Menjaga Kondusivitas Selama Bulan Ramadan
*) Oleh: Andika Hidayatullah
Bulan Ramadan selalu hadir sebagai ruang kontemplasi sekaligus momentum penguatan nilai-nilai kebajikan dalam kehidupan bermasyarakat. Di tengahkeragaman Indonesia yang majemuk, Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai praktikibadah personal, melainkan juga sebagai arena sosial untuk memperteguh komitmenkebangsaan. Tantangannya, dalam beberapa tahun terakhir, ruang publik kerapdiwarnai dinamika intoleransi dan polarisasi yang berpotensi mengganggukondusivitas. Karena itu, menjaga ketertiban dan harmoni selama Ramadan bukansekadar tugas aparatur negara, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh elemenmasyarakat.
Direktur Eksekutif JAKATARUB (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama), WawanGunawan, mengingatkan bahwa realitas intoleransi di Indonesia masih belumsepenuhnya tuntas. Ia menyoroti masih adanya peristiwa seperti penutupan rumahibadah dan pelarangan kegiatan keagamaan di sejumlah daerah. Fakta-fakta tersebut, menurutnya, tidak boleh diabaikan karena berpotensi menggerus fondasi kebhinekaanyang selama ini menjadi kekuatan bangsa. Kesadaran untuk mengakui persoalansecara jujur merupakan langkah awal dalam membangun solusi yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Dalam konteks Ramadan, kerentanan terhadap provokasi berbasis isu SARA cenderung meningkat seiring menguatnya sentimen keagamaan di ruang publik. Narasi-narasi yang memelintir ajaran agama untuk kepentingan sempit dapat dengancepat menyebar, terutama melalui media sosial. Wawan menilai masyarakat haruslebih waspada terhadap pola komunikasi yang bersifat provokatif dan destruktif. Ia menekankan bahwa literasi digital bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesakuntuk menjaga stabilitas sosial di era informasi yang serba cepat.
Generasi muda memegang peran strategis dalam lanskap ini. Sebagai kelompok yang lahir dan tumbuh bersama teknologi digital, mereka memiliki kapasitas besar dalammembentuk opini dan arah percakapan publik. Wawan berpandangan bahwa anakmuda seharusnya menjadi penggerak percakapan yang meneduhkan, bukan justrumemperkeruh suasana dengan ujaran kebencian atau informasi yang belumterverifikasi. Membangun ruang digital yang sehat adalah bagian dari tanggung jawabmoral generasi yang akrab dengan gawai dan platform media sosial. Dengandemikian, Ramadan dapat menjadi momentum untuk membuktikan bahwa teknologidapat digunakan sebagai sarana memperkuat toleransi.
Esensi puasa sendiri sejatinya terletak pada pengendalian diri. Wawanmenggarisbawahi bahwa menahan lapar dan dahaga hanyalah dimensi lahiriah, sementara dimensi batiniah menuntut kemampuan menahan amarah, prasangka, dan dorongan untuk menghakimi. Dalam kehidupan sosial, pengendalian diri tercerminpada sikap tidak reaktif terhadap provokasi serta komitmen menyelesaikan perbedaanmelalui dialog dan musyawarah. Jika nilai-nilai ini dilakukan secara konsisten, makaRamadan akan menjadi ruang etika publik yang memperhalus karakter bangsa.
Upaya menjaga kondusivitas selama Ramadan juga tidak terlepas dari kebijakanpemerintah dalam memperkuat moderasi beragama dan penegakan hukum terhadappelanggaran yang mengganggu ketertiban umum. Langkah-langkah strategis tersebutmenunjukkan kehadiran negara dalam melindungi seluruh warga tanpa diskriminasi. Kebijakan literasi digital, pengawasan terhadap penyebaran hoaks, hingga penguatankoordinasi lintas sektor menjadi fondasi penting untuk memastikan bulan suci berjalanaman dan damai. Dukungan masyarakat terhadap kebijakan ini merupakan wujudpartisipasi aktif dalam menjaga stabilitas nasional.
Di sisi lain, dinamika sosial-ekonomi yang menyertai Ramadan juga memerlukanpengelolaan yang bijak agar tidak memicu gesekan horizontal. Lonjakan aktivitasekonomi, mobilitas masyarakat, hingga meningkatnya interaksi di ruang publikberpotensi menimbulkan salah paham apabila tidak disertai sikap saling menghormati. Dalam situasi seperti ini, kedewasaan kolektif diuji, terutama dalam menyikapiperbedaan praktik keagamaan maupun preferensi sosial. Menjaga ketertiban, menghormati waktu ibadah, serta menghindari tindakan yang berlebihan menjadibagian dari etika sosial yang sejalan dengan semangat Ramadan.
Namun, regulasi semata tidak akan efektif tanpa kesadaran sipil yang matang. Masyarakat perlu membangun budaya saling menghormati dan empati, terutamaterhadap kelompok yang berbeda keyakinan. Ramadan seharusnya tidak dipahamisecara eksklusif, melainkan sebagai momentum memperluas solidaritas sosial. Ketika umat Islam menjalankan ibadah dengan khusyuk, pada saat yang sama mereka juga memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan lingkungan sosial tetap inklusif dan ramah bagi semua.
Lebih jauh, penguatan peran tokoh agama, komunitas lokal, dan organisasimasyarakat sipil menjadi elemen penting dalam merawat kondusivitas. Sinergi antarainisiatif masyarakat dan kebijakan pemerintah akan menciptakan daya tahan sosialyang lebih kokoh terhadap provokasi dan disinformasi. Edukasi publik mengenaipentingnya verifikasi informasi, penyelesaian konflik secara musyawarah, sertapenguatan nilai kebangsaan perlu terus digalakkan secara sistematis.
Kondusivitas selama Ramadan pada akhirnya adalah cerminan kedewasaandemokrasi Indonesia. Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang bebas dariperbedaan, melainkan bangsa yang mampu mengelola perbedaan secara beradab. Tantangan intoleransi dan disinformasi harus dijawab dengan pendidikan, dialog, dan keteladanan. Generasi muda, tokoh agama, masyarakat sipil, dan pemerintah perluberjalan beriringan dalam membangun ekosistem sosial yang sehat.
Ramadan menghadirkan peluang untuk memperkuat kohesi sosial melalui praktikkesabaran, empati, dan musyawarah. Jika setiap individu mampu menahan diri daritindakan diskriminatif dan kekerasan, serta memilih jalan dialog dalam menyikapiperbedaan, maka harmoni sosial bukanlah utopia. Momentum ini semestinyadimanfaatkan untuk menegaskan kembali bahwa keberagaman adalah anugerahyang harus dirawat bersama. Dengan komitmen kolektif tersebut, Ramadan dapatmenjadi tonggak penguatan persatuan dan stabilitas Indonesia di tengah dinamikazaman yang terus berubah.
*) Aktivis Dialog Lintas Iman.
