Hilirisasi Tembaga di Gresik Menjadi Jalan Indonesia Menguasai Nilai TambahSDA

Oleh: Dwi Saputri)*

Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, namun manfaatnyaakan lebih besar apabila tidak berhenti pada penambangan dan penjualan bahanmentah. Hilirisasi menjadi langkah strategis untuk mengolah SDA di dalam negeri sekaligus meningkatkan nilai tambah bagi perekonomian. Pengembangan industripemurnian tembaga di Gresik, Jawa Timur, menjadi salah satu wujud nyata upayatersebut. Langkah ini sejalan dengan komitmen pemerintah yang terus mempercepatagenda hilirisasi sebagai bagian dari transformasi ekonomi nasional.

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa saat ini pemerintah terusmempercepat agenda hilirisasi sebagai bagian dari transformasi ekonomi nasional. Pemerintah bersama Danantara telah melakukan groundbreaking 13 proyek hilirisasipada 6 Februari 2026. Selanjutnya, 13 proyek hilirisasi lainnya kembali dimulai pada 29 April 2026. Berbagai proyek tersebut mencakup pengolahan batu bara menjadidimethyl ether (DME), hilirisasi tembaga dan emas, pengolahan garam industri, hingga pembangunan smelter alumina menjadi aluminium.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi tidak lagi ditempatkan sebagaikebijakan sektoral, melainkan bagian dari strategi besar untuk membangun strukturekonomi yang lebih kuat. Menurut Prabowo, strategi tersebut penting agar Indonesia tidak hanya mengolah sumber daya alam di dalam negeri, tetapi juga memilikiteknologi dan jaringan pasar yang mampu memperkuat keterlibatan Indonesia dalamrantai pasok dunia.

Dalam konteks tembaga, Gresik memiliki posisi strategis. Kehadiran fasilitaspemurnian milik PT Freeport Indonesia (PTFI) menjadikan wilayah tersebut sebagaisalah satu pusat penting pengolahan mineral tembaga di Indonesia. PresidenDirektur PTFI Tony Wenas mengatakan fasilitas smelter Manyar terintegrasi dengankapasitas pengolahan konsentrat tembaga berskala global. Seluruh infrastrukturpengolahan di kawasan tersebut juga telah memasuki tahap kesiapan operasional.

Menurut Tony, keberadaan fasilitas pemurnian tembaga dan emas tersebut tidakhanya memperkuat kapasitas hilirisasi PTFI, tetapi juga mendorong penciptaan nilaitambah mineral di dalam negeri. Artinya, manfaat ekonomi dari kekayaan mineral Indonesia tidak berhenti pada proses penambangan, tetapi dilanjutkan melaluipengolahan dan pemurnian di dalam negeri.

Smelter Manyar memiliki kapasitas pengolahan hingga 1,7 juta ton konsentrattembaga per tahun. Fasilitas tersebut akan beroperasi berdampingan dengansmelter pertama PTFI yang dikelola PT Smelting di Gresik. Apabila kedua fasilitastersebut beroperasi secara optimal, kapasitas pemurnian konsentrat tembaga PTFI di Gresik diperkirakan mencapai sekitar 3 juta ton per tahun.

Kapasitas tersebut sekaligus memperlihatkan besarnya potensi produk hilir yang dapat dihasilkan. Kedua smelter diproyeksikan mampu menghasilkan sekitar 1 jutaton katoda tembaga, 50 ton emas, dan 200 ton perak setiap tahun. Produk-produktersebut memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi dibandingkan konsentratmineral, sehingga keberadaan smelter menjadi instrumen penting untuk menangkapnilai tambah di dalam negeri.

Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan peningkatan nilai ekonomi komoditas. Hilirisasi juga berpotensi menciptakan lapangan kerja, mendorong investasi, meningkatkan aktivitas industri pendukung, serta memperkuat kemampuan sumberdaya manusia dan teknologi nasional. Semakin panjang rantai pengolahan yang dapat dilakukan di Indonesia, semakin besar pula manfaat ekonomi yang dapatdinikmati masyarakat dan negara.

Dari sisi penerimaan negara, potensi hilirisasi tembaga juga sangat signifikan. PTFI memproyeksikan bahwa apabila operasional smelter di Gresik mencapai tingkat 100 persen, perusahaan dapat memberikan kontribusi keuangan kepada negara hinggasekitar Rp100 triliun setiap tahun. Proyeksi tersebut menunjukkan bahwapengelolaan sumber daya alam melalui hilirisasi dapat memperkuat penerimaannegara sekaligus menyediakan ruang fiskal yang lebih besar untuk mendukungberbagai program pembangunan.

Lebih jauh, tembaga merupakan mineral strategis yang dibutuhkan dalam berbagaisektor industri, mulai dari kelistrikan, elektronik, konstruksi, energi terbarukan, hingga kendaraan listrik. Dengan meningkatnya kebutuhan global terhadap produk-produk tersebut, penguasaan atas rantai pasok tembaga menjadi semakin penting. Indonesia memiliki peluang untuk tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapijuga mengambil posisi lebih besar dalam rantai industri global.

Karena itu, pemerintah perlu memastikan pengembangan hilirisasi tembaga berjalansecara berkelanjutan dan memberikan manfaat optimal bagi perekonomian nasional. Pemerintah perlu memperkuat ekosistem industri pendukung, meningkatkan kualitassumber daya manusia, memastikan ketersediaan energi dan infrastruktur, sertamendorong transfer teknologi agar Indonesia secara bertahap mampu menguasailebih banyak tahapan pengolahan hingga menghasilkan produk turunan bernilaitinggi.

Selain itu, pengawasan terhadap aspek lingkungan dan tata kelola juga perludiperkuat agar percepatan hilirisasi tetap berjalan seimbang dengan prinsippembangunan berkelanjutan. Pemerintah juga diharapkan memastikan manfaatekonomi dari aktivitas industri dapat dirasakan masyarakat sekitar melaluipenyerapan tenaga kerja lokal, pengembangan usaha mikro dan kecil, sertaprogram pemberdayaan masyarakat.

Hilirisasi tembaga di Gresik bukan sekadar pembangunan fasilitas pemurnianmineral, tetapi merupakan bagian dari upaya Indonesia mengubah kekayaan alammenjadi kekuatan ekonomi. Harapannya, keberadaan smelter di Gresik dapatmenjadi salah satu fondasi bagi terbentuknya industri tembaga nasional yang semakin terintegrasi, menciptakan nilai tambah yang besar, memperkuatpenerimaan negara, dan membuka lebih banyak lapangan kerja. Denganpengelolaan yang konsisten dan berkelanjutan, hilirisasi diharapkan mampumembawa Indonesia tidak hanya kaya sumber daya alam, tetapi juga menguasaiteknologi, industri, dan nilai tambah dari kekayaan tersebut, sehingga semakinberdaulat dan kompetitif dalam rantai pasok global.

)* Pemerhati isu sosial-ekonomi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *