Category Collection

Popular

MBG di Daerah 3T Menjadi Bukti Negara Hadir untuk Anak Bangsa

Oleh: Catur Ronggo*) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sedang memasuki fase penting: memperkuatpemerataan manfaat hingga wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Bagi Indonesia, keberhasilan program ini tidak cukup diukur dari banyaknya porsi yang tersalurkan, tetapidari kemampuan negara menjangkau kelompok yang selama ini menghadapi hambatangeografis dan akses layanan. Ketika prioritas mulai diarahkan ke daerah dengan persoalangizi dan stunting tinggi, MBG bergerak dari sekadar program bantuan pangan menjadiinstrumen pembangunan manusia. Sekretaris Dewan Pembina PSI Grace Natalie menilai penegasan Presiden Prabowo Subianto mengenai kelanjutan MBG harus diterjemahkan melalui pemerataan. Menurut Grace, anakyang berada di wilayah dengan persoalan stunting paling berat semestinya memperolehperhatian lebih dahulu. Pandangan ini penting karena keadilan program publik bukan berartisemua daerah diperlakukan secara identik, melainkan setiap wilayah mendapatkan dukungansesuai tingkat kebutuhannya.  Data mengenai sebaran layanan menunjukkan tantangan tersebut masih nyata. Grace menyoroti bahwa lima wilayah dengan prevalensi stunting tertinggi, yakni Papua Pegunungan, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, Papua Tengah, dan Papua Barat Daya, memiliki jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang belum mencapai dua persen dari sekitar 28 ribu SPPG secara nasional. Kondisi ini memperlihatkan bahwaekspansi MBG memang perlu lebih agresif diarahkan ke lokasi yang paling membutuhkan. Di sinilah pendekatan pemerintah melalui MBG 3B menjadi relevan. Menteri Kependudukandan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji memperluas perhatian kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, termasuk masyarakat adat Baduy di Kabupaten Lebak. MenurutWihaji, ketiadaan sekolah formal di suatu wilayah tidak boleh membuat kelompok rentankehilangan hak atas pemenuhan gizi. Pemerintah perlu hadir dengan cara yang sesuaikarakter masyarakat setempat, termasuk melalui pendekatan budaya. Peran Kemendukbangga/BKKBN dalam distribusi juga menunjukkan bahwa MBG tidakdirancang sebagai kebijakan yang bekerja sendiri. Pendamping keluarga memiliki posisipenting untuk memastikan sasaran 3B teridentifikasi dan bantuan dapat disalurkan secaratepat. Pola tersebut memperlihatkan upaya pemerintah menghubungkan kebijakan pangan, kesehatan keluarga, pencegahan stunting, dan pembangunan kualitas manusia dalam saturangkaian intervensi. Tantangan geografis kemudian dijawab dengan penyesuaian mekanisme. Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Muhammad Qodari menjelaskan bahwa pemerintah menyiapkanskema khusus bagi wilayah 3T karena karakter geografis dan kepadatan penduduknyaberbeda dari wilayah perkotaan. Skema SPPG konvensional tidak selalu dapat diterapkansecara sama di daerah terpencil, sehingga pemerintah mengkaji alternatif pelayanan, termasuk pemanfaatan fasilitas yang sudah tersedia. Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa negara tidak sekadar memperluas angka cakupan, tetapi juga mencoba menyesuaikan desain program dengan realitas lapangan. Daerah denganjarak tempuh panjang, jumlah penduduk rendah, dan keterbatasan infrastruktur memangmembutuhkan model distribusi yang berbeda. Fleksibilitas menjadi syarat agar prinsippemerataan tidak berhenti sebagai slogan. Perubahan arah itu semakin terlihat dari langkah Badan Gizi Nasional. Kepala BGN Sudaryono menyampaikan bahwa pemerintah sedang menyisir sekitar 13 ribu titik dapurMBG…

Read More

Percepatan MBG 3T Wujud Keadilan Gizi dari Pusat hingga Pelosok

Oleh : Radjiman Arif*) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) semakin menunjukkan arah kebijakan yang tidakhanya berorientasi pada perluasan cakupan, tetapi juga pemerataan manfaat hingga wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Percepatan layanan di Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua menjadi bukti bahwa pemerintah menempatkan pemenuhan gizi sebagai bagianpenting dari agenda pembangunan sumber daya manusia. Dalam konteks geografis Indonesia yang sangat beragam, menghadirkan layanan dasar hingga pelosok merupakan tantangansekaligus ukuran nyata kehadiran negara. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan bahwa percepatan SatuanPelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah 3T merupakan keputusan pemerintah yang mencakup seluruh NTT, Maluku, dan enam provinsi di Papua. Saat meninjau kesiapan SPPG di Kabupaten Sikka, NTT, ia menekankan bahwa keterbatasan geografis tidak boleh menjadialasan untuk menurunkan kualitas MBG. Standar menu dan kandungan gizi harus tetapdipertahankan sehingga anak-anak di daerah terpencil memperoleh manfaat yang setaradengan penerima di wilayah lainnya. Penegasan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak sekadar mengejar jumlah penerimamanfaat. Percepatan juga dibarengi dengan penataan pelaksanaan agar SPPG di wilayah terpencil mampu beroperasi sesuai standar. Saat ini, sekitar 62,6 juta penerima manfaat telahdilayani melalui 27.485 SPPG, dengan dukungan 134.881 pemasok lokal yang terdiri atasUMKM, BUMDes, koperasi, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, serta pemasok lainnya. Di wilayah 3T sendiri, pemerintah menata 1.703 SPPG, sementara 170 SPPG di NTT telahtervalidasi siap beroperasi. Percepatan tersebut memiliki urgensi tersendiri bagi daerah yang masih menghadapipersoalan gizi. Data yang disampaikan pemerintah menunjukkan prevalensi stunting NTT berdasarkan SSGI 2024 mencapai 37 persen. Karena itu, perluasan MBG ke daerah prioritasdapat ditempatkan sebagai investasi jangka panjang untuk memperbaiki kualitas generasimendatang. Intervensi gizi yang dilakukan secara konsisten sejak usia sekolah berpotensimemperkuat kemampuan belajar, kesehatan, dan produktivitas anak ketika memasuki usiadewasa. Komitmen pemerintah pusat juga terlihat dari perhatian Wakil Presiden Gibran RakabumingRaka terhadap pelaksanaan MBG di Asmat,…

Read More

Pemerintah Prioritaskan MBG untuk Daerah 3T dan Kelompok Rentan

Jakarta – Pemerintah memprioritaskan percepatan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), termasuk wilayah dengan tingkat kerawanan gizi tinggi. Langkah tersebut dilakukan melalui penataan dan percepatan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di sejumlah wilayah prioritas. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengatakan pemerintah telah menetapkan seluruh wilayah…

Read More

Pemerintah Pastikan MBG di Daerah 3T Tetap Penuhi Standar Gizi

Jakarta – Pemerintah memastikan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) terus diperkuat dengan tetap mengutamakan kecukupan gizi, keamanan pangan, dan kualitas makanan bagi penerima manfaat. Kondisi geografis dan tantangan distribusi menjadi perhatian agar masyarakat di wilayah 3T tetap memperoleh manfaat program secara optimal. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN),…

Read More

Swasembada Pangan Tercapai Lebih Cepat dari Target

Oleh: Syarif Ahmad *) Keberhasilan Indonesia meraih kembali kemandirian pangan dalam waktu yang relatif singkat menjadi bukti nyata dari komitmen kuat pemerintah dalam mewujudkan kedaulatan nasional yang berdikari. Momentum peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia terasa kian bermakna dengan hadirnya kado kebangkitan sektor pertanian nasional. Target awal pencapaian swasembada yang semula dirancang memakan…

Read More

Swasembada Pangan Multi Komoditas, Sinyal Kuat Indonesia Makin Mandiri

Oleh: Demas Pranata *) Keberhasilan Indonesia meraih status swasembada pangan untuk berbagai komoditas strategis menandai tonggak sejarah baru dalam memperkokoh kedaulatan ekonomi nasional. Dalam pidato kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI, Presiden Prabowo Subianto menegaskan keberhasilan negara mencapai swasembada pada delapan komoditas pangan utama di tengah himpitan krisis geopolitik global dan tantangan perubahan iklim El…

Read More

Di Tengah Ancaman Iklim, Swasembada Pangan Menjadi Benteng Ketahanan Indonesia

Jakarta – Capaian swasembada delapan komoditas strategis menjadi benteng penting bagi Indonesia dalam menghadapi ancaman perubahan iklim, ketidakpastian geopolitik, serta potensi krisis pangan global. Penguatan produksi dan cadangan nasional membuat kebutuhan masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan dari luar negeri. Presiden Prabowo Subianto dalam Pidato Kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD, menyampaikan…

Read More

Pemerintah Perkuat Ekosistem Pertanian untuk Jaga Kedaulatan Pangan Nasional

Jakarta – Pemerintah terus memperkuat ekosistem pertanian dari hulu hingga hilir untuk menjaga kedaulatan pangan nasional. Kebijakan tersebut dijalankan melalui pengembangan lahan, perbaikan irigasi, mekanisasi, penyediaan benih dan pupuk, pendampingan petani, serta penguatan penyerapan hasil panen. Wakil Ketua DPD RI Tamsil Linrung menilai arah kebijakan yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam Pidato Kenegaraan pada Sidang…

Read More

Jaminan Pangan untuk Penyintas Gempa NTT, Bukti Pemerintah Bergerak Melindungi Rakyat

Oleh: Dhita Karuniawati )* Pemerintah memastikan kebutuhan pangan masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) tetap aman di tengah situasi darurat dan potensi gempa susulan. Jaminan tersebut diperkuat dengan kesiapan cadangan beras dalam jumlah besar serta percepatan distribusi ke wilayah yang terdampak. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau Zulhas mengatakan bahwa masyarakat…

Read More

Dokumen Gratis dan Pangan Aman Menjadi Harapan Baru bagi Penyintas Gempa NTT

Oleh: Ulfah Bunga)* Gempa bumi yang mengguncang sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak hanya menyebabkan kerusakan rumah dan fasilitas umum, tetapi juga menghadirkan tantangan bagi masyarakat untuk kembali menjalani kehidupan sehari-hari. Di tengah proses pemulihan, kebutuhan dasar seperti pangan dan kepastian administrasi kependudukan menjadi hal penting yang harus segera dipenuhi. Berbagai langkah pemerintah dalam penanganan…

Read More