadap masa lalu akan lebih bermakna apabila diarahkan…

Read More

Isu September Hitam, Aspirasi Disampaikan Tertib dan Sesuai Aturan Tanpa Provokasi Anarkistis

Jakarta – Isu yang berkembang dengan narasi “September Hitam” mendapat perhatian pemerintah dan aparat keamanan seiring munculnya ajakan penyampaian aspirasi di sejumlah wilayah. Masyarakat tetap memiliki ruang untuk menyampaikan kritik dan tuntutan secara terbuka, namun pelaksanaannya perlu dilakukan secara tertib, damai, dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Penyampaian pendapat di muka umum merupakan bagian dari…

Read More

Sejumlah Pihak Ingatkan September Hitam Jangan Berubah Jadi Mobilisasi Emosi

Jakarta – Sejumlah pihak mengingatkan agar isu September Hitam tidak berkembang menjadi mobilisasi emosi maupun provokasi yang dapat mengganggu ketertiban masyarakat. Pengamat politik Indeks Data Nasional, Ayip Tayana, menilai isu September Hitam di media sosial sebagai bentuk aktivisme digital yang positif, namun perlu dijaga agar tidak berkembang menjadi mobilisasi massa berbasis kebencian. “Fenomena September Hitam…

Read More

Koperasi Merah Putih Membuktikan Pemerintah Serius Menutup Kebocoran Subsidi

Oleh : Catur Ronggo*) Kebocoran subsidi bukan sekadar persoalan anggaran yang hilang di tengah rantai distribusi. Di balik subsidi yang tidak tepat sasaran, terdapat hak masyarakat yang seharusnya menerimamanfaat kebijakan negara. Karena itu, langkah pemerintah memperkuat Koperasi Merah Putih              sebagai saluran distribusi barang subsidi patut dibaca sebagai upaya seriusmemperbaiki tata kelola sekaligus memastikan manfaat anggaran negara sampai kepadamasyarakat yang berhak. Kebijakan tersebut menjadi semakin relevan ketika pemerintah mulai memperkuatpengawasan distribusi melalui koordinasi lintas kementerian. Koperasi Merah Putih tidak lagihanya dipandang sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi desa, tetapi diarahkan menjadibagian dari infrastruktur pemerintah untuk menyalurkan berbagai kebutuhan bersubsidisecara lebih terukur, dekat dengan masyarakat, dan mudah diawasi. Mantan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai operasional Koperasi Merah Putih               dapat menekan kebocoran distribusi barang subsidi, mekanisme tersebut akanmembuat barang subsidi disalurkan melalui koperasi sehingga pemerintah mempunyai jalurdistribusi yang lebih jelas untuk melakukan pengawasan. Ia memperkirakan penghematandapat menjadi signifikan apabila koperasi berjalan dengan baik dan pengawasan dilakukansecara konsisten. Purbaya juga menjelaskan pemerintah telah membentuk satuan tugas yang melibatkanKementerian Keuangan, Badan Pengaturan BUMN, dan Kementerian Koperasi. Satgastersebut diperlukan untuk memastikan pemanfaatan Koperasi Merah Putih berjalan optimal, termasuk dalam pengawasan penyaluran barang subsidi. Langkah ini memperlihatkan bahwapemerintah tidak hanya membangun jaringan koperasi, tetapi juga menyiapkan mekanismepengawasan agar kebijakan tidak berhenti pada aspek kelembagaan. Penyaluran barang subsidi melalui koperasi juga berpotensi menciptakan manfaat ekonomibagi desa. Keuntungan dari aktivitas koperasi dapat mendukung operasional dan pada akhirnya masuk ke desa tempat koperasi tersebut berada. Dengan demikian, kebijakanpemerintah memiliki dua sasaran sekaligus, yaitu mengurangi kebocoran subsidi dan menciptakan aktivitas ekonomi yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat desa. Menteri Koperasi Ferry Juliantono memperkuat arah kebijakan tersebut denganmenempatkan Koperasi Merah Putih sebagai pusat distribusi berbagai barang subsidipemerintah. LPG tiga kilogram, pupuk bersubsidi, beras, dan minyak goreng termasukkomoditas yang diarahkan melalui jaringan koperasi, kebijakan tersebut merupakan bagiandari keputusan pemerintah untuk menjadikan koperasi sebagai infrastruktur ekonomi yang menjangkau masyarakat hingga tingkat desa. Ferry juga menegaskan bahwa fungsi koperasi tidak berhenti pada penyaluran barang. Koperasi Merah Putih diproyeksikan menjadi pembeli siaga atau offtaker bagi produkunggulan masyarakat desa. Fungsi tersebut penting karena koperasi dapat menyerap hasilproduksi petani, nelayan, peternak, maupun pelaku usaha desa sehingga manfaat keberadaankoperasi tidak hanya dirasakan dari sisi konsumsi, tetapi juga dari sisi produksi. Dengan posisi tersebut, Koperasi Merah Putih dapat menjadi penghubung antara kebijakansubsidi dan penguatan ekonomi lokal. Barang kebutuhan masyarakat disalurkan melaluikoperasi, sementara produk masyarakat desa dapat kembali masuk ke jaringan ekonomimelalui koperasi. Rantai distribusi yang lebih pendek diharapkan mampu meningkatkanefisiensi sekaligus memperkuat posisi masyarakat desa dalam kegiatan ekonomi. Kepala Badan Pengaturan BUMN Dony Oskaria kemudian memberikan gambaran mengenaipotensi penghematan yang dapat dihasilkan. Ia menyebut Koperasi Desa Merah Putih berpotensi menghemat subsidi yang tidak tepat sasaran hingga sekitar Rp150 triliun per tahunapabila jaringan koperasi dimanfaatkan sebagai kanal distribusi barang subsidi pemerintahsampai tingkat desa. Potensi tersebut tentu bukan angka yang muncul tanpa prasyarat. Dony menjelaskanpemerintah bersama Kementerian Keuangan dan Kementerian…

Read More

Pemerintah Tepat Menjadikan Koperasi Merah Putih sebagai Kanal Subsidi Desa

Oleh : Radjiman Arif*) Penyaluran subsidi merupakan salah satu bentuk kehadiran negara yang paling dekat dengankehidupan masyarakat. Karena itu, memastikan bantuan dan barang bersubsidi diterima oleh kelompok yang berhak bukan hanya persoalan administrasi, melainkan bagian penting daritanggung jawab pemerintah dalam menjaga daya beli dan kesejahteraan rakyat. Dalamkonteks tersebut, keputusan pemerintah menjadikan Koperasi Merah Putih sebagai kanalpenyaluran subsidi merupakan langkah strategis yang patut diapresiasi. Kebijakan ini menunjukkan adanya upaya pemerintah membangun sistem distribusi yang lebih dekat dengan masyarakat. Koperasi yang berada di tingkat desa dan kelurahan dapatmenjadi penghubung antara kebijakan pemerintah dengan kebutuhan masyarakat sehari-hari. Dengan jaringan yang tersebar luas, distribusi berbagai bantuan dan barang subsididiharapkan dapat berlangsung lebih terarah sekaligus membuka ruang pengawasan yang lebihkuat. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menjelaskan bahwa KoperasiMerah Putih diposisikan sebagai infrastruktur pemerintah untuk menyalurkan bantuan sosial, bantuan pemerintah, serta berbagai barang subsidi. Kebijakan tersebut merupakan keputusanpemerintah agar distribusi bantuan dan barang subsidi dapat dipusatkan melalui koperasiyang berada dekat dengan masyarakat. Zulhas juga menyampaikan bahwa Koperasi Merah Putih tidak hanya diarahkan sebagaisaluran distribusi. Koperasi tersebut diharapkan mampu berperan sebagai offtaker ataupenyerap hasil produksi masyarakat desa. Dengan demikian, keberadaan koperasi dapatmempertemukan dua kebutuhan sekaligus, yakni menyalurkan barang yang dibutuhkanmasyarakat dan menyerap hasil produksi lokal. Model tersebut berpotensi menciptakanperputaran ekonomi yang lebih kuat di tingkat desa. Arah tersebut menjadi semakin penting karena pemerintah menargetkan ribuan KoperasiMerah Putih mulai beroperasi pada September 2026. Pemerintah juga terus melakukanpembenahan terhadap pelaksanaan program, termasuk memastikan koperasi dapat berfungsisebagai infrastruktur ekonomi yang benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat. Langkah itu kemudian diperkuat oleh mantan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Menurutnya, Koperasi Merah Putih dapat membantu pemerintah menekan kebocoran dalamdistribusi barang subsidi. Ketika barang subsidi disalurkan melalui jaringan koperasi, pemerintah mempunyai jalur distribusi yang lebih jelas untuk dipantau. Apabila mekanismetersebut berjalan dengan baik dan pengawasan dilakukan secara konsisten, penghematansubsidi dapat menjadi signifikan. Purbaya juga menjelaskan bahwa pemerintah telah menyepakati pembentukan satuan tugaslintas kementerian untuk mengoptimalkan operasional Koperasi Merah Putih. Satgas tersebutmelibatkan Kementerian Keuangan, Badan Pengaturan BUMN, dan Kementerian Koperasi. Pembentukan satgas memperlihatkan bahwa pemerintah tidak ingin program ini berjalantanpa pengawasan, tetapi berupaya membangun mekanisme koordinasi agar distribusi subsididapat berlangsung secara tepat sasaran. Langkah ini sekaligus memperlihatkan bahwapemerintah menempatkan desa sebagai bagian penting dalam reformasi distribusi subsidi dan penguatan ekonomi nasional secara berkelanjutan. Perkembangan tersebut penting karena persoalan subsidi bukan hanya menyangkut besarnyaanggaran, tetapi juga efektivitas distribusi. Purbaya bahkan menyebut potensi penghematandari subsidi yang selama ini tidak tepat sasaran dapat mencapai sekitar Rp150 triliun per tahun apabila sistem distribusi melalui Koperasi Merah Putih berjalan sesuai harapan. Angka tersebut menunjukkan besarnya ruang efisiensi yang dapat diciptakan melalui perbaikan tata kelola. Dari perspektif pembangunan desa, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah TertinggalYandri Susanto (Yandri) menilai Koperasi Merah Putih harus memberikan manfaat langsungbagi masyarakat dan pemerintah desa. Sebagian keuntungan koperasi dapat menjadiPendapatan Asli Desa, sementara manfaat lainnya kembali kepada masyarakat. Skema tersebut membuat keberhasilan koperasi tidak hanya diukur dari aktivitas perdagangan, tetapijuga dari kontribusinya terhadap perekonomian desa. Yandri juga menekankan pentingnya mengoptimalkan potensi ekonomi yang dimiliki setiapdesa. Koperasi dapat menjadi wadah yang menghubungkan produksi masyarakat denganpasar, sehingga petani, nelayan, peternak, dan pelaku usaha lokal memperoleh akses yang lebih baik. Jika fungsi tersebut berjalan, Koperasi Merah Putih tidak hanya menjadi tempatpenyaluran subsidi, tetapi juga dapat menjadi penggerak ekonomi produktif di tingkat desa. Rangkaian kebijakan tersebut memperlihatkan bahwa keputusan pemerintah menjadikanKoperasi Merah Putih sebagai kanal subsidi memiliki tujuan yang lebih luas. Pemerintahberupaya mendekatkan bantuan kepada masyarakat, memperkuat pengawasan, mengurangipotensi kebocoran, sekaligus menciptakan aktivitas ekonomi baru di desa. Tantanganimplementasi tentu tetap ada, terutama terkait kualitas data, profesionalisme pengelola, transparansi, dan pengawasan di lapangan. Pada dasarnya, langkah pemerintah membangun jaringan koperasi, menyiapkan sistemdistribusi, membentuk satgas, serta memastikan keberlanjutan pembiayaan menunjukkanadanya keseriusan dalam mengawal program. Jika seluruh mekanisme tersebut dijalankansecara konsisten, Koperasi Merah Putih dapat menjadi instrumen penting untuk membuatsubsidi lebih tepat sasaran sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi desa. Kebijakan inipada akhirnya memperlihatkan komitmen pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untukmemastikan anggaran negara memberikan manfaat nyata, langsung, dan berkelanjutan bagimasyarakat hingga tingkat desa. *) Penulis merupakan Pengamat Sosial

Read More

Koperasi Merah Putih Bantu Subsidi Lebih Tepat Sasaran

Jakarta – Mantan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah tengah memperkuat pengawasan dan penyaluran barang bersubsidi melalui Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah Putih). Skema tersebut diharapkan dapat menekan kebocoran subsidi sekaligus memastikan bantuan pemerintah diterima masyarakat yang benar-benar berhak. Purbaya mengatakan pemerintah telah membentuk satuan tugas (Satgas) gabungan bersama BPI Danantara dan Kementerian…

Read More

Koperasi Merah Putih Berpotensi Hemat Subsidi Negara Rp150 Triliun per Tahun

JAKARTA – Pemerintah terus memperkuat Koperasi Merah Putih sebagai instrumen untuk memperbaiki tata kelola distribusi subsidi sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat desa. Kebijakan tersebut berpotensi memberikan efisiensi anggaran karena penyaluran barang subsidi dapat dilakukan melalui jaringan koperasi hingga tingkat desa. Kepala Badan Pengaturan BUMN Dony Oskaria menyebut Koperasi Merah Putih berpotensi menghemat anggaran subsidi yang tidak…

Read More

APBN Sehat Membuktikan Pemerintah Serius Menjaga Uang Negara

*) Oleh Deka Bayu Dirgantara Pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menjadi salah satu ukuran penting untuk melihat keseriusan pemerintah dalam menjaga keuangan negara. APBN bukan sekadar kumpulan angka tentang penerimaan dan pengeluaran, tetapi merupakan instrumen yang menentukan bagaimana uang negara digunakan untuk membiayai pembangunan dan memberikan pelayanan kepada masyarakat. Hingga semester I 2026,…

Read More

Pemerintah Tepat Menjaga APBN Sehat Tanpa Mengorbankan Program Prioritas Rakyat

Oleh: Dwi Saputri)* Menjaga kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tanpa mengorbankan program prioritas merupakan langkah tepat di tengah kebutuhan pembangunan dan dinamika ekonomi yang terus berkembang. Disiplin fiskal dan keberpihakan kepada masyarakat tidak semestinya dipertentangkan. APBN yang sehat justru menjadi fondasi agar pemerintah memiliki ruang untuk membiayai pembangunan dan menjaga kesejahteraan rakyat secara…

Read More