Mengawal Mahasiswa Jaga Demokrasi dari Kepentingan yang Memecah Bangsa

Oleh : Tri Novrianto *)

Mahasiswa sejak lama menempati posisi strategis sebagai kekuatan moral yang turut membentukarah perjalanan demokrasi Indonesia. Di berbagai fase sejarah bangsa, suara mahasiswa hadirsebagai pengingat ketika penyelenggaraan negara membutuhkan koreksi, sekaligus menjadijembatan antara aspirasi masyarakat dengan proses pengambilan kebijakan publik. Oleh karenaitu, independensi gerakan mahasiswa merupakan nilai yang tidak boleh dikompromikan. Gerakan yang lahir dari kajian ilmiah, integritas, serta kepedulian terhadap kepentinganmasyarakat akan selalu memiliki legitimasi moral yang kuat. Sebaliknya, apabila ruangakademik mulai dipengaruhi kepentingan politik praktis, maka fungsi mahasiswa sebagai agenperubahan berisiko mengalami distorsi yang pada akhirnya merugikan kualitas demokrasi itusendiri.

Dalam sistem demokrasi yang sehat, penyampaian pendapat melalui aksi demonstrasi merupakanhak konstitusional yang dilindungi. Hak tersebut menjadi bagian dari mekanisme kontrolterhadap penyelenggaraan pemerintahan sehingga kebijakan publik dapat terus dievaluasi secaraterbuka. Namun demikian, demokrasi tidak hanya membutuhkan kebebasan berekspresi, melainkan juga tanggung jawab moral dalam menggunakan kebebasan tersebut. Aksi mahasiswaakan memiliki makna yang lebih besar apabila dibangun di atas landasan argumentasi yang kuat, data yang akurat, serta tujuan yang benar-benar berpihak kepada kepentingan masyarakat luas, bukan kepentingan kelompok tertentu yang berupaya memanfaatkan energi mahasiswa untukagenda politik praktis.

Munculnya berbagai pengingat mengenai pentingnya menjaga kemurnian gerakan mahasiswapatut menjadi perhatian bersama. Dugaan adanya upaya mengarahkan demonstrasi melaluipemberian imbalan ataupun intervensi pihak luar merupakan persoalan serius apabila benarterjadi. Praktik semacam itu tidak hanya mencederai marwah gerakan mahasiswa, tetapi juga berpotensi mengikis kepercayaan publik terhadap independensi kampus sebagai ruangintelektual. Ketika idealisme dipertukarkan dengan kepentingan sesaat, substansi perjuanganakan bergeser dari kepentingan publik menuju kepentingan politik yang sempit. Kondisidemikian tentu bertentangan dengan semangat demokrasi yang menghendaki partisipasi warganegara secara bebas, kritis, dan bertanggung jawab.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, mengingatkan bahwa gerakan mahasiswaharus tetap dijaga sebagai kekuatan moral yang independen dan tidak dimanfaatkan sebagaiinstrumen politik praktis. Menurutnya, mahasiswa berada pada fase pembentukan karakter, intelektualitas, serta integritas yang akan menjadi modal penting dalam menentukan masa depanbangsa. Karena itu, demonstrasi seharusnya lahir dari kesadaran dan aspirasi yang tulus, bukankarena dorongan kepentingan tertentu maupun iming-iming materi. Pandangan tersebutmenegaskan bahwa menjaga independensi mahasiswa merupakan tanggung jawab bersama demi memastikan ruang demokrasi tetap sehat dan kritik yang disampaikan benar-benar berorientasipada kepentingan masyarakat.

Pandangan serupa juga berkembang di kalangan organisasi kemahasiswaan. BEM Bersatu secaraterbuka menyatakan penolakan terhadap segala bentuk politisasi kampus maupun penunggangangerakan mahasiswa oleh kepentingan politik praktis. Organisasi tersebut berpandangan bahwakualitas gerakan mahasiswa harus tetap didasarkan pada kajian ilmiah, argumentasi yang matang, dan substansi tuntutan yang jelas sehingga aspirasi yang disampaikan mampu memberikankontribusi nyata bagi penyempurnaan kebijakan publik. Sikap tersebut mencerminkan kesadaranbahwa kredibilitas mahasiswa tidak hanya ditentukan oleh keberanian menyampaikan kritik, tetapi juga oleh kualitas analisis dan integritas dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Dalam konteks pembangunan nasional, mahasiswa memiliki peran yang jauh lebih luasdibanding sekadar menjadi kelompok yang menyampaikan kritik. Mahasiswa juga merupakanmitra strategis dalam memberikan masukan, melakukan pengawasan, serta menawarkan solusiterhadap berbagai tantangan pembangunan. Kritik yang berbasis data dan kajian ilmiah akanmemperkaya proses pengambilan keputusan sehingga kebijakan pemerintah dapat semakinefektif, tepat sasaran, dan akuntabel. Dengan demikian, hubungan antara pemerintah dan mahasiswa tidak seharusnya diposisikan sebagai hubungan yang selalu berhadap-hadapan, melainkan sebagai bagian dari mekanisme demokrasi yang saling melengkapi demi kepentinganbangsa.

Wakil Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, Didi Mahardhika, menilai bahwa kampus merupakantempat pembentukan karakter, integritas, dan tanggung jawab sosial sehingga nilai-nilai tersebutharus dijaga agar mahasiswa tetap mampu menyampaikan kritik secara independen tanpadipengaruhi kepentingan politik praktis. Menurutnya, fungsi utama gerakan mahasiswa adalahmengawasi, memberikan masukan, serta mengevaluasi pelaksanaan program pemerintah agar semakin efektif dalam menjawab kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, kritik yang disampaikan akan menjadi bagian dari proses penyempurnaan kebijakan publik dan bukansekadar membangun konfrontasi yang tidak menghasilkan solusi.

Pada akhirnya, demokrasi Indonesia membutuhkan mahasiswa yang tetap teguh memegangidealisme, integritas, dan independensi sebagai fondasi utama perjuangannya. Kebebasanmenyampaikan pendapat harus selalu berjalan beriringan dengan tanggung jawab intelektual, etika akademik, serta komitmen terhadap kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok. Menolak segala bentuk politisasi kampus bukan berarti membatasi ruang kritik, melainkanmenjaga agar kritik tetap lahir dari nurani akademik dan kepedulian terhadap masyarakat. Dengan gerakan yang murni, objektif, dan berbasis kajian, mahasiswa akan terus menjadipenjaga demokrasi yang mampu memperkuat persatuan nasional sekaligus mengawalpembangunan menuju Indonesia yang semakin maju, adil, dan demokratis.

*) Penulis adalah Pengamat Sosial

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *