Rupiah Menguat di Tengah Gejolak Global, Bukti Ketahanan Ekonomi Nasional

Oleh: Abimanyu Putra S. )*

Penguatan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir menjadi salahsatu indikator penting yang menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah dinamika dan ketidakpastian global. 

Di saat berbagai negara masih menghadapi tekanan pasar keuanganakibat gejolak geopolitik, perubahan arah kebijakan moneter dunia, danperlambatan ekonomi global, Indonesia justru memperlihatkankemampuan untuk menjaga stabilitas ekonomi melalui koordinasikebijakan yang terukur dan responsif.

Pergerakan positif rupiah tidak berdiri sendiri. Penguatan mata uangnasional berlangsung bersamaan dengan membaiknya kinerja pasarmodal yang ditandai oleh rebound Indeks Harga Saham Gabungan(IHSG). Kondisi ini mencerminkan mulai pulihnya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia setelah sempat mengalamitekanan dalam beberapa bulan terakhir.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Friderica WidyasariDewi, menjelaskan bahwa penguatan IHSG didorong oleh sejumlahsentimen positif yang berhasil mengurangi kekhawatiran pelaku pasar. 

Menurut Friderica, berbagai isu yang sebelumnya menjadi perhatianinvestor telah mendapatkan penjelasan yang memadai dari otoritassehingga membantu mengembalikan optimisme terhadap pasar keuangandomestik.

Selain itu, wacana pelaksanaan buyback saham tanpa persetujuan RapatUmum Pemegang Saham juga memperoleh respons positif dari investor. Kebijakan tersebut dinilai mampu memperkuat stabilitas pasar sertamemberikan ruang bagi emiten untuk menjaga nilai sahamnya di tengahkondisi pasar yang berfluktuasi.

Friderica menegaskan bahwa tekanan yang sebelumnya dialami pasarsaham Indonesia bukan fenomena yang terjadi secara khusus di dalamnegeri. Sejumlah bursa saham di kawasan Asia juga mengalami koreksiyang cukup tajam. Bahkan, pasar saham Korea Selatan sempatmengalami penghentian sementara perdagangan setelah indeksnya turunlebih dari delapan persen dalam satu hari perdagangan.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa tekanan yang terjadi sebelumnyalebih banyak dipengaruhi faktor eksternal dibandingkan persoalanfundamental ekonomi Indonesia. Karena itu, ketika sentimen global mulaimembaik dan langkah-langkah stabilisasi dijalankan secara efektif, pasardomestik mampu menunjukkan pemulihan yang relatif cepat.

Kembalinya optimisme investor terlihat dari tingginya aktivitasperdagangan di Bursa Efek Indonesia. Volume transaksi yang meningkatmenunjukkan bahwa pelaku pasar mulai kembali memanfaatkan peluanginvestasi di tengah valuasi saham yang dinilai menarik.

Pandangan serupa disampaikan oleh Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Prasetya Gunadi. Ia menilai fase terburuk yang sempat dialami pasarsaham Indonesia telah berlalu. Salah satu indikator yang mendukungpandangan tersebut adalah penguatan rupiah yang berhasil kembalibergerak di bawah level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat setelahsebelumnya sempat menembus Rp18.200 per dolar AS.

Menurut Prasetya, penguatan rupiah tidak terlepas dari respons kebijakanBank Indonesia yang semakin tegas dalam menjaga stabilitas pasarkeuangan. Kenaikan suku bunga acuan secara kumulatif serta langkah-langkah moneter lainnya berhasil meningkatkan kepercayaan investor terhadap aset-aset keuangan Indonesia.

Selain faktor moneter, terdapat pula sejumlah kebijakan ekonomi yang berpotensi memperkuat fundamental eksternal Indonesia. Upayameningkatkan arus devisa melalui pengelolaan sektor pertambangan yang lebih baik dinilai dapat memberikan kontribusi positif terhadap stabilitasnilai tukar dalam jangka menengah dan panjang.

Dari sisi fiskal, pengelolaan anggaran yang lebih efisien juga menjadifaktor pendukung. Langkah-langkah rasionalisasi program dan penguatanefektivitas belanja negara membantu menjaga persepsi positif pasarterhadap kondisi ekonomi nasional.

Kepercayaan investor juga tercermin dari kembalinya aliran dana asing kepasar domestik. Setelah beberapa waktu mengalami tekanan arus keluarmodal, pasar Indonesia mulai mencatat arus masuk dana asing bersih. Kondisi tersebut menjadi indikator bahwa investor internasional mulaimelihat peluang yang lebih menarik pada instrumen keuangan Indonesia.

Prasetya menilai valuasi pasar saham Indonesia saat ini berada padalevel yang relatif murah dibandingkan rata-rata historisnya. Situasitersebut membuka ruang pemulihan yang cukup besar apabila stabilitasekonomi terus terjaga dan sentimen global semakin kondusif.

Optimisme terhadap pasar domestik juga disampaikan oleh PengamatPasar Modal dan Founder Republik Investor, Hendra Wardana. Menurutnya, penguatan IHSG merupakan sinyal positif yang menunjukkandimulainya proses pemulihan kepercayaan pasar setelah periode tekananyang cukup panjang.

Hendra menilai penguatan tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh faktorinternal seperti kebijakan buyback saham, tetapi juga didukung olehmembaiknya kondisi eksternal. Meredanya ketegangan geopolitik di TimurTengah memberikan dampak positif terhadap sentimen pasar global danmendorong peningkatan minat terhadap aset berisiko di berbagai negaraberkembang, termasuk Indonesia.

Namun demikian, Hendra melihat peluang penguatan pasar masihterbuka. Menurutnya, apabila pemerintah mampu menjaga stabilitasekonomi, memperkuat konsumsi domestik, dan menghadirkan kebijakanyang mendukung investasi, maka tren pemulihan pasar berpotensiberlanjut pada paruh kedua tahun 2026.

Perkembangan rupiah yang kembali menguat di tengah gejolak global menjadi bukti bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap memiliki dayatahan yang baik. Ketika banyak negara menghadapi tekanan akibatketidakpastian eksternal, Indonesia mampu menunjukkan kemampuanberadaptasi melalui kombinasi kebijakan moneter, fiskal, dan sektorkeuangan yang saling mendukung.

*) Analis Ekonomi Makro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *