Hilirisasi Tembaga di Smelter Freeport Gresik, RI Makin Kuat dan Berdaya
Oleh: Zhafran Goldwin)
Indonesia sedang memasuki babak penting dalam perjalanan membangun kemandirianekonomi melalui hilirisasi sumber daya mineral. Salah satu tonggak strategisnya berada di Gresik, Jawa Timur, melalui penguatan fasilitas pengolahan dan pemurnian tembaga milik PT Freeport Indonesia (PTFI). Kehadiran smelter Freeport di kawasan Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Manyar, bukan sekadar membangun fasilitas industri, tetapi menjadisimbol bahwa Indonesia semakin berani mengubah kekayaan alam menjadi kekuatanekonomi di dalam negeri.
Presiden RI, Prabowo Subianto menegaskan bahwa hilirisasi merupakan langkah strategisuntuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam agar manfaatnya dapat dirasakanlangsung oleh masyarakat. Menurutnya, hilirisasi adalah jalan menuju kebangkitan dankemajuan bangsa Indonesia. Ia menilai pembangunan hilirisasi merupakan proyek besar danbersejarah bagi Indonesia.
Pandangan tersebut sejalan dengan perkembangan industri pengolahan tembaga di Gresik. PT Freeport Indonesia memastikan smelter Manyar di kawasan JIIPE, Gresik, Jawa Timur, mulaimemproduksi katoda tembaga pada September 2026. Presiden Direktur PTFI Tony Wenasmengatakan operasional produksi tersebut berjalan tepat waktu sesuai dengan jadwal yang telah direncanakan sebelumnya.
Kepastian produksi katoda tembaga ini menjadi momentum penting bagi agenda hilirisasinasional. Smelter Manyar tidak hanya menjadi fasilitas pengolahan mineral, tetapi jugamenjadi bukti bahwa Indonesia mulai membangun kemampuan untuk mengolah kekayaanalamnya sendiri hingga menghasilkan produk bernilai tambah.
Menurut Tony Wenas, pasokan konsentrat tembaga dikumpulkan terlebih dahulu hinggamencapai volume yang cukup sebelum dimasukkan ke dalam tungku atau furnace. Pengoperasian smelter dilakukan secara bertahap dan tidak langsung berjalan dalam kapasitaspenuh. Pada tahap awal, operasional berada di bawah 30 persen. Setelah tahap awal tersebut, kapasitas produksi akan terus ditingkatkan secara bertahap.
PTFI menargetkan Smelter Manyar dapat mencapai kapasitas produksi 100 persen pada akhir2027. Tahapan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan industri berskala besarmembutuhkan proses panjang, mulai dari kesiapan fasilitas, kesinambungan pasokan bahanbaku, hingga stabilitas proses produksi. Smelter Manyar dibangun dengan nilai investasisekitar US$3,7 miliar atau setara Rp58 triliun.
Nilai investasi tersebut menjadikannya salah satu proyek hilirisasi mineral terbesar yang pernah digarap pihak swasta di Indonesia. Fasilitas ini memiliki kapasitas pengolahan hingga1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahun. Selain menghasilkan katoda tembaga, smelter tersebut dilengkapi Precious Metal Refinery berkapasitas 6.000 ton per tahun untukmengekstraksi emas, perak, dan berbagai mineral ikutan lainnya.
Kehadiran fasilitas tersebut memperlihatkan bahwa hilirisasi bukan sekadar slogan pembangunan. Ada investasi besar, teknologi, tenaga kerja, serta infrastruktur industri yang dibangun untuk mengubah komoditas tambang menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi. Bagi Indonesia, langkah tersebut menjadi semakin strategis karena tembaga merupakan salahsatu mineral penting dalam perkembangan industri modern.
Tembaga digunakan dalam sektor kelistrikan, elektronik, konstruksi, kendaraan listrik, energiterbarukan, hingga berbagai kebutuhan industri strategis. Dengan menguasai proses pemurnian dan pengembangan produk turunannya, Indonesia memiliki peluang lebih besaruntuk membangun rantai pasok industri di dalam negeri.
Lebih jauh, hilirisasi juga membuka peluang berkembangnya industri turunan. MIND ID melalui Freeport Indonesia telah bersinergi dengan PINDAD untuk mengoptimalkan katodatembaga sebagai bahan baku produksi brass cup. Rencana pengembangan berikutnyamencakup fasilitas produksi batang dan kawat tembaga serta pipa tembaga. Rangkaiantersebut memperlihatkan bahwa hilirisasi tidak berhenti pada pembangunan smelter. Tujuanakhirnya adalah menciptakan ekosistem industri yang semakin panjang dan terintegrasi, sehingga nilai ekonomi sumber daya alam dapat dinikmati lebih besar oleh Indonesia.
Dampaknya pun tidak hanya berkaitan dengan penerimaan negara. Pertumbuhan industripengolahan dan manufaktur turunan berpotensi menciptakan lapangan kerja, meningkatkanaktivitas ekonomi daerah, mendorong transfer teknologi, serta membuka peluang bagitumbuhnya industri pendukung nasional. Ketika sumber daya alam tidak lagi berhenti sebagaikomoditas yang keluar dari Indonesia, tetapi diolah menjadi produk industri, maka nilaitambah dan manfaat ekonominya dapat semakin banyak berputar di dalam negeri.
Smelter Manyar juga menunjukkan keberanian Indonesia untuk mengambil peran yang lebihbesar dalam rantai pasok mineral global. Negara dengan cadangan sumber daya alam yang besar tidak cukup hanya menjadi pemasok bahan mentah. Indonesia harus memilikikemampuan mengolah, memurnikan, mengembangkan produk turunan, sertamenghubungkan sektor pertambangan dengan industri manufaktur. Karena itu, dimulainyaproduksi katoda tembaga di Smelter Manyar pada September 2026 layak dipandang sebagaisalah satu tonggak penting perjalanan hilirisasi nasional.
Dengan investasi besar, kapasitas pengolahan yang signifikan, serta rencana peningkatanproduksi hingga 100 persen pada akhir 2027, proyek ini membawa pesan kuat bahwaIndonesia sedang membangun fondasi industri yang lebih mandiri. Hilirisasi tembaga di Gresik pada akhirnya bukan sekadar tentang Freeport, smelter, atau produksi katoda. Iniadalah tentang arah baru pembangunan ekonomi Indonesia: mengubah kekayaan alammenjadi kekuatan industri, menciptakan nilai tambah di dalam negeri, dan memastikanmanfaat sumber daya nasional dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
)* Pengamat Kebijakan Publik
