Lewat Edukasi Publik, Pemerintah Tegaskan Komitmen Memutus Lingkaran Judi Daring

Oleh: Maya Andini Lestari Pemerintah terus memperkuat langkah pemberantasan judi daring melalui pendekatan yang lebih komprehensif, tidak hanya lewat penindakan dan pemutusan akses, tetapi juga melalui edukasi publik yang menyasar kelompok paling rentan, yakni generasi muda. Komitmen itu tampak dalam penyelenggaraan Rapat Koordinasi Peningkatan Literasi bagi Generasi Muda tentang Bahaya Perjudian Daring yang digelar Kementerian Koordinator…

Read More

Ancaman Senyap Judi Daring yang Menggerus Masa Depan Generasi Muda dan Stabilitas Sosial Ekonomi

Oleh: Bara Winatha*) Judi daring kini menjadi salah satu ancaman sosial paling berbahaya di era digital, terutama bagi generasi muda yang hidup dalam lingkungan serba cepat dan sangat dipengaruhi teknologi. Fenomena ini tidak hanya merusak kesehatan mental dan keuangan individu, tetapi juga menggerogoti sendi-sendi sosial masyarakat. Dengan akses yang sangat mudah melalui ponsel, promosi agresif…

Read More

Penetapan Gelar Pahlawan bagi Soeharto, Bukti Kedewasaan Bangsa Membaca Sejarah

Oleh : Gavin Asadit )* Keputusan Presiden Republik Indonesia menempatkan Presiden ke-2 RI, Soeharto, sebagai Pahlawan Nasional pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 2025 menandai babak penting dalam upaya negara mengakui jasa tokoh-tokoh yang dianggap memiliki kontribusi besar terhadap perjalanan bangsa. Penganugerahan yang disampaikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara itu dituangkan dalam Keputusan Presiden…

Read More

Penetapan Gelar Pahlawan Soeharto Didukung Banyak Tokoh, Publik Diminta Hindari Polemik Berlarut

Oleh: Juana Syahril)* Keputusan pemerintah menetapkan Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres Nomor 116/TK/Tahun 2025 bertepatan dengan Hari Pahlawan 10 November 2025 telah memunculkan beragam reaksi publik. Sejumlah pihak menyampaikan keberatan melalui aksi demonstrasi, sementara sebagian lainnya memberikan dukungan penuh atas keputusan tersebut. Di tengah dinamika itu, pemerintah menegaskan bahwa penetapan gelar…

Read More

Jaga Situasi Kondusif, Publik Diminta Tak Terpengaruh Provokasi Gelar Pahlawan Soeharto

Jakarta – Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi menegaskan bahwa pemerintah bersama seluruh elemen bangsa terus memantau dinamika seruan demonstrasi yang belakangan kembali mencuat di berbagai wilayah. Ia menyampaikan bahwa pemerintah menghormati hak warga negara dalam menyampaikan pendapat di muka umum, namun tetap menekankan pentingnya menjaga stabilitas serta menghindari provokasi yang dapat menimbulkan gangguan ketertiban. Menurut…

Read More

Layak Dapat Gelar Pahlawan, Bangsa Apresiasi Peran Soeharto Dalam Stabilitas dan Pembangunan

Jakarta – Pemerintah menegaskan bahwa pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden kedua RI, Soeharto, merupakan keputusan yang didasarkan pada penilaian objektif terhadap kontribusi historisnya bagi stabilitas nasional dan pembangunan jangka panjang. Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa proses penetapan tersebut telah melalui mekanisme ketat sesuai ketentuan Dewan Gelar. Ia menegaskan bahwa “Pemerintah memberikan penghargaan ini sebagai…

Read More

Abaikan Ajakan Demo Gelar Pahlawan Soeharto, Pilih Jalur Konstitusional

Oleh: Andi Ramli Masyarakat Indonesia sebaiknya mengabaikan saja seruan demonstrasi yang menolak penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden Republik Indonesia Ke-2, Soeharto. Ajakan melaksanakan aksi massa merupakan provokasi nyata dari segelintir pihak yang tidak bertanggung jawab, berupaya keras menolak keputusan negara. Padahal, negara sudah memfasilitasi setiap warga agar demokratisasi tetap berjalan dan hidup subur di Indonesia,…

Read More

Publik Tak Perlu Terjebak Provokasi Demo Gelar PahlawanSoeharto

Oleh: Fajar Dwi Santoso Jangan sampai publik terjebak ke dalam ajakan demonstrasi dan adanya upaya provokasi darisegelintir kelompok yang tidak bertanggung jawab terkait dengan penolakan penganugerahangelar Pahlawan Nasional untuk Presiden ke-2 RI, Soeharto. Beragam elemen masyarakat melihat dengan sangat jelas bahwa memang ada semacamupaya provokasi, yang mana hal tersebut sebagai langkah yang dapat menggoyahkanketertiban umum serta menciptakan gesekan horizontal yang justru akan semakin merugikankhalayak luas.  Penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada Soeharto melalui Keputusan Presiden(Kepres) Nomor 116/TK/Tahun 2025 pada 10 November 2025 dinilai sudah sah secarahukum, serta wajar dalam konteks sejarah, dan telah relevan dengan kontribusi Presiden RI ke-2 tersebut selama ini dalam perjalanan pembangunan bangsa Indonesia.  Oleh karena itu, menjadi hal yang sangat penting bagi seluruh pihak untuk dapat secara tegasmenolak jika terdapat ajakan melakukan aksi jalanan dan demonstrasi serta segala bentukprovokasi yang muncul, karena hal tersebut sebagai upaya untuk terus menjaga keharmonisansosial, bukan sebagai bentuk pembungkaman pendapat sebagaimana isu narasi yang diframing sedemikian rupa belakangan ini. Pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan menegaskan bahwa penganugerahan gelartersebut telah melewati proses kajian panjang serta penilaian objektif dari lembaga resminegara.  Polemik yang muncul after keputusan tersebut dipandang sebagai dinamika yang lumrahdalam negara demokratis. Perbedaan pendapat memang menjadi bagian dari ruang publik, namun pengelolaannya membutuhkan kedewasaan agar tidak merusak fondasi persatuannasional. Dorongan agar publik tetap tenang dan berpikir jernih muncul sebagai usahamenghadirkan ketertiban yang memungkinkan aspirasi tetap tersalurkan secara konstruktif. Ketua DPRD Bali, Dewa Made Mahayadnya, memberikan tekanan kuat pada risikopenunggang gelap yang mungkin memanfaatkan momentum penolakan tersebut. Iamenyoroti bahwa aksi demonstrasi rawan dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak pernahsungguh-sungguh memperjuangkan substansi persoalan, melainkan hanya ingin menciptakankegaduhan politik.  Sorotannya terhadap nilai-nilai ketimuran menegaskan bahwa ruang publik Indonesia memiliki tradisi musyawarah dan penyampaian pendapat yang beradab. Karena itu, ia menilaimasyarakat perlu lebih berhati-hati agar tidak terdorong mengikuti aksi yang justrumengancam jalinan persaudaraan dan kedamaian sosial. Ia juga memandang proses penetapan gelar pahlawan nasional tersebut telah dijalankandengan mekanisme resmi dan kajian mendalam oleh lembaga berwenang. Penilaian itumembuatnya menegaskan kembali bahwa publik lebih baik menyalurkan pendapat melaluicara-cara konstitusional yang memberikan ruang bagi argumentasi rasional, bukan melaluikerumunan yang rentan ditunggangi kepentingan destruktif. Wakil Presiden ke-13 RI, KH Ma’ruf Amin, memandang pentingnya menjaga ketenangankolektif demi meredam risiko eskalasi di lapangan. Ia mendorong seluruh lapisan masyarakatuntuk tidak terbawa arus provokasi yang justru memperlebar ketegangan sosial.  Dalam pandangannya, penyelesaian polemik semestinya ditempuh dengan kepala dingin danmempercayakan mekanisme hukum yang telah disediakan negara. Ia menilai pengendaliansituasi melalui langkah cepat pemerintah sangat krusial agar perkembangan di lapangan tetapterkendali tanpa membuka ruang bagi tindakan anarkis. Dorongan Ma’ruf Amin agar aparatur penegak hukum menjaga transparansi juga menjadipenegasan bahwa jalur konstitusional adalah arena yang memberikan kepastian. Pendekatanitu menghilangkan ruang bagi keraguan publik sekaligus mengokohkan legitimasi keputusannegara. Dalam kerangka tersebut, demonstrasi yang berpotensi menimbulkan kekisruhandianggap tidak memberi manfaat apa pun bagi masyarakat luas. Majelis Ulama Indonesia melalui Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi, MasdukiBaidlowi, menempatkan keselamatan publik sebagai prioritas utama. Ia memandang aksidemonstrasi yang berpotensi merusak fasilitas umum dan menghambat aktivitas masyarakatsebagai tindakan yang tidak lagi berada dalam konteks penyampaian aspirasi.  Ketika aktivitas di ruang publik telah menimbulkan keresahan dan merugikan kepentinganbanyak pihak, ia menilai aksi tersebut perlu dihentikan demi kebaikan bersama. Pendapattersebut memperjelas pentingnya memisahkan antara penyampaian pendapat secara sehatdengan tindakan yang justru membebani masyarakat luas. Dalam pandangan banyak elemen masyarakat lintas sektor, gelar Pahlawan Nasional bagiSoeharto merupakan bentuk penghargaan negara atas jejak pengabdian panjang yang telahmemengaruhi arah pembangunan nasional.  Banyak yang menilai Soeharto telah memberikan fondasi stabilitas ekonomi dan politikdalam periode yang menentukan bagi perjalanan Indonesia. Karena itu, ajakan untuk menolakgelar tersebut melalui demonstrasi jalanan dianggap tidak relevan dengan kenyataan historismaupun proses hukum yang telah dilalui. Pemerintah bersama berbagai komponen masyarakat melihat partisipasi publik dalammenjaga kondusivitas nasional sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai perjuangan para pahlawan. Ruang publik yang damai memberikan kesempatan bagi perbedaan pandanganuntuk berkembang tanpa mengganggu keteraturan sosial.  Dorongan untuk menolak provokasi tidak dimaksudkan untuk menutup ruang diskusi, melainkan untuk memastikan bahwa perdebatan mengenai gelar pahlawan berlangsung dalamkoridor yang sehat dan bermartabat. Masyarakat dari berbagai latar belakang didorong untuk tetap waspada, kritis, namun tidaklarut dalam agitasi yang tidak bertanggung jawab. Mengutamakan persaudaraan, menjagastabilitas, dan memastikan ketenteraman publik menjadi sikap penting agar perbedaan visitidak bergeser menjadi bibit konflik. Dalam konteks tersebut, menolak provokasi demonstrasimenjadi pilihan rasional untuk menjaga kebersamaan dan keutuhan bangsa. (*) Pengamat Politik Nasional – Forum Politik Mandala Raya

Read More

Penghormatan Negara untuk Soeharto Menghadirkan Harapan Baru dalam Narasi Sejarah

Oleh: Agra Hermawan )* Penghormatan negara terhadap Presiden ke-2 Republik Indonesia, Jenderal Besar H. M. Soeharto, melalui proses pengajuan gelar Pahlawan Nasional kembali menegaskan bahwa bangsa ini semakin dewasa dalam menghargai perjalanan sejarahnya. Langkah ini bukan sekadar keputusan administratif, tetapi bagian dari proses panjang untuk memberikan tempat yang layak bagi tokoh yang telah mengabdikan hidupnya kepada…

Read More

Negara Hormati Jasa Soeharto, Penganugerahan Pahlawan Nasional  Tepat dan Objektif

Oleh : Gracia Tan )* Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden Ke-2 Republik Indonesia Soeharto menjadi penanda bahwa negara terus menjaga tradisi menghormati tokoh yang memiliki kontribusi besar bagi perjalanan bangsa. Pemerintah menilai, penghormatan semacam ini diperlukan agar sejarah nasional terbaca dengan adil dan proporsional, tanpa menafikan jasa para pemimpin yang pernah berperan penting dalam pembangunan Indonesia. Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menetapkan keputusan ini melaluiKeppres Nomor 116.TK/2025 setelah mempertimbangkan aspek pengabdian, kepemimpinan,…

Read More