Program Ketahanan Pangan Papua Dorong Kemandirian Ekonomi Bagi Petani Lokal

JAYAPURA – Pemerintah terus memperkuat sektor pertanian melalui pelaksanaan Program Cetak Sawah Rakyat (CSR) Tahun Anggaran 2026. Program tersebut menjadi bagian dari strategi nasional untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong kemandirian ekonomi masyarakat, khususnya petani lokal dan masyarakat adat di Papua. Komitmen tersebut ditegaskan dalam Rapat Koordinasi Penyusunan Rencana Kerja dan Komitmen Pelaksana Konstruksi Program…

Read More

Optimalisasi Program 3T Irigasi Perkuat Ketahanan Pangan Nasional

Jakarta – Pemerintah terus memperkuat ketahanan pangan nasional melalui optimalisasi program irigasi di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Langkah tersebut dilakukan dengan memperluas layanan jaringan irigasi, mempercepat rehabilitasi saluran tersier, serta meningkatkan pembangunan infrastruktur sumber daya air yang mendukung produktivitas pertanian. Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menegaskan bahwa pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT)…

Read More

Papua Perkuat Fondasi Ekonomi Melalui Program Ketahanan Pangan

Oleh: Loa Murib Upaya memperkuat fondasi ekonomi daerah tidak dapat dilepaskan dari kemampuan suatuwilayah dalam membangun kemandirian pangan. Dalam konteks Papua, langkah pemerintahmempercepat pelaksanaan Program Cetak Sawah Rakyat (CSR) Tahun Anggaran 2026 menjadisalah satu strategi penting yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi pangan, tetapi juga diarahkan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Program tersebut menunjukkan bahwa pembangunan sektor pertanian kini ditempatkan sebagai salah satuinstrumen utama untuk memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat sekaligus mengurangiketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar daerah. Papua memiliki potensi sumber daya alam yang sangat besar. Selama ini, pembahasan mengenaipembangunan ekonomi Papua lebih banyak berfokus pada sektor pertambangan, infrastruktur, dan eksploitasi sumber daya alam lainnya. Padahal, sektor pertanian menyimpan peluang yang tidak kalah strategis untuk menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Ketersediaan lahan yang luas, dukungan iklim yang mendukung, serta meningkatnya perhatian pemerintah terhadappengembangan pertanian menjadikan Papua memiliki modal yang cukup kuat untuk berkembangsebagai salah satu lumbung pangan baru di Indonesia. Pelaksanaan Program Cetak Sawah Rakyat menjadi bukti bahwa pemerintah berupayamenghadirkan pembangunan yang lebih inklusif. Program ini tidak hanya membuka lahanpertanian baru, tetapi juga memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk terlibat secaralangsung dalam proses pembangunan ekonomi. Keterlibatan petani lokal, kelompok tani, sertamasyarakat adat menunjukkan adanya pendekatan pembangunan yang lebih partisipatif. Model pembangunan seperti ini penting karena mampu menciptakan rasa memiliki terhadap program yang dijalankan sekaligus meningkatkan peluang keberlanjutan hasil pembangunan dalam jangkapanjang. Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementerian Pertanian, Hermanto, menegaskanbahwa keberhasilan Program Cetak Sawah Rakyat tidak hanya diukur dari luas lahan yang berhasil dibuka, tetapi juga dari kualitas pelaksanaan dan keterlibatan aktif masyarakat lokaldalam setiap tahapan program. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan pertanianmodern tidak lagi sekadar berfokus pada pencapaian target fisik, melainkan juga padapemberdayaan sumber daya manusia yang menjadi pelaku utama sektor pertanian. Di sisi lain, komitmen Pemerintah Provinsi Papua dalam mendukung program tersebutmemberikan sinyal positif bagi masa depan pembangunan ekonomi daerah. Gubernur Papua, Mathius D. Fakhiri, menilai Program Cetak Sawah Rakyat merupakan bagian dari program strategis nasional yang bertujuan memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkankesejahteraan masyarakat. Pandangan tersebut mencerminkan kesadaran bahwa sektor pertanianmemiliki peran penting dalam menciptakan stabilitas ekonomi daerah di tengah berbagaitantangan global yang memengaruhi rantai pasok pangan dan harga komoditas. Komitmen Pemerintah Provinsi Papua terhadap penguatan sektor pertanian tercermin daripandangan Gubernur Papua, Mathius D. Fakhiri, yang menempatkan Program Cetak SawahRakyat sebagai bagian penting dari agenda pembangunan daerah dan nasional. Menurutnya, dimulainya pekerjaan konstruksi di lapangan menjadi bukti bahwa program ketahanan panganyang dicanangkan pemerintah pusat benar-benar diwujudkan secara nyata di Papua. Gubernurjuga menegaskan pentingnya keterlibatan masyarakat asli Papua dalam pelaksanaan program tersebut agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat setempat. Selain itu, ia berharap Papua dapat menjadi contoh keberhasilan pengembangan sawah rakyat di Indonesia dengan tetap menjunjung tinggi penghormatan terhadap hak-hak masyarakat adat sertakearifan lokal yang selama ini menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakatPapua. Yang tidak kalah penting adalah komitmen pemerintah untuk tetap menghormati hak-hakmasyarakat adat dan mengedepankan kearifan lokal dalam pelaksanaan program. Pendekatan inimenjadi kunci keberhasilan pembangunan di Papua. Pengalaman menunjukkan bahwa berbagaiprogram pembangunan akan lebih efektif apabila dilaksanakan dengan melibatkan masyarakatsebagai subjek utama, bukan sekadar objek pembangunan. Dengan menghormati nilai-nilaibudaya dan struktur sosial yang telah hidup di tengah masyarakat Papua, program pertaniandapat berjalan lebih harmonis dan memperoleh dukungan yang lebih luas. Peran pemerintah daerah hingga tingkat kampung juga menjadi faktor penting dalammenyukseskan program tersebut. Sosialisasi yang berkelanjutan diperlukan agar masyarakatmemahami bahwa sektor pertanian bukan lagi pekerjaan tradisional yang identik denganketerbatasan ekonomi, melainkan sektor produktif yang mampu memberikan pendapatan dankesejahteraan. Perubahan pola pikir masyarakat terhadap pertanian akan menjadi modal sosialyang sangat berharga dalam mempercepat transformasi ekonomi Papua. Ke depan, keberhasilan Program Cetak Sawah Rakyat di Papua tidak hanya akan memberikanmanfaat bagi masyarakat setempat, tetapi juga berkontribusi terhadap ketahanan pangannasional. Jika program ini berjalan sesuai harapan, Papua berpotensi menjadi contohkeberhasilan pembangunan pertanian yang menggabungkan produktivitas ekonomi, pemberdayaan masyarakat, serta penghormatan terhadap masyarakat adat. Dengan dukunganpemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat adat, dan para petani lokal, program ketahananpangan dapat menjadi fondasi kuat bagi terwujudnya Papua yang lebih mandiri, sejahtera, danberdaya saing. Pada akhirnya, penguatan sektor pertanian bukan sekadar upaya memenuhikebutuhan pangan, melainkan langkah strategis untuk membangun fondasi ekonomi Papua yang kokoh dan berkelanjutan bagi generasi mendatang. *Penulis adalah Mahasiswa Papua di Surabaya

Read More

Modernisasi Infrastruktur Irigasi Melalui Pendekatan 3T Perkuat Sektor Pertanian

Oleh: Krisna Wiguna )* Modernisasi infrastruktur irigasi menjadi salah satu langkah strategis yang terus dilakukan pemerintah untuk memperkuat sektor pertanian nasional. Upaya tersebut tidak hanya difokuskan pada pembangunan fisik jaringan irigasi, tetapi juga diarahkan pada penerapan pendekatan yang tepat guna, tepat sasaran, dan tepat waktu atau dikenal sebagai pendekatan 3T. Pemerintah berupaya memastikan bahwa setiap infrastruktur yang…

Read More

Kebijakan DHE SDA Perkuat Fondasi Ekonomi Rakyat dan Stabilitas Keuangan

Oleh: Dhita Karuniawati )* Pemerintah resmi memberlakukan kebijakan baru terkait Devisa Hasil Ekspor SumberDaya Alam (DHE SDA) mulai 1 Juni 2026. Kebijakan ini menjadi salah satu langkahstrategis yang ditempuh pemerintah dalam memperkuat fondasi ekonomi nasionalmelalui peningkatan retensi devisa di dalam negeri. Langkah tersebut tidak hanyabertujuan menjaga stabilitas sektor keuangan, tetapi juga memastikan bahwa manfaatdari kekayaan sumber daya alam Indonesia dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat. Di tengah kondisi ekonomi global yang masih diwarnai ketidakpastian, ketegangangeopolitik, serta fluktuasi pasar keuangan internasional, kemampuan suatu negara dalam menjaga cadangan devisa menjadi faktor penting untuk mempertahankanstabilitas ekonomi. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah terus berupayamemperkuat ketahanan ekonomi nasional agar tidak mudah terpengaruh oleh guncangan eksternal. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui kebijakanpengelolaan DHE SDA yang lebih optimal.  Selama ini, sebagian besar devisa hasil ekspor sumber daya alam masih banyaktersimpan di luar negeri sehingga manfaatnya bagi perekonomian domestik belummaksimal. Padahal, Indonesia merupakan salah satu negara penghasil komoditasterbesar di dunia, mulai dari batu bara, minyak sawit, nikel, tembaga, hingga berbagaiproduk mineral lainnya. Potensi devisa yang dihasilkan sektor tersebut sangat besardan dapat menjadi sumber kekuatan ekonomi nasional apabila dikelola secara tepat. Melalui Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2026, pemerintah mewajibkan eksportirsektor sumber daya alam untuk menempatkan devisa hasil ekspornya di dalam negeri. Kebijakan tersebut dirancang sebagai bagian dari strategi jangka panjang untukmemperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, meningkatkan likuiditas valuta asing, dan memperluas ruang pembiayaan pembangunan nasional. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan bahwa pemerintahmewajibkan eksportir sumber daya alam untuk merepatriasi devisa hasil ekspornya kedalam negeri dengan tingkat kepatuhan penuh. Menurutnya, kebijakan tersebutdirancang untuk meningkatkan ketersediaan valuta asing di pasar domestik, menjagastabilitas nilai tukar rupiah, serta memperkuat pembiayaan pembangunan nasional.  Dalam ketentuan baru tersebut, eksportir sektor nonmigas diwajibkan menempatkan100 persen DHE SDA pada rekening khusus di dalam negeri selama paling singkat 12 bulan. Sementara itu, eksportir sektor migas diwajibkan menempatkan sedikitnya 30 persen DHE SDA selama minimal tiga bulan. Pemerintah menilai langkah ini akanmemperkuat likuiditas valuta asing dan mengurangi kerentanan ekonomi nasionalterhadap gejolak eksternal.  Kebijakan ini juga dilengkapi dengan berbagai insentif agar tetap memberikan ruangbagi dunia usaha. Pemerintah menyediakan fasilitas perpajakan yang kompetitif bagieksportir yang menempatkan DHE SDA di dalam negeri. Melalui skema tersebut, penghasilan dari instrumen penempatan DHE SDA dapat memperoleh tarif Pajak Penghasilan (PPh) yang sangat rendah, bahkan hingga nol persen sesuai jangka waktupenempatan dana. Kebijakan insentif ini diharapkan mampu mendorong kepatuhansekaligus meningkatkan daya tarik penyimpanan devisa di dalam negeri.  Selain itu, pemerintah juga menetapkan pembatasan konversi DHE SDA dari valuta asing ke rupiah maksimal sebesar 50 persen. Langkah ini bertujuan menjaga efektivitaspengelolaan devisa serta memastikan ketersediaan cadangan valuta asing yang memadai di sistem keuangan nasional. Dengan cadangan devisa yang lebih kuat, stabilitas nilai tukar rupiah diyakini akan semakin terjaga.  Dampak positif kebijakan ini tidak hanya dirasakan oleh sektor keuangan, tetapi juga berpotensi memberikan manfaat langsung bagi masyarakat luas. Likuiditas perbankanyang lebih kuat akan memperbesar kapasitas pembiayaan sektor produktif, termasukusaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pertanian, perikanan, serta industripengolahan yang menjadi tulang punggung ekonomi rakyat. Dengan meningkatnyakemampuan perbankan menyalurkan kredit, aktivitas ekonomi domestik diharapkansemakin bergairah.  Purbaya juga mengatakan bahwa kebijakan DHE SDA berpotensi memperkuat sektorperbankan nasional. Menurutnya, dana devisa yang masuk ke sistem keuanganIndonesia akan meningkatkan sumber pendanaan perbankan sehingga memperkuatfungsi intermediasi dan mendukung pembiayaan pembangunan. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat menciptakan efek berganda terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.  Purbaya menilai kebijakan DHE SDA merupakan instrumen penting dalam memperkuatketahanan ekonomi dan sektor perbankan nasional. Dengan meningkatnya retensidevisa di dalam negeri, Indonesia akan memiliki bantalan yang lebih kuat untukmenghadapi gejolak ekonomi global, termasuk fluktuasi nilai tukar dan tekananterhadap arus modal. Ia menegaskan bahwa penguatan cadangan devisa domestikakan memperbesar kemampuan sistem keuangan dalam menyerap berbagai risikoeksternal.  Kebijakan ini juga mencerminkan komitmen pemerintah untuk memastikan bahwakekayaan sumber daya alam Indonesia memberikan manfaat yang lebih besar bagimasyarakat. Selama ini, sektor sumber daya alam menjadi salah satu penyumbangutama devisa negara. Dengan mekanisme baru yang mewajibkan penempatan devisadi dalam negeri, manfaat ekonomi dari aktivitas ekspor dapat lebih optimal dirasakanoleh berbagai sektor pembangunan nasional.  Di tengah tantangan ekonomi global yang terus berkembang, langkah pemerintahmemperkuat tata kelola DHE SDA menjadi fondasi penting bagi terciptanya stabilitasekonomi jangka panjang. Kebijakan ini tidak hanya memperkuat ketahanan sektorkeuangan dan nilai tukar, tetapi juga membuka peluang yang lebih besar bagipertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Dengan dukungan dunia usahaserta sinergi antara pemerintah, perbankan, dan otoritas terkait, kebijakan DHE SDA diharapkan menjadi instrumen strategis dalam menjaga kedaulatan ekonomi nasionalsekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.  *) Penulis adalah Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia

Read More

DHE SDA Jadi Instrumen Menutup Kebocoran Devisa dan Menjaga Daya Beli Masyarakat

Oleh: Rina Oktavia)* Pemberlakuan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2026 tentang Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) yang mulai berlaku pada 1 Juni 2026 menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Kebijakan ini dirancang untuk meningkatkan retensi devisa di dalam negeri, menutup potensi kebocoran devisa hasil ekspor, serta menjaga stabilitas ekonomi yang…

Read More

Kebijakan DHE SDA Perkuat Ekonomi Rakyat dan Stabilitas Rupiah

Jakarta – Pemerintah terus memperkuat fondasi ekonomi nasional melalui penerapan kebijakan pengelolaan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) yang mewajibkan dana hasil ekspor ditempatkan di dalam negeri. Kebijakan yang mulai berlaku pada 1 Juni 2026 tersebut dinilai menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional, meningkatkan likuiditas valuta asing, sekaligus menjaga stabilitas nilai…

Read More

Pemerintah Optimalkan DHE SDA demi Memperkuat Ekonomi Rakyat

Jakarta – Pemerintah terus memperkuat fondasi ekonomi nasional melalui optimalisasi pengelolaan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) di dalam negeri. Kebijakan yang mulai berlaku pada 1 Juni 2026 tersebut dinilai mampu meningkatkan pasokan valuta asing, memperkuat cadangan devisa, serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika ekonomi global. Dampak positif kebijakan tersebut…

Read More

Keberhasilan Diplomasi Paris Membuktikan Ketangguhan Visi Pemerintah

Oleh: Burhanuddin Husin *) Ruang digital sering kali melahirkan kegaduhan yang tidak perlu, terutama ketika sebuahrumor di media sosial diadopsi begitu saja tanpa proses verifikasi yang matang. Salah satucontoh nyata yang mengemuka belakangan ini adalah berkembangnya spekulasi mengenaipembatalan kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Roma, Italia. Opini publikyang berkembang di beberapa platform digital seolah-olah mengesankan adanya perubahanagenda mendadak atau kegagalan dalam merancang prioritas hubungan internasional. Padahal, jika dinamika ini dibedah menggunakan kacamata kebijakan luar negeri yang rasional dan berbasis data resmi, narasi pembatalan tersebut tidak lebih dari sekadarkekeliruan dalam menangkap fakta. Dalam tata kelola komunikasi publik dan diplomasi modern, sebuah kunjungan antarnegaratidak pernah diputuskan secara instan atau sekadar didasarkan pada asumsi sekunder. KepalaBadan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Muhammad Qodari, meluruskan kekeliruaninformasi tersebut dengan menegaskan bahwa sejak awal pemerintah sama sekali tidakpernah mengeluarkan pernyataan resmi mengenai adanya agenda kunjungan luar negeriPresiden ke Italia. Jadwal resmi yang telah disusun, dikoordinasikan, dan dipublikasikansecara terbuka oleh otoritas terkait memang hanya ditujukan ke Prancis. Dari titik ini, sangatjelas terlihat adanya lompatan logika yang dipaksakan oleh sebagian pihak; mengklaimsebuah agenda telah “batal” padahal agenda yang dimaksudkan tersebut memang tidakpernah ada dalam lembaran resmi komitmen kenegaraan. Konsep perjalanan diplomatik seorang kepala negara memang selalu membuka ruang bagirencana-rencana tambahan yang bersifat dinamis di lapangan. Namun, sebagaimanaditegaskan oleh manajemen komunikasi pemerintah, segala bentuk rencana alternatif yang muncul selama perjalanan luar negeri sepenuhnya berstatus sebagai wacana internal sampaiada pengumuman resmi yang valid kepada masyarakat luas. Mengubah wacana atau opsiperjalanan dinamis menjadi sebuah konklusi bahwa pemerintah telah melakukan pembatalansepihak adalah bentuk gagal paham terhadap protokol hubungan internasional. Fokus utama kebijakan luar negeri Indonesia pada akhir Mei kemarin sesungguhnya beradadi Paris, bukan di Roma. Agenda lawatan ke Prancis tersebut bahkan sudah dipaparkan secaratransparan oleh Menteri Luar Negeri Sugiono jauh-jauh hari, tepatnya sejak 22 April 2026. Pernyataan yang disampaikan oleh otoritas diplomasi tersebut menegaskan bahwa kunjunganini merupakan agenda penting yang telah dipersiapkan secara matang, bukan langkahdiplomasi yang bersifat reaktif atau mendadak. Lawatan kenegaraan (state visit) ini sekaligusmenjadi momentum penting sebagai bentuk kunjungan balasan atas kehadiran PresidenPrancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia pada tahun sebelumnya. Mengalihkan perhatian dari substansi hasil kerja sama nyata di Prancis ke isu spekulatiftentang Italia merupakan sebuah kerugian besar bagi diskursus publik. Lawatan ke Prancisjustru menelurkan hasil yang sangat konkret bagi kepentingan strategis nasional, termasukpencapaian komitmen investasi bilateral yang bernilai signifikan guna mendukung ketahananekonomi dalam negeri. Kebijakan ini berfokus langsung pada penguatan sektor-sektorpenting yang menjadi motor penggerak visi jangka panjang pemerintah, seperti kemandirianteknologi dan kedaulatan industri. Salah satu pilar utama dari hasil kunjungan kenegaraan tersebut adalah pendalaman kerjasama di sektor pertahanan. Indonesia telah menggunakan sejumlah alat utama sistempersenjataan (alutsista) strategis produksi Prancis. Oleh sebab itu, kunjungan kali inidiarahkan untuk memastikan adanya transfer teknologi (transfer of technology) secaramenyeluruh, sehingga industri pertahanan domestik tidak hanya memposisikan diri sebagaikonsumen, melainkan mampu menguasai, merawat, dan mengembangkan teknologi tersebutsecara mandiri di masa depan. Di samping urusan pertahanan, diplomasi yang dijalankan juga menyasar penguatan mutusumber daya manusia melalui sektor pendidikan, khususnya di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika atau yang jamak dikenal sebagai STEM. Melalui kolaborasi ini, para siswa, lulusan, serta tenaga pendidik di Indonesia akan mendapatkan akses yang lebih luasterhadap pengembangan riset dan teknologi mutakhir. Pemerintah menyadari betul bahwapenguasaan sektor STEM secara mandiri merupakan kunci utama agar generasi muda mampubersaing di tingkat global dan mendorong lompatan ekonomi nasional ke arah digitalisasiyang inklusif. Tidak kalah penting, sektor energi dan pengelolaan mineral kritis turut menjadi agenda utamadalam kesepakatan bilateral tersebut. Di tengah perebutan komoditas energi global, kerjasama ini diarahkan pada pemanfaatan teknologi pengelolaan mineral kritis yang berkelanjutan, sejalan dengan komitmen transisi energi bersih dan program hilirisasi industriyang tengah digalakkan di dalam negeri. Keterlibatan institusi pengelola aset strategis sepertiPT Danantara Sumberdaya Indonesia dalam mematangkan tata kelola perdagangankomoditas hulu juga memperkuat posisi tawar Indonesia dalam rantai pasok global.  Mencermati dinamika ini, publik tentunya bisa lebih jernih dan objektif dalam memilahinformasi yang beredar di ruang siber. Narasi keliru mengenai pembatalan kunjungan keItalia terbukti runtuh dengan sendirinya ketika dihadapkan pada lini masa persiapan danpencapaian nyata yang diraih dari Prancis. Diplomasi modern Indonesia saat ini bekerjasecara taktis, terukur, dan fokus pada hasil akhir yang mendukung kepentingan domestik. Mendukung penuh kebijakan serta agenda strategis pemerintah yang berorientasi padakemitraan global konkret adalah langkah maju untuk memastikan seluruh elemen bangsabergerak seirama demi mewujudkan kemandirian ekonomi dan stabilitas nasional yang kokoh. *) Pengamat Hubungan Internasional

Read More

Kunker Presiden Prabowo dan Politik Luar Negeri yang Proaktif

Oleh: Ferry Permahadi)* Di tengah lanskap geopolitik yang semakin dinamis dan ekonomi global yang diwarnai ketidakpastian, Indonesia menunjukkan langkah proaktif dalammemperkuat peran dan pengaruhnya di tingkat internasional. Pemerintah terusmengoptimalkan diplomasi sebagai instrumen strategis untuk menjaga kepentingannasional, memperluas kerja sama ekonomi, serta memperkuat posisi Indonesia sebagai kekuatan menengah yang disegani di kawasan maupun dunia. Pendekatanini mencerminkan komitmen pemerintah dalam memastikan bahwa Indonesia tidakhanya menjadi pengamat, tetapi juga aktor penting dalam membentuk arah kerjasama global yang lebih inklusif dan saling menguntungkan. Dalam konteks tersebut, kunjungan kerja luar negeri kepala negara bukan hanyaagenda diplomatik rutin. Hal tersebut menjadi instrumen politik luar negeri yang dapat membuka akses ekonomi, memperkuat posisi tawar, sekaligus membangunpengaruh strategis di tingkat internasional. Presiden Prabowo Subianto tampak memilih pendekatan diplomasi yang proaktifdalam menjalankan kebijakan luar negeri Indonesia. Strategi ini terlihat dariintensitas kunjungan ke berbagai negara serta upaya membangun komunikasilangsung dengan para pemimpin dunia untuk memastikan kepentingan nasionalmemperoleh ruang yang lebih kuat dalam percaturan global. Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa kunjungankerja Presiden tidak dapat dipandang sebagai agenda seremonial atau sekadarpencitraan politik. Menurutnya, diplomasi yang dilakukan Presiden memiliki target yang terukur dan menghasilkan capaian konkret yang berdampak langsung bagikepentingan nasional. Ia memaparkan bahwa dalam satu setengah tahun terakhir, langkah diplomasiPresiden telah menghasilkan sejumlah capaian strategis. Salah satu yang menonjoladalah keputusan Indonesia bergabung dengan BRICS yang dinilai berkontribusidalam memitigasi gejolak global, termasuk menjaga stabilitas stok pangan dan pasokan energi nasional. Menurut Teddy, penguatan hubungan internasional tersebut juga berimplikasi pada terjaganya harga BBM subsidi agar tidak mengalami kenaikan signifikan. Hal inimenunjukkan bahwa diplomasi luar negeri memiliki kaitan langsung denganstabilitas domestik yang dirasakan masyarakat. Di sektor ekonomi, ia menyebut arus investasi yang masuk ke Indonesia dalamkurun waktu satu setengah tahun terakhir mencapai sekitar Rp2.430 triliun. Bahkan, setelah kunjungan Presiden ke Jepang dan Korea Selatan, komitmen investasisenilai Rp575 triliun berhasil diamankan sebagai bagian dari penguatan kerja samaekonomi. Ia juga menyoroti keberhasilan kesepakatan perdagangan strategis dengan Uni Eropa melalui skema tarif 0 persen yang dicapai pada 2025. Kesepakatan inidipandang membuka peluang lebih luas bagi produk Indonesia untuk memasukipasar internasional dengan daya saing yang lebih baik. Selain ekonomi, Teddy menjelaskan bahwa diplomasi Presiden turut memperkuatsektor pertahanan melalui modernisasi alat utama sistem persenjataan. Pengadaanalutsista dari sejumlah negara produsen besar seperti Prancis, Amerika Serikat, Inggris, dan negara Eropa lainnya menjadi bagian dari strategi menjaga kedaulatannasional. Menurutnya, jalur diplomasi yang aktif juga berdampak pada aspek sosial-keagamaan, termasuk kelancaran penyelenggaraan ibadah haji pada musim 2025 dan 2026. Dengan demikian, politik luar negeri yang dijalankan Presiden tidak hanyamenyentuh isu geopolitik, tetapi juga kebutuhan nyata masyarakat. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa diplomasi proaktif yang dijalankanpemerintah diarahkan untuk menghasilkan manfaat konkret. Dalam dunia yang semakin saling terhubung, hubungan internasional tidak lagi berdiri jauh dari urusandomestik, melainkan menjadi instrumen penting dalam menjaga stabilitas nasional. Di sisi lain, pendekatan proaktif tersebut juga dipandang memperkuat posisiIndonesia di tengah persaingan geopolitik global. Negara yang aktif membangunhubungan strategis umumnya memiliki ruang manuver yang lebih besar dalammemperjuangkan kepentingannya. Juru bicara Partai Gerindra sekaligus Wakil Ketua Komisi XIII DPR Sugiat Santoso menilai bahwa kunjungan Presiden ke berbagai negara, termasuk kawasan Eropa, merupakan langkah penting dalam memperkuat posisi geopolitik Indonesia. Ia menilai diplomasi aktif semacam ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak sekadarmenjadi penonton dalam dinamika internasional. Di samping itu, hubungan yang dibangun Presiden dengan berbagai negara strategis dapat memperluas peluang kerja sama ekonomi, politik, dan keamanan. Dengan komunikasi yang intensif, Indonesia memiliki kesempatan lebih besar untukmemperkuat posisi tawarnya di forum global. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Habiburokhman juga menilai bahwa diplomasilangsung menjadi sangat penting di tengah ketidakpastian global saat ini. Ia berpendapat bahwa langkah Presiden yang aktif mengunjungi pemimpin dunia merupakan strategi yang relevan untuk memastikan kepentingan nasional tetapterjaga. Menurut dia, pendekatan tersebut serupa dengan praktik yang dilakukan sejumlahpemimpin dunia yang tidak ragu melakukan diplomasi langsung demi keuntungannegaranya….

Read More