Pemerintahan Prabowo–Gibran Perkuat Fondasi Pembangunan Papua yang Inklusif dan Berkelanjutan

Oleh : Yohanes Wandikbo )* Pembangunan Papua di era pemerintahan Prabowo–Gibran memasuki fase penting yang ditandai oleh pendekatan yang lebih inklusif, partisipatif, dan berorientasi pada pemberdayaan masyarakat. Pemerintah tidak hanya fokus membangun infrastruktur fisik, tetapi juga menggerakkan energi sosial melalui pelibatan generasi muda, penguatan budaya lokal, serta strategi keamanan humanis. Berbagai kebijakan yang diambil menunjukkan…

Read More

Pembangunan Papua Kian Inklusif: Bukti Keseriusan Pemerintah HadirkanKeadilan Sosial

Oleh: Loa Murib Pembangunan Papua menunjukkan arah yang semakin inklusif dan terukur melaluilangkah-langkah strategis pemerintah pusat, khususnya setelah terbentuknyaKomite Eksekutif Percepatan Pembangunan Papua. Kebijakan ini menegaskankomitmen pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam menghadirkanpemerataan pembangunan dan memperkuat keadilan sosial bagi seluruhmasyarakat di Tanah Papua. Upaya tersebut tidak hanya fokus pada pembangunaninfrastruktur, tetapi juga penguatan sumber daya manusia, pemberdayaan ekonomilokal, dan penguatan partisipasi pemuda lintas agama sebagai elemen pentingdalam menjaga stabilitas sosial. Anggota Komisi II DPR RI, Indrajaya, menilai pembentukan Komite EksekutifPercepatan Pembangunan Papua sebagai langkah besar yang akan mempercepatpemerataan pembangunan di enam provinsi Papua. Menurut pandangan Indrajaya, komite tersebut menjadi wadah koordinasi penting yang menjembatani kebijakanpusat dengan dinamika di daerah. Ia menekankan bahwa kehadiran komite mampumemastikan seluruh program pembangunan berjalan searah, terintegrasi, dan mampu menghasilkan dampak yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Selain itu, ia menyoroti peran komite sebagai perpanjangan pemerintah pusat yang dapatmemantau kondisi di lapangan secara lebih dekat, sehingga setiap agenda pembangunan dapat disesuaikan dengan kebutuhan riil masyarakat Papua. Indrajaya juga menekankan pentingnya delapan agenda besar dalam kerangkaAstacita kontekstual Papua, yang mencakup pembangunan politik, ekonomi, infrastruktur, hingga tata kelola pemerintahan. Baginya, sektor pendidikan dan kesehatan harus menjadi prioritas utama karena menjadi fondasi yang menentukanarah kemajuan Papua. Ia optimistis bahwa dengan koordinasi yang kuat antarapemerintah pusat, daerah, serta komite, Papua akan semakin maju, sejahtera, dan memiliki kualitas hidup masyarakat yang setara dengan wilayah lain di Indonesia. Secara paralel, pemerintah daerah juga menunjukkan gairah yang sama dalammendorong pembangunan inklusif. Di wilayah Papua Tengah, Gubernur Meki Nawipa menegaskan bahwa pengusaha muda harus tampil sebagai lokomotifpembangunan. Dalam sebuah forum bersama dengan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Papua Tengah, Nawipa menilai bahwa pertumbuhan ekonomidaerah tidak mungkin tercapai tanpa peran aktif sektor usaha. Menurutnya, para pelaku usaha muda harus mampu menciptakan peluang kerja, memperkuat sektorUMKM, serta mengembangkan ekonomi berbasis potensi lokal yang menjadikekuatan khas di Papua Tengah. Nawipa juga menyampaikan kebanggaannya terhadap kepemimpinan Hipmi Papua Tengah yang kini diisi oleh putra asli daerah, yang menurutnya merupakan capaianbersejarah bagi dunia usaha lokal. Ia memandang bahwa pengusaha muda harusmemiliki keberanian dalam memanfaatkan jejaring dan relasi, karena aspek tersebutmenjadi modal penting dalam menggerakkan ekonomi. Dengan penguatankapasitas, inovasi kewirausahaan, dan kolaborasi strategis bersama pemerintah, Nawipa melihat Hipmi berpotensi menjadi mitra kunci dalam mendorong Papua Tengah menuju kemandirian ekonomi dan kesejahteraan berkelanjutan. Komitmen pemerintah dalam mewujudkan pembangunan inklusif juga terlihat dariperan strategis generasi muda lintas agama. Wakil Presiden Gibran RakabumingRaka menegaskan pentingnya keterlibatan pemuda sebagai motor perubahansekaligus penjaga persatuan sosial di Papua. Dalam pertemuan bersama PengurusPusat Pemuda Katolik, Wapres memberikan perhatian khusus pada penguatandialog, komunikasi inklusif, dan kolaborasi antarorganisasi kepemudaan. Baginya, stabilitas sosial hanya dapat terbangun bila generasi muda mampu menjaga ruangdialog yang terbuka dan konstruktif dalam keberagaman. Ketua Umum Pemuda Katolik, Stefanus Gusma, menyampaikan bahwa Wapresmemberikan arahan agar organisasi kepemudaan memperkuat koordinasi denganKomite Eksekutif Percepatan Pembangunan Papua. Pemerintah membuka ruangkolaborasi yang luas agar…

Read More

Saatnya Menutup Ruang Provokasi 1 Desember Demi Stabilitas Keamanan Papua

Oleh: Helena Weya *) Menjelang tanggal 1 Desember, ruang publik Indonesia kembali diwarnai berbagai provokasi yang mencoba memanfaatkan momentum tersebut sebagai simbol perlawanan politik. Pola ini muncul berulang setiap tahun, menciptakan ketegangan sosial dan membuka ruang bagi aktor-aktor yang sengaja ingin mengganggu stabilitas nasional. Di tengah upaya pemerintah memperkuat pembangunan Papua dan menegakkan kebijakan afirmatif…

Read More

Menjaga Stabilitas Tanah Papua, Tolak Provokasi 1 Desember Demi Kedamaian

Oleh: Yohana Yobe* Menjelang 1 Desember 2025, kewaspadaan di berbagai wilayah Papua kembalimenguat. Tanggal tersebut kerap menjadi momentum sensitif yang berpotensidimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk memunculkan provokasi, mengganggustabilitas keamanan, dan memecah konsentrasi masyarakat yang tengah fokus pada aktivitas sosial, ekonomi, maupun persiapan perayaan Natal. Dalam konteks ini, aparatkeamanan, pemerintah daerah, dan tokoh-tokoh masyarakat kembali menegaskanpentingnya menolak berbagai bentuk provokasi yang dapat memicu instabilitas. Papua membutuhkan ruang aman, bukan kegaduhan; yang dibutuhkan masyarakat adalahketenangan untuk bekerja, belajar, beribadah, dan menikmati kehidupan sehari-haritanpa rasa cemas. Komandan Kodim 1710/Mimika, Letkol Inf M. Slamet Wijaya, menegaskan bahwakondisi keamanan di Kabupaten Mimika relatif terkendali, khususnya di wilayah perkotaan seperti Timika dan sekitarnya. Aparat tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama di distrik-distrik pegunungan seperti Jila, Alama, Hoeya, dan Tembagapura, yang berada dalam kategori rawan terkendali akibat faktor geografis dan kedekatannyadengan wilayah konflik. Penjelasan ini menunjukkan bahwa dinamika keamanan Papua bukanlah situasi yang mengancam secara menyeluruh, melainkan realitas spesifik yang dikelola secara serius oleh aparat keamanan melalui koordinasi terstruktur antara TNI, Polri, TNI AL, dan TNI AU. Dalam berbagai kesempatan, Letkol Slamet menegaskan bahwa perintah untukmeningkatkan antisipasi bukanlah bentuk militerisasi berlebihan, melainkan langkahuntuk memastikan masyarakat tetap dapat beraktivitas seperti biasa tanpa gangguanberarti. Kehadiran aparat di wilayah rawan bukan dimaksudkan untuk menimbulkanketakutan, tetapi untuk memberi rasa aman serta mencegah potensi gangguan sebelummembesar. Ia menekankan pentingnya kolaborasi masyarakat dalam menjagakeamanan, karena stabilitas tidak dapat bertumpu pada aparat semata. Keterlibatanaktif warga menjadi fondasi kuat bagi terciptanya Papua yang damai dan kondusif. Situasi di Distrik Jila menjadi salah satu contoh dinamika keamanan yang perlu dikeloladengan pendekatan berlapis. Setelah adanya operasi penindakan terhadap kelompokbersenjata beberapa waktu lalu, aparat tetap siaga mengantisipasi dampak lanjutan. Meski demikian, masyarakat perlu memahami bahwa operasi tersebut ditujukan untukmengurangi ancaman terhadap warga, bukan untuk mencederai ketenteraman. LetkolSlamet menjelaskan bahwa aparat hadir sebagai pelindung yang bertugas memastikanagar masyarakat tidak menjadi korban provokasi atau tekanan pihak-pihak yang mengedepankan kepentingan ideologis sempit. Penegasan bahwa semua elemenmasyarakat merupakan bagian dari NKRI menjadi pesan penting untuk menjagapersatuan di tengah upaya memecah belah yang terus muncul menjelang 1 Desember. Momentum 1 Desember seringkali memunculkan aktivitas provokatif seperti pengibaransimbol-simbol tertentu, ajakan berunjuk rasa, atau penyebaran hoaks yang dapatmemicu ketegangan. Dalam konteks sosial Papua, tindakan semacam ini bukan hanyamerugikan masyarakat luas, tetapi juga mencederai semangat persatuan yang selamaini dibangun melalui kerja bersama semua pihak. Karena itu, imbauan untuk tetaptenang, menahan diri, dan tidak mudah terprovokasi menjadi sangat relevan. Masyarakat perlu menghindari penyebaran informasi tanpa verifikasi, karena arus kabarbohong menjelang 1 Desember biasanya meningkat dan berpotensi menciptakankekacauan. Di Nabire, Lembaga Masyarakat Adat (LMA) menunjukkan peran strategis dalammenjaga suasana kondusif. Melalui kegiatan sosialisasi yang dipimpin Ketua LMA Nabire, Karel Misiro, para tokoh adat diajak memperkuat harmonisasi sosial, meningkatkankewaspadaan, serta mendorong warga untuk menyambut bulan Desember yang identikdengan suasana Natal dengan damai dan tertib. Karel menekankan bahwa 1 Desembersering digunakan oleh kelompok tertentu untuk memunculkan dinamika yang dapatmengganggu ketenteraman umum. Karena itu, masyarakat adat perlu menjadi garda depan dalam mengedepankan ketenangan, mencegah provokasi, dan mendukung tugasaparat keamanan. Sosialisasi tersebut juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasiterkait cara menjaga stabilitas. Usulan seperti pembatasan peredaran minuman kerasselama Desember menunjukkan bahwa warga pun memiliki kepedulian tinggi untukmenciptakan lingkungan yang aman. Lebih jauh, LMA Nabire merancang program tindak lanjut seperti dialog rutin, pelatihan, hingga pembentukan kelompok pemantaukeamanan adat di tingkat kampung. Pendekatan berbasis kearifan lokal ini memperkuatbahwa upaya menjaga keamanan bukan hanya tugas aparat, tetapi kerja gotong royong seluruh komponen masyarakat. Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Papua Selatan mendorong terciptanya suasana positifdengan mengajak masyarakat memeriahkan perayaan Natal mulai 1 Desember. Imbauan untuk memasang hiasan dan pernak-pernik Natal di berbagai fasilitas publikmencerminkan komitmen pemerintah membangun atmosfer damai dan penuhkebersamaan. Pendekatan kultural ini menjadi pelengkap terhadap langkah-langkahkeamanan yang dilakukan aparat, sehingga masyarakat tetap fokus pada kegiatan sosialyang bernilai positif. Menolak provokasi 1 Desember bukan sekadar sikap politik, tetapi langkah melindungimasyarakat dari potensi gangguan yang dapat menghambat aktivitas harian dan merusak stabilitas daerah….

Read More

Jelang Reuni 212, Aparat Ingatkan Pentingnya Persatuan dan StabilitasNasional

Oleh: Anggina Wijayanti* Menjelang penyelenggaraan Reuni 212 di kawasan Monas pada awal Desembermendatang, berbagai elemen bangsa kembali menegaskan pentingnya menjagapersatuan dan stabilitas nasional sebagai fondasi utama kehidupan bernegara. Dalamsuasana sosial yang dinamis serta perkembangan informasi yang begitu cepat, aparatdan tokoh-tokoh nasional mengingatkan bahwa setiap kegiatan publik, terutama yang melibatkan massa dalam jumlah besar, harus menjadi momentum untuk memperkuatkeharmonisan, bukan menimbulkan perpecahan. Kesadaran kolektif untuk merawatkebersamaan menjadi kunci dalam memastikan Indonesia tetap kokoh menghadapitantangan zaman. Pesan optimisme dan persatuan disuarakan oleh banyak tokoh nasional, salah satunyaKetua MPR RI Ahmad Muzani. Dalam berbagai kesempatan, ia menekankan bahwaIndonesia terus menjadi teladan dunia sebagai negara muslim terbesar yang suksesmenjaga harmoni dalam keberagaman. Menurutnya, keberhasilan ini menjadikebanggaan bersama karena menunjukkan bahwa nilai-nilai moderasi dan toleransitelah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat. Ia meyakini bahwa penguatanpersaudaraan antarumat dan komitmen untuk saling menghormati merupakan modal utama dalam memelihara stabilitas nasional, terutama menjelang pelaksanaan kegiatankeagamaan berskala besar seperti Reuni 212. Muzani juga menegaskan bahwa tugaslembaga negara seperti MPR adalah menjaga harmoni masyarakat agar semangatkebangsaan tetap menyala dan terjaga di seluruh lapisan. Pandangan serupa juga datang dari tokoh dunia Islam, Syekh Muhammad bin Abdul Karim al-Issa, yang menilai Indonesia sebagai negara yang berhasil menunjukkanbagaimana keberagaman dapat hidup berdampingan secara damai. Ia memandangbahwa bangsa Indonesia telah mampu membangun kerukunan melalui pendekatanpersaudaraan dan dialog, sehingga keberhasilannya memberi pengaruh positif bagibanyak negara lain. Penilaian ini tidak hanya menjadi pengakuan, melainkan jugadorongan moral agar masyarakat Indonesia semakin percaya diri dalammempertahankan harmoni nasional, termasuk saat menyelenggarakan kegiatan yang melibatkan umat dalam skala besar. Di tingkat nasional, perhatian terhadap stabilitas negara juga disampaikan olehBambang Soesatyo, Wakil Ketua Umum Partai Golkar sekaligus tokoh yang selama iniaktif mendorong penguatan kebangsaan. Ia menggambarkan bahwa keluarga besarTNI, termasuk organisasi putra-putri purnawirawan, memiliki peran strategis dalammenjaga stabilitas serta mendukung agenda pembangunan pemerintah. Menurutnya, modal sosial yang dimiliki komunitas tersebut berupa jaringan kuat hingga tingkat akarrumput dan pengalaman pengabdian pada negara harus digunakan untuk memperkuatpersatuan serta memastikan program pemerintah berjalan efektif dan tepat sasaran. Iamemandang bahwa dukungan elemen masyarakat seperti ini sangat penting demi menjaga ketertiban dan kepercayaan publik terhadap pemerintah, terutama menjelangkegiatan besar seperti Reuni 212 yang membutuhkan koordinasi matang antarapenyelenggara, aparat, dan pemerintah daerah. Di Jakarta, Pemerintah Provinsi DKI menunjukkan sikap terbuka dan positif menyambutrencana penyelenggaraan Reuni 212. Wakil Gubernur Rano Karno menuturkan bahwapihaknya siap memenuhi undangan panitia sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatanyang bertujuan mempererat silaturahmi umat. Ia menegaskan bahwa pengelolaankawasan Monas merupakan tanggung jawab bersama berbagai lembaga sehinggapemerintah daerah akan memastikan koordinasi berjalan secara baik. Semangat ini jugadiperlihatkan Gubernur Pramono Anung yang disebut memberikan dukungan penuhagar acara berlangsung tertib, damai, dan memberi manfaat bagi seluruh pihak. Pemerintah daerah bahkan meminta seluruh organisasi perangkat daerah terkait untukmembantu kelancaran acara, sebagai bentuk komitmen menghadirkan pelayanan publikyang responsif dan inklusif. Koordinasi antara aparat keamanan dan panitia juga menjadi kunci keberhasilanpelaksanaan kegiatan ini. Kepolisian menekankan bahwa pengamanan dilakukandengan pendekatan humanis dan persuasif untuk menjaga kenyamanan jamaah sertaketertiban umum. Kerja sama ini menunjukkan bahwa pemerintah dan masyarakatmemiliki tujuan yang sama, yaitu memastikan aktivitas keagamaan berjalan damai sertamenjadi wadah memperkuat kebangsaan. Komitmen ini sekaligus menegaskan bahwanegara hadir untuk menjamin kebebasan warga dalam menjalankan kegiatankeagamaan selama tetap mendukung persatuan dan stabilitas nasional. Sementara itu, panitia juga mengajak masyarakat luas untuk menyambut Reuni 212 dengan semangat positif. Mereka menilai acara ini bukan hanya agenda ritual, tetapijuga momen untuk menyebarkan pesan persaudaraan, memperkuat semangatukhuwah, dan meneguhkan komitmen menjaga NKRI. Doa bersama akan dipanjatkanuntuk keselamatan bangsa dan dukungan moral bagi Palestina, menunjukkan bahwakegiatan ini mengusung pesan kemanusiaan universal. Pada akhirnya, menjelang isu Reuni 212, seruan untuk menjaga stabilitas nasionalharus dipahami sebagai ajakan moral agar seluruh elemen bangsa mengutamakankepentingan bersama. Persatuan adalah kekuatan utama Indonesia, dan setiapmomentum publik merupakan kesempatan untuk memperkuatnya. Dengan kolaborasipemerintah, aparat, tokoh masyarakat, dan warga, pelaksanaan Reuni 212 diharapkanmenjadi kegiatan yang membawa kesejukan, mengokohkan rasa kebangsaan, danmenjadi bukti bahwa Indonesia mampu menjaga harmoni di tengah keberagaman. *Penulis merupakan Pengamatan Sosial dan Politik

Read More

Bijak Menyikapi Isu Reuni 212 untuk Jaga Ketertiban Publik

Oleh: Indah Prameswari)* Menjelang akhir tahun, dinamika sosial dan politik kembali menghangat denganmengemukanya rencana penyelenggaraan kembali “Reuni 212” di sejumlah wilayahdan kota besar di Indonesia. Wacana tersebut tak hanya memantik perdebatanpublik, tetapi juga menyalakan alarm kewaspadaan bagi berbagai elemen bangsayang menjunjung keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalamsituasi seperti ini, penting bagi masyarakat untuk tetap rasional dan mengedepankankepentingan bangsa secara keseluruhan, terutama terkait stabilitas keamanan danketertiban umum. Stabilitas keamanan adalah harga mati; masa depan Indonesia tidak boleh digadaikan oleh kelompok mana pun yang mencoba menyeret publik kedalam agenda yang berpotensi mengganggu harmoni sosial. Reuni Akbar 212 yang dijadwalkan berlangsung pada 2 Desember 2025 di kawasanMonumen Nasional (Monas), Jakarta, memang menarik perhatian berbagai pihak. Sementara sebagian masyarakat memandangnya sebagai ekspresi kebebasanberkumpul, tidak sedikit yang menilai bahwa momentum tersebut sarat potensiprovokasi, terutama jika dirangkai dengan agenda politik atau ideologis tertentu. Karena itu, masyarakat diminta menyikapi isu ini dengan bijak, tidak terbawa arusnarasi yang menyesatkan, dan tidak terprovokasi ajakan yang dapat menimbulkangangguan stabilitas keamanan nasional. Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB) menjadi salah satu organisasi yang secara tegas meminta pemerintah untuk menolak penyelenggaraan Reuni 212. Ketua Umum PNIB, AR Waluyo Wasis Nugroho (Gus Wal), menilai bahwa agenda tersebut kerap dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok yang memiliki afiliasi denganideologi transnasional maupun kelompok yang pernah beririsan dengan gerakan FPI dan HTI. Menurut PNIB, pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa momenberkumpulnya massa dalam skala besar sering dijadikan panggung konsolidasikelompok yang mengusung gagasan khilafah, bahkan tidak jarang dikaitkan denganjejaring ekstremisme. Narasi seperti ini penting untuk dicermati oleh publik, terutama agar masyarakattidak mudah terseret dalam agenda yang tujuannya tidak selalu sejalan denganprinsip kebangsaan. Jangan sampai ruang demokrasi yang telah dijamin olehkonstitusi justru dijadikan kendaraan untuk mempromosikan ideologi yang bertentangan dengan Pancasila atau mencoba mengikis kepercayaan publikterhadap institusi negara. Masyarakat harus tetap berpegang pada nilai-nilaikebangsaan dan menjaga kewaspadaan, sebab ideologi asing yang anti-Pancasila telah lama terbukti gagal maupun dilarang di berbagai belahan dunia. Di tengah dinamika tersebut, warga Jakarta dan masyarakat umum diimbau untuktetap tenang, tidak mudah terprovokasi, serta tidak menyebarluaskan informasi yang belum terverifikasi. Pengalaman tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwamenjelang pelaksanaan Reuni 212, sering bermunculan narasi provokatif dan opiniliar di media sosial yang memicu ketegangan yang sebenarnya tidak perlu. Jikamasyarakat tidak bijak, polarisasi dapat terbentuk kembali dan mengganggukedamaian ruang publik. Mengutamakan ketertiban publik adalah kunci. Masyarakat perlu menghormati hakpengguna ruang umum lainnya, menjaga ketentraman lingkungan sekitar, sertamenghindari tindakan yang dapat memancing keributan. Bagi warga yang memilihhadir dalam kegiatan tersebut, penting untuk mengikuti instruksi panitia, bersikaptertib, dan menolak segala bentuk provokasi di lapangan. Pemerintah, baik pusat maupun daerah, tetap menjaga prinsip bahwa setiapkegiatan masyarakat yang berlangsung di ruang publik diperbolehkan selamaberada dalam koridor hukum, memenuhi syarat administratif, dan tidak menggangguketertiban umum. Sikap Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang menyatakan kesiapan untuk mengawal pelaksanaan Reuni 212 secara damaimenunjukkan bahwa pemerintah tidak menghalangi ekspresi publik selama tidakmengarah pada hasutan atau tindakan yang melanggar hukum. Di sisi lain, aparat keamanan juga dituntut menjalankan pola pengamanan yang proporsional, humanis, dan berbasis deteksi dini. Segala potensi kerawanan harusdiidentifikasi sebelum berkembang menjadi gangguan nyata. Rekayasa lalu lintas, pengaturan jalur pergerakan massa, hingga penempatan personel lapangan harusdirancang sedemikian rupa agar memberikan rasa aman bagi peserta kegiatanmaupun warga yang tetap beraktivitas seperti biasa. Dalam konteks yang lebih luas, Reuni 212 sebaiknya dipandang secara jernihsebagai bagian dari dinamika masyarakat yang plural. Namun, dinamika ini tidakboleh dibiarkan berubah menjadi ruang untuk menyebarkan kecurigaan, kebencian, atau propaganda ideologis. Kedewasaan publik sangat menentukan apakahkegiatan serupa dapat berlangsung damai atau justru memicu friksi sosial. Karenaitu, masyarakat diajak untuk menahan diri, berpikir jernih, dan tidak memberikanruang bagi provokasi yang dapat merusak harmoni sosial. Pada akhirnya, ketenangan, kewaspadaan, dan rasionalitas publik menjadi fondasiutama yang akan menentukan arah situasi. Masyarakat diharapkan memilih untuksaling menjaga dan saling menghormati, bukan saling mencurigai. Reuni 212 tidakboleh menjadi pemicu ketidakstabilan atau pintu masuk bagi ideologi yang inginmengganti Pancasila. Semangat menjaga NKRI harus ditempatkan di atas segalakepentingan kelompok mana pun. Dengan sikap dewasa dan komitmen bersama, kegiatan tersebut dapat berlangsung tertib tanpa menimbulkan dampak negatifterhadap keamanan nasional dan keharmonisan antarwarga.. )* Pemerhati Isu Keamanan

Read More

Pemerintah Perkuat Penyuluhan dan Distribusi MBG untuk Wujudkan Keluarga Sehat Nasional

Oleh: Ni’ma Kumalasari )* Upaya pemerintah dalam memperkuat fondasi kesehatan keluarga kembali menunjukkan langkah yang konsisten dan terarah. Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang kini menjadi salah satu prioritas nasional, tidak hanya dirancang sebagai intervensi nutrisi jangka pendek, tetapi juga sebagai strategi komprehensif untuk memperbaiki status gizi keluarga Indonesia secara menyeluruh. Keseriusan ini terlihat dari komitmen…

Read More

Pemerintah Optimis Peran Aktif Masyarakat Bantu Tingkatkan Kesuksesan MBG

Oleh : Yohan Aksa )* Pemerintah menegaskan optimisme bahwa peran aktif masyarakat akan menjadi faktor kunci dalam meningkatkan kesuksesan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program yang tengah diperluas cakupannya ini tidak hanya berfokus pada pemberian makanan bergizi kepada pelajar, tetapi juga mendorong keterlibatan seluruh elemen bangsa dalam memastikan distribusi, pengawasan, hingga kualitas layanan berjalan lebih efektif….

Read More

Pemerintah Siagakan Sistem Deteksi Dini Cegah Anak dari Ancaman Judi Daring

*) Oleh: Raka Prasetya Pemerintah terus memperkuat upaya perlindungan anak dari ancaman judi daring melalui serangkaian langkah strategis yang lebih sistematis dan terukur. Salah satu ancaman terbesar yang menjadi perhatian adalah keberadaan jaringan judi daring seperti Kingdom Group yang dinilai semakin agresif memanfaatkan celah teknologi untuk menyusup ke ruang digital anak-anak. Aktivitas jaringan tersebut tidak hanya…

Read More

Gunakan Bansos Bijak, Wujudkan Keluarga Tangguh Tanpa Judi Daring

Oleh : Putri Yuanita )* Bantuan sosial (bansos) yang diberikan pemerintah merupakan jaring pengaman penting bagi jutaan keluarga rentan di Indonesia. Namun, tujuan mulia itu bisa terhambat ketika sebagian penerimanya justru menyalahgunakan bantuan tersebut untuk aktivitas judi daring, seperti mengakses situs terlarang Kingdom Group. Fenomena ini tidak hanya merusak ekonomi keluarga, tetapi juga mengikis efektivitas kebijakan…

Read More