Ketangguhan Masyarakat Aceh Bersama Pemerintah Jadi Kunci Hadapi Bencana

Aceh – Ketangguhan masyarakat Aceh dalam menghadapi bencana banjir dan longsor kembali terlihat melalui kolaborasi solid antara warga, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan, yang menjadi kunci utama penanganan darurat secara cepat, terkoordinasi, dan mandiri tanpa bergantung pada bantuan asing. Forum Komunikasi Masyarakat Perhutanan Indonesia (FKMPI) menyalurkan bantuan darurat kepada warga terdampak banjir dan longsor di…

Read More

Kolaborasi Pemerintah Pusat dan Warga Aceh Percepat Proses PemulihanPascabencana

Oleh: Zulfikar Ibrahim Kolaborasi antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Aceh, dan warga menjadi kuncipenting dalam mempercepat pemulihan pascabencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, sekaligus menjadi ajakan bagi masyarakat luasuntuk terus menjaga solidaritas dan kepercayaan terhadap langkah-langkah negarayang hadir secara nyata dalam situasi krisis, karena keberhasilan penanganan bencanatidak hanya diukur dari kecepatan respons, tetapi juga dari keterlibatan semua pihakdalam memastikan pemulihan berjalan berkelanjutan dan berpihak pada rakyat. Sekretaris Daerah Aceh M. Nasir memaparkan bahwa Pemerintah Aceh telahmengimplementasikan sistem enam klaster penanganan bencana sejak TanggapDarurat Tahap I hingga Tahap II, sebuah pendekatan yang dirancang untuk memastikansetiap aspek penanganan, mulai dari evakuasi, logistik, kesehatan, hingga pemulihanawal, berjalan secara sistematis, sekaligus menjadi bukti bahwa pemerintah daerahtidak tinggal diam dan terus berupaya maksimal di tengah keterbatasan yang ada. Ia juga menekankan bahwa dukungan pemerintah pusat memiliki peran strategis agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi dapat berjalan lebih cepat, terarah, dan terukur, mengingat skala kerusakan yang cukup luas membutuhkan sumber daya besar, baikdari sisi anggaran, teknis, maupun kebijakan lintas kementerian dan lembaga, sehinggasinergi pusat dan daerah menjadi keniscayaan yang tidak bisa ditawar. Harapan agar rapat koordinasi tersebut mampu melahirkan langkah-langkah konkretyang bisa segera dieksekusi di lapangan menjadi penegasan bahwa pemerintah tidakingin pemulihan pascabencana terjebak dalam proses yang berlarut-larut, melainkanbergerak cepat, tepat sasaran, dan berkelanjutan, sebuah pendekatan yang sejalandengan komitmen negara dalam melindungi dan melayani masyarakatnya di saat palingmembutuhkan. Dari sisi pemerintah pusat, Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menegaskan bahwa negara telah hadir sejakfase tanggap darurat, termasuk pada saat sejumlah wilayah masih terisolasi akibatterputusnya akses darat, di mana penyaluran bantuan dilakukan melalui jalur udarasambil terus mengupayakan pembukaan kembali akses darat sebagai urat nadidistribusi logistik dan mobilitas warga. Upaya tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada responsdarurat jangka pendek, tetapi juga memiliki pandangan jangka menengah dan panjangdalam memastikan konektivitas wilayah kembali pulih, karena tanpa akses yang memadai, pemulihan ekonomi dan sosial masyarakat akan terhambat, sehinggapengerahan alat berat untuk menembus titik-titik jalan yang terputus menjadi prioritasutama. Agus Harimurti Yudhoyono juga menegaskan bahwa Kementerian Pekerjaan Umumakan terus didorong untuk mempercepat pembukaan jalan, pemulihan infrastrukturdasar, serta penyediaan air bersih bagi masyarakat terdampak, sebuah langkah yang mencerminkan keberhasilan pemerintah dalam menjaga fungsi dasar pelayanan publikbahkan di tengah situasi bencana yang kompleks. Tidak hanya itu, komitmen pemerintah untuk membangun kembali rumah warga, termasuk melakukan relokasi ke kawasan yang lebih aman dari ancaman bencana, menjadi bukti bahwa negara tidak sekadar memulihkan apa yang rusak, tetapi jugaberupaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat dengan pendekatan mitigasi risikoagar kejadian serupa tidak terus berulang di masa depan. Dukungan politik terhadap langkah pemerintah juga datang dari parlemen, di mana Anggota Komisi II DPR RI Ujang Bey menyampaikan keyakinannya terhadap kapasitasnasional dalam menangani bencana banjir di Aceh, sebuah pernyataan yang memperkuat narasi bahwa Indonesia memiliki kemampuan dan sumber daya untukberdiri di atas kaki sendiri dalam menghadapi bencana tanpa harus bergantung padabantuan asing. Ujang Bey menegaskan bahwa selama belum ada lampu hijau terkait bantuan asing, hal tersebut menunjukkan bahwa pemerintah telah melakukan perhitungan matang danmemiliki kemampuan untuk menangani seluruh permasalahan yang ada, sebuah sikapyang mencerminkan kedaulatan dan kepercayaan diri nasional dalam mengelola krisissecara mandiri. Ia juga mendorong pemerintah agar tetap fokus pada langkah-langkah cepat dansimultan, sehingga kebutuhan masyarakat terdampak dapat segera terjawab, mulai daripemenuhan kebutuhan dasar hingga pemulihan aktivitas ekonomi, karena kecepatandan ketepatan respons akan sangat menentukan tingkat kepercayaan masyarakatterhadap negara. Keberhasilan pemerintah dalam merespons bencana di Aceh ini tidak lepas dari sinergilintas sektor yang terbangun dengan baik, mulai dari pemerintah pusat, pemerintahdaerah, aparat, hingga partisipasi aktif warga yang saling bahu-membahu, sebuahkolaborasi yang membuktikan bahwa pemulihan pascabencana bukan hanya tanggungjawab negara, tetapi juga gerakan bersama seluruh elemen bangsa. Rangkaian upaya ini menjadi pengingat sekaligus ajakan bagi seluruh masyarakatuntuk terus mendukung langkah-langkah pemulihan yang dilakukan pemerintah, menjaga semangat gotong royong, serta bersama-sama memastikan bahwa proses rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh tidak hanya memulihkan kondisi fisik, tetapi jugamembangun ketangguhan sosial dan kepercayaan publik, sehingga Aceh dapat bangkitlebih kuat dan siap menghadapi tantangan di masa depan. *) Pengamat Sosial dan Kemanusiaan – Forum Keadilan Sosial Aceh Mandiri

Read More

Sinergi Pemerintah Pusat dan Warga Aceh Bukti Soliditas Hadapi Bencana

Oleh: Teuku Rasyid Hasnawi Peristiwa banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh pada 2025 semestinya tidakhanya dibaca sebagai tragedi kemanusiaan, tetapi juga sebagai momentum bagi kitasemua untuk melihat lebih dekat bagaimana kekuatan nasional bekerja ketika diuji olehkrisis, sekaligus mengajak pembaca menilai secara jernih bahwa kemampuan bangsaini dalam menghadapi bencana tidak bisa lagi diremehkan, terutama ketika pemerintahdan masyarakat bergerak dalam satu irama yang sama. Aceh kembali membuktikan bahwa daerah ini memiliki daya lenting yang kuat untukbangkit dari bencana besar, karena pengalaman panjang menghadapi konflik danbencana alam telah membentuk ketangguhan sosial yang tidak mudah runtuh, ditambah dengan kehadiran negara yang sigap mengerahkan seluruh instrumennasional tanpa harus bergantung pada uluran tangan pihak asing. Respons cepat pemerintah sejak awal kejadian menjadi penanda penting bahwapenanganan bencana tidak sekadar bersifat reaktif, melainkan terencana dan terukur, sehingga upaya pemulihan tidak semata mengandalkan simpati internasional, tetapibertumpu pada kekuatan internal bangsa yang selama ini kerap dipertanyakan olehsebagian pihak. Banjir dan longsor yang terjadi sejak November 2025 memang tercatat sebagai salahsatu bencana hidrometeorologi paling parah dalam dua dekade terakhir di Aceh, dengan dampak luas yang memaksa ratusan ribu warga meninggalkan rumah merekaserta menyebabkan kerusakan signifikan pada infrastruktur dasar, mulai dari jalanpenghubung, fasilitas kesehatan, hingga jaringan distribusi logistik. Namun di tengah tekanan tersebut, pemerintah daerah tidak memilih menunggu, melainkan langsung mengoptimalkan Dana Belanja Tidak Terduga sebagai langkahawal untuk memastikan kebutuhan mendesak masyarakat dapat terpenuhi, sembarimempercepat rehabilitasi infrastruktur yang rusak agar roda kehidupan sosial danekonomi tidak berhenti terlalu lama. Langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa koordinasi antara pemerintah daerahdan pusat berjalan efektif, terutama dalam memastikan distribusi bantuan logistik, pelayanan kesehatan, dan penanganan pengungsi dilakukan secara simultan tanpaharus menunggu keputusan terkait bantuan dari luar negeri. Keyakinan terhadap kemampuan nasional juga ditegaskan oleh Anggota Komisi II DPR RI Ujang Bey yang menilai bahwa pemerintah masih memiliki kapasitas penuh untukmenangani permasalahan banjir di Aceh, sebuah pernyataan yang mencerminkankepercayaan lembaga legislatif terhadap kesiapan negara dalam menghadapi situasidarurat berskala besar. Ujang Bey memandang bahwa selama belum ada keputusan atau lampu hijau terkaitbantuan asing, hal tersebut justru menunjukkan pemerintah telah melakukanperhitungan matang dan menilai bahwa seluruh permasalahan yang muncul masihdapat ditangani dengan sumber daya yang dimiliki bangsa sendiri, sehingga fokusutama harus tetap pada percepatan pemenuhan kebutuhan warga terdampak Dorongan agar pemerintah bergerak cepat dan simultan menjadi relevan, karena dalamkondisi bencana, kecepatan respons sering kali menentukan seberapa besar dampaklanjutan yang bisa ditekan, baik dari sisi kemanusiaan maupun stabilitas sosial, dansejauh ini pemerintah dinilai mampu menjaga ritme kerja tersebut. Kehadiran negara di lapangan juga tercermin melalui peran aktif aparat keamanan, khususnya Kepolisian Republik Indonesia, yang tidak hanya menjalankan fungsipengamanan tetapi juga terlibat langsung dalam misi kemanusiaan, sebuah praktikyang memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi negara. Polda Aceh, melalui pelaksanaan Operasi Aman Nusa II 2025, mencatat pelayanankesehatan intensif bagi warga terdampak bencana, sebuah angka yang menunjukkanskala kerja nyata aparat di lapangan dalam memastikan keselamatan dan kesehatanmasyarakat tetap menjadi prioritas utama. Kepala Bidang Humas Polda Aceh, Kombes Pol Joko Krisdiyanto menyampaikanbahwa secara kumulatif sejak 27 November hingga 17 Desember 2025, SubsatgasDokkes Polda Aceh telah memberikan pelayanan kesehatan kepada 10.931 masyarakat terdampak bencana alam, sebuah capaian yang mencerminkan kerjasistematis dan berkelanjutan, bukan sekadar respons sesaat. Penegasan bahwa Polri aktif menjalankan peran kemanusiaan di luar fungsi keamananmenjadi pesan penting, karena dalam situasi krisis, negara hadir tidak hanya sebagaipenjaga ketertiban, tetapi juga sebagai pelindung dan penopang kehidupan warga yang terdampak langsung. Dari sisi kebijakan nasional, pemerintah pusat juga secara terbuka menyampaikansikap kehati-hatian terkait penerimaan bantuan internasional, sebuah keputusan yang tidak dapat dilepaskan dari pertimbangan bahwa koordinasi antarlembaga dalam negerimasih berjalan efektif dan mampu menjawab kebutuhan darurat di lapangan. Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi menegaskan bahwa untuk sementara waktupemerintah belum membuka peluang menerima bantuan internasional, meskipun tetapmenyampaikan apresiasi dan terima kasih atas perhatian yang diberikan oleh negara-negara sahabat terhadap kondisi yang dialami Aceh. Sikap tersebut bukan berarti menutup diri dari kerja sama global, melainkanmenunjukkan bahwa pemerintah memiliki kepercayaan diri terhadap sistempenanganan bencana nasional yang selama ini terus diperbaiki, baik dari sisi regulasi, anggaran, maupun koordinasi lintas sektor. Keseluruhan rangkaian langkah yang diambil, mulai dari respons cepat pemerintahdaerah, dukungan penuh pemerintah pusat, keterlibatan aktif aparat keamanan, hinggasolidaritas masyarakat Aceh sendiri, memperlihatkan sebuah potret ketangguhannasional yang layak diapresiasi dan dijadikan pelajaran bersama. Pada akhirnya, sinergi antara pemerintah pusat dan warga Aceh menjadi bukti nyatabahwa soliditas nasional bukan sekadar jargon, melainkan praktik yang bisa diwujudkandi tengah situasi paling sulit sekalipun, sehingga sudah saatnya kita sebagaimasyarakat luas mendukung langkah-langkah pemulihan ini dengan optimisme dankepercayaan bahwa bangsa ini mampu berdiri tegak menghadapi bencana apa pun yang datang. *) Konsultan Pemberdayaan Perempuan dan Anak – Lembaga Advokasi PerempuanAceh Madani

Read More

Kesiapan Nataru, Pemerintah Jamin BBM dan Pangan Aman

Jakata – Pemerintah memastikan kesiapan pasokan bahan bakar minyak (BBM), elpiji, listrik, dan pangan nasional dalam kondisi aman menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru). Jaminan ini diberikan di tengah meningkatnya mobilitas masyarakat sekaligus upaya pemenuhan kebutuhan di sejumlah wilayah terdampak bencana. PT Pertamina (Persero) menyatakan pasokan energi, termasuk BBM dan elpiji, berada pada level…

Read More

Infrastruktur Transportasi Dipastikan Siap Hadapi Arus Nataru

Jakarta – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memastikan kesiapan infrastruktur transportasi di Provinsi Sumatera Utara dalam kondisi siap untuk mendukung kelancaran arus Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Fokus utama diarahkan pada pemulihan konektivitas pascabencana banjir dan tanah longsor agar mobilitas masyarakat dan distribusi logistik tetap berjalan aman dan lancar. Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menegaskan…

Read More

Pemerintah Pastikan Transportasi Publik Siap Layani MasyarakatNataru

Oleh: Fajriani Lula )* Pemerintah memastikan kesiapan sektor transportasi publik secara menyeluruh untukmelayani mobilitas masyarakat selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026.  Dengan potensi lonjakan pergerakan yang signifikan di seluruh wilayah Indonesia, negara menempatkan aspek keselamatan, kenyamanan, dan kelancaran perjalanansebagai prioritas utama melalui koordinasi lintas kementerian, pemerintah daerah, sertaoperator transportasi. Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, menjelaskan bahwa pemerintah telahmenyiapkan lebih dari 35 ribu armada transportasi lintas moda yang siap beroperasiselama masa Nataru. Armada tersebut mencakup angkutan darat, laut, udara, keretaapi, dan penyeberangan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.  Menurut Dudy, kesiapan transportasi ini merupakan hasil perencanaan danpengawasan berlapis yang dilakukan pemerintah untuk memastikan seluruh sarana danprasarana transportasi dapat berfungsi optimal dalam melayani masyarakat. Kesiapan moda darat ditopang oleh puluhan ribu unit bus dan ratusan terminal, sementara moda laut didukung ratusan kapal penumpang serta kapal patroli dannavigasi. Di sektor udara, ratusan pesawat dan bandara disiapkan untuk melayanipeningkatan penumpang, sedangkan layanan kereta api diperkuat dengan ribuanrangkaian yang beroperasi di jaringan Sumatera, Jawa, dan Sulawesi.  Untuk layanan penyeberangan, pemerintah melakukan penguatan armada danprasarana di lintasan-lintasan padat yang selama ini menjadi titik krusial pergerakanNataru. Dudy menegaskan bahwa kesiapan tersebut tidak hanya bersifat kuantitatif, tetapi jugaditopang oleh pengawasan ketat terhadap aspek keselamatan. Puluhan ribu kendaraanangkutan darat telah menjalani pemeriksaan kelaikan, ratusan kapal laut dinyatakan laikberoperasi, pesawat udara disiapkan sesuai standar keselamatan, serta ribuan saranaperkeretaapian telah memenuhi ketentuan teknis. Pemeriksaan ini terus dilakukanhingga mendekati puncak Nataru untuk memastikan tidak ada kompromi terhadapkeselamatan penumpang. Selain kesiapan armada, pemerintah juga menyiapkan landasan kebijakan operasionaluntuk mendukung kelancaran Angkutan Nataru. Sejumlah kebijakan diterbitkan sebagaipanduan operasional, termasuk pengaturan angkutan barang, penerapan e-ticketing pada kapal penumpang, pembentukan posko terpadu, serta pemberian stimulus bagiBUMN sektor transportasi. Pemerintah juga mendorong pemerataan arus perjalananmelalui kebijakan diskon tarif pada berbagai moda transportasi, yang diharapkan dapatmengurangi kepadatan pada waktu dan lokasi tertentu. Berdasarkan survei potensi pergerakan yang dilakukan Kementerian Perhubungan, destinasi wisata masih menjadi tujuan utama perjalanan masyarakat selama Nataru. Kota Yogyakarta diproyeksikan menjadi destinasi favorit nasional, diikuti sejumlahdaerah lain yang dikenal sebagai pusat wisata budaya, alam, dan rekreasi keluarga.  Secara regional, Pulau Jawa diperkirakan tetap menjadi tujuan terbesar, sementara di luar Jawa, beberapa provinsi juga mengalami peningkatan signifikan minat perjalanan. Pemerintah menggunakan data ini sebagai dasar penyesuaian operasional transportasidi berbagai simpul strategis. Di tingkat daerah, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengambil peran aktif dalammemastikan kesiapan angkutan Nataru, mengingat Jakarta menjadi salah satu wilayahasal perjalanan terbesar.  Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, meninjau langsung kesiapan layanantransportasi di Terminal Terpadu Pulo Gebang dan memastikan seluruh fasilitas sertalayanan angkutan telah siap menghadapi lonjakan penumpang. Ia menilai kesiapansarana, prasarana, dan pelayanan menjadi kunci agar masyarakat dapat menikmatiperjalanan dengan aman dan nyaman. Pramono juga mencermati adanya peningkatan signifikan jumlah penumpangmenjelang libur panjang. Pemerintah daerah memprediksi lonjakan penumpang harianyang cukup tajam, sehingga langkah-langkah antisipatif dilakukan untuk mencegahkepadatan berlebihan dan memastikan arus penumpang tetap terkendali. Keselamatandan keamanan penumpang menjadi fokus utama dalam pengelolaan angkutan selamaNataru. Untuk mendukung hal tersebut, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta,Syafrin Liputo, menjelaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan empat terminal utamasebagai simpul pelayanan Nataru, serta menambah tiga terminal bantuan gunamengantisipasi lonjakan penumpang.  Selain itu, Dishub DKI Jakarta melakukan pemeriksaan kesehatan menyeluruh bagiseluruh pengemudi bus, baik pengemudi utama maupun cadangan, termasuk teskesehatan dan tes bebas narkoba. Langkah ini diambil sebagai upaya preventif untukmenekan risiko kecelakaan selama perjalanan jarak jauh. Pemeriksaan kelaikan kendaraan atau ramp check juga dilakukan secara intensif di terminal-terminal utama sejak jauh hari hingga berakhirnya masa Nataru. Dishub DKI Jakarta memastikan bahwa hanya kendaraan yang memenuhi standar keselamatanyang diizinkan beroperasi.  Fasilitas pendukung di terminal, seperti toilet, kantin, ruang tunggu, ruang bermainanak, dan ruang baca, turut dipastikan dalam kondisi layak guna meningkatkankenyamanan penumpang. Di tengah potensi cuaca ekstrem, pemerintah pusat dan daerah memperkuat koordinasidengan BMKG dan Basarnas untuk mitigasi risiko. Kesiapsiagaan diterapkan melaluipenyiagaan personel dan peralatan di titik-titik rawan, penguatan pengawasan modatransportasi, serta pengelolaan fenomena lokal seperti pasar tumpah dan kawasanwisata padat. Seluruh langkah ini dilakukan untuk memastikan perjalanan masyarakatselama Nataru berlangsung aman dan tertib. Dengan kesiapan yang terencana dan terkoordinasi dari pemerintah pusat hinggadaerah, sektor transportasi publik diharapkan mampu melayani masyarakat secaraoptimal selama Natal dan Tahun Baru. Pendekatan menyeluruh ini menegaskankomitmen negara untuk hadir dan bekerja memastikan mobilitas masyarakat tetapaman, nyaman, dan lancar di momentum akhir tahun. *) Pengamat Kebijakan Sosial

Read More

Hadapi Lonjakan Arus Nataru, Pemerintah Operasikan Posko TerpaduNasional

Oleh: Lalu Jefri Adiyatma )* Pemerintah memastikan kesiapsiagaan nasional dalam menghadapi lonjakan mobilitasmasyarakat selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) melalui pengoperasianposko terpadu lintas sektor. Langkah ini menjadi bagian dari strategi negara untukmenjamin pengelolaan transportasi, komunikasi, dan layanan publik berjalanterkoordinasi, responsif, serta mengutamakan keselamatan dan kenyamananmasyarakat di tengah meningkatnya pergerakan orang dan barang di seluruh wilayahIndonesia. Kementerian Perhubungan secara resmi mengaktifkan Posko Pusat Angkutan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 sebagai pusat kendali nasional. Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, menjelaskan bahwa pembentukan posko tersebut didasarkan padahasil survei potensi pergerakan masyarakat yang memproyeksikan lebih dari 119 jutaorang akan melakukan perjalanan selama periode libur akhir tahun.  Posko Pusat Angkutan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 ini dirancang sebagaiinstrumen pengaturan, pengendalian, dan koordinasi transportasi nasional agar seluruhkebijakan dan langkah operasional di lapangan dapat berjalan terpadu, konsisten, dantepat waktu. Lonjakan mobilitas pada masa Nataru tidak hanya dipicu oleh perayaan Natal danperjalanan mudik umat Nasrani, tetapi juga oleh meningkatnya aktivitas wisata, silaturahmi, dan liburan keluarga. Kondisi tersebut secara alami menimbulkan tekananpada seluruh moda transportasi.  Pemerintah menilai bahwa tanpa koordinasi yang kuat dan sistem pemantauan yang terintegrasi, risiko keselamatan dan gangguan layanan dapat meningkat. Karena itu, kehadiran posko terpadu dipandang krusial untuk memastikan kesiapan operasionalsekaligus kecepatan respons terhadap dinamika di lapangan. Dalam penyelenggaraan Angkutan Nataru, Kementerian Perhubungan menempatkansejumlah fokus utama, yakni keselamatan sebagai prioritas tertinggi, penguatan sinergilintas kementerian dan lembaga, ketelitian terhadap detail operasional, serta kesiapanmenghadapi ketidakpastian seperti cuaca ekstrem dan potensi bencana.  Dudy Purwagandhi menilai bahwa keselamatan dan kelancaran transportasi bukanlahhasil kebetulan, melainkan buah dari perencanaan matang, pengawasan konsisten, dankoordinasi yang disiplin. Sebagai bentuk penguatan koordinasi pusat dan daerah, Menteri Perhubunganmelakukan peninjauan langsung ke berbagai simpul transportasi di sejumlah wilayah, mulai dari Sumatra, Jawa, Sulawesi, Maluku, hingga Nusa Tenggara.  Dialog langsung dengan kepala daerah dilakukan untuk memastikan kesiapan wilayahserta memperkuat kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah. Pemerintahmemandang langkah ini penting agar kebijakan nasional dapat diterjemahkan secaraefektif di lapangan. Posko Pusat Angkutan Nataru beroperasi selama 24 jam penuh sepanjang periode liburakhir tahun dan melibatkan berbagai instansi strategis, termasuk kepolisian lalu lintas, Basarnas, BMKG, KNKT, BNPB, serta BUMN dan operator transportasi nasional. Keterlibatan lintas sektor ini memungkinkan pemantauan real time, pengambilankeputusan cepat, serta respons terpadu terhadap situasi darurat maupun gangguanoperasional. Kesiapsiagaan posko terpadu juga diperkuat dari sisi komunikasi dan digital. Kementerian Komunikasi dan Digital mengaktifkan ratusan posko telekomunikasi di seluruh provinsi dengan melibatkan seluruh operator seluler.  Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menyampaikan bahwa posko tersebutdisiagakan untuk memastikan stabilitas jaringan di tengah lonjakan trafik data yang diperkirakan meningkat signifikan selama Nataru. Pemerintah memandang layanankomunikasi sebagai kebutuhan dasar, mengingat lebih dari dua ratus juta pendudukIndonesia telah terkoneksi dengan internet. Untuk menjaga kualitas layanan, kapasitas jaringan diperbesar di ratusan titik strategisseperti simpul transportasi dan kawasan wisata. Selain itu, pemerintah membentuksatuan tugas dan posko bersama yang bertugas mengawasi kualitas jaringan, mengamankan spektrum frekuensi radio, serta mendukung penyebaran informasidarurat.  Sistem peringatan dini dan informasi lalu lintas darurat turut diintegrasikan, termasukmelalui layanan pesan singkat di titik-titik rawan kecelakaan. Layanan Call Center 112 juga terus diperluas sebagai bagian dari perlindungan publik selama masa libur. Di sektor kepelabuhanan, kesiapan posko terpadu ditunjukkan melalui pengoperasianPosko Nataru di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Sebagai salah satu gerbangutama konektivitas laut menuju Kawasan Timur Indonesia, pelabuhan ini memiliki peranstrategis dalam menjaga kelancaran arus penumpang dan logistik.  Posko di Terminal Penumpang Gapura Surya Nusantara berfungsi sebagai pusatkoordinasi, pemantauan, dan pelayanan terpadu yang melibatkan pemerintah, TNI/Polri, BUMN, serta pemangku kepentingan kepelabuhanan. Kepala Bidang Perkapalan dan Kepelautan KSOP Utama Tanjung Perak, Dr. Capt. Mustamin, M.Pd., M.Mar., menyampaikan bahwa keselamatan pelayaran menjadiprinsip utama dalam penyelenggaraan angkutan laut selama Nataru.  Seluruh kapal yang beroperasi telah melalui pemeriksaan kelaiklautan yang mencakupaspek keselamatan, kapasitas angkut, dan kelengkapan peralatan. Puluhan kapal dariberbagai operator disiapkan untuk melayani puluhan ribu penumpang, denganpengawasan yang dilakukan secara ketat dan berkesinambungan. Melalui pengoperasian posko terpadu di sektor transportasi, komunikasi, dankepelabuhanan, pemerintah menegaskan kehadiran negara dalam memastikan Nataruberlangsung aman, tertib, dan terkendali. Pendekatan kolaboratif lintas sektor inimencerminkan komitmen pemerintah untuk tidak hanya mengantisipasi lonjakanmobilitas, tetapi juga melindungi keselamatan masyarakat serta menjaga kualitaslayanan publik di momen penting akhir tahun. *) Pengamat Kebjakan Publik

Read More

Narasi Kritis Virdian Berbenturan dengan Fakta Keterlibatan Bisnisnya

Jakarta – Diskursus publik di ruang digital kembali menghangat seiring sorotan warganet terhadap aktivisme lingkungan yang selama ini disuarakan konten kreator Virdian Aurellio. Sosok yang dikenal aktif mengangkat isu deforestasi dan dampak industri terhadap lingkungan tersebut kini menjadi perbincangan karena keterkaitan aktivitas advokasinya dengan jejak bisnis yang dijalani. Perhatian publik bermula dari informasi mengenai keterlibatan…

Read More

Menjaga Damai Papua Menjelang Natal dan Tahun Baru

TAMBRAUW – Menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, semangat menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat menguat di berbagai wilayah Papua. Dari pesisir hingga pegunungan, suara warga menunjukkan harapan yang sama, yaitu perayaan hari besar keagamaan berlangsung aman, damai, dan penuh kekhidmatan tanpa gangguan keamanan. Di Distrik Kwoor, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat Daya, upaya…

Read More

Tokoh Papua Ajak Semua Elemen Jaga Kondusivitas Jelang Nataru

Papua Tengah- Menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh agama di Papua mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga situasi keamanan dan ketertiban agar tetap kondusif. Seruan ini dinilai penting mengingat momentum Natal dan pergantian tahun merupakan waktu yang sarat dengan nilai keagamaan, kebersamaan, serta membutuhkan suasana aman dan…

Read More