Film Pesta Babi dan Upaya Mengaburkan Kemajuan Papua

Oleh Markus Kogoya* Papua selama bertahun-tahun sering menjadi panggung berbagai narasi tentangkonflik, penderitaan, dan keterbelakangan. Tidak sedikit pihak yang datang ke Papua membawa kamera, membuat dokumentasi, lalu menampilkan Papua seolah hanya berisikesedihan tanpa harapan. Akibatnya, publik di luar Papua lebih banyak melihat Tanah Papua dari sisi konflik dibanding kemajuan yang sedang tumbuh. Padahal hari ini Papua sedang bergerak maju melalui berbagai pembangunan yang perlahan mulai dirasakanmasyarakat di berbagai daerah. Karena itu, kemunculan film dokumenter Pesta Babi menimbulkan pertanyaan besar di tengah masyarakat. Banyak orang Papua menilai film tersebut tidak menghadirkangambaran utuh tentang kondisi Papua saat ini. Film itu dianggap lebih menonjolkan sisiprovokatif dibanding menghadirkan solusi dan semangat membangun. Narasi yang dibangun justru berpotensi memperkuat stigma bahwa Papua selalu identik denganketegangan dan penolakan terhadap pembangunan nasional. Padahal kenyataannya, banyak masyarakat Papua saat ini justru berharappembangunan terus berjalan. Mereka ingin anak-anak Papua memperoleh pendidikanyang lebih baik, akses kesehatan yang memadai, dan kesempatan kerja yang luas di tanahnya sendiri. Harapan masyarakat sederhana, yakni hidup damai, sejahtera, dan dihargai sebagai bagian penting dari Indonesia. Pemerintah melalui berbagai program strategis nasional sedang berupaya mempercepatpemerataan pembangunan di Papua. Infrastruktur jalan, jembatan, pelabuhan, sekolah, fasilitas kesehatan, hingga program ketahanan pangan terus didorong untuk membukaketerisolasian wilayah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kebijakan tersebuttidak mungkin sempurna dalam pelaksanaannya, namun arah besar yang ingin dicapaisangat jelas, yakni menghadirkan masa depan yang lebih baik bagi Orang Asli Papua. Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Jenderal TNI (Purn.) DjamariChaniago juga telah menegaskan bahwa pembangunan Papua harus dilakukan denganpendekatan kesejahteraan, dialog, penghormatan budaya, dan peningkatan kualitaspelayanan publik. Artinya, negara tidak hanya hadir melalui pembangunan fisik, tetapijuga berusaha membangun kepercayaan dan masa depan masyarakat Papua secaramenyeluruh. Dalam konteks itu, narasi yang cenderung memicu kecurigaan terhadap pembangunanjustru dapat merusak semangat masyarakat yang sedang berusaha bangkit. Papua membutuhkan energi positif, bukan propaganda yang memperdalam rasa takut dan ketidakpercayaan. Masyarakat Papua sudah terlalu lama hidup dalam stigma konflik. Kini saatnya Papua dikenal karena kemajuan pendidikan, kreativitas anak muda, kekayaan budaya, dan potensi ekonominya. Polemik film Pesta Babi semakin menguat ketika tokoh perempuan adat Papua, YasintaMoiwend atau Mama Sinta, mengaku dirinya tidak memahami bahwa aktivitas yang diikutinya akan dijadikan bagian dari film dokumenter dengan narasi tertentu. Pengakuan tersebut membuat publik mempertanyakan etika produksi film yang melibatkan masyarakat adat. Ketika seseorang merasa dimanfaatkan tanpa penjelasanyang utuh, maka persoalannya bukan lagi sekadar karya dokumenter, tetapi juga menyangkut penghormatan terhadap hak masyarakat Papua itu sendiri. Mama Sinta bahkan menyampaikan bahwa dirinya kecewa karena namanya dan wajahnya dipakai tanpa persetujuan yang jelas. Ia juga menegaskan bahwa masyarakatPapua sebenarnya membutuhkan pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik. Pernyataantersebut memperlihatkan bahwa masyarakat di akar rumput lebih membutuhkan solusinyata dibanding narasi yang terus menerus membangun kemarahan dan keresahan. Hal serupa juga disampaikan Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC…

Read More

Film Pesta Babi Perkeruh Upaya Pemerataan Pembangunan Papua

Oleh Yonas Gebze* Papua hari ini sedang berada dalam momentum penting menuju perubahan besar. Pemerintah terus memperkuat pembangunan di berbagai sektor, mulai dari infrastruktur, pendidikan, kesehatan, ketahanan pangan, hingga pembukaan lapangan kerja bagi masyarakat asli Papua. Berbagai program strategis nasional yang dijalankan di Tanah Papua pada dasarnya bertujuan mempercepat pemerataan kesejahteraan agar masyarakat Papua dapat menikmati…

Read More

Peringatan Hari Lahir Pancasila Jadi Momentum Perangi Radikalisme Digital

Jakarta — Peringatan Hari Lahir Pancasila dinilai menjadi momentum strategis untuk memperkuat semangat persatuan nasional sekaligus mendukung langkah pemerintah dalam memerangi penyebaran radikalisme digital. Di tengah perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat, pemerintah terus memperkuat upaya menjaga ruang digital agar tetap sehat, aman, dan selaras dengan nilai-nilai kebangsaan. Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian…

Read More

Hari Lahir Pancasila Jadi Momentum Perkuat Persatuan dan Tangkal Radikalisme

JAKARTA – Momentum peringatan Hari Lahir Pancasila dinilai menjadi pengingat penting bagi seluruh elemen bangsa untuk terus memperkuat persatuan, menanamkan nilai toleransi, serta memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi ancaman intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme. Upaya penguatan nilai kebangsaan tersebut terus dilakukan berbagai pihak, mulai dari aparat keamanan, pemerintah daerah, tokoh agama, hingga organisasi masyarakat. Salah…

Read More

Pancasila sebagai Benteng Menghadapi Radikalisme dan Polarisasi Digital

Oleh : Garvin Reviano )* Di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi digital yang semakin cepat, bangsa Indonesia menghadapi tantangan baru yang tidak hanya bersifat ekonomi atau politik, tetapi juga ideologis dan sosial. Ruang digital yang awalnya diharapkan menjadi sarana memperkuat literasi, persatuan, dan kreativitas masyarakat, dalam praktiknya juga menghadirkan ancaman berupa penyebaran paham radikalisme, ujaran kebencian, hoaks, hingga…

Read More

Nilai-Nilai Pancasila Tetap Relevan Menghadapi Tantangan Radikalisme Digital

Oleh: Rivka Mayangsari*) Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakatIndonesia. Arus informasi yang bergerak begitu cepat menghadirkan banyak manfaat, mulai darikemudahan komunikasi hingga akses pengetahuan tanpa batas. Namun di balik kemajuantersebut, ruang digital juga menghadirkan tantangan serius berupa penyebaran hoaks, intoleransi, radikalisme, hingga manipulasi informasi yang dapat mengancam persatuan bangsa. Dalamsituasi inilah, nilai-nilai Pancasila kembali menegaskan relevansinya sebagai fondasi utamadalam menjaga ketahanan nasional di era digital. Anggota Komisi I DPR RI, Dave Akbarshah Fikarno Laksono, menegaskan bahwa ancamanterhadap bangsa saat ini tidak lagi hanya berbentuk fisik. Menurutnya, ancaman baru hadirmelalui penyebaran informasi palsu, ujaran kebencian, serta narasi intoleransi yang berkembangdi ruang digital. Fenomena tersebut berpotensi memecah belah masyarakat apabila tidak dihadapidengan penguatan ideologi dan kesadaran kebangsaan yang kuat. Dave menilai Pancasila harus tetap menjadi kompas bangsa di tengah derasnya arus informasidigital. Nilai-nilai persatuan, gotong royong, toleransi, dan keadilan sosial yang terkandungdalam Pancasila menjadi benteng penting untuk menjaga kohesi nasional. Penguatan ideologiPancasila dinilai sangat penting, terutama dalam membangun karakter generasi muda agar mampu menghadapi berbagai tantangan global tanpa kehilangan identitas kebangsaan. Menurutnya, perkembangan teknologi digital telah mengubah pola komunikasi masyarakatsecara signifikan. Media sosial kini tidak hanya menjadi ruang interaksi, tetapi juga arena pembentukan opini dan pola pikir masyarakat. Algoritma platform digital dinilai mampumenciptakan ruang gema informasi atau echo chamber, di mana seseorang hanya menerimainformasi yang memperkuat pandangannya sendiri. Kondisi ini dapat memperbesar polarisasisosial apabila masyarakat tidak memiliki kemampuan berpikir kritis dan literasi digital yang baik. Karena itu, Dave menekankan pentingnya memperkuat literasi digital berbasis nilai-nilaiPancasila. Masyarakat perlu dibekali kemampuan untuk menyaring informasi, memahamikeberagaman, serta menggunakan ruang digital secara bertanggung jawab. Media digital tidakboleh hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga harus dimanfaatkan sebagai sarana edukasi danpenguatan semangat kebangsaan. Pandangan serupa disampaikan Ketua Komisi Kemitraan dan Infrastruktur Dewan Pers, RosaritaNiken Widiastuti. Ia menegaskan bahwa media digital harus digunakan untuk memperkuattoleransi dan persatuan bangsa. Menurutnya, ruang digital tidak boleh berubah menjadi saranapenyebaran kebencian yang merusak harmoni sosial. Akademisi Ahmad Gunawan juga menilai penguatan ideologi Pancasila harus dilakukan melaluipendidikan karakter dan literasi digital yang berkelanjutan. Menurutnya, generasi muda saat inimenghadapi tantangan besar akibat derasnya pengaruh budaya luar dan konten negatif di era globalisasi. Tanpa fondasi ideologi yang kuat, generasi muda berisiko kehilangan arah danmudah terpengaruh oleh paham-paham yang bertentangan dengan nilai kebangsaan. Pendidikan karakter berbasis Pancasila menjadi penting agar generasi muda tidak hanya cerdassecara teknologi, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial dan rasa cinta tanah air. Literasidigital juga diperlukan agar masyarakat mampu memahami dampak dari setiap informasi yang dikonsumsi dan dibagikan di ruang digital. Di tengah perkembangan media sosial yang semakin dinamis, Dosen Prodi Komunikasi danPenyiaran Islam Universitas Islam Bunga Bangsa Cirebon, M. Sauki M.A, menegaskan bahwainternalisasi nilai-nilai Pancasila melalui media digital merupakan proyek peradaban yang sangatpenting. Menurutnya, keberhasilan proyek tersebut sangat bergantung pada peran generasi mudasebagai penjaga sekaligus pembaharu bangsa. Ia menilai generasi muda tidak boleh terjebak dalam nostalgia masa lalu, tetapi juga tidak bolehabai terhadap kekuatan besar yang mereka miliki melalui teknologi digital. Momentum peringatan 1 Juni, menurutnya, bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan panggilan bagi anakmuda untuk mengisi ruang digital dengan keteladanan, kreativitas, dan semangat kebangsaan. Sauki menekankan perlunya lahir ribuan kreator konten yang secara sadar menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai benang merah dalam setiap karya mereka. Hal ini penting karena ideologitransnasional saat ini dikemas secara sangat profesional dan menarik. Paham-paham tersebuttidak lagi hadir melalui ceramah formal, melainkan menyusup melalui konten viral, meme, podcast, hingga tantangan media sosial yang terlihat modern dan rasional. Fenomena ini menunjukkan bahwa pertarungan ideologi di era digital tidak lagi terjadi di ruangkonvensional, tetapi berlangsung di linimasa media sosial yang dikonsumsi generasi muda setiaphari. Karena itu, penguatan Pancasila tidak cukup dilakukan melalui pendekatan formal semata, melainkan harus hadir dalam bahasa dan media yang dekat dengan masyarakat digital saat ini. Pancasila tetap relevan karena nilai-nilainya mampu menjawab tantangan zaman tanpakehilangan akar budaya bangsa. Di tengah ancaman radikalisme digital, intoleransi, dandisinformasi, Pancasila menjadi fondasi penting dalam menjaga persatuan nasional danketahanan sosial masyarakat Indonesia. Dengan penguatan literasi digital, pendidikan karakter, serta partisipasi aktif generasi muda di ruang digital, Indonesia memiliki modal kuat untukmenghadapi tantangan global tanpa kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang beradab, toleran, dan bersatu. *) Pemerhati sosial

Read More