Literasi Digital Perkuat Ketahanan Masyarakat Hadapi Hoaks dan Provokasi

Oleh: Satya Wibawa )*

Tingginya aktivitas masyarakat di ruang digital pada momentum nasional membuat arusinformasi bergerak semakin cepat. Kondisi tersebut memberikan manfaat dalam memperluasakses informasi, tetapi juga menghadirkan tantangan berupa hoaks, disinformasi, kontenprovokatif, serta berbagai informasi yang sengaja dilepaskan dari konteks aslinya.

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, mengingatkan masyarakat mengenai potensimeningkatnya produksi konten provokatif sepanjang Agustus. Konten semacam itu dapatdigunakan untuk membangun persepsi tertentu dan memengaruhi kondisi sosial menjelangperingatan kemerdekaan.

Karena itu, peningkatan literasi digital menjadi salah satu langkah penting dalammemperkuat ketahanan masyarakat. Kemampuan menggunakan teknologi perlu disertaikecakapan dalam memahami, memeriksa, dan mengevaluasi informasi sebelum mempercayaiatau menyebarkannya.

Masyarakat yang memiliki literasi digital baik tidak mudah menerima informasi hanyaberdasarkan judul, potongan video, gambar, maupun narasi yang beredar di media sosial. Informasi perlu diperiksa dengan melihat sumber, waktu kejadian, lokasi, konteks, sertamembandingkannya dengan informasi dari sumber yang kredibel.

Kebiasaan melakukan verifikasi menjadi lapisan awal dalam mencegah penyebaran hoaks. Sebuah informasi yang tidak benar dapat memiliki dampak luas apabila terus dibagikan tanpapemeriksaan. Sebaliknya, kebiasaan berhenti sejenak sebelum membagikan informasi dapatmempersempit ruang penyebaran konten menyesatkan.

Tantangan tersebut semakin kompleks karena konten digital tidak selalu mudah dikenalisebagai informasi palsu. Foto asli dapat digunakan dengan keterangan berbeda, video lama dapat kembali disebarkan seolah-olah merupakan peristiwa baru, sementara pernyataanseseorang dapat dipotong sehingga kehilangan konteks.

Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kemkomdigi, Fifi Aleyda Yahya, mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mempercayai foto dan video yang beredar, khususnya konten yang berkaitan dengan demonstrasi atau peristiwa tertentu.

Fifi Aleyda Yahya meminta publik memeriksa waktu, lokasi, dan sumber informasi sebelummenyebarkan sebuah konten. Informasi yang tidak mencantumkan unsur waktu, tempat, sumber, dan konteks memiliki potensi menyesatkan serta dapat memicu kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Kecakapan tersebut perlu menjadi kebiasaan sehari-hari. Masyarakat dapat menelusurisumber pertama, memeriksa tanggal publikasi, menggunakan layanan pemeriksa fakta, sertamembandingkan informasi dengan pemberitaan media yang menjalankan proses jurnalistikdan verifikasi.

Ketahanan digital juga tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengenali informasi palsu, tetapi juga kemampuan mengendalikan respons terhadap konten yang memancing emosi. Narasi yang sengaja membangkitkan kemarahan, ketakutan, atau kebencian dapat mendorongpengguna membagikan informasi secara spontan tanpa mempertimbangkan kebenarannya.

Karena itu, literasi digital perlu mencakup kemampuan membedakan fakta, opini, kritik, dan provokasi. Perbedaan pandangan merupakan bagian dari kehidupan demokrasi, tetapiperbedaan tersebut tidak seharusnya diperbesar melalui informasi palsu atau narasi yang sengaja memecah masyarakat.

Upaya memperkuat ketahanan masyarakat di ruang digital juga membutuhkan peran berbagaipihak. Pemerintah memiliki tanggung jawab melalui regulasi, edukasi, pengawasan, dan penanganan konten bermasalah. Platform digital, media massa, komunitas pemeriksa fakta, akademisi, dan masyarakat juga memiliki kontribusi dalam menciptakan ekosistem informasiyang sehat.

Anggota Dewan Pers, Dr. Rosarita Niken Widiastuti, menekankan pentingnya kemampuanmasyarakat dalam memahami, mengevaluasi, memverifikasi, dan menggunakan informasisecara bertanggung jawab. Kemampuan mengoperasikan perangkat digital perlu diimbangidengan kecakapan menilai informasi yang diterima.

Rosarita Niken Widiastuti juga menilai nilai-nilai Pancasila dapat menjadi dasar dalammembangun budaya digital yang sehat. Prinsip tersebut dapat mendorong masyarakatmenjaga etika komunikasi, menghormati keberagaman, menangkal hoaks, dan mempertahankan persatuan di tengah perbedaan pandangan.

Media massa profesional turut memiliki posisi strategis dalam memperkuat ketahananinformasi. Informasi yang melalui proses verifikasi dan memenuhi prinsip jurnalistik dapatmenjadi rujukan masyarakat ketika berhadapan dengan berbagai konten yang beredar cepat di media sosial.

Keberadaan media kredibel juga membantu masyarakat memperoleh konteks yang lebihlengkap. Hal tersebut penting karena sebuah informasi yang disampaikan secara parsial dapatmenghasilkan pemahaman berbeda dari fakta sebenarnya.

Pada akhirnya, ketahanan masyarakat menghadapi hoaks dan provokasi sangat dipengaruhikemampuan setiap individu dalam mengelola informasi. Literasi digital yang kuat membuatmasyarakat tidak mudah terbawa arus informasi yang belum terverifikasi sekaligus lebihmampu menjaga komunikasi tetap sehat.

Membangun kebiasaan memeriksa sumber, memahami konteks, membandingkan informasi, mengendalikan respons emosional, serta berpikir sebelum membagikan konten merupakanlangkah sederhana yang dapat dilakukan setiap pengguna.

Dengan peningkatan literasi digital, masyarakat dapat menjadi lebih tangguh menghadapihoaks, disinformasi, dan provokasi. Ruang digital pun dapat terus dimanfaatkan sebagaisarana komunikasi, pembelajaran, dan partisipasi publik yang mendukung persatuan sertakehidupan demokrasi yang sehat.

*) Akademisi Bidang Ilmu Komunikasi Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *