Category Collection

Popular

Respons Cepat Bencana Tunjukkan Pemerintah Tidak Tinggal Diam Saat Rakyat Terdampak

Oleh Herlina Dwiyani )* Indonesia merupakan negara dengan bentang alam yang luar biasa sekaligus memiliki tingkat kerawanan bencana yang tinggi. Letaknya di kawasan Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire membuat ancaman gempa bumi, erupsi gunung api, tsunami, tanah longsor, banjir, hingga kekeringan menjadi bagian dari tantangan yang harus dihadapi secara serius. Dalam kondisi tersebut,…

Read More

Pemerintah Terus Memperkuat Mitigasi Bencana, Warga Lebih Aman dan Tenang

Oleh: Rania Zafirah)* Indonesia merupakan negara dengan karakter geografis yang membuat masyarakat menghadapi beragam potensi bencana, mulai dari banjir, tanah longsor, gempa bumi, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan hingga aktivitas vulkanik. Kondisi tersebut membuat kesiapsiagaan tidak dapat dilakukan hanya ketika bencana terjadi, tetapi harus dibangun melalui mitigasi, pemantauan, sistem peringatan dini, penguatan infrastruktur, serta koordinasi lintas sektor….

Read More

Presiden Prabowo Dorong Kesiapsiagaan Nasional Hadapi Bencana Alam Beruntun

Jakarta – Presiden Prabowo Subianto mendorong penguatan kesiapsiagaan nasional dalam menghadapi berbagai bencana alam yang terjadi secara beruntun di sejumlah wilayah Indonesia. Presiden meminta jajarannya agar tidak hanya berfokus pada penanganan ketika bencana terjadi, tetapi juga memperkuat mitigasi dan memastikan berbagai kebutuhan penanggulangan telah disiapkan sejak awal. Presiden Prabowo mengatakan kondisi geografis Indonesia yang berada…

Read More

Presiden Prabowo Pastikan Anggaran Mitigasi Bencana Ditambah Signifikan

Jakarta – Pemerintah memperkuat kesiapsiagaan nasional menghadapi berbagai potensi bencana dengan menyiapkan peningkatan anggaran mitigasi secara signifikan. Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa posisi Indonesia di kawasan Ring of Fire menuntut kesiapan yang lebih baik melalui penguatan sistem mitigasi, sarana pendukung, dan perencanaan yang matang guna mengantisipasi berbagai bencana alam yang dapat terjadi sewaktu-waktu. “Jadi, ini…

Read More

Pemerintah Perluas Dukungan Benih Padi Berkualitas untuk Dongkrak Hasil Panen

Oleh: Rizky Pratama Pemerintah dinilai perlu terus memperluas dukungan terhadap penggunaan benih padi berkualitas dan teknologi pertanian modern karena peningkatan produktivitas menjadi salah satu kunci menjaga ketahanan pangan nasional. Kementerian Pertanian menyiapkan subsidi benih padi untuk sedikitnya 1 juta hektare lahan pada 2027 sebagai langkah strategis meningkatkan produksi gabah sekaligus mempercepat penerapan teknologi pertanian di berbagai…

Read More

Subsidi Benih Padi Jadi Upaya Pemerintah Tingkatkan Produktivitas dan Ketahanan Pangan

Oleh: Aditya Mahendra Pemerintah tampaknya semakin serius menggarap sektor pangan dengan menyiapkan skemasubsidi benih padi yang menyasar minimal satu juta hektare lahan pada 2027 mendatang. Langkah ini bukan sekadar formalitas anggaran tahunan, melainkan bagian dari strategi besaruntuk mendongkrak produksi gabah nasional sekaligus memperkuat fondasi ketahanan pangan di tengah ketidakpastian iklim global. Kementerian Pertanian melalui Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan bahwajika subsidi benih ini diterapkan pada satu juta hektare dengan asumsi tambahan produksisebesar lima ton per hektare, maka produksi gabah kering giling diperkirakan akan bertambahhingga lima juta ton. Hitungan ini disampaikan Amran saat meninjau lahan pertanian di DesaCiasem, Subang, Jawa Barat, Rabu 2 September lalu, di mana ia menegaskan bahwa anggaranuntuk tahun depan sudah disiapkan minimal untuk cakupan satu juta hektare. Yang menarik, Amran tidak menutup kemungkinan program tersebut diperluas cakupannyahingga dua juta bahkan empat juta hektare. Dengan asumsi tambahan produksi yang sama, jikalahan yang tercakup mencapai dua juta hektare, maka produksi gabah berpotensi bertambahhingga sepuluh juta ton. Angka ini tentu bukan jumlah yang kecil bagi negara yang terusberupaya menjaga stabilitas pasokan beras nasional. Amran turut menghitung potensi tambahan pendapatan yang bakal dinikmati petani denganmengacu pada harga pembelian pemerintah untuk gabah sebesar Rp6.500 per kilogram atausetara Rp6,5 juta per ton. Ia menyebut bahwa jika produksi mencapai sepuluh juta ton, makapotensi tambahan pendapatan petani bisa menembus angka Rp65 triliun. Bahkan jika cakupanlahan diperluas hingga empat juta hektare, tambahan pendapatan petani diperkirakan bisamelampaui Rp130 triliun. Amran juga menyoroti bahwa penerapan metode pertanian modern mampu mendorongproduktivitas hingga sepuluh sampai tiga belas ton per hektare, jauh di atas capaian konvensionalyang biasanya berkisar lima hingga enam ton per hektare. Bahkan di lahan rawa yang selama inidikenal kurang produktif dengan hasil sekitar tiga ton per hektare, penerapan teknologi barudisebut mampu mendongkrak hasil hingga delapan ton per hektare. Lonjakan produktivitas ini, menurut Amran, tidak lepas dari penerapan metode PertanianModern Advanced Agricultural System atau PM-AAS yang telah diuji coba selama kurang lebihdua tahun di sejumlah daerah. Metode ini terbukti mampu meningkatkan populasi tanaman padidalam satu hektare, dari yang semula hanya sekitar 360 ribu rumpun menjadi 800 ribu hinggasatu juta rumpun. Amran menjelaskan bahwa perubahan pola tanam yang semula menggunakanjarak 25 sentimeter dan 20 sentimeter kini dibuat lebih rapat, sehingga populasi tanamanmeningkat drastis dan turut mendongkrak hasil panen hingga dua kali lipat dari capaiansebelumnya. Hasil pengujian PM-AAS sendiri disebut telah mencapai 12,4 ton per hektare, sebuah pencapaianyang cukup signifikan meski membutuhkan tambahan biaya untuk benih dan pupuk sekitar Rp2 juta per hektare. Amran menghitung bahwa dengan tambahan biaya tersebut, petani tetapmemperoleh selisih keuntungan yang cukup besar. Ia mencontohkan bahwa jika produksimencapai sepuluh ton dikalikan harga pembelian pemerintah Rp6.500, maka pendapatan kotormencapai Rp65 juta, sementara biaya produksi maksimal hanya Rp20 juta, sehingga petanimasih mengantongi selisih sekitar Rp45 juta dalam empat bulan masa tanam, atau setara Rp11 juta bersih per bulan. Keunggulan lain dari metode PM-AAS adalah penerapan sistem tanam langsung atau direct seeding yang memangkas proses persemaian dan pindah tanam. Efisiensi waktu ini pada gilirannya dapat mendorong peningkatan indeks pertanaman padi secara nasional, sehinggasiklus tanam bisa berlangsung lebih cepat dan lebih sering dalam setahun. Sepanjang tahun ini, sejumlah capaian di sektor pertanian juga patut dicatat sebagai bukti kerjanyata pemerintah dalam menjaga swasembada pangan. Pusat benih padi yang dikelola Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian tercatat telah memproduksi sekitar 245 ton benih yang siapdidistribusikan ke berbagai daerah di Indonesia, mencakup seluruh komoditas benih sebar. Selainitu, meski Badan Pusat Statistik memproyeksikan produksi padi Oktober 2026 berpotensi turun0,08 persen menjadi 31,41 juta ton, Amran menegaskan bahwa penurunan tersebut hanya setaradengan sekitar 30 ribu ton, angka yang menurutnya sangat kecil jika dibandingkan dengan total produksi nasional yang mencapai puluhan juta ton. Kinerja Kementerian Pertanian dalam menjaga swasembada pangan nasional turut mendapatapresiasi dari Komisi IV DPR RI. Anggota Komisi IV Alien…

Read More

Subsidi Benih Padi Jadi Upaya Pemerintah Tingkatkan Produktivitas dan KetahananPangan

Oleh: Aditya Mahendra Pemerintah tampaknya semakin serius menggarap sektor pangan dengan menyiapkan skemasubsidi benih padi yang menyasar minimal satu juta hektare lahan pada 2027 mendatang. Langkah ini bukan sekadar formalitas anggaran tahunan, melainkan bagian dari strategi besaruntuk mendongkrak produksi gabah nasional sekaligus memperkuat fondasi ketahanan pangan di tengah ketidakpastian iklim global. Kementerian Pertanian melalui Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan bahwajika subsidi benih ini diterapkan pada satu juta hektare dengan asumsi tambahan produksisebesar lima ton per hektare, maka produksi gabah kering giling diperkirakan akan bertambahhingga lima juta ton. Hitungan ini disampaikan Amran saat meninjau lahan pertanian di DesaCiasem, Subang, Jawa Barat, Rabu 2 September lalu, di mana ia menegaskan bahwa anggaranuntuk tahun depan sudah disiapkan minimal untuk cakupan satu juta hektare. Yang menarik, Amran tidak menutup kemungkinan program tersebut diperluas cakupannyahingga dua juta bahkan empat juta hektare. Dengan asumsi tambahan produksi yang sama, jikalahan yang tercakup mencapai dua juta hektare, maka produksi gabah berpotensi bertambahhingga sepuluh juta ton. Angka ini tentu bukan jumlah yang kecil bagi negara yang terusberupaya menjaga stabilitas pasokan beras nasional. Amran turut menghitung potensi tambahan pendapatan yang bakal dinikmati petani denganmengacu pada harga pembelian pemerintah untuk gabah sebesar Rp6.500 per kilogram atausetara Rp6,5 juta per ton. Ia menyebut bahwa jika produksi mencapai sepuluh juta ton, makapotensi tambahan pendapatan petani bisa menembus angka Rp65 triliun. Bahkan jika cakupanlahan diperluas hingga empat juta hektare, tambahan pendapatan petani diperkirakan bisamelampaui Rp130 triliun. Amran juga menyoroti bahwa penerapan metode pertanian modern mampu mendorongproduktivitas hingga sepuluh sampai tiga belas ton per hektare, jauh di atas capaian konvensionalyang biasanya berkisar lima hingga enam ton per hektare. Bahkan di lahan rawa yang selama inidikenal kurang produktif dengan hasil sekitar tiga ton per hektare, penerapan teknologi barudisebut mampu mendongkrak hasil hingga delapan ton per hektare. Lonjakan produktivitas ini, menurut Amran, tidak lepas dari penerapan metode PertanianModern Advanced Agricultural System atau PM-AAS yang telah diuji coba selama kurang lebihdua tahun di sejumlah daerah. Metode ini terbukti mampu meningkatkan populasi tanaman padidalam satu hektare, dari yang semula hanya sekitar 360 ribu rumpun menjadi 800 ribu hinggasatu juta rumpun. Amran menjelaskan bahwa perubahan pola tanam yang semula menggunakanjarak 25 sentimeter dan 20 sentimeter kini dibuat lebih rapat, sehingga populasi tanamanmeningkat drastis dan turut mendongkrak hasil panen hingga dua kali lipat dari capaiansebelumnya. Hasil pengujian PM-AAS sendiri disebut telah mencapai 12,4 ton per hektare, sebuah pencapaianyang cukup signifikan meski membutuhkan tambahan biaya untuk benih dan pupuk sekitar Rp2 juta per hektare. Amran menghitung bahwa dengan tambahan biaya tersebut, petani tetapmemperoleh selisih keuntungan yang cukup besar. Ia mencontohkan bahwa jika produksimencapai sepuluh ton dikalikan harga pembelian pemerintah Rp6.500, maka pendapatan kotormencapai Rp65 juta, sementara biaya produksi maksimal hanya Rp20 juta, sehingga petanimasih mengantongi selisih sekitar Rp45 juta dalam empat bulan masa tanam, atau setara Rp11 juta bersih per bulan. Keunggulan lain dari metode PM-AAS adalah penerapan sistem tanam langsung atau direct seeding yang memangkas proses persemaian dan pindah tanam. Efisiensi waktu ini pada gilirannya dapat mendorong peningkatan indeks pertanaman padi secara nasional, sehinggasiklus tanam bisa berlangsung lebih cepat dan lebih sering dalam setahun. Sepanjang tahun ini, sejumlah capaian di sektor pertanian juga patut dicatat sebagai bukti kerjanyata pemerintah dalam menjaga swasembada pangan. Pusat benih padi yang dikelola Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian tercatat telah memproduksi sekitar 245 ton benih yang siapdidistribusikan ke berbagai daerah di Indonesia, mencakup seluruh komoditas benih sebar. Selainitu, meski Badan Pusat Statistik memproyeksikan produksi padi Oktober 2026 berpotensi turun0,08 persen menjadi 31,41 juta ton, Amran menegaskan bahwa penurunan tersebut hanya setaradengan sekitar 30 ribu ton, angka yang menurutnya sangat kecil jika dibandingkan dengan total produksi nasional yang mencapai puluhan juta ton. Kinerja Kementerian Pertanian dalam menjaga swasembada pangan nasional turut mendapatapresiasi dari Komisi IV DPR RI. Anggota Komisi IV Alien…

Read More

Subsidi Benih Padi Jadi Upaya Pemerintah Tingkatkan Produktivitas dan KetahananPangan

Oleh: Aditya Mahendra Pemerintah tampaknya semakin serius menggarap sektor pangan dengan menyiapkan skemasubsidi benih padi yang menyasar minimal satu juta hektare lahan pada 2027 mendatang. Langkah ini bukan sekadar formalitas anggaran tahunan, melainkan bagian dari strategi besaruntuk mendongkrak produksi gabah nasional sekaligus memperkuat fondasi ketahanan pangan di tengah ketidakpastian iklim global. Kementerian Pertanian melalui Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan bahwajika subsidi benih ini diterapkan pada satu juta hektare dengan asumsi tambahan produksisebesar lima ton per hektare, maka produksi gabah kering giling diperkirakan akan bertambahhingga lima juta ton. Hitungan ini disampaikan Amran saat meninjau lahan pertanian di DesaCiasem, Subang, Jawa Barat, Rabu 2 September lalu, di mana ia menegaskan bahwa anggaranuntuk tahun depan sudah disiapkan minimal untuk cakupan satu juta hektare. Yang menarik, Amran tidak menutup kemungkinan program tersebut diperluas cakupannyahingga dua juta bahkan empat juta hektare. Dengan asumsi tambahan produksi yang sama, jikalahan yang tercakup mencapai dua juta hektare, maka produksi gabah berpotensi bertambahhingga sepuluh juta ton. Angka ini tentu bukan jumlah yang kecil bagi negara yang terusberupaya menjaga stabilitas pasokan beras nasional. Amran turut menghitung potensi tambahan pendapatan yang bakal dinikmati petani denganmengacu pada harga pembelian pemerintah untuk gabah sebesar Rp6.500 per kilogram atausetara Rp6,5 juta per ton. Ia menyebut bahwa jika produksi mencapai sepuluh juta ton, makapotensi tambahan pendapatan petani bisa menembus angka Rp65 triliun. Bahkan jika cakupanlahan diperluas hingga empat juta hektare, tambahan pendapatan petani diperkirakan bisamelampaui Rp130 triliun. Amran juga menyoroti bahwa penerapan metode pertanian modern mampu mendorongproduktivitas hingga sepuluh sampai tiga belas ton per hektare, jauh di atas capaian konvensionalyang biasanya berkisar lima hingga enam ton per hektare. Bahkan di lahan rawa yang selama inidikenal kurang produktif dengan hasil sekitar tiga ton per hektare, penerapan teknologi barudisebut mampu mendongkrak hasil hingga delapan ton per hektare. Lonjakan produktivitas ini, menurut Amran, tidak lepas dari penerapan metode PertanianModern Advanced Agricultural System atau PM-AAS yang telah diuji coba selama kurang lebihdua tahun di sejumlah daerah. Metode ini terbukti mampu meningkatkan populasi tanaman padidalam satu hektare, dari yang semula hanya sekitar 360 ribu rumpun menjadi 800 ribu hinggasatu juta rumpun. Amran menjelaskan bahwa perubahan pola tanam yang semula menggunakanjarak 25 sentimeter dan 20 sentimeter kini dibuat lebih rapat, sehingga populasi tanamanmeningkat drastis dan turut mendongkrak hasil panen hingga dua kali lipat dari capaiansebelumnya. Hasil pengujian PM-AAS sendiri disebut telah mencapai 12,4 ton per hektare, sebuah pencapaianyang cukup signifikan meski membutuhkan tambahan biaya untuk benih dan pupuk sekitar Rp2 juta per hektare. Amran menghitung bahwa dengan tambahan biaya tersebut, petani tetapmemperoleh selisih keuntungan yang cukup besar. Ia mencontohkan bahwa jika produksimencapai sepuluh ton dikalikan harga pembelian pemerintah Rp6.500, maka pendapatan kotormencapai Rp65 juta, sementara biaya produksi maksimal hanya Rp20 juta, sehingga petanimasih mengantongi selisih sekitar Rp45 juta dalam empat bulan masa tanam, atau setara Rp11 juta bersih per bulan. Keunggulan lain dari metode PM-AAS adalah penerapan sistem tanam langsung atau direct seeding yang memangkas proses persemaian dan pindah tanam. Efisiensi waktu ini pada gilirannya dapat mendorong peningkatan indeks pertanaman padi secara nasional, sehinggasiklus tanam bisa berlangsung lebih cepat dan lebih sering dalam setahun. Sepanjang tahun ini, sejumlah capaian di sektor pertanian juga patut dicatat sebagai bukti kerjanyata pemerintah dalam menjaga swasembada pangan. Pusat benih padi yang dikelola Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian tercatat telah memproduksi sekitar 245 ton benih yang siapdidistribusikan ke berbagai daerah di Indonesia, mencakup seluruh komoditas benih sebar. Selainitu, meski Badan Pusat Statistik memproyeksikan produksi padi Oktober 2026 berpotensi turun0,08 persen menjadi 31,41 juta ton, Amran menegaskan bahwa penurunan tersebut hanya setaradengan sekitar 30 ribu ton, angka yang menurutnya sangat kecil jika dibandingkan dengan total produksi nasional yang mencapai puluhan juta ton. Kinerja Kementerian Pertanian dalam menjaga swasembada pangan nasional turut mendapatapresiasi dari Komisi IV DPR RI. Anggota Komisi IV Alien…

Read More

Produktivitas Padi Didorong Melalui Perluasan Akses Benih Bersubsidi bagi Petani

Jakarta – Kementerian Pertanian mendorong peningkatan produktivitas padi melalui perluasan akses benih bersubsidi bagi petani. Pemerintah menyiapkan dukungan benih untuk sedikitnya 1 juta hektare lahan pada 2027 sebagai upaya meningkatkan produksi gabah nasional, memperluas penggunaan teknologi pertanian modern, serta memperkuat ketahanan pangan. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan program subsidi benih tersebut akan dikembangkan secara…

Read More

Subsidi Benih Padi Dorong Peningkatan Produktivitas Petani dan Ketahanan Pangan

Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan subsidi benih padi untuk sedikitnya 1 juta hektare lahan pada 2027. Program ini diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, menambah produksi gabah nasional, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan pendapatan petani. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan subsidi benih berpotensi memberikan tambahan produksi yang besar. Dengan asumsi peningkatan hasil 5 ton gabah…

Read More