Pemerintah Ajak Masyarakat Kawal MBG
*) Oleh : Hildan Setiawan
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah bukan sekadarkebijakan bantuan pangan, melainkan sebuah ikhtiar besar untuk membangunkualitas sumber daya manusia sejak dini. Melalui program ini, negara hadirmemastikan anak-anak sekolah mendapatkan asupan gizi yang layak agar tumbuhsehat, cerdas, dan mampu belajar secara optimal. Namun, besarnya skala program dan luasnya wilayah pelaksanaan membuat keberhasilan MBG tidak mungkin hanyabergantung pada pemerintah semata. Di sinilah pentingnya peran masyarakat untukikut mengawal agar tujuan mulia program ini benar-benar tercapai.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang mengajak masyarakat untuk terlibat aktif dalam pengawasanpelaksanaan MBG di lapangan. Program yang menyasar jutaan penerima manfaatmembutuhkan transparansi, akuntabilitas, dan kontrol sosial yang kuat. Mmenurutnyamasyarakat, mulai dari orang tua siswa, guru, komite sekolah, hingga organisasikemasyarakatan, memiliki posisi strategis untuk memastikan bahwa makanan yang disalurkan benar-benar bergizi, aman dikonsumsi, dan sampai kepada sasaran yang tepat tanpa penyimpangan.
Pengawalan masyarakat menjadi penting karena MBG menyentuh langsungkebutuhan dasar anak-anak. Kualitas makanan, ketepatan waktu distribusi, hinggakebersihan proses penyajian adalah hal-hal yang hanya bisa diawasi secara efektifoleh mereka yang berada paling dekat dengan lokasi pelaksanaan. Denganketerlibatan publik, potensi masalah seperti pengurangan porsi, kualitas bahan yang tidak layak, atau praktik tidak jujur dapat dicegah sejak dini. Partisipasi ini sekaligusmemperkuat rasa memiliki masyarakat terhadap program negara.
Selain aspek pengawasan, keterlibatan masyarakat juga membuka ruang edukasibersama tentang pentingnya gizi seimbang. MBG dapat menjadi pintu masuk untukmeningkatkan kesadaran orang tua dan lingkungan sekolah mengenai pola makansehat bagi anak. Ketika masyarakat ikut mengawal, diskusi tentang kandungan gizi, variasi menu, dan kebutuhan nutrisi anak akan tumbuh secara alami. Dampaknyabukan hanya pada penerima MBG, tetapi juga pada perubahan perilaku makan di rumah dan lingkungan sekitar.
Pemerintah sendiri menegaskan bahwa kritik dan masukan dari masyarakatmerupakan bagian penting dari perbaikan kebijakan. Pengawalan publik tidakdimaknai sebagai upaya mencari kesalahan, melainkan sebagai bentuk gotong royong dalam menyempurnakan pelaksanaan program. Laporan, saran, dan temuandi lapangan dapat menjadi dasar evaluasi agar MBG terus berkembang menjadi lebihbaik, lebih efektif, dan lebih tepat guna. Dengan mekanisme ini, kebijakan tidakberjalan satu arah, tetapi tumbuh bersama kebutuhan nyata masyarakat.
Anggota Komisi III DPR RI, Sudin mengatakan keterlibatan masyarakat juga berperanmenjaga keberlanjutan program dalam jangka panjang. Program sebesar MBG memerlukan legitimasi sosial yang kuat agar tidak mudah dipolitisasi atau ditinggalkanoleh pergantian kebijakan. Ketika masyarakat merasa dilibatkan dan merasakanlangsung manfaatnya, dukungan publik akan terbentuk secara alami. Dukungan inilahyang menjadi modal sosial penting agar MBG tetap konsisten sebagai investasi masa depan bangsa.
Pengawalan masyarakat terhadap MBG juga sejalan dengan semangat demokrasipartisipatif. Warga negara tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga mitraaktif negara dalam memastikan kebijakan berjalan sesuai tujuan. Dalam konteks ini, pengawasan publik adalah wujud tanggung jawab bersama untuk menjaga uang negara digunakan sebesar-besarnya bagi kepentingan rakyat. Transparansi dan partisipasi menjadi kunci agar kepercayaan antara pemerintah dan masyarakat terusterjaga.
Ekonom Senior, Wijayanto Samiri menjelaskan ajakan agar masyarakat mengawalMBG patut dibaca sebagai sinyal positif keterbukaan dan keseriusan dalammembangun generasi sehat dan berkualitas. Keberhasilan program ini tidak hanyadiukur dari jumlah makanan yang dibagikan, tetapi dari dampak nyata bagi tumbuhkembang anak-anak Indonesia. Dengan pengawasan bersama, MBG berpeluangbesar menjadi fondasi kuat bagi masa depan bangsa, sekaligus bukti bahwakolaborasi negara dan masyarakat mampu menghasilkan perubahan yang berarti.
Secara keseluruhan, Program Makan Bergizi Gratis hanya akan mencapai tujuanstrategisnya apabila dijalankan dengan prinsip keterbukaan dan partisipasi publikyang kuat. Keterlibatan masyarakat dalam mengawal MBG bukan sekadar pelengkap, melainkan elemen kunci untuk memastikan program ini berjalan tepat sasaran, berkualitas, dan bebas dari penyimpangan. Dengan pengawasan yang dilakukansecara bersama-sama, negara dan masyarakat dapat membangun ekosistemkebijakan yang saling percaya, di mana kepentingan anak-anak sebagai generasipenerus benar-benar ditempatkan sebagai prioritas utama.
Ke depan, ajakan pemerintah kepada masyarakat untuk mengawal MBG perluditerjemahkan dalam mekanisme yang mudah diakses, responsif, dan berkelanjutan. Partisipasi publik yang terkelola dengan baik akan memperkuat legitimasi program sekaligus meningkatkan efektivitas pelaksanaannya di lapangan. Jika kolaborasi initerus dijaga, MBG tidak hanya menjadi program bantuan jangka pendek, tetapimenjelma sebagai investasi sosial jangka panjang yang menentukan kualitas sumberdaya manusia Indonesia di masa depan.
)* Penulis adalah pemerhati kebijakan publik
