Category Collection

Popular

Mengawal Penguatan Satgas Darat dan Udara Dalam Penanganan Karhutla Gambut

Oleh: Ricky Rinaldi*) Kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama pada ekosistem gambut, membutuhkan penanganan yang terintegrasi karena karakteristik lahannya berbedadengan kawasan hutan mineral. Gambut memiliki kandungan bahan organik tinggidan dapat menyimpan panas di bawah permukaan tanah. Karena itu, upayapenanganan tidak hanya diarahkan pada pemadaman api yang terlihat di permukaan, tetapi juga memastikan bara di dalam tanah dapat dikendalikansehingga tidak kembali berkembang. Dalam menghadapi tantangan tersebut, penguatan koordinasi antara satuan tugas (satgas) darat dan udara menjadi bagianpenting dari kesiapsiagaan pemerintah menghadapi musim kemarau. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan bahwa pemerintah terusmemperkuat patroli, pengawasan, serta kesiapsiagaan personel dan peralatan di wilayah yang memiliki potensi karhutla, termasuk kawasan gambut di Sumatra dan Kalimantan. Langkah pencegahan dilakukan melalui berbagai pendekatan, antaralain pemeliharaan sekat kanal, pengelolaan tata air gambut, pemantauan tinggimuka air tanah, serta pembangunan dan optimalisasi embung. Upaya tersebutdiarahkan untuk menjaga kelembapan gambut sehingga kondisi lahan lebih mampumenghadapi periode kering. Pengelolaan tata air menjadi salah satu bagian penting dalam strategi pencegahan. Kondisi gambut yang tetap terjaga kelembapannya dapat mengurangi risiko apiberkembang dengan cepat. Karena itu, kolaborasi pemerintah dengan pemegangizin kehutanan dan perkebunan, pemerintah daerah, serta masyarakat di sekitarkawasan rawan menjadi bagian dari pendekatan terpadu. Pencegahan tidak hanyadilakukan ketika titik api muncul, tetapi dimulai dari kesiapan infrastruktur dan pemantauan kondisi lahan. Kementerian Kehutanan juga memperkuat koordinasi personel Manggala Agni dengan TNI, Polri, pemerintah daerah, dan unsur terkait lainnya. Pemanfaatanteknologi penginderaan jauh dan pemantauan titik panas memberikan dukunganpenting bagi proses deteksi dini. Informasi mengenai indikasi panas dapat menjadidasar bagi petugas untuk menentukan prioritas patroli dan mengerahkan sumberdaya secara lebih cepat ke wilayah yang membutuhkan penanganan. Pada tingkat tapak, keterlibatan masyarakat menjadi unsur penting dalam sistempencegahan. Desa-desa di sekitar kawasan gambut memiliki posisi strategis karenamasyarakat merupakan pihak yang beraktivitas secara langsung di wilayah tersebut. Edukasi mengenai pembukaan lahan tanpa bakar, penguatan kelompok masyarakatpeduli api, serta penyediaan peralatan pemadaman dapat meningkatkankemampuan masyarakat melakukan respons awal. Dengan deteksi dan penanganansejak dini, potensi api untuk berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas dapatditekan. Penguatan unsur darat kemudian dilengkapi dengan operasi udara. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Suharyanto menekankan pentingnyaketerpaduan operasi darat dan udara dalam penanganan karhutla. Helikopterpemantau dan armada water bombing dapat digunakan untuk menjangkau kawasanyang sulit diakses melalui jalur darat. Kehadiran dukungan udara memungkinkanproses pemadaman dilakukan lebih cepat, khususnya ketika lokasi kebakaranberada di wilayah terpencil atau memiliki kondisi medan yang kompleks. Operasi udara juga memiliki fungsi strategis dalam mendukung upaya pencegahan. Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC), ketika kondisi atmosfer memungkinkan, dapatdigunakan untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah sasaran. Koordinasi dengan BMKG dan TNI Angkatan Udara menjadi bagian dari upayamemperkuat kesiapsiagaan menghadapi periode kering. Pendekatan berbasisteknologi tersebut menunjukkan bahwa penanggulangan karhutla semakinmembutuhkan kombinasi antara kemampuan personel di lapangan dan pemanfaatan informasi ilmiah. Keterhubungan informasi antara unsur udara dan darat juga menjadi faktor penting. Data lokasi titik panas, hasil pemantauan udara, serta informasi kondisi lapangandapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan secara lebih cepat. Setelahoperasi udara dilakukan, personel di darat dapat melanjutkan proses pendinginandan memastikan area yang telah dipadamkan tidak kembali memunculkan bara. Dengan demikian, pemadaman dapat dilakukan secara berlapis, mulai dari deteksi, respons udara, pemadaman darat, hingga pemantauan pascakebakaran. Kesiapan logistik turut menentukan efektivitas operasi. Ketersediaan pompa air, selang, perlengkapan keselamatan, kendaraan operasional, serta dukungan bahanbakar bagi armada udara perlu dipastikan berada dalam kondisi siap digunakan. Penguatan posko dan distribusi peralatan ke wilayah prioritas memungkinkanpersonel bekerja lebih cepat ketika terjadi peningkatan aktivitas kebakaran. Pada akhirnya, penguatan satgas darat dan udara menunjukkan pentingnyapendekatan terpadu dalam menjaga ekosistem gambut Indonesia. Pencegahanberbasis tata kelola lahan, pemantauan teknologi, pemberdayaan masyarakat, operasi udara, serta respons cepat di lapangan merupakan rangkaian yang salingmelengkapi. Konsistensi koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat, pengelola kawasan, dan masyarakat menjadi modal penting untuk menjagalingkungan sekaligus melindungi aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Dengan kesiapsiagaan yang terus diperkuat, penanganan karhutla dapat dilakukansecara semakin terencana, cepat, dan berbasis data. Perlindungan kawasan gambutbukan hanya berkaitan dengan pengendalian kebakaran, tetapi juga merupakanbagian dari upaya menjaga kualitas lingkungan, keberlanjutan sumber daya alam, serta keselamatan masyarakat. Komitmen bersama dan respons yang terkoordinasimenjadi fondasi penting untuk menjaga kawasan gambut Indonesia tetap berfungsisebagai bagian dari ekosistem yang bernilai strategis bagi generasi sekarang dan mendatang. *)Penulis merupakan Pengamat Isu Strategis

Read More

Penanganan Karhutla Melalui Komando Terpadu dari Pusat hingga Daerah

*) Oleh : Dian Amanda Sasmi Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di kawasan gambut, terus diperkuat pemerintah melalui pola komando terpadu dari tingkat pusat hingga daerah. Strategi ini menggabungkan pencegahan, deteksi dini, pemadaman darat dan udara, operasi modifikasi cuaca (OMC), hingga pelibatan masyarakat dan pemegang izin. Langkah terpadu tersebut menjadi penting karena lahan…

Read More

Penanganan Karhutla Diperkuat lewat Deteksi Dini dan Patroli

JAKARTA – Upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus diperkuat melalui deteksi dini, patroli lapangan, pemantauan berbasis teknologi, serta peningkatan kesiapan personel dan sarana pemadaman. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi potensi kebakaran, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi selama musim kemarau. Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pekalongan Timur melalui Bagian Kesatuan…

Read More

Penanganan Karhutla Diperkuat lewat Kelembagaan dan Anggaran

Jakarta – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus diperkuat melalui penguatan kelembagaan dan dukungan anggaran hingga tingkat daerah. Kedua aspek tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan upaya pencegahan, pengamanan kawasan, dan penanggulangan karhutla berjalan efektif sesuai karakteristik wilayah. Anggota Komisi IV DPR RI, Darori Wonodipuro, mengatakan penguatan kelembagaan diperlukan agar pengamanan hutan dapat menjangkau…

Read More

Koperasi Merah Putih Bukan Ritel Modern, tapi Jalur Subsidi Rakyat

Oleh: Dwi Saputri)* Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (Koperasi Merah Putih) perluditempatkan dalam kerangka yang lebih luas daripada sekadar keberadaan geraibaru di tengah masyarakat. Kehadirannya bukan untuk menjadi ritel modern yang bersaing dengan warung maupun pelaku usaha lokal, melainkan sebagaiinfrastruktur pemerintah untuk memperkuat distribusi barang bersubsidi dan bantuanagar manfaatnya benar-benar sampai kepada masyarakat yang berhak. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan barang-barangbersubsidi dan bantuan pemerintah akan disalurkan melalui Koperasi Merah Putih. Menurutnya, koperasi tersebut bukan supermarket, tetapi menjadi bagian dariinfrastruktur pemerintah dalam menyalurkan bantuan maupun barang bersubsidisecara lebih tepat sasaran. Barang subsidi yang nantinya tersedia melalui Koperasi Merah Putih mencakupberas Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), bantuan pangan, LPG 3 kilogram, pupuk bersubsidi, serta berbagai kebutuhan lainnya. Skema tersebutsekaligus menempatkan koperasi sebagai simpul distribusi yang menghubungkanprogram pemerintah dengan masyarakat hingga tingkat desa dan kelurahan. Arah kebijakan tersebut sejalan dengan penegasan Presiden Prabowo Subiantobahwa barang-barang bersubsidi akan disalurkan atau dijual melalui Koperasi Merah Putih. Presiden menekankan bahwa ke depan barang subsidi tidak bolehsembarangan diperdagangkan karena pembiayaannya berasal dari uang rakyat sehingga manfaatnya harus diterima oleh masyarakat yang memang berhak. Selama ini, salah satu persoalan dalam distribusi subsidi adalah munculnyapenyalahgunaan maupun perdagangan barang bersubsidi yang menyebabkanmanfaatnya tidak sepenuhnya diterima kelompok sasaran. Pemerintah karena itumendorong Koperasi Merah Putih sebagai jalur distribusi untuk mempersempit ruangpermainan tersebut. Presiden juga menegaskan kebijakan itu bukan bentuk sikapantipasar, melainkan upaya membenahi praktik manipulasi yang dapat terjadi ketikarantai distribusi dikuasai pemodal besar. Keberadaan Koperasi Merah Putih dengan demikian dapat menjadi instrumen baginegara untuk memperkuat kendali atas rantai pasok barang strategis. Distribusi yang lebih pendek dan terintegrasi diharapkan tidak hanya memastikan subsidi sampaikepada penerima, tetapi juga mengurangi ketergantungan terhadap mata rantaidistribusi yang terlalu panjang dan berpotensi menambah biaya. Persiapan Koperasi Merah Putih kini memasuki fase akhir untuk resmi beroperasipada awal Oktober 2026. Menteri Koperasi Ferry Juliantono menyampaikan bahwatahap awal ini difokuskan pada 17.288 unit yang bangunan fisiknya telah siap di lapangan, sekaligus mematangkan sistem pelayanan dan tata kelola sebelummelayani masyarakat secara penuh. Persiapan tidak hanya menyangkut regulasi dan bangunan, tetapi juga pengelolaankoperasi secara profesional. Para manajer yang telah direkrut dan menjalanipelatihan telah mendapatkan surat keputusan pengangkatan, termasuk penetapangaji dan tunjangan. Kesiapan sumber daya manusia menjadi penting karenabesarnya jaringan Koperasi Merah Putih membutuhkan tata kelola yang mampumemastikan kegiatan usaha dan fungsi distribusi berjalan secara akuntabel. Manfaat dari pembenahan sistem distribusi tersebut bahkan berpotensi memberikandampak terhadap efisiensi anggaran negara. Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) Dony Oskaria menyebut Koperasi Merah Putihberpotensi menghemat anggaran subsidi yang tidak tepat sasaran hingga sekitarRp150 triliun per tahun. Potensi tersebut dapat dicapai dengan memanfaatkan jaringan koperasi sebagaikanal distribusi barang subsidi pemerintah hingga tingkat desa. Pemerintah bersamaKementerian Keuangan dan Kementerian Koperasi juga tengah menyiapkan sistemdaring berbasis data tunggal untuk menentukan masyarakat yang berhak menerimasubsidi. Sistem tersebut nantinya akan terintegrasi dengan jaringan Koperasi Merah Putih sehingga distribusi dapat dilakukan berdasarkan data penerima yang lebihakurat. Integrasi antara data penerima dan jaringan koperasi menjadi langkah penting untukmemperbaiki tata kelola subsidi. Dengan mekanisme tersebut, pemerintah memilikipeluang lebih besar untuk mengetahui siapa penerima subsidi, barang apa yang diterima, serta bagaimana penyalurannya berlangsung. Transparansi semacam inidiperlukan untuk menekan kebocoran sekaligus memastikan anggaran subsidibenar-benar memberikan manfaat kepada kelompok masyarakat yang menjadisasaran. Fungsi Koperasi Merah Putih juga dapat berkembang melampaui distribusi subsidi. PT Pos Indonesia akan bekerja sama dengan Koperasi Merah Putih untukmenyediakan layanan logistik bagi masyarakat desa, termasuk mendukung kegiatanusaha masyarakat yang berjualan secara daring. Kehadiran jaringan logistik tersebutdapat membantu produk masyarakat menjangkau pasar yang lebih luas sekaligusmemperkuat aktivitas ekonomi desa. Karena itu, keberhasilan Koperasi Merah Putih seharusnya tidak diukur darikemampuannya menyerupai jaringan ritel modern. Ukuran keberhasilannya justruterletak pada sejauh mana koperasi mampu memastikan subsidi diterimamasyarakat yang berhak, memperpendek rantai distribusi, menekan kebocorananggaran, serta membuka akses logistik dan pasar bagi pelaku usaha di desa. Jika sistem data, tata kelola koperasi, dan jaringan distribusi dapat berjalan secaraterintegrasi, Koperasi Merah Putih dapat menjadi jalur yang menghubungkan subsidinegara langsung dengan kebutuhan rakyat. Dengan fungsi tersebut, koperasi bukansekadar tempat menjual barang, tetapi menjadi bagian dari upaya membangunrantai pasok yang lebih transparan, efisien, dan berpihak pada pemerataan ekonomihingga tingkat desa. )* Pemerhati isu sosial – ekonomi

Read More

Koperasi Merah Putih: Jalur Baru Pemerataan Barang Subsidi Rakyat

Oleh : Jonathan Janoel )* Pemerataan subsidi tidak cukup diukur dari besarnya anggaran yang disediakan negara. Ukuran yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat adalah apakah beras, minyak goreng, gas elpiji, dan pupuk bersubsidi benar-benar tersedia dengan harga terjangkau ketika dibutuhkan. Di sinilah Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) memperoleh relevansi sebagai jalur distribusi baru yang menghubungkan kebijakan pemerintah dengan…

Read More

Koperasi Merah Putih Didorong Jadi Penyalur Subsidi yang Lebih Teratur

JAKARTA – Pemerintah memperkuat peran Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) sebagai saluran distribusi barang bersubsidi untuk memperpendek rantai pasok dan memperluas akses masyarakat terhadap kebutuhan pokok. Melalui penguatan tata kelola dan koordinasi lintas lembaga, koperasi diarahkan menjadi simpul distribusi yang lebih teratur, transparan, dan menjangkau masyarakat hingga tingkat desa. Presiden Prabowo Subianto menegaskan arah kebijakan…

Read More

Koperasi Merah Putih Mulai Bergerak Salurkan Barang Subsidi

JAKARTA – Upaya memperluas jangkauan distribusi kebutuhan pokok terus dilakukan pemerintah melalui penguatan peran Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Koperasi ini dipersiapkan menjadi saluran penyaluran barang bersubsidi, mulai dari beras, LPG 3 kilogram, pupuk bersubsidi, hingga minyak goreng, sehingga masyarakat dapat memperoleh kebutuhan strategis melalui jaringan ekonomi yang lebih dekat dengan lingkungan tempat tinggalnya. Presiden…

Read More

Pemerintah Pusat dan Daerah Jadikan Mitigasi Bencana sebagai Prioritas

Oleh : Andika Hardianto Indonesia kembali menghadapi tantangan kebencanaan yang membutuhkan kesiapsiagaan sejakdini. Memasuki penghujung 2026, sejumlah wilayah mulai bersiap menghadapi perubahan polacuaca dari periode kering menuju musim hujan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika(BMKG) memprakirakan puncak musim hujan 2026/2027 berlangsung secara bergelombangmulai Desember 2026 hingga Februari 2027. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian seriuskarena pada saat yang sama sejumlah wilayah masih menghadapi risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan pada September-Oktober 2026. Perubahan kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanggulangan bencana tidak cukup dilakukansetelah bencana terjadi. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu menjadikan mitigasisebagai bagian utama dalam perencanaan pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat. Langkah antisipatif diperlukan agar potensi bencana hidrometeorologi dapat dikenali lebih awal, sementara masyarakat memiliki waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri menghadapikemungkinan terburuk. Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan bahwa sejumlahwilayah akan memasuki musim hujan sejak November dan Desember 2026. Wilayah yang terdampak mencakup sebagian Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, Papua Barat bagian utara, hingga Papua Selatan. Prakiraan tersebut menjadi dasarpenting bagi pemerintah daerah untuk menyesuaikan langkah mitigasi berdasarkan karakteristikrisiko di masing-masing wilayah. BMKG juga mendorong seluruh pemangku kepentingan menggunakan informasi prediksi musimhujan sebagai dasar peringatan dini dan pelaksanaan aksi dini. Pesan tersebut penting karenainformasi cuaca dan iklim akan memiliki manfaat maksimal apabila segera diterjemahkanmenjadi kebijakan konkret. Pemerintah daerah dapat mengoptimalkan sistem drainase, membersihkan saluran air, memeriksa daerah rawan longsor, memastikan jalur evakuasi tersedia, serta mempersiapkan lokasi pengungsian sebelum hujan dengan intensitas tinggi terjadi. Penguatan mitigasi juga menjadi penting setelah banjir bandang atau galodo melanda KabupatenSolok, Sumatera Barat. Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa penanganan bencanamembutuhkan kecepatan sekaligus kesiapan menghadapi risiko lanjutan. Menteri KoordinatorBidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno menekankan bahwa pencarian korban yang masih hilang dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak harus menjadiprioritas selama masa tanggap darurat. Namun, pada saat yang sama, pemerintah juga perlumengantisipasi potensi bencana susulan. Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa penanganan bencana tidak boleh berhenti pada penyelamatan korban dan pemenuhan kebutuhan dasar. Setelah masa tanggap darurat, pemerintah perlu melanjutkan tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi berdasarkan kajianmenyeluruh. Evaluasi terhadap penyebab dan dampak bencana harus digunakan untukmemperbaiki sistem pencegahan, sehingga pembangunan kembali tidak sekadar mengembalikankondisi seperti sebelumnya, tetapi juga meningkatkan ketahanan wilayah terhadap ancamanbencana berikutnya. Di tingkat nasional, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah melakukanpemetaan dan evaluasi terhadap zona merah yang rawan bencana. Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menyampaikan bahwakesiapan menghadapi bencana juga dilakukan melalui penyediaan pasokan logistik darurat dan peralatan evakuasi di gudang regional serta BPBD prioritas. Kesiapan tersebut menjadi bagianpenting dari sistem respons apabila kondisi di lapangan berkembang menjadi keadaan darurat. BNPB juga menyiapkan sejumlah langkah lanjutan apabila situasi memburuk, termasuk operasimodifikasi cuaca, pengerahan helikopter ke wilayah terisolasi, pendampingan penyusunanrencana kontinjensi, serta penggunaan dana siap pakai setelah penetapan status darurat. Berbagaiinstrumen tersebut menunjukkan bahwa mitigasi membutuhkan koordinasi lintas lembaga dan kesiapan sumber daya yang tidak dapat dibangun secara mendadak ketika bencana telah terjadi. Langkah tersebut seharusnya menjadi praktik yang diperkuat di berbagai daerah. Pemeriksaanberkala terhadap sungai, drainase, lereng, jembatan, bendungan, kawasan permukiman dan fasilitas publik dapat membantu menemukan potensi masalah sebelum berkembang menjadibencana. Pemerintah daerah juga perlu memastikan bahwa masyarakat yang tinggal di wilayah rawan memahami jalur evakuasi, titik kumpul, prosedur penyelamatan serta informasi resmiyang harus dijadikan rujukan ketika terjadi kondisi darurat. Mitigasi juga membutuhkan dukungan kajian ilmiah yang berkelanjutan. Pemerintah dapatmelibatkan perguruan tinggi, pusat studi kebencanaan, lembaga penelitian dan berbagai pihakterkait untuk memetakan risiko secara lebih komprehensif. Mahyeldi bahkan mendorong adanyakajian kebencanaan secara menyeluruh dengan melibatkan Universitas Andalas melalui Pusat Studi Kebencanaan serta dukungan BNPB dan pemerintah pusat. Kolaborasi semacam inipenting agar kebijakan kebencanaan dibangun berdasarkan data dan karakteristik wilayah. Menghadapi musim hujan 2026/2027, pemerintah tidak seharusnya menunggu bencana datanguntuk bergerak. Informasi BMKG, pemetaan BNPB, evaluasi kejadian sebelumnya, sertapengalaman pemerintah daerah perlu segera diterjemahkan menjadi aksi nyata. Penguatandrainase, normalisasi sungai, pembersihan kawasan hulu, kesiapan logistik, sistem peringatandini, jalur evakuasi dan edukasi masyarakat harus berjalan secara terpadu. Dengan menjadikanmitigasi sebagai prioritas, pemerintah pusat dan daerah dapat membangun kesiapsiagaan yang lebih kuat sekaligus mengurangi risiko dan dampak bencana terhadap keselamatan masyarakat….

Read More

Dari Pusat Hingga Daerah, Cepat, Tegas, dan Terukur: Mitigasi BencanaHidrometeorologi

Oleh: Alexander Royce*) Bencana hidrometeorologi tidak lagi dapat diperlakukan sebagai kejadian yang sepenuhnyadatang tanpa tanda. Perubahan pola musim, anomali cuaca, dan dinamika atmosfer membuatrisiko banjir, longsor, angin kencang, kekeringan, hingga kebakaran hutan dan lahan hadirdengan karakter yang semakin beragam. Karena itu, ukuran kesiapan negara bukan sekadarseberapa cepat bantuan tiba setelah bencana, melainkan seberapa dini risiko dikenali dan seberapa terukur langkah pencegahannya. BMKG memperkirakan awal musim hujan 2026/2027 di 529 Zona Musim atau 61,08 persenwilayah Indonesia mengalami kemunduran dari rata-rata klimatologis. Kondisi itu berkaitandengan El Niño yang berada pada intensitas sangat kuat dan fase positif Indian Ocean Dipole. Pada saat yang sama, sebagian besar wilayah diperkirakan mengalami puncak musim hujan pada Desember 2026 hingga Februari 2027. Artinya, Indonesia menghadapi masa transisi yang menuntut kewaspadaan terhadap risiko kering sekaligus ancaman bencana hidrometeorologibasah. Wamenko Pangan Hanif Faisol Nurofiq, dalam forum APEKSI di Bogor, menekankan bahwapemerintah daerah perlu membaca perubahan kondisi cuaca sebagai persoalan tata kelola risiko. Kesiapsiagaan tidak cukup berhenti pada imbauan, tetapi perlu diwujudkan melalui sistempemantauan dan peringatan dini yang kuat, koordinasi lintas instansi, serta penyampaianinformasi yang cepat dan akurat kepada masyarakat. Pemetaan wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi penting untuk dilakukan. Dari pemetaan itu, pemerintah daerah dapat menyiapkan jalur evakuasi, lokasi pengungsian, sertalogistik sebelum kondisi memburuk. Pendekatan tersebut relevan karena karakter ancaman setiapdaerah berbeda. Kota dengan persoalan drainase membutuhkan strategi berbeda dengan kawasanpegunungan yang rentan longsor atau wilayah lahan gambut yang menghadapi risiko karhutla.  Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan bahwa datangnyamusim hujan tidak berlangsung serentak. Sebagian wilayah mulai memasuki musim hujan pada November, sementara wilayah lain baru mengalaminya pada Desember. Bahkan, sebagian besarwilayah diperkirakan mencapai puncak musim hujan pada Desember, Januari, atau Februari. Perbedaan waktu tersebut menunjukkan bahwa kebijakan mitigasi harus berbasis wilayah dan mengikuti perkembangan prakiraan terbaru, bukan menggunakan pendekatan seragam. Ardhasena juga mengingatkan bahwa situasi pada September dan Oktober masih menyimpanrisiko kekeringan serta karhutla. Karena itu, persiapan menuju musim hujan tidak bolehmembuat perhatian terhadap bencana kering terhenti. Bagi pemerintah daerah, informasiklimatologis harus diterjemahkan menjadi aksi nyata, mulai dari pengelolaan drainase, kesiapanjalur evakuasi, hingga pengamanan sumber air dan kawasan rawan kebakaran.  Dari sisi penanggulangan bencana, Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan KomunikasiKebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menggambarkan pendekatan yang semakinmenitikberatkan kesiapan sebelum situasi darurat membesar. BNPB telah memetakan dan mengevaluasi zona rawan, menyiapkan stok logistik darurat serta peralatan evakuasi, dan membuka kemungkinan pengerahan operasi modifikasi cuaca, helikopter, pendampingan rencanakontinjensi, serta dana siap pakai ketika status darurat ditetapkan. Berton juga menekankan bahwa peringatan dini harus berujung pada tindakan. Informasi dariBMKG perlu diterjemahkan hingga tingkat desa dan kelurahan menjadi pesan yang mudahdipahami tentang siapa yang harus bertindak, ke mana warga bergerak, dan kapan evakuasidimulai. Dalam praktiknya, kecepatan teknologi akan kehilangan makna jika masyarakatmenerima informasi tetapi tidak memiliki prosedur yang jelas untuk merespons. Peristiwa terbaru memperkuat kebutuhan tersebut. Data terbaru BNPB mencatat karhutla dan kekeringan masih mendominasi kejadian di sejumlah wilayah. Di Pati, Jawa Tengah, 15 desaterdampak kekeringan dengan 3.896 jiwa terdampak, sementara BPBD menyalurkan 94.000 literair bersih. Di Sragen, 7.224 jiwa terdampak kekeringan, sedangkan Pemalang mencatat 10.764 kepala keluarga terdampak. Pada sisi lain, banjir bandang Solok pada 21…

Read More