Pemerintah Perkuat Distribusi BBM, AntisipasiMobilitas Tinggi Lebaran
Oleh: Aulia Sofyan Harahap
Lonjakan mobilitas masyarakat menjelang bulan Ramadan hingga Lebaran kembali menjadiperhatian pemerintah dalam menjaga pasokan energi nasional. Kali ini, pemerintah menegaskantidak ingin hanya bersikap reaktif, melainkan mengambil langkah antisipasi lebih awal melaluipenguatan distribusi bahan bakar minyak (BBM) dan LPG. Langkah tersebut dilakukan agar kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi, terutama saat konsumsi meningkat tajam padamomen libur panjang dan musim mudik.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pemerintahsudah menghitung potensi peningkatan konsumsi BBM selama masa puasa hingga Hari Raya Idulfitri. Menurutnya, pasokan energi tidak boleh terganggu karena menyangkut aktivitasekonomi, transportasi, dan kebutuhan rumah tangga. Ia memastikan stok BBM dan LPG nasionaldalam kondisi aman serta berada di atas batas minimum yang ditetapkan pemerintah.
Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa batas minimum stok BBM nasional ditetapkan selama 18 hari. Saat ini, cadangan BBM nasional berada di angka sekitar 21 hari. Dengan posisi tersebut, iamenilai masyarakat tidak perlu khawatir terhadap kemungkinan kelangkaan atau gangguanpasokan selama periode puncak konsumsi. Penegasan ini menjadi penting karena Lebaran selaluidentik dengan peningkatan aktivitas mudik, perjalanan wisata, dan konsumsi bahan bakar di berbagai wilayah.
Selain memastikan stok nasional aman, Bahlil Lahadalia juga menyoroti peran kilang minyakdalam negeri yang menjadi tulang punggung pasokan energi. Ia menyampaikan bahwa kilang di Balikpapan telah beroperasi optimal untuk memasok berbagai jenis bahan bakar. Pemerintahmenilai peningkatan kapasitas produksi domestik menjadi langkah penting untuk menekanketergantungan impor. Namun demikian, ia mengakui masih ada jenis BBM dengan spesifikasitertentu yang harus dipenuhi melalui impor, terutama solar kualitas tinggi seperti C51 danbeberapa kebutuhan lainnya. Kilang Balikpapan dinilai mampu menopang kebutuhan C48, tetapiuntuk kategori tertentu masih membutuhkan pasokan dari luar negeri.
Sikap terbuka tersebut dinilai penting karena menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanyamembangun narasi optimisme, tetapi juga menyampaikan kondisi riil energi nasional. Dalamkonteks ini, impor bukan semata tanda krisis, melainkan bagian dari strategi pemenuhankebutuhan sesuai standar kualitas bahan bakar. Pemerintah menekankan bahwa impor dilakukansecara terukur dan tidak mengganggu ketahanan energi nasional.
Tidak hanya BBM subsidi yang menjadi fokus, pemerintah juga memastikan stok bensinnonsubsidi seperti RON 92, RON 95, dan RON 98 dalam kondisi aman. Bahlil Lahadaliamenyebut bahwa stok bensin nonsubsidi tersebut berada di kisaran 18 hari sehingga tidak adaindikasi kelangkaan. Pernyataan ini sekaligus menegaskan bahwa pemerintah tidak hanyamenjaga pasokan untuk kelompok pengguna BBM subsidi, tetapi juga memperhatikan kebutuhanenergi bagi segmen industri serta kendaraan dengan spesifikasi tinggi.
Perhatian pemerintah semakin diperkuat karena jarak antara Natal 2025 dan Lebaran 2026 dinilaisangat berdekatan. Kondisi ini membuat lonjakan konsumsi energi berpotensi terjadi dalamrentang waktu yang sempit. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaemanmenegaskan bahwa Kementerian ESDM benar-benar menjaga ketat stok BBM dan LPG untukmenghadapi situasi tersebut. Ia menyebut bahwa pemerintah mewaspadai momen Natal hinggaLebaran karena jaraknya dekat dan berisiko menimbulkan peningkatan kebutuhan beruntun.
Laode Sulaeman juga menuturkan bahwa perhatian terhadap stok BBM tidak hanya dilakukansecara administratif, tetapi juga menjadi perhatian langsung Menteri ESDM. Ia mengatakanbahwa Bahlil Lahadalia secara rutin mengecek ketersediaan stok agar tetap berada di atas 20 hari. Menurutnya, pola pengawasan ini menunjukkan keseriusan pemerintah karena lonjakankonsumsi biasanya mulai terlihat ketika memasuki bulan Desember, terutama menjelang Natal dan liburan akhir tahun. Ia menilai peningkatan konsumsi pada masa tersebut tidak dapatdianggap sepele karena biasanya naik signifikan, khususnya di jalur wisata dan transportasiutama.
Di sisi lain, Pertamina Patra Niaga sebagai operator distribusi juga melakukan berbagai langkahstrategis untuk menjaga pasokan energi tetap stabil. Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra menjelaskan bahwa Pertamina meningkatkan stok dengan menambahproduksi melalui kilang serta melakukan impor tambahan.
Langkah tersebut dilakukan agar distribusi tetap lancar dan tidak menunggu kondisi kritis. LaodeSulaeman memastikan bahwa impor tambahan itu tidak melebihi kuota impor yang telahditetapkan pemerintah. Mars Ega Legowo Putra menambahkan bahwa stok BBM nasional saatini berada di angka 20,2 hari dan akan terus ditingkatkan. Ia menargetkan ketahanan stok dapatmeningkat di atas 21 hari, bahkan dijaga pada kisaran 22 hingga 23 hari.
Selain Pertalite, Pertamina juga mempersiapkan stok untuk BBM tertentu seperti PertamaxTurbo. Mars Ega Legowo Putra menjelaskan bahwa selain tambahan impor, terdapat pula tambahan produksi dari Kilang Cilacap dan Kilang Balongan. Dengan strategi tersebut, peningkatan pasokan tidak hanya bergantung pada impor, melainkan juga diperkuat melaluioptimalisasi kilang dalam negeri.
Pada akhirnya, kesiapan pasokan BBM dan LPG menjelang Lebaran bukan hanya soal angkacadangan, melainkan bentuk kehadiran negara dalam menjamin kebutuhan dasar rakyat. Pemerintah bersama Pertamina Patra Niaga berupaya memastikan distribusi energi tidak menjadititik lemah di tengah tingginya mobilitas masyarakat. Masyarakat pun diharapkan tetap tenang, menggunakan BBM secara bijak, dan tidak terpancing isu kelangkaan, karena stabilitas energiakan lebih mudah dijaga apabila semua pihak ikut berperan menjaga ketertiban konsumsi.
Pengamat Kebijakan Publik – Lembaga Kajian Kebijakan Publik Bentang Nusantara
