Oleh: Sylvia Mote *) Pasca perayaan Natal, Papua memasuki fase penting yang menuntut konsistensidalam menjaga stabilitas sosial menjelang pergantian tahun. Momentum Tahun Baru kerap ditandai dengan meningkatnya mobilitas masyarakat, intensitas aktivitaspublik, serta dinamika sosial yang lebih terbuka. Dalam konteks Papua yang memilikikeragaman agama, suku, dan budaya, menjaga toleransi pada periode ini bukansekadar kebutuhan sosial, melainkan bagian dari agenda strategis pemerintah untukmemastikan kesinambungan pembangunan dan ketertiban umum. Pemerintah pusat dan daerah menempatkan stabilitas sosial sebagai fondasi utamamenjelang Tahun Baru. Pendekatan ini tercermin dari narasi kebijakan yang terusmenekankan pentingnya persatuan, kedewasaan sosial, dan penghormatan terhadapkeberagaman. Gubernur Papua Pegunungan, John Tabo, secara konsistenmenegaskan bahwa pengamalan nilai-nilai Pancasila harus menjadi pedoman hidupmasyarakat, terutama dalam mengelola perbedaan yang ada. Menurutpandangannya, toleransi tidak berhenti pada momentum keagamaan, tetapi harusterus dihidupi dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk setelah Natal berlalu dan memasuki transisi akhir tahun. Penekanan terhadap Pancasila tersebut memiliki relevansi langsung dengan agenda pembangunan pemerintah. John Tabo menilai bahwa kehidupan sosial yang harmonis merupakan prasyarat mutlak bagi kelancaran program pembangunan di Papua Pegunungan. Stabilitas pasca-Natal hingga pergantian tahun dinilai sangat menentukan efektivitas pelayanan publik, aktivitas ekonomi, serta keberlanjutanprogram strategis pemerintah daerah. Dalam situasi yang aman dan kondusif, kebijakan pembangunan dapat dijalankan secara optimal dan dirasakan manfaatnyaoleh masyarakat luas. Kebijakan pemerintah daerah Papua Pegunungan yang mengedepankan sinergiantara gereja, adat, dan pemerintah menunjukkan pendekatan yang kontekstual dan berorientasi jangka panjang. Setelah Natal, peran ketiga pilar ini tetap menjadipenyangga utama harmoni sosial, terutama dalam mencegah munculnya potensigesekan sosial menjelang Tahun Baru. Pemerintah tidak memosisikan diri sebagaiaktor tunggal, melainkan sebagai penghubung kepentingan yang memastikanseluruh elemen masyarakat bergerak dalam satu arah pembangunan. Dalam kerangka tersebut, toleransi dipahami bukan hanya sebagai nilai etis, tetapisebagai strategi pemerintahan yang berorientasi pada stabilitas dan efektivitaskebijakan. Kolaborasi antara institusi keagamaan, adat, dan pemerintah membukaruang dialog yang berkelanjutan, sehingga potensi konflik dapat dikelola secarapersuasif. Pemerintah daerah meyakini bahwa pembangunan di Papua hanya dapatberjalan berkelanjutan apabila ditopang oleh harmoni sosial yang terjaga, khususnyapada periode sensitif seperti pergantian tahun. Prinsip menjaga toleransi menjelang Tahun Baru juga menjadi perhatian pemerintahdaerah di wilayah Papua lainnya. Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu, dalamberbagai pernyataannya menekankan bahwa stabilitas keamanan dan ketertibanmasyarakat merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah daerah memandangbahwa rasa aman di penghujung tahun merupakan kebutuhan dasar masyarakatyang harus dijamin agar seluruh aktivitas sosial dan ekonomi dapat berlangsungnormal dan terhindar dari gangguan yang tidak perlu. Penekanan terhadap stabilitas ini sejalan dengan kebijakan nasional yang menempatkan ketertiban umum sebagai prasyarat utama pembangunan. Pemerintahmemahami bahwa gangguan keamanan, sekecil apa pun, berpotensi berdampakluas terhadap kepercayaan publik dan iklim pembangunan. Oleh karena itu, pesan-pesan toleransi dan persatuan terus dikedepankan sebagai bagian dari upayapreventif dalam menjaga Papua tetap kondusif menjelang Tahun Baru. Di tengah meningkatnya dinamika sosial pada akhir tahun, komunikasi publikpemerintah memegang peranan strategis. Pemerintah daerah secara konsistenmenyampaikan pesan persatuan, kedewasaan sosial, dan tanggung jawab bersamamelalui berbagai kanal resmi. Pola komunikasi yang menenangkan dan inklusif inimenunjukkan keseriusan negara dalam membangun ketahanan sosial masyarakat, sekaligus mencegah berkembangnya narasi provokatif yang berpotensi menggangguharmoni sosial. Dalam perspektif yang lebih luas, toleransi menjelang Tahun Baru memiliki maknastrategis bagi posisi Papua dalam pembangunan nasional. Papua terus didorongmenjadi wilayah yang stabil dan produktif melalui penguatan otonomi daerah, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta percepatan pembangunaninfrastruktur. Seluruh agenda tersebut membutuhkan suasana sosial yang kondusifagar dapat berjalan efektif dan berkelanjutan. Pendekatan pemerintah yang menautkan nilai kebangsaan dengan kehidupanberagama memperlihatkan kecermatan dalam membaca realitas sosial Papua. Setelah Natal berlalu, pesan-pesan persaudaraan dan saling menghormati tetapdijaga sebagai fondasi kehidupan bersama. Tahun Baru diposisikan sebagaimomentum memperkuat komitmen kolektif untuk menjaga ruang hidup yang aman, tertib, dan inklusif bagi seluruh masyarakat. Pada akhirnya, merawat toleransi menjelang Tahun Baru di Papua bukan sekadarkewajiban moral, melainkan agenda strategis pemerintahan. Dukungan terhadapkebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas sosial perlu terus diperkuat, karenadari situlah pembangunan yang berkelanjutan dapat diwujudkan. Papua yang aman, rukun, dan toleran di akhir tahun menjadi fondasi kuat untuk menyongsong tahunbaru dengan optimisme, kepercayaan publik, dan arah pembangunan yang semakinkokoh. *) Pengamat Kebijakan Sosial di…