Program MBG Perkuat Konsumsi Domestik di Tengah Tantangan Global
Jakarta – Pemerintah terus memperkuat konsumsi domestik sebagai strategi utama menghadapi ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang tidak hanya berfokus pada peningkatan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga menjadi penggerak utama sektor pertanian dan peternakan nasional.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa MBG merupakan kebijakan strategis yang membawa dampak luas, tidak sekadar memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Program ini, menurutnya, telah menjadi bagian dari transformasi besar dalam meningkatkan kesejahteraan petani dan peternak di seluruh Indonesia.
“Program Makan Bergizi Gratis bukan sekadar kebijakan pemenuhan gizi, tetapi gerakan besar yang berdampak langsung terhadap peningkatan taraf hidup sekitar 160 juta petani dan peternak,” ujar Amran.
Dampak positif program ini tercermin dalam data Badan Pusat Statistik (BPS), yang mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Februari 2026 mencapai angka 125,45. Angka ini merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah pencatatan resmi, sekaligus menunjukkan peningkatan kesejahteraan petani secara signifikan.
Secara bulanan, NTP Februari 2026 meningkat 1,50 persen dibandingkan Januari 2026. Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 2,17 persen, yang jauh melampaui kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,65 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa pendapatan petani tumbuh lebih cepat dibandingkan pengeluarannya.
Tren positif tersebut juga terlihat konsisten sejak Maret 2025 hingga Februari 2026. NTP yang sebelumnya berada di angka 123,72 pada Maret 2025, terus meningkat hingga mencapai 125,45 pada Februari 2026.
Lebih lanjut, Amran menjelaskan bahwa kekuatan utama MBG terletak pada keterlibatan langsung petani dan peternak sebagai pemasok bahan pangan. Sekitar 160 juta pelaku sektor ini menjadi tulang punggung dalam memenuhi kebutuhan dapur MBG di seluruh Indonesia.
“Dari sawah, kandang, hingga ke dapur MBG, semuanya terhubung dalam satu ekosistem yang kuat, adil, dan berpihak pada rakyat,” katanya.
Program ini juga mendorong permintaan terhadap komoditas strategis seperti beras, telur, daging ayam, dan sayuran. Hal ini diyakini mampu membuka peluang usaha baru, khususnya di pedesaan, sekaligus memperkuat peran UMKM.
Dengan sinergi antara pemerintah, petani, peternak, dan pelaku usaha, Program MBG diharapkan mampu menjadi fondasi kuat bagi ketahanan ekonomi nasional, sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia secara berkelanjutan.
