Category Collection

Popular

Koridor Hidrogen Hijau Menjadi Tonggak Baru Transisi Energi Nasional

Oleh: Adhitya Ramadani)* Pembangunan Koridor Hidrogen Hijau (Green Hydrogen Corridor) menjadi penanda pentingdalam perjalanan transisi energi Indonesia. Kehadiran koridor yang menghubungkan Jakarta, Karawang, dan Patimban sepanjang 194 kilometer menunjukkan bahwa pengembanganhidrogen nasional telah memasuki tahap implementasi yang lebih nyata. Tidak lagi berhentipada perencanaan, Indonesia mulai membangun ekosistem hidrogen yang terintegrasi sebagaifondasi menuju sistem energi yang lebih bersih, berkelanjutan, dan berdaya saing. Peluncuran Green Hydrogen Corridor yang beriringan dengan pengenalan Pilot Bus Hidrogen Diesel Dual Fuel (H2 DDF) dalam ajang Global Hydrogen Ecosystem Summit (GHES) 2026 menjadi momentum penting bagi pengembangan energi baru dan terbarukan. Forum internasional tersebut mempertemukan pemerintah, pelaku industri, badan usaha, akademisi, investor, lembaga riset, hingga mitra internasional dalam memperkuat kolaborasimembangun ekosistem hidrogen nasional. Melalui sinergi tersebut, Indonesia menunjukkankeseriusannya dalam menjadikan hidrogen hijau sebagai salah satu pilar utama transisi energinasional. Keberadaan Koridor Hidrogen Hijau memiliki arti strategis karena menjadi jalurpengembangan yang menghubungkan proses produksi, distribusi, hingga pemanfaatanhidrogen dalam berbagai sektor. Infrastruktur tersebut menjadi fondasi awal untukmempercepat penggunaan hidrogen pada sektor transportasi, industri, dan ketenagalistrikan. Dengan adanya koridor yang terintegrasi, pengembangan hidrogen tidak hanya menjadiproyek energi, tetapi juga bagian dari transformasi ekonomi nasional menuju industri yang lebih ramah lingkungan. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menyampaikan bahwapengembangan hidrogen sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan dan kemandirianenergi nasional. Hidrogen dipandang memiliki peran strategis dalam mendukung diversifikasisumber energi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil. Di tengahdinamika geopolitik global yang memengaruhi stabilitas pasokan energi dunia, pengembangan hidrogen menjadi langkah antisipatif agar Indonesia memiliki sumber energialternatif yang berasal dari potensi dalam negeri. Lebih dari sekadar menyediakan energi bersih, Koridor Hidrogen Hijau juga membukapeluang besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Pengembangan ekosistem hidrogen darihulu hingga hilir akan memperkuat hilirisasi industri, meningkatkan nilai tambah sumberdaya domestik, menarik investasi, menciptakan lapangan kerja baru, serta meningkatkan dayasaing industri nasional. Dengan dukungan sumber energi terbarukan yang melimpah, Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi salah satu pemain penting dalam ekonomihidrogen global. Meskipun pengembangan hidrogen masih menghadapi tantangan dari sisi biaya produksiyang relatif tinggi, optimisme terhadap prospek energi hidrogen terus menguat. Kemajuanteknologi dan meningkatnya investasi di sektor energi bersih diyakini akan mendorongefisiensi produksi sehingga hidrogen menjadi semakin kompetitif sebagai sumber energimasa depan. Oleh karena itu, pembangunan Koridor Hidrogen Hijau tidak hanya menjawabkebutuhan saat ini, tetapi juga menjadi investasi strategis untuk ketahanan energi jangkapanjang. Komitmen tersebut tercermin dari semakin banyaknya proyek pengembangan hidrogen yang berlangsung di berbagai wilayah Indonesia. Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, mengatakan pengembanganhidrogen diarahkan untuk mendukung dekarbonisasi sektor industri, transportasi, dan ketenagalistrikan. Saat ini, puluhan inisiatif pengembangan ekosistem hidrogen telah berjalandengan nilai investasi mencapai puluhan triliun rupiah, menunjukkan tingginya kepercayaanterhadap prospek energi hidrogen di Indonesia. Selain membangun koridor utama, pengembangan hidrogen juga diperluas melalui program dedieselisasi di sejumlah daerah seperti Sumba dan Pulau…

Read More

Hidrogen Hijau: Investasi Strategis Menuju Ekonomi Bersih dan Berdaya Saing

Rivka Mayangsari*) Transformasi energi menjadi salah satu agenda strategis Indonesia dalam menghadapi tantangan perubahan iklim sekaligus memperkuat daya saing ekonomi nasional. Salah satu langkah yang kini mendapat perhatian besar adalah pengembangan ekosistem hidrogen hijau sebagai fondasi baru bagi pembangunan ekonomi rendah karbon. Melalui kolaborasi pemerintah, BUMN, dan sektor industri, hidrogen hijau diproyeksikan menjadi motor penggerak…

Read More

Pemerintah Dorong Hidrogen Hijau untuk Dukung Dedieselisasi dan Industri Rendah Karbon

Jakarta – Vice President Strategi dan Pengembangan Bisnis Biomassa PLN EPI Anita Puspita Sari menegaskan bahwa pengembangan hidrogen hijau menjadi salah satu langkah strategis dalam mendukung transisi energi nasional menuju sistem energi rendah karbon. PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) saat ini mengembangkan rantai nilai hidrogen hijau melalui penyusunan model bisnis, kemitraan strategis, serta skema…

Read More

Pemerintah Siapkan Puluhan Proyek Hidrogen Perkuat Energi Bersih

JAKARTA – Pemerintah mempercepat pengembangan energi hidrogen melalui puluhan proyek yang tersebar di berbagai wilayah sebagai bagian dari strategi memperkuat transisi menuju energi bersih dan kemandirian energi nasional. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa hidrogen memiliki potensi strategis karena didukung ketersediaan sumber daya domestik yang melimpah. “Karena hidrogen ini dihasilkan…

Read More

Dari Perpres AI Menuju Regulasi AI yang Lebih Komprehensif

Oleh: Idnan Firdaus )* Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, mulai daripelayanan publik, dunia usaha, pendidikan, kesehatan, hingga ekonomikreatif.  Perubahan yang berlangsung sangat cepat itu menuntut hadirnya regulasiyang mampu memberikan kepastian sekaligus menjaga keseimbanganantara inovasi dan perlindungan. Atas dasar itu, pemerintah menyiapkanPeraturan Presiden (Perpres) tentang AI sebagai pijakan awal sebelummembentuk Undang-Undang AI yang lebih komprehensif. Kehadiran Perpres AI menjadi langkah penting dalam membangun tatakelola teknologi yang bertanggung jawab. Regulasi ini diharapkan menjadiacuan bagi kementerian, lembaga, pelaku industri, akademisi, danmasyarakat dalam memanfaatkan AI secara aman, transparan, danmemberikan manfaat bagi pembangunan nasional. Pendekatan bertahapdipilih agar pemerintah memiliki ruang untuk mengevaluasi implementasikebijakan sebelum menyusun regulasi yang lebih luas melalui undang-undang. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Viada Hafid, menjelaskan bahwasubstansi Perpres AI pada dasarnya telah selesai disusun. Menurutnya, proses penyelesaian regulasi memerlukan waktu lebih panjang karenapemerintah menerima berbagai masukan dari sejumlah pemangkukepentingan, termasuk perusahaan teknologi internasional.  Proses penyempurnaan itu menunjukkan bahwa pemerintahmengedepankan pendekatan yang inklusif dalam menyusun kebijakan. Regulasi tidak hanya disusun berdasarkan kebutuhan pemerintah, tetapijuga memperhatikan dinamika perkembangan teknologi dan aspirasiberbagai pihak yang akan terlibat dalam pengembangan maupunpemanfaatan AI di Indonesia. Perpres AI akan mengatur berbagai aspek mendasar, mulai daripenguatan infrastruktur digital, pengembangan talenta, hingga tata kelolarisiko penggunaan AI. Pemerintah juga menerapkan pendekatan berbasisrisiko dengan mengelompokkan pemanfaatan AI ke dalam kategori risikotinggi, sedang, dan rendah. Model tersebut diharapkan mampumemberikan kepastian hukum sekaligus memastikan pengawasandilakukan secara proporsional sesuai tingkat dampak dari masing-masingpenggunaan AI. Selain mengatur tata kelola, pemerintah juga menyusun peta jalanpengembangan AI nasional. Dokumen itu memuat arah pengembangan AI pada sepuluh sektor prioritas, seperti kesehatan, pendidikan, keuangan, dan ketahanan pangan. Seluruh sektor tersebut diselaraskan denganagenda pembangunan nasional sehingga pemanfaatan AI diharapkanmampu meningkatkan kualitas layanan sekaligus memperkuat daya saingIndonesia. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menjelaskan bahwaPerpres AI memang dipersiapkan sebagai tahap awal sebelumpemerintah membentuk Undang-Undang AI. Menurutnya, regulasi tingkatpresiden akan menjadi landasan untuk menguji penerapan tata kelola AI di berbagai sektor. Pengalaman dari implementasi Perpres nantinya dapatmenjadi bahan evaluasi dalam menyusun regulasi yang lebihkomprehensif melalui undang-undang. Nezar juga mengungkapkan bahwa penyusunan Perpres mengenai Peta Jalan AI dan Etika AI telah diselesaikan melalui pembahasan lintaskementerian dan lembaga. Dokumen tersebut kini tinggal menunggupenetapan Presiden. Kehadiran dua regulasi itu diharapkan mampumemberikan arah yang jelas mengenai pengembangan AI sekaligusmemastikan penerapannya tetap mengedepankan prinsip etika dantanggung jawab. Menurut Nezar, pembangunan ekosistem AI nasional tidak dapatdipisahkan dari berbagai regulasi digital lain yang telah disiapkanpemerintah. Tata kelola AI akan saling terhubung dengan kebijakan SatuData Indonesia, Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi, serta regulasi mengenaikeamanan dan ketahanan siber. Integrasi tersebut diyakini mampumemperkuat perlindungan data sekaligus meningkatkan kepercayaanterhadap penggunaan AI di Indonesia. Komitmen pemerintah juga terlihat melalui kebijakan memasukkan AI sebagai salah satu subsektor baru dalam Rencana Induk Ekonomi Kreatif. Langkah tersebut menandai semakin besarnya peran teknologi digital dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif nasional. PenambahanAI bersama subsektor baru lainnya memperluas cakupan ekonomi kreatifmenjadi 21 subsektor yang diharapkan mampu menciptakan peluangusaha dan inovasi baru. Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menilai pengembangan AI harus tetap memberikan perlindungan terhadap karya, hak cipta, sertakepentingan para kreator. Menurutnya, keberadaan AI semestinyamenjadi mitra yang membantu meningkatkan produktivitas, bukanmenggantikan peran manusia sebagai pencipta karya. Oleh karena itu, aspek perlindungan kreator harus menjadi bagian yang tidak terpisahkandari pembangunan ekosistem AI nasional. Riefky menjelaskan bahwa setelah Perpres diterbitkan, KementerianEkonomi Kreatif akan menyusun berbagai kebijakan turunan sesuaikarakteristik sektor ekonomi kreatif. Pedoman pemanfaatan AI akandisiapkan sebagai acuan implementasi pada seluruh subsektor sehinggapemanfaatan teknologi dapat berlangsung secara bertanggung jawabtanpa mengabaikan hak kekayaan intelektual. Pendekatan yang ditempuh pemerintah menunjukkan bahwa regulasi AI tidak hanya berorientasi pada pengendalian teknologi, tetapi jugadiarahkan untuk menciptakan ekosistem yang sehat bagi inovasi. Perpresmenjadi instrumen awal yang memberikan kepastian hukum, sementaraberbagai kebijakan turunan akan memastikan implementasi berjalansesuai karakteristik masing-masing sektor. Ke depan, pengalaman penerapan Perpres AI akan menjadi modal penting dalam penyusunan Undang-Undang AI yang lebih komprehensif. Regulasi yang lebih luas nantinya diharapkan mampu menjawabperkembangan teknologi yang terus berubah sekaligus memperkuat posisiIndonesia dalam membangun ekosistem AI yang aman, inovatif, berdayasaing, dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat sertapembangunan nasional. *) Pengamar Kebijakan Publik

Read More

Perpres AI Menjadi Fondasi Pembentukan Undang-UndangAI

Oleh: Sigit Suryawan )* Perkembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) telahmenjadi salah satu pendorong utama transformasi digital di berbagainegara. Indonesia pun tidak ingin tertinggal dalam memanfaatkanteknologi tersebut untuk mempercepat pembangunan nasional sekaligusmeningkatkan daya saing di tingkat global.  Di tengah pesatnya adopsi AI pada berbagai sektor, pemerintah memilihmembangun fondasi regulasi secara bertahap agar pemanfaatanteknologi ini tetap berjalan secara aman, bertanggung jawab, dan selarasdengan kepentingan masyarakat. Pendekatan bertahap itu diwujudkan melalui penyusunan PeraturanPresiden (Perpres) tentang Peta Jalan AI beserta Etika AI. KehadiranPerpres diposisikan sebagai landasan awal sebelum pemerintahmenyusun Undang-Undang AI yang memiliki cakupan lebih luas dankomprehensif. Langkah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidakterburu-buru menetapkan regulasi yang bersifat permanen, melainkanterlebih dahulu membangun kerangka kebijakan yang dapat menjadipijakan dalam praktik implementasi AI di Indonesia. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menjelaskan bahwapemerintah memang telah merencanakan pembentukan Undang-UndangAI. Namun, sebelum memasuki tahapan tersebut, Peraturan Presidenakan dijadikan sebagai sarana awal untuk menguji efektivitas tata kelolaAI di Indonesia.  Penyusunan Peraturan Presiden mengenai Peta Jalan AI dan Etika AI juga telah memasuki tahapan yang sangat matang. Nezar Patria menyampaikan bahwa dokumen itu sudah melalui pembahasan bersamaberbagai kementerian dan lembaga. Proses lintas sektor tersebutmemperlihatkan bahwa regulasi AI tidak hanya menjadi tanggung jawabsatu institusi, tetapi merupakan hasil koordinasi nasional yang melibatkanberbagai pemangku kepentingan. Kolaborasi antarkementerian menjadi faktor penting karena pemanfaatanAI menyentuh hampir seluruh bidang pembangunan. Regulasi yang disusun perlu mempertimbangkan kepentingan ekonomi, pendidikan, kesehatan, industri, pelayanan publik, hingga keamanan nasional. Pendekatan lintas sektor akan menghasilkan kebijakan yang lebihkomprehensif sekaligus mampu mengakomodasi kebutuhan masing-masing bidang. Peran Kementerian Komunikasi dan Digital difokuskan pada penyusunankerangka regulasi, etika, dan kebijakan yang mendorong pemanfaatan AI secara bertanggung jawab. Sementara itu, implementasi teknologi AI akanmenjadi kewenangan kementerian, lembaga, maupun pelaku industrisesuai karakteristik layanan yang mereka jalankan. Pembagian peran inimemperlihatkan adanya keseimbangan antara penyusunan aturan danpenerapan teknologi di lapangan. Model tata kelola seperti itu memungkinkan setiap sektormengembangkan inovasi sesuai kebutuhannya tanpa kehilangan arahkebijakan nasional. Pemerintah tetap memberikan ruang bagi inovasi, tetapi dalam koridor regulasi yang mampu melindungi kepentingan publiksekaligus menjaga kepastian hukum bagi seluruh pelaku ekosistemdigital. Pembangunan ekosistem AI nasional juga tidak dilakukan secara terpisahdari kebijakan digital lainnya. Nezar Patria menjelaskan bahwa berbagairegulasi yang sedang disiapkan pemerintah akan saling terhubungsehingga membentuk sistem tata kelola digital yang utuh. Integrasitersebut mencakup Satu Data Indonesia, Undang-Undang Informasi danTransaksi Elektronik, Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi, hinggaregulasi mengenai keamanan dan ketahanan siber. Komitmen pemerintah terhadap penguatan tata kelola AI juga diperkuatmelalui penyelesaian berbagai regulasi yang kini memasuki tahap akhirpembahasan. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Angga RakaPrabowo, menjelaskan bahwa penyusunan Peraturan Presiden mengenaiPeta Jalan AI periode 2026–2029 serta Perpres tentang Etika AI berjalanseiring dengan meningkatnya peran Indonesia dalam kerja samainternasional di bidang kecerdasan artifisial. Langkah itu semakin strategis setelah Indonesia resmi menjadi salah satunegara pendiri World Artificial Intelligence Cooperation Organization(WAICO). Keikutsertaan tersebut memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk berpartisipasi secara aktif dalam pembentukan tata kelola AI di tingkat global. Pemerintah tidak ingin hanya menjadi pengguna teknologiyang dikembangkan negara lain, tetapi juga berkontribusi dalampenyusunan prinsip-prinsip pengelolaan AI yang berlaku secarainternasional. Angga Raka Prabowo menegaskan bahwa posisi Indonesia sebagainegara pendiri WAICO membuka peluang untuk mengambil manfaat yang lebih besar dari perkembangan AI dunia. Keterlibatan aktif dalamorganisasi tersebut menjadi sarana bagi Indonesia untukmemperjuangkan kepentingan nasional sekaligus memperkuat posisidalam ekosistem digital global yang terus berkembang. Pemerintah juga menempatkan nilai kemanusiaan sebagai salah satuprinsip utama dalam pengembangan AI. Angga menjelaskan bahwapemanfaatan teknologi tidak hanya diarahkan untuk mendorongpertumbuhan ekonomi, tetapi juga mendukung peningkatan kualitaspendidikan, pelayanan kesehatan, serta berbagai layanan publik lainnya. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan AI harusmemberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas. Pandangan serupa juga diperkuat Menteri Koordinator BidangPerekonomian, Airlangga Hartarto. Menurutnya, status Indonesia sebagainegara pendiri WAICO memberikan ruang untuk ikut menyusun tata kelolaAI global yang inklusif, aman, tepercaya, dan berpusat pada manusia. Posisi itu menjadi modal penting agar Indonesia dapat berkontribusidalam menentukan arah perkembangan teknologi masa depan. Keberadaan Peraturan Presiden tentang AI pada akhirnya menjadifondasi yang sangat penting dalam proses pembentukan Undang-UndangAI. Pengalaman implementasi yang diperoleh melalui Perpres akanmenjadi dasar penyempurnaan regulasi pada tingkat undang-undangsehingga kebijakan yang lahir benar-benar sesuai dengan kebutuhannasional.  *) Pemerhati Ekosistem Media Digital

Read More

Pemerintah Bangun Fondasi Undang-Undang AI lewat Peta Jalan dan Etika AI

JAKARTA – Pemerintah terus memperkuat tata kelola kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) sebagai bagian dari transformasi digital nasional. Di tengah pesatnya pemanfaatan AI di berbagai sektor, pemerintah menyiapkan Peraturan Presiden tentang Peta Jalan AI Nasional dan Etika AI sebagai fondasi menuju pembentukan Undang-Undang AI yang lebih komprehensif. Langkah bertahap ini mencerminkan komitmen pemerintah menghadirkan regulasi yang…

Read More

Pemerintah Siapkan Perpres AI sebagai Langkah Awal Menuju Undang-Undang AI

Jakarta – Pemerintah terus memperkuat tata kelola kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) melalui penyusunan Peraturan Presiden (Perpres) AI sebagai landasan awal menuju pembentukan Undang-Undang AI yang lebih komprehensif. Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Digital, Ismail, menyampaikan bahwa Perpres AI disusun sebagai fondasi kebijakan nasional dalam pengembangan teknologi kecerdasan artifisial. “Peraturan Presiden tentang AI disiapkan sebagai kerangka…

Read More

Tenor 40 Tahun Rumah Subsidi, Membuka Jalan Hunian Layak bagi MBR

Oleh: Zhafran Goldwin)* Memiliki rumah yang layak masih menjadi impian jutaan Masyarakat BerpenghasilanRendah (MBR) di Indonesia. Di tengah kenaikan harga tanah dan bangunan sertameningkatnya kebutuhan hidup, kemampuan masyarakat memenuhi syarat pembiayaanperumahan masih menjadi tantangan utama. Untuk menjawab persoalan tersebut, pemerintahmembuka skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi dengan tenor hingga 40 tahun agar akses terhadap hunian layak semakin luas dengan cicilan yang lebih terjangkau. Pemerintah resmi membuka peluang bagi masyarakat untuk mengambil KPR subsidi dengantenor hingga 40 tahun sebagai bagian dari upaya meningkatkan keterjangkauan kepemilikanrumah. Kebijakan ini diharapkan mampu memperluas akses masyarakat terhadap hunianlayak melalui skema pembiayaan yang lebih fleksibel dan sesuai kemampuan. Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait memastikan kebijakantenor KPR subsidi hingga 40 tahun sudah dapat diterapkan. Menurut Maruarar, implementasikebijakan tersebut merupakan hasil koordinasi Kementerian PKP bersama BP Tapera, Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan para pemangku kepentinganlainnya sehingga memiliki dasar yang kuat dalam pelaksanaannya. Meski demikian, pemerintah tidak mewajibkan masyarakat mengambil tenor terpanjang. Maruarar menegaskan masyarakat tetap diberikan keleluasaan memilih jangka waktu kreditsesuai kemampuan, mulai dari 10 tahun, 20 tahun, 25 tahun, 30 tahun hingga maksimal 40 tahun. Fleksibilitas tersebut memungkinkan masyarakat menentukan skema pembiayaan yang paling sesuai dengan kondisi keuangan keluarga. Kebijakan ini berangkat dari kenyataan bahwa kendala terbesar masyarakat bukan hanyaharga rumah, tetapi juga besarnya cicilan bulanan. Banyak keluarga memiliki penghasilantetap, namun belum memenuhi persyaratan kemampuan bayar yang ditetapkan perbankan. Dengan tenor yang lebih panjang, besaran angsuran menjadi lebih ringan sehingga semakinbanyak MBR berpeluang memperoleh pembiayaan rumah subsidi. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) memastikan perbankan mampu menyalurkanKredit Pemilikan Rumah Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (KPR FLPP) dengantenor hingga 40 tahun. Hal ini dimungkinkan karena sebagian besar sumber pendanaannyaberasal dari pemerintah. Direktur BTN Hirwandi Gafar mengatakan skema pendanaan tersebut membuat perbankantetap memiliki ruang untuk menyalurkan pembiayaan jangka panjang bagi masyarakatberpenghasilan rendah. Dukungan pemerintah melalui FLPP juga menjaga keberlanjutanpembiayaan rumah subsidi sekaligus memperluas jangkauan penerima manfaat. Komisioner BP Tapera Heru Pudyo Nugroho menjelaskan bahwa perpanjangan tenor hingga40 tahun akan memperluas jangkauan penerima manfaat rumah subsidi karena kemampuanbayar masyarakat menjadi lebih baik. Angsuran bulanan yang lebih ringan memungkinkanlebih banyak keluarga memenuhi syarat kelayakan kredit sehingga kesempatan memilikirumah semakin terbuka. Dukungan terhadap kebijakan ini juga datang dari berbagai kalangan karena diyakini mampumemberikan dampak positif terhadap sektor perumahan nasional. Meningkatnya jumlahmasyarakat yang membeli rumah akan mendorong pembangunan perumahan, menciptakanlapangan kerja, serta menggerakkan industri pendukung seperti semen, baja, keramik, kaca, furnitur, dan jasa konstruksi. Efek berganda tersebut diharapkan mampu memperkuatpertumbuhan ekonomi nasional. Di sisi lain, Kementerian PKP menegaskan akan terus memperkuat sinergi dengan seluruhpemangku kepentingan guna menghadirkan kebijakan perumahan yang berpihak kepadarakyat, mendukung pertumbuhan ekonomi, dan menjaga keberlanjutan lingkungan. Kolaborasi antara pemerintah, perbankan, BP Tapera, pengembang, dan sektor swastamenjadi faktor penting dalam mempercepat penyediaan hunian layak bagi masyarakat. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli dalam kesempatan yang sama mendorong agar BP Tapera terus memperkuat kerja sama dengan kalangan pekerja dan buruh. Menurutnya, kelompokpekerja merupakan salah satu segmen terbesar yang membutuhkan akses terhadappembiayaan rumah yang terjangkau. Sinergi tersebut diharapkan mampu meningkatkanjumlah pekerja yang dapat memanfaatkan program rumah subsidi sekaligus memperkuatkesejahteraan tenaga kerja. Meski menawarkan banyak kemudahan, masyarakat tetap perlu memahami bahwa tenor yang lebih panjang akan menghasilkan total pembayaran yang lebih besar dibanding tenor yang lebih singkat. Oleh karena itu, pemilihan jangka waktu kredit perlu disesuaikan dengankemampuan finansial masing-masing keluarga. Fleksibilitas yang diberikan pemerintah justrumemberikan ruang bagi masyarakat untuk memilih skema pembiayaan yang paling sesuaidengan kebutuhan….

Read More

Cicilan Ringan Rumah Subsidi Menjadi Bantalan Nyata bagi Pekerja Informal

Oleh Andini Putri )* Di tengah dinamika ekonomi yang masih diwarnai tantangan daya beli, kepemilikan rumah tetap menjadi impian besar bagi jutaan keluarga Indonesia. Harapan tersebut terasa semakin sulit dijangkau, terutama bagi pekerja informal yang tidak memiliki penghasilan tetap maupun akses pembiayaan semudah pekerja sektor formal. Dalam situasi seperti itu, keberadaan rumah subsidi melalui skema Fasilitas Likuiditas…

Read More