Oleh: Petrus Yoman Kambu* Hilirisasi di Papua kini tampil sebagai wajah baru pembangunan nasional yang berkeadilan dan berorientasi masa depan. Kebijakan ini bukan sekadar strategi ekonomiteknokratis, melainkan manifestasi nyata komitmen negara untuk memastikan bahwakekayaan alam Papua dikelola secara berdaulat, bernilai tambah tinggi, dan memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat. Di tengah dinamikaglobal yang kompetitif, langkah terintegrasi antara pemerintah pusat, pemerintahdaerah, dan investor internasional menunjukkan bahwa Papua tidak lagi ditempatkansebagai hinterland komoditas mentah, tetapi sebagai episentrum pertumbuhan baruyang diperhitungkan di pasar dunia. Langkah konkret tersebut tercermin dari fasilitasi pertemuan 21 investor Eropa denganperwakilan daerah penghasil kakao seperti Kepulauan Yapen, Jayapura, dan ManokwariSelatan. Forum ini membahas pengembangan industri kakao secara komprehensif darihulu hingga hilir, termasuk penetrasi pasar ekspor. Anggota Komite EksekutifPercepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Billy Mambrasar, menegaskan bahwaPapua Sehat, Papua Cerdas, dan Papua Produktif adalah satu kesatuan visi besarotonomi khusus. Ia menyatakan bahwa untuk mewujudkan Papua Produktif dibutuhkanlangkah nyata yang mempertemukan pelaku usaha dan pemerintah daerah secaralangsung agar proses masifikasi dan pengembangan kakao berjalan efektif. Pernyataantersebut menegaskan bahwa hilirisasi adalah bukti keberanian Papua melangkah naik kelas dalam rantai nilai global. Dukungan pemerintah pusat melalui Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia semakin memperkuat fondasi kebijakan ini. Direktur Penataan Daerah, Otonomi Khusus, dan DPOD Kemendagri, Sumule Tumbo, menegaskan komitmen pemerintah pusatdalam memperkuat koordinasi lintas daerah dan menjadikan sektor ekonomi produktifsebagai pilar otonomi khusus. Kakao disebut sebagai komoditas strategis bernilaitambah tinggi yang mampu menjadi lokomotif ekonomi daerah. Penegasan inimenunjukkan bahwa negara hadir secara konkret, memastikan Papua memperolehdukungan kebijakan, regulasi, dan akses pasar yang kompetitif. Optimisme juga datang dari Wakil Bupati Kepulauan Yapen, Roi Palunga, yang menilaikakao sebagai komoditas bersejarah sekaligus masa depan ekonomi daerah. Denganlebih dari dua ribu petani kakao aktif, pengembangan industri pengolahan diyakinimenciptakan kepastian pendapatan dan stabilitas kesejahteraan. Narasi inimemperlihatkan bahwa hilirisasi bukan sekadar proyek industri, melainkan gerakanekonomi rakyat yang mengangkat martabat petani sebagai pelaku utamapembangunan. Selain kakao, sagu menjadi simbol kedaulatan pangan dan keunggulan ekologis Papua. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Tenaga Kerja, Koperasi, dan UKM Provinsi Papua, Jimmy A.Y. Thesia, menekankan pentingnya pendekatan menyeluruh dari hulu ke hilir, mulaidari ketersediaan bahan baku hingga inkubasi bisnis. Ia menjelaskan bahwa potensiregenerasi alami pohon sagu menjadikan Papua memiliki keunggulan komparatif yang luar biasa. Dengan fasilitasi standardisasi produk dan legalitas usaha oleh pemerintah, sagu Papua kini membidik pasar Jepang, Australia, dan Jerman. Fakta ini menegaskanbahwa komoditas lokal Papua mampu berdiri sejajar di panggung global apabila dikelolasecara profesional dan sistematis. Pemerintah Provinsi Papua juga merancang pembangunan rumah produksi sagu di Kabupaten Jayapura…