Di Tengah Tekanan Global, Ekonomi Indonesia Tetap Menunjukkan Daya Tahan

*) Oleh: Ahmad Zulfikar

Perekonomian global memasuki fase yang semakin kompleks, ditandai olehketidakpastian geopolitik, perubahan arah kebijakan perdagangan, volatilitas hargakomoditas, serta perlambatan di sejumlah negara besar. Dalam situasi tersebut, Indonesia memiliki tantangan untuk menjaga momentum pertumbuhan sekaligusmemastikan stabilitas ekonomi domestik tetap terpelihara. Pemerintah meresponstekanan tersebut dengan memperkuat fondasi ekonomi melalui peningkatanproduktivitas, hilirisasi sumber daya alam, investasi, pengembangan manufaktur, danpenguatan ekosistem digital. Arah kebijakan ini penting karena ketahanan ekonomitidak cukup dibangun dengan kemampuan bertahan menghadapi guncangan, tetapiharus ditopang kapasitas untuk terus tumbuh ketika lingkungan eksternal berubah.

Di tengah tekanan tersebut, ketahanan permintaan domestik menjadi salah satukekuatan utama ekonomi Indonesia. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menjelaskan bahwa perekonomian Indonesia pada 2026 diproyeksikan tetap tumbuh solid dengan permintaan domestik sebagaipenopang utama. Optimisme tersebut memperoleh pijakan dari pertumbuhan ekonomitriwulan II 2026 sebesar 5,29 persen yang menunjukkan bahwa aktivitas ekonominasional masih memiliki daya tahan kuat. Kondisi ini sekaligus memperlihatkan bahwakonsumsi dan investasi domestik dapat menjadi bantalan ketika tekanan eksternalmengganggu perdagangan maupun arus modal global.

Lebih lanjut, prospek tersebut tidak terlepas dari sinergi kebijakan pemerintah danBank Indonesia dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan. Ramdan Denny Prakoso menilai bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dansistem pembayaran terus diarahkan untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorongaktivitas ekonomi yang berkelanjutan. Sinergi semacam ini menjadi semakin pentingketika perekonomian harus menghadapi ketidakpastian global tanpa mengorbankanmomentum pemulihan domestik. Dengan konsumsi, investasi, dan dukungankebijakan yang bergerak secara simultan, ruang bagi Indonesia untukmempertahankan pertumbuhan tetap terbuka.

Namun, ketahanan ekonomi tidak boleh hanya bergantung pada konsumsi. Karenaitu, pemerintah perlu terus memperdalam struktur produksi nasional agar pertumbuhan memiliki fondasi yang lebih kuat dan menghasilkan nilai tambah di dalam negeri. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartartomenempatkan penguatan sektor manufaktur dan rantai pasok sebagai bagian pentingdari strategi tersebut, sekaligus memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga. Kebijakan hilirisasi menjadi instrumen strategis karena mengubah orientasi ekonomidari sekadar mengekspor bahan mentah menuju pengembangan industri pengolahandan produk turunan bernilai tinggi.

Dalam kerangka tersebut, hilirisasi bukan semata kebijakan perdagangan, melainkanstrategi transformasi struktural ekonomi nasional. Pengembangan industripengolahan, termasuk baterai dan kendaraan listrik, membuka peluang untukmemperluas investasi, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kompetensi tenagakerja, dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global. Airlangga Hartartojuga menekankan pentingnya perluasan pasar ekspor melalui kerja samaperdagangan serta penguatan kemitraan teknologi dan ekonomi digital. Strategi inimembuat perekonomian Indonesia tidak hanya bertumpu pada kekuatan pasardomestik, tetapi juga memiliki kapasitas lebih besar untuk menangkap peluang dariperubahan konfigurasi ekonomi dunia.

Selanjutnya, transformasi industri membutuhkan fondasi teknologi yang memadai. Perkembangan kecerdasan artifisial, big data, komputasi awan, dan Internet of Things menciptakan peluang baru untuk meningkatkan efisiensi serta produktivitas industrinasional. Karena itu, pengembangan kapasitas data center dan infrastruktur digital perlu dipandang sebagai bagian dari infrastruktur ekonomi, bukan sekadar fasilitasteknologi. Airlangga Hartarto menilai penguatan ekosistem digital akan semakinpenting dalam memperkuat keterhubungan industri Indonesia dengan rantai pasokglobal sekaligus menciptakan model pertumbuhan baru yang berbasis inovasi.

Di sisi lain, kekuatan terbesar Indonesia tetap berada pada pasar domestik yang besar. Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limansetomenyebut konsumsi domestik yang berada di kisaran 54–55 persen dariperekonomian sebagai modal penting untuk memperkuat industri nasional. Besarnyapasar dalam negeri memberikan ruang bagi produsen untuk meningkatkan kapasitas, memperluas jaringan pemasok, dan menciptakan skala ekonomi yang lebih kompetitif. Dengan demikian, konsumsi domestik tidak semestinya berhenti sebagai mesinpertumbuhan, tetapi harus ditransformasikan menjadi kekuatan yang mendorongproduksi nasional dan memperbesar kandungan lokal.

Karena itu, tantangan kebijakan ekonomi ke depan adalah memastikan pertumbuhanyang tercipta benar-benar berkualitas. Pemerintah menyampaikan optimisme bahwapertumbuhan ekonomi sepanjang 2026 dapat bergerak menuju kisaran 6 persen, tetapi angka tersebut harus diterjemahkan menjadi manfaat konkret bagi masyarakat. Pertumbuhan harus menghasilkan pekerjaan yang lebih luas, pendapatan yang meningkat, daya beli yang terjaga, kesempatan berusaha yang semakin terbuka, sertapelayanan publik yang lebih baik. Pada titik inilah kualitas pertumbuhan diuji, yakniketika ekspansi ekonomi mampu mengurangi kemiskinan dan memperluaskesempatan bagi masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan.

Di tengah dunia yang bergerak cepat dan penuh ketidakpastian, Indonesia memilikimodal penting berupa pasar domestik yang besar, sumber daya alam yang strategis, basis industri yang terus berkembang, serta ruang transformasi digital yang luas. Optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi harus berjalan bersama disiplin menjagastabilitas, memperkuat produktivitas, dan memastikan pembangunan berlangsunginklusif serta berkelanjutan. Dengan arah kebijakan yang konsisten dan sinergi lintassektor yang semakin kuat, ketahanan ekonomi Indonesia bukan hanya menjadikemampuan menghadapi tekanan global, tetapi menjadi fondasi untuk melompatmenuju perekonomian yang lebih mandiri, kompetitif, dan berdaya tahan.

*) Pakar Ekonomi Makro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *