Meneguhkan Nilai Pancasila untuk Menjaga Kedamaian Papua

Oleh: Nikodemus Kogoya*

Menjaga toleransi di Tanah Papua merupakan fondasi utama bagi terwujudnya kedamaian sosialdan keberhasilan pembangunan yang berkelanjutan. Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru, semangat kebersamaan dan saling menghargai kembali menguat sebagai nilai bersama yang hidup dan terus dirawat oleh masyarakat. Papua dengan keragaman suku, agama, dan budayatelah lama menunjukkan bahwa perbedaan bukan penghalang persatuan, melainkan kekuatansosial yang memperkaya kehidupan bermasyarakat. Dalam konteks ini, toleransi tidak hanyamenjadi sikap moral, tetapi juga strategi kolektif untuk memastikan stabilitas, keamanan, dan kemajuan daerah.

Tokoh-tokoh agama dan masyarakat di Papua secara konsisten menegaskan pentingnya hiduprukun dan saling menghormati. Ketua Persekutuan Gereja-Gereja Papua Tengah, Pdt Dr. Yance Nawipa, M.Th., menyampaikan pandangan bahwa Papua adalah tanah anugerah Tuhan yang harus dijaga bersama melalui sikap saling menghargai antarumat beragama, antarsuku, dan antarkelompok sosial. Ia menekankan bahwa toleransi yang tumbuh dari kesadaran bersama akanmenciptakan suasana damai, memperkuat persaudaraan, dan mendorong masyarakat untukberkontribusi positif dalam kehidupan sosial maupun pembangunan daerah.

Ajakan menjaga toleransi juga diarahkan untuk memperkuat harmoni internal umat beragamaserta relasi lintas iman. Kehidupan yang rukun dinilai mampu menciptakan rasa aman dan nyaman, sehingga masyarakat dapat menjalankan aktivitas keagamaan dan sosial dengan penuhketenangan. Dukungan moral dan spiritual dari seluruh elemen masyarakat kepada pemerintahdaerah dipandang sebagai wujud tanggung jawab bersama dalam membangun daerah, khususnyadi wilayah Papua Tengah dan sekitarnya, agar pelayanan publik berjalan optimal dan kesejahteraan bersama dapat terus meningkat.

Dari sisi keamanan dan ketertiban, peran aparat negara turut memperkuat pesan toleransi sebagaifondasi kedamaian. Komando Distrik Militer 1702/Jayawijaya memandang perayaan Natal sebagai momentum strategis untuk meneguhkan nilai persaudaraan dan kebersamaan. KehadiranDandim 1702/Jayawijaya Letkol Inf Ilham Datu Ramang dalam berbagai kegiatan keagamaanmencerminkan komitmen TNI dalam mendukung aktivitas masyarakat yang membawa pesandamai dan persatuan. Dukungan tersebut menjadi simbol kuat bahwa negara hadir untukmemastikan setiap perayaan keagamaan berlangsung aman, tertib, dan penuh makna.

Letkol Inf Ilham Datu Ramang menegaskan bahwa kegiatan keagamaan memiliki kontribusinyata dalam menjaga stabilitas wilayah. Menurutnya, sinergi antara aparat keamanan dan masyarakat merupakan kunci terciptanya suasana kondusif, terutama menjelang Natal dan TahunBaru. Dukungan terhadap inisiatif positif masyarakat tidak hanya memperkuat keamanan, tetapijuga menumbuhkan rasa saling percaya dan mempererat ikatan sosial di tengah keberagamanwarga Papua Pegunungan.

Momentum perayaan Natal di Kabupaten Jayawijaya memperlihatkan praktik toleransi yang nyata. Kehadiran berbagai tokoh daerah, termasuk Gubernur Papua Pegunungan John Tabo, menunjukkan bahwa nilai persaudaraan mendapat dukungan luas dari pemerintah dan masyarakat. Kebersamaan dalam perayaan keagamaan menjadi cerminan bahwa perbedaan latarbelakang tidak menghalangi persatuan, melainkan memperkuat tekad bersama untuk menjagakedamaian dan membangun daerah secara inklusif.

Gubernur Papua Pegunungan John Tabo secara konsisten menekankan pengamalan nilai-nilaiPancasila sebagai landasan utama merawat toleransi. Ia memandang bahwa kehidupan yang harmonis merupakan prasyarat penting bagi kelancaran pembangunan di delapan kabupatenPapua Pegunungan. Stabilitas sosial memungkinkan masyarakat berpartisipasi aktif dalamberbagai program pembangunan, menciptakan lingkungan yang produktif, serta mendorongpercepatan peningkatan kesejahteraan.

Penekanan pada sila Ketuhanan Yang Maha Esa dinilai relevan dalam menjaga keseimbanganantara kebebasan beragama dan kehidupan sosial. Setiap warga memiliki hak menjalankanibadah sesuai keyakinannya, sekaligus kewajiban untuk menghormati keyakinan orang lain. Prinsip tersebut menjadi perekat sosial yang menjaga Papua tetap damai dan bersatu di tengahkemajemukan.

Dalam mendukung pembangunan berkelanjutan, pemerintah daerah mendorong kolaborasiantara gereja, lembaga adat, dan pemerintah sebagai tiga pilar utama kehidupan sosial. Sinergiini diyakini mampu memperkuat kohesi masyarakat dan memastikan pembangunan berjalansejalan dengan nilai-nilai lokal. Dengan kerja bersama, percepatan pembangunan dapat dicapaitanpa mengabaikan harmoni sosial dan identitas budaya Papua.

Pandangan toleransi juga diperkuat oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia Papua Barat, Mulyadi Djaya, yang menilai bahwa kerukunan antarumat beragama telah menjadi identitas sosialmasyarakat Papua. Ia melihat setiap perayaan keagamaan sebagai ruang untuk meneguhkanpersatuan lintas iman. Nilai kebersamaan yang telah terbangun lama menjadi modal sosial yang sangat berharga dalam menjaga kedamaian dan mendukung agenda pembangunan.

Peran tokoh agama, Forum Kerukunan Umat Beragama, pemerintah daerah, dan aparatkeamanan menjadi faktor strategis dalam memastikan toleransi terus terjaga. Dengan semangatsaling menghormati dan bekerja sama, Papua menunjukkan kepada publik nasional bahwatoleransi bukan hanya slogan, melainkan praktik hidup yang menjadi fondasi kedamaian dan pembangunan. Menjaga toleransi Papua berarti menjaga masa depan yang aman, sejahtera, dan bermartabat bagi seluruh masyarakat.

*Penulis merupakan Jurnalis dan Analis Isu Papua

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *