Oleh: Juana Syahril)* Bulan Ramadan tidak hanya menjadi momentum ibadah spiritual bagi umat Islam, tetapi juga ruang refleksi untuk memperkuat nilai-nilai sosial seperti toleransi dan pengendalian diri. Di tengah meningkatnya polarisasi di era digital, semangatRamadan dapat menjadi fondasi penting untuk mencegah berkembangnya pahamradikalisme dalam masyarakat. Anggota Komisi Perempuan Remaja, dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI), Rabicha Hilma Jabar Sasmita mengatakan bahwa toleransi beragama di Indonesia pada dasarnya bukanlah sesuatu yang baru. Sejak lama masyarakatIndonesia telah hidup dalam keberagaman dan mampu menjalin kehidupan sosialyang harmonis. Keberagaman suku, agama, dan budaya menjadi bagian dariwarisan peradaban yang telah membentuk karakter masyarakat Nusantara. Dalam pandangannya, kehidupan masyarakat Indonesia sejak dahulu telahmencerminkan praktik toleransi yang kuat. Masyarakat terbiasa hidup berdampinganmeskipun memiliki latar belakang keyakinan yang berbeda. Tradisi tersebut juga sejalan dengan nilai-nilai keislaman yang memandang keberagaman sebagai bagiandari kehendak Tuhan yang mengajarkan manusia untuk saling memahami. Namun demikian, perkembangan zaman membawa tantangan baru dalam menjaganilai toleransi. Jika pada masa sebelumnya interaksi sosial lebih banyak terjadisecara langsung dalam kehidupan bertetangga dan bermasyarakat, kini interaksitersebut juga berlangsung secara intens di ruang digital melalui media sosial. Menurut Rabicha Hilma Jabar Sasmita, toleransi pada masa kini tidak hanyaberkaitan dengan kemampuan hidup berdampingan secara fisik. Toleransi juga menuntut kedewasaan dalam menyaring berbagai informasi dan narasi keagamaanyang beredar di media sosial. Perbedaan pandangan yang muncul di ruang digital kerap kali dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk memprovokasi masyarakat. Akibatnya, polarisasi dapat denganmudah terbentuk apabila masyarakat tidak memiliki kemampuan untuk menyaringinformasi secara bijak. Dalam kondisi tersebut, sikap toleran tidak hanya ditunjukkanmelalui perilaku sosial, tetapi juga melalui kedewasaan dalam menghadapi berbagaiperbedaan di dunia digital. Secara budaya, toleransi di Indonesia sebenarnya memiliki fondasi yang kuat. Namun, nilai tersebut saat ini sedang menghadapi ujian akibat meningkatnyapolarisasi di era digital. Karena itu, kemampuan literasi digital menjadi penting agar masyarakat dapat tetap menjaga sikap saling menghargai meskipun berada dalamruang interaksi yang berbeda. Dalam perspektif keagamaan, Ramadan memiliki makna yang sangat mendalamdalam membentuk sikap toleran. Puasa tidak hanya dimaknai sebagai menahan diridari makan dan minum sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, tetapi juga sebagai latihan spiritual untuk mengendalikan berbagai dorongan emosional yang dapat merusak hubungan antarmanusia. Rabicha Hilma Jabar Sasmita menjelaskan bahwa puasa mengajarkan manusiauntuk menahan ego, amarah, kebencian, dan kesombongan. Nilai-nilai tersebutmenjadi landasan penting dalam membangun sikap moderasi beragama sekaligusmemperkuat toleransi dalam kehidupan bermasyarakat. Bulan Ramadan juga dipandang sebagai momentum yang tepat untuk memperkayadiri secara spiritual. Melalui latihan pengendalian diri selama Ramadan, umat Islam diharapkan mampu menumbuhkan sikap saling menghargai serta menjagahubungan baik dengan sesama manusia. Nilai-nilai yang dipelajari selama Ramadan seharusnya tidak berhenti setelah bulansuci berakhir. Seseorang yang menjalankan Ramadan dengan baik diharapkanmampu mempertahankan sikap menahan diri dari kebencian dan amarah dalamkehidupan sehari-hari. Dengan demikian, semangat Ramadan dapat terus tercermindalam perilaku sosial masyarakat….