Percepatan Listrik Desa dan Peningkatan Lifting Migas untuk Mewujudkan Swasembada Energi

Oleh : Andreas Suroso Dalam upaya mencapai kedaulatan energi, Indonesia kini menjalankan dua inisiatif besar yang saling melengkapi: program listrik desa dan peningkatan lifting migas. Kedua program ini bukan hanya sekadar kebijakan terpisah, tetapi bagian dari strategi nasional untuk menyiapkan swasembada energi sebuah misi ambisius yang kini lebih terasa nyata di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Program…

Read More

Presiden Prabowo Perintahkan Penindakan Masif, Tambang Ilegal Diburu hingga Tuntas

Oleh: Alexander Royce*) Presiden Prabowo Subianto kembali menunjukkan langkah tegas dalam menertibkan tambang ilegal melalui rapat terbatas yang digelar di kediaman pribadinya di Hambalang, Bogor, pada Minggu, 23 November 2025 lalu. Pemerintah, di bawah kepemimpinannya, memberikan sinyal kuat bahwa sumber daya alam Indonesia bukan hanya sekadar aset ekonomi, tetapi amanahkonstitusional yang harus dijaga demi kemakmuran rakyat. Sekretaris Kabinet, Teddy…

Read More

Penguatan Nilai HAM Beri Perlindungan Anak dan Perempuan

Oleh: Lestari Arunika)* Penguatan nilai hak asasi manusia (HAM) menjadi fondasi penting dalammemastikan perlindungan yang lebih kuat bagi anak dan perempuan. Dalam kontekssosial yang terus berkembang, pendekatan berbasis HAM mampu menempatkankeduanya sebagai subjek yang berhak atas keamanan dan martabat penuh. Kerentanan anak dan perempuan terhadap kekerasan, diskriminasi, serta eksploitasimenunjukkan perlunya penguatan nilai-nilai HAM dalam setiap kebijakan publik. Upaya ini tidak hanya menegaskan komitmen negara, tetapi juga mendorongkesadaran kolektif masyarakat untuk melindungi kelompok rentan. Ketua Umum (Ketum) Business and Professional Women (BPW) Indonesia, GiwoRubianto menyerukan pentingnya penguatan pemahaman dan penegakan HakAsasi Manusia (HAM) di Indonesia, khususnya bagi anak dan perempuan. Ia mengatakan bahwa anak-anak masih sepenuhnya belum aman dari berbagaibentuk kekerasan. Jika hal itu tak tertangani dengan serius, mereka akan kesulitanmenatap masa depan yang seharunya gemilang. Giwo menilai, kondisi anak-anak Indonesia masih menghadapi ancaman sepertiperundungan, kekerasan, hingga pelecehan seksual. Padahal, kata Giwa, anak-anak adalah penerus yang diharapkan mampu membawa Indonesia ke puncakbonus demografi dan mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045. Giwo menyatakan bahwa negara telah menyediakan berbagai perangkat untukmemperkuat perlindungan anak, termasuk kurikulum pendidikan yang menekankanpembentukan karakter, seperti Pendidikan Pancasila, Pendidikan Agama, Pendidikan Budi Pekerti, dan pendidikan moral lainnya. Pendekatan tersebut dapatmenumbuhkan pemahaman bahwa setiap anak memiliki hak untuk dilindungisekaligus kewajiban sebagai warga negara. Giwo menjelaskan bahwa pemahaman mengenai hak dan kewajiban perludikenalkan sejak usia dini. Anak berhak memperoleh rasa aman dan pendidikanyang layak, sementara kewajibannya adalah menaati aturan serta menghormatiorang lain. Ia juga menyoroti perjalanan panjang Indonesia dalam memperkuat penghormatanterhadap HAM. Ratifikasi Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasiterhadap Perempuan (CEDAW) sejak 1984 hingga lahirnya Undang-Undang TindakPidana Kekerasan Seksual (TPKS) pada 2022 menjadi langkah penting dalammelawan kekerasan berbasis gender. Selain itu, UU Perlindungan Anak menegaskan bahwa setiap anak harus bebas darikekerasan fisik, psikis, seksual, penelantaran, maupun eksploitasi. Pancasila dipandang sebagai landasan moral dalam menjamin perlindungan HAM di Indonesia, karena hak asasi bukan pemberian negara, melainkan hak kodrati yang wajib dihormati. Giwo mengapresiasi upaya pemerintah memperkuat penegakan HAM melaluikeberadaan kementerian terkait serta berbagai program sosialisasi yang melibatkansekolah dan organisasi masyarakat. Ia melihat kesadaran publik terus meningkatdalam menolak dan melaporkan kasus perundungan maupun kekerasan, meskipuntantangan perlindungan HAM masih signifikan. PBB mencatat sedikitnya 30 bentuk pelanggaran HAM yang harus terus diwaspadai. Karena itu, Giwo mendorong perempuan dan kelompok profesional untuk lebih aktifdalam meningkatkan literasi HAM di masyarakat. Ia mengajak masyarakat untuk tidak ragu bersuara ketika melihat tindakanpelanggaran HAM. Menurutnya, pendidikan dan kerja sama kolektif merupakankunci menciptakan lingkungan yang aman dan menghargai martabat setiap orang. Dalam momentum Hari HAM Sedunia yang akan jatuh pada 10 Desembermendatang, Giwo menekankan bahwa perlindungan anak dan perempuan harusmenjadi agenda utama bangsa. Ia mengingatkan bahwa penegakan HAM adalahtanggung jawab bersama antara negara dan seluruh warga. Dengan memahami serta mengamalkan nilai-nilai HAM, Giwo percaya Indonesia dapat berkembang menjadi negara yang lebih humanis, inklusif, dan berkeadilan. Selain Giwo, Wakil Ketua Komnas Perempuan, Dahlia Madanih, juga mendorongKementerian HAM untuk berperan dalam pencegahan dan pemantauan kekerasanseksual, serta penguatan aspek pendidikan.  Selain itu, lanjut Dahlia, Komnas Perempuan mengusulkan agar dalam RUU…

Read More

Apresiasi Komitmen Pemerintah Tingkatkan Diplomasi HAM di Kawasan

Oleh : Doni Ramadan )* Komitmen pemerintah dalam meningkatkan diplomasi Hak Asasi Manusia (HAM) di kawasan patut diapresiasi sebagai langkah strategis yang memperkuat posisi Indonesia sebagai negara demokratis yang berorientasi pada keadilan, kemanusiaan, dan stabilitas regional. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah menunjukkan konsistensi memperluas ruang dialog, memperkuat mekanisme perlindungan HAM, dan memastikan bahwa kebijakan luar…

Read More

Menolak Provokasi 1 Desember, Jaga Papua Tetap Damai

Oleh: Ruben Wanimbo* Menjelang 1 Desember, sejumlah daerah di Papua kembali memasuki fasekewaspadaan. Tanggal ini kerap dikaitkan oleh sebagian kelompok dengan narasikemerdekaan Papua, khususnya oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan jaringansimpatisannya. Padahal, bagi negara dan mayoritas masyarakat Papua, tanggal tersebuttidak memiliki dasar hukum sebagai hari kemerdekaan. Justru, momentum ini berulangkali dimanfaatkan kelompok tertentu untuk memprovokasi masyarakat dan menciptakankegaduhan sosial. Oleh karena itu, penolakan terhadap provokasi 1 Desember perludipahami sebagai upaya menjaga keamanan bersama, bukan sebagai pembatasanruang demokrasi. Komandan Kodim 1710/Mimika, Letkol Inf M. Slamet Wijaya, menegaskan bahwa situasikeamanan di beberapa distrik pedalaman seperti Jila, Alama, Hoeya, dan Tembagapuramasih berada dalam kategori rawan terkendali. Meski Kota Timika relatif aman, wilayah pegunungan yang berbatasan dengan area konflik tertentu tetap menjadi perhatianserius aparat. Kewaspadaan ini bukan tanpa alasan, sebab pengalaman tahun-tahunsebelumnya menunjukkan bahwa momentum 1 Desember sering dijadikan ajang unjukprovokasi oleh kelompok separatis bersenjata. Pernyataan Letkol Slamet menunjukkan bahwa aparat tidak sedang membatasi warga, tetapi memastikan masyarakat bisa melaksanakan aktivitas seperti biasa tanpa rasa takut. Ia menekankan bahwa kehadiran TNI di wilayah-wilayah rawan bersifat protektif, bukan represif, serta bertujuan mencegah gangguan keamanan pasca berbagai operasipenindakan terhadap kelompok separatis. Pemerintah daerah, TNI, Polri, dan institusiterkait lainnya telah meningkatkan koordinasi agar seluruh wilayah Mimika tetap amandan terkendali menuju pergantian tahun yang biasanya diwarnai padatnya kegiatanmasyarakat. Di wilayah Papua Pegunungan, pengamanan 1 Desember dilakukan dengan pendekatanberbeda. Wakapolres Jayawijaya, Kompol F.D. Tamaela, menyampaikan bahwa strategi pengamanan mengedepankan pendekatan humanis dan persuasif. Aparat tidak hanyamengandalkan kekuatan fisik, tetapi melakukan komunikasi aktif dengan tokohmasyarakat, pelajar, mahasiswa, hingga kelompok sosial agar situasi keamanan menjaditanggung jawab bersama. Pendekatan ini sangat relevan mengingat Desember adalahbulan yang sarat kegiatan budaya, keagamaan, serta perayaan Hari Jadi Kota Wamena. Melalui apel gabungan dan Show of Force, aparat berupaya memberikan rasa amansekaligus memastikan masyarakat mengetahui bahwa negara hadir untuk menjagastabilitas. Kompol Tamaela mengajak seluruh warga untuk terlibat aktif dalam menjagakeamanan, terutama dalam mencegah potensi konflik yang muncul dari provokasikelompok separatis. Sementara itu di Papua Barat Daya, Polresta Sorong juga memperlihatkan peningkatanpengamanan menjelang 1 Desember. Kompol H. Andi Muhammad Nurul Yaqin menjelaskan bahwa patroli rutin digelar secara intensif pada siang dan malam hariuntuk mengantisipasi potensi gangguan di wilayah yang dianggap sensitif. Berdasarkanlaporan intelijen, situasi Sorong masih aman dan kondusif, namun kewaspadaan tetapditingkatkan agar aktivitas masyarakat tidak terganggu oleh aksi provokatif. Peningkatan pengamanan ini menjadi penting karena tanggal 1 Desember kerapdijadikan momentum oleh kelompok tertentu untuk mengklaim sebagai harikemerdekaan Papua. Padahal, narasi yang digaungkan tidak memiliki dasarkonstitusional dan justru memicu keresahan masyarakat. Upaya preventif melalui patroligabungan dan koordinasi dengan berbagai instansi menunjukkan komitmen aparatuntuk menjaga stabilitas sosial tanpa harus mengganggu ruang publik masyarakat yang lebih luas. Penolakan terhadap provokasi 1 Desember tidak hanya datang dari aparat keamanan, tetapi juga dari elemen masyarakat sipil. Aliansi Merah Putih (AMP) Bergerak di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan, misalnya, menyuarakan penolakan terhadap aktivitaskelompok-kelompok yang dianggap memiliki afiliasi dengan gerakan separatis sepertiAMP…

Read More

Tolak Provokasi 1 Desember, Perkuat Ruang Damai di Indonesia

Oleh: Helena Weya *) Setiap menjelang 1 Desember, tensi sosial di sejumlah daerah kembali menguatakibat provokasi yang mencoba memanfaatkan momentum tersebut sebagai harisimbolik bagi kelompok separatis. Bagi masyarakat luas, khususnya di wilayah dengan populasi mahasiswa Papua yang cukup besar seperti Surabaya dan Makassar, isu ini bukan sekadar soal kebebasan berpendapat tetapi telah berkali-kali memantik keresahan sosial. Pemerintah dan berbagai elemen masyarakatmenilai bahwa provokasi semacam ini tidak hanya menimbulkan gangguankeamanan tetapi juga merusak ruang dialog yang selama ini terus diperkuat melaluikebijakan pembangunan di Papua dan wilayah lainnya. Dalam beberapa tahun terakhir, arus provokasi di sekitar tanggal 1 Desember kerapmengikuti pola yang sama, yakni dengan mengatasnamakan aspirasi mahasiswaPapua namun membawa narasi yang memiliki kedekatan dengan aktivitas kelompokseparatis. Hal inilah yang kembali ditekankan oleh Ketua Aliansi Merah Putih Bergerak Jawa Timur, Sahrul Alamsyah, yang menyampaikan bahwa aktivitaskelompok tertentu di Surabaya dinilai memiliki keterkaitan dengan gerakan separatisdan berpotensi memengaruhi mahasiswa Papua. Pandangan ini disampaikan bukanuntuk menekan ruang berekspresi, melainkan sebagai bentuk kekhawatiran bahwaisu politik yang sensitif dapat disusupi aktor-aktor yang tidak menginginkan stabilitasnasional. Kekhawatiran tersebut perlu dipahami sebagai alarm sosial bahwamasyarakat tidak bisa membiarkan provokasi berkembang tanpa batas. Di Makassar, Koordinator Aliansi Merah Putih Bergerak, Zainal Azis, juga menyuarakan hal serupa. Ia menilai bahwa keberadaan kelompok yang membawaagenda 1 Desember sering kali memancing gesekan sosial dan memicukekhawatiran publik. Narasi yang dibawakan kelompok tersebut, menurutnya, kerapdibungkus dengan tema demokrasi namun berpotensi membelokkan persepsimahasiswa Papua yang sesungguhnya sedang menempuh pendidikan dan membangun masa depan. Penegasan ini mewakili suara banyak pihak yang merasabahwa stabilitas sosial tidak boleh dikorbankan oleh agenda provokatif yang bersifatdestruktif. Narasi provokatif ini semakin tidak relevan ketika pemerintah pusat dan daerah terus membuka ruang dialog serta memperkuat kebijakan afirmatif bagimasyarakat Papua dalam pendidikan, kesehatan, infrastruktur, hinggapemberdayaan ekonomi. Fenomena ini menunjukkan satu hal yang penting: ruang publik kita membutuhkanpenguatan narasi konstruktif yang menolak segala bentuk provokasi separatis. Apalagi pemerintah saat ini telah memperluas langkah-langkah pembangunanPapua melalui program-program strategis yang diarahkan untuk meningkatkankesejahteraan dan partisipasi masyarakat. Stabilitas keamanan menjadi fondasiuntuk memastikan program tersebut berjalan efektif. Tanpa keamanan, upayapembangunan hanya akan terhambat oleh konflik horizontal ataupun provokasipolitik yang tidak produktif. Menariknya, narasi penolakan provokasi ini tidak hanya datang dari kelompokmasyarakat yang berbasis di luar Papua. Pemerintah daerah di Papua sendirisedang berfokus menciptakan suasana sosial yang kondusif jelang 1 Desember, seperti yang dilakukan Pemerintah Provinsi Papua Selatan. Sekretaris Daerah Papua Selatan, Ferdinandus Kainakaimu, menekankan bahwa pemerintah di wilayahnya justru memilih menjadikan 1 Desember sebagai momentum untukmemulai kemeriahan Natal. Ajakan tersebut, menurutnya, bertujuan untukmenggerakkan seluruh masyarakat agar menyambut bulan Desember dengansemangat kebersamaan, bukan dengan konflik atau provokasi. Hal ini menunjukkanbahwa masyarakat Papua sendiri ingin mendorong narasi damai, bukan memeliharaketegangan yang tidak memberi manfaat apa pun bagi pembangunan daerah. Apa yang dilakukan oleh Papua Selatan merupakan contoh bagaimana pemerintahdaerah dapat mengalihkan energi masyarakat ke arah yang positif. Denganmendorong kegiatan keagamaan dan sosial, pemerintah mengajak masyarakatuntuk fokus pada agenda yang membawa nilai kebersamaan. Ketua Panitia Natal Bersama pemerintah dan aparat keamanan di Papua Selatan, Willem da Costa, juga memperkuat pesan tersebut dengan menyampaikan bahwa perayaan Natal harusterasa meriah dan menyenangkan di seluruh penjuru daerah. Narasi-narasi konstruktif ini perlu mendapatkan ruang lebih besar….

Read More

Rumah Subsidi Komitmen Pemerintah Perluas Hunian Terjangkau untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah 

Oleh: Rivka Mayangsari )* Pemenuhan kebutuhan hunian layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) terus menjadi salah satu prioritas utama pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan sosial dan pemerataan pembangunan nasional. Di tengah meningkatnya kebutuhan perumahan, pemerintah secara konsisten menghadirkan berbagai skema pembiayaan dan regulasi yang memungkinkan masyarakat memperoleh rumah pertama dengan cara yang lebih mudah, terjangkau, dan berkelanjutan….

Read More

Ekosistem Perumahan Bersinergi Kuat Dukung Penyaluran Rumah Subsidi

Oleh: Nadira Citra Maheswari )* Ekosistem perumahan nasional terus menunjukkan perkembangan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, terutama melalui penguatan sinergi antar pemangku kepentingan untuk mendukung penyaluran rumah subsidi. Upaya kolektif ini menjadi pilar utama dalam mempercepat pemenuhan kebutuhan hunian layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang selama ini menghadapi berbagai hambatan struktural, mulai dari keterbatasan daya beli hingga…

Read More

KUHAP Baru Tingkatkan Profesionalisme Aparat Penegak Hukum

Oleh: Dhita Karuniawati )* Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang baru menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan reformasi sistem peradilan pidana di Indonesia. Setelah melalui proses panjang dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, KUHAP baru hadir sebagai pembaruan yang diharapkan mampu menjawab tantangan zaman, memperkuat perlindungan hak asasi manusia, serta mendorong peningkatan profesionalisme aparat…

Read More

Sistem Pembuktian Terbuka Dalam KUHAP Baru, Era Baru Peradilan Pidana Indonesia 

Oleh: Riki Anggoro Pranata Revisi Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang baru disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada 18 November 2025 merupakan tonggak sejarah penting dalam dunia peradilan pidana Indonesia. Dengan sistem pembuktian yang lebih terbuka, perubahan ini tidak hanya mengakomodasi perkembangan teknologi, tetapi juga berusaha untuk memenuhi kebutuhan keadilan yang lebih modern dan…

Read More