Penguatan Hilirisasi Komoditas Unggulan Papua Dorong Perekonomian Daerah

Penguatan Hilirisasi Komoditas Unggulan Papua Dorong Perekonomian Daerah

JAKARTA – Langkah hilirisasi di Papua memasuki fase yang semakin konkret. Berbagai inisiatif strategis digulirkan secara terintegrasi, mulai dari komoditas unggulan melalui sinergitas pemerintah pusat dan daerah serta keterlibatan investor internasional. Pendekatan ini tidak lagi sebatas penguatan produksi, melainkan diarahkan pada peningkatan nilai tambah dan perluasan akses pasar global. Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi…

Read More
Hilirisasi Papua Dorong Pertumbuhan Ekonomi dan Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat

Hilirisasi Papua Dorong Pertumbuhan Ekonomi dan Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat

WAMENA – Pemerintah Kabupaten Jayawijaya terus mendorong pembangunan hilirisasi komoditas prioritas perkebunan sebagai strategi memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Langkah tersebut dinilai sejalan dengan agenda nasional dalam memperkuat sektor pertanian dan perkebunan berbasis nilai tambah. Bupati Jayawijaya, Atenius Murib, menegaskan bahwa hilirisasi menjadi fokus utama pemerintah daerah setelah pihaknya menghadiri rapat koordinasi…

Read More

Hilirisasi Papua Jalan Strategis Menuju Kebangkitan Ekonomi Timur Indonesia

Oleh: Petrus Yoman Kambu* Hilirisasi di Papua kini tampil sebagai wajah baru pembangunan nasional yang berkeadilan dan berorientasi masa depan. Kebijakan ini bukan sekadar strategi ekonomiteknokratis, melainkan manifestasi nyata komitmen negara untuk memastikan bahwakekayaan alam Papua dikelola secara berdaulat, bernilai tambah tinggi, dan memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat. Di tengah dinamikaglobal yang kompetitif, langkah terintegrasi antara pemerintah pusat, pemerintahdaerah, dan investor internasional menunjukkan bahwa Papua tidak lagi ditempatkansebagai hinterland komoditas mentah, tetapi sebagai episentrum pertumbuhan baruyang diperhitungkan di pasar dunia. Langkah konkret tersebut tercermin dari fasilitasi pertemuan 21 investor Eropa denganperwakilan daerah penghasil kakao seperti Kepulauan Yapen, Jayapura, dan ManokwariSelatan. Forum ini membahas pengembangan industri kakao secara komprehensif darihulu hingga hilir, termasuk penetrasi pasar ekspor. Anggota Komite EksekutifPercepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Billy Mambrasar, menegaskan bahwaPapua Sehat, Papua Cerdas, dan Papua Produktif adalah satu kesatuan visi besarotonomi khusus. Ia menyatakan bahwa untuk mewujudkan Papua Produktif dibutuhkanlangkah nyata yang mempertemukan pelaku usaha dan pemerintah daerah secaralangsung agar proses masifikasi dan pengembangan kakao berjalan efektif. Pernyataantersebut menegaskan bahwa hilirisasi adalah bukti keberanian Papua melangkah naik kelas dalam rantai nilai global. Dukungan pemerintah pusat melalui Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia semakin memperkuat fondasi kebijakan ini. Direktur Penataan Daerah, Otonomi Khusus, dan DPOD Kemendagri, Sumule Tumbo, menegaskan komitmen pemerintah pusatdalam memperkuat koordinasi lintas daerah dan menjadikan sektor ekonomi produktifsebagai pilar otonomi khusus. Kakao disebut sebagai komoditas strategis bernilaitambah tinggi yang mampu menjadi lokomotif ekonomi daerah. Penegasan inimenunjukkan bahwa negara hadir secara konkret, memastikan Papua memperolehdukungan kebijakan, regulasi, dan akses pasar yang kompetitif. Optimisme juga datang dari Wakil Bupati Kepulauan Yapen, Roi Palunga, yang menilaikakao sebagai komoditas bersejarah sekaligus masa depan ekonomi daerah. Denganlebih dari dua ribu petani kakao aktif, pengembangan industri pengolahan diyakinimenciptakan kepastian pendapatan dan stabilitas kesejahteraan. Narasi inimemperlihatkan bahwa hilirisasi bukan sekadar proyek industri, melainkan gerakanekonomi rakyat yang mengangkat martabat petani sebagai pelaku utamapembangunan. Selain kakao, sagu menjadi simbol kedaulatan pangan dan keunggulan ekologis Papua. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Tenaga Kerja, Koperasi, dan UKM Provinsi Papua, Jimmy A.Y. Thesia, menekankan pentingnya pendekatan menyeluruh dari hulu ke hilir, mulaidari ketersediaan bahan baku hingga inkubasi bisnis. Ia menjelaskan bahwa potensiregenerasi alami pohon sagu menjadikan Papua memiliki keunggulan komparatif yang luar biasa. Dengan fasilitasi standardisasi produk dan legalitas usaha oleh pemerintah, sagu Papua kini membidik pasar Jepang, Australia, dan Jerman. Fakta ini menegaskanbahwa komoditas lokal Papua mampu berdiri sejajar di panggung global apabila dikelolasecara profesional dan sistematis. Pemerintah Provinsi Papua juga merancang pembangunan rumah produksi sagu di Kabupaten Jayapura…

Read More
Percepat Hunian Layak, Papua Renovasi 2.100 Rumah Warga

Percepat Hunian Layak, Papua Renovasi 2.100 Rumah Warga

Jayapura – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua mempercepat program renovasi rumah tidak layak huni sebagai langkah konkret memenuhi kebutuhan hunian layak bagi masyarakat. Sebanyak 2.100 unit rumah ditargetkan mulai direnovasi pada Maret 2026, bersamaan dengan pembangunan lima unit rumah susun (rusun) di sejumlah wilayah strategis. Gubernur Papua, Mathius D. Fakhiri, mengatakan pelaksanaan fisik program tersebut merupakan…

Read More
Percepat Hunian Layak, Papua Renovasi 2.100 Rumah Warga

Pembangunan Hunian Papua Perkuat Fondasi Kesejahteraan

PAPUA – Pemerintah mempercepat renovasi ribuan rumah tidak layak huni di Papua sebagai wujud nyata pemerataan pembangunan dan komitmen menghadirkan kesejahteraan hingga wilayah timur Indonesia. Program ini menjadi bagian strategis dari agenda nasional sektor perumahan yang menempatkan hunian layak sebagai fondasi peningkatan kualitas hidup masyarakat. Langkah tersebut sejalan dengan Program Tiga Juta Rumah yang diinisiasi…

Read More

Renovasi Hunian Layak untuk Papua, Strategi Pemerintah Percepat PemerataanPembangunan

Oleh : Loa Murib Renovasi hunian layak di Papua bukan sekadar program fisik pembangunan rumah, melainkanstrategi besar pemerintah dalam mempercepat pemerataan pembangunan dan meningkatkankualitas hidup masyarakat di Tanah Papua. Di tengah berbagai tantangan geografis, sosial, danekonomi, kebijakan perumahan yang terintegrasi antara pemerintah pusat dan daerah menjadifondasi penting untuk memastikan bahwa kesejahteraan tidak hanya terpusat di wilayahperkotaan Indonesia bagian barat, tetapi juga menjangkau wilayah timur secara adil danberkelanjutan. Komitmen tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi Percepatan Pembangunan Perumahandan Kawasan Permukiman yang digelar di Kantor Kementerian Dalam Negeri di Jakarta. Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian, menegaskan dukungannya terhadap realisasiprogram Tiga Juta Rumah yang menjadi inisiatif Presiden Prabowo Subianto. Program tersebutdinilai strategis karena menyasar kebutuhan dasar masyarakat, terutama kelompokberpenghasilan rendah, melalui penyediaan hunian terjangkau dan layak huni. Dorongan kepada pemerintah daerah untuk memaksimalkan peluang program tersebut menjadisinyal kuat bahwa pembangunan perumahan tidak dapat berjalan parsial. Tito Karnavianmemandang bahwa kepala daerah memiliki tanggung jawab langsung dalam mengangkat harkatdan martabat masyarakat melalui penyediaan hunian yang layak. Dukungan regulatif pun diperkuat dengan kebijakan pembebasan retribusi Persetujuan Bangunan Gedung serta Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan bagi masyarakat berpenghasilan rendah, yang harusditetapkan melalui peraturan kepala daerah. Langkah ini menunjukkan bahwa percepatanpembangunan bukan hanya soal anggaran, tetapi juga penyederhanaan birokrasi dankeberpihakan kebijakan. Optimalisasi Mal Pelayanan Publik di daerah juga menjadi instrumen penting untuk memangkaswaktu dan biaya perizinan. Dengan proses yang lebih cepat dan transparan, pembangunan rumahbagi masyarakat berpenghasilan rendah dapat segera direalisasikan tanpa terhambat proseduradministratif yang berlarut-larut. Pendekatan kolaboratif antara pusat dan daerah inilah yang menjadi kunci agar program nasional benar-benar berdampak nyata di lapangan. Di Papua, respons terhadap kebijakan tersebut tampak progresif. Gubernur Papua, Matius D. Fakhiri, menyampaikan bahwa pemerintah provinsi siap menggenjot program bantuanperumahan melalui berbagai skema, mulai dari rumah subsidi, renovasi rumah tidak layak huni, hingga pembangunan rumah susun. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pemerintah daerahtidak sekadar menjadi pelaksana, tetapi juga mitra aktif dalam merancang solusi yang sesuaidengan karakteristik sosial budaya masyarakat Papua. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan kebutuhan perumahan di Papua masih cukuptinggi. Kondisi ini tidak terlepas dari realitas sosial di mana satu rumah kerap dihuni olehbeberapa generasi sekaligus. Dalam konteks budaya Papua yang menjunjung tinggi ikatankekerabatan, pola hunian multigenerasi menjadi hal lumrah. Namun di sisi lain, keterbatasanruang dan kualitas bangunan yang belum memadai dapat berdampak pada kesehatan, kenyamanan, serta produktivitas keluarga. Karena itu, target pembangunan dan renovasi rumah di Papua pada 2026 menjadi langkahstrategis. Direncanakan sekitar 14 ribu unit rumah akan dibangun melalui berbagai skemabantuan, dengan tahap awal mencakup sekitar 2.100 unit renovasi rumah tidak layak huni yang dimulai pada Maret. Alokasi anggaran untuk tahap awal tersebut menunjukkan adanya prioritasnyata terhadap perbaikan kualitas hunian masyarakat bawah. Renovasi rumah kumuh bukanhanya memperbaiki struktur fisik bangunan, tetapi juga memulihkan rasa percaya diri danmartabat penghuninya. Selain renovasi, pembangunan lima unit rumah susun di Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, dan Kabupaten Keerom memperlihatkan pendekatan yang adaptif terhadap kebutuhan wilayahperkotaan di Papua. Rumah susun menjadi solusi atas keterbatasan lahan sekaligus membukapeluang penataan kawasan permukiman yang lebih tertib dan terencana. Sinergi dengan balaiperumahan dan kementerian teknis menunjukkan bahwa program ini dirancang secara sistematis, bukan sporadis. Langkah percepatan ini juga memiliki implikasi ekonomi yang luas. Sektor perumahan memilikiefek berganda terhadap pertumbuhan ekonomi daerah, mulai dari penyerapan tenaga kerjakonstruksi, peningkatan permintaan bahan bangunan lokal, hingga tumbuhnya usaha kecil di sekitar kawasan pembangunan. Dengan demikian, program renovasi dan pembangunan rumah di Papua bukan hanya kebijakan sosial, tetapi juga stimulus ekonomi yang mendorong perputaranekonomi daerah. Komitmen pemerintah pusat melalui dukungan regulasi dan kebijakan fiskal, yang dipadukandengan keseriusan pemerintah daerah dalam pendataan dan eksekusi program, menjadikombinasi yang menjanjikan. Kolaborasi lintas kementerian dan lembaga, termasuk pemanfaatandata statistik yang akurat, memastikan bahwa bantuan tepat sasaran dan menjawab kebutuhan riilmasyarakat. Renovasi hunian layak untuk Papua pada akhirnya bukan hanya tentang membangun dinding danatap baru. Kebijakan ini merupakan simbol kehadiran negara yang nyata di tengah masyarakat, terutama bagi mereka yang selama ini hidup dalam keterbatasan. Ketika rumah menjadi lebihlayak, lingkungan menjadi lebih tertata, dan akses kepemilikan menjadi lebih mudah, makafondasi kesejahteraan pun semakin kokoh. Inilah strategi percepatan pemerataan pembangunanyang tidak hanya terlihat dalam angka-angka target, tetapi terasa langsung dalam kehidupansehari-hari masyarakat Papua. *Penulis adalah Mahasiswa Papua di Jawa Timur

Read More

Pembangunan dan Renovasi Hunian Masyarakat Papua Teguhkan Komitmen Pemerataan Kesejahteraan

Oleh : Yohanes Wandikbo )* Pembangunan dan renovasi rumah di Papua bukan sekadar proyek fisik, melainkan ikhtiar besar menghadirkan keadilan sosial hingga ke wilayah timur Indonesia. Di tengah tantangan geografis dan keterbatasan infrastruktur, komitmen pemerintah untuk memastikan masyarakat Papua memiliki hunian yang layak menunjukkan arah kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan rakyat. Program pembangunan perumahan yang…

Read More

Otsus Papua Percepat Pemberdayaan Ekonomi dan Teguhkan Kemandirian Daerah

Oleh: Yohanes Wanimbo* Otonomi Khusus Papua terus menunjukkan arah kebijakan yang semakin terfokuspada penguatan ekonomi rakyat sebagai fondasi kesejahteraan jangka panjang. Dalam kerangka Papua Produktif, kolaborasi antara Kementerian Dalam Negeri dan Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua menghadirkanlangkah konkret melalui pengembangan komoditas kakao di Kabupaten KepulauanYapen, Kabupaten Jayapura, dan Kabupaten Manokwari Selatan. Strategi inimenegaskan bahwa Otsus tidak hanya berorientasi pada pembangunan sosial, tetapijuga memperkuat kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal yang memiliki nilaitambah tinggi dan daya saing berkelanjutan. Pengembangan kakao dipilih bukan tanpa alasan. Komoditas ini telah lama dibudidayakan masyarakat Papua dan memiliki karakteristik agroklimat yang sesuaiuntuk menghasilkan produk berkualitas. Dengan dukungan kebijakan, fasilitasiinvestasi, serta pembukaan akses pasar yang lebih luas, kakao berpotensi menjadipenggerak utama ekonomi daerah. Direktur Penataan Daerah dan Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah Ditjen Otonomi Daerah Kemendagri, Sumule Tumbo, menegaskan bahwa kebijakan Otsus memberikan atensi kuat pada pemberdayaanekonomi masyarakat sebagai bagian integral dari Papua Produktif. Pernyataantersebut memperlihatkan komitmen pemerintah untuk memastikan dana Otsus menjadi instrumen strategis dalam meningkatkan kesejahteraan Orang Asli Papua. Anggota KEPP Otsus Papua, Billy Mambrasar, juga menekankan pentingnyaoptimalisasi komoditas lokal guna memperkuat pendapatan asli daerah. Menurutnya, Kabupaten Yapen, Jayapura, dan Manokwari Selatan memiliki keunggulan komparatifdalam sektor kakao sehingga layak dikembangkan secara lebih terstruktur dan terintegrasi. Melalui rapat koordinasi percepatan pembangunan bidangperekonomian yang melibatkan kementerian teknis, pemerintah daerah, dan investor nasional, telah dibangun komitmen bersama untuk mempercepat hilirisasi dan memperluas jejaring pemasaran. Sinergi ini menjadi bukti bahwa Otsus Papua bergerak dalam ekosistem kolaboratif yang solid antara pusat dan daerah. Optimisme atas penguatan ekonomi berbasis kakao juga tercermin dari dukunganpemerintah daerah. Wakil Bupati Kepulauan Yapen, Roi Palunga, menyampaikanapresiasi atas perhatian pemerintah pusat dan KEPP Otsus Papua terhadappengembangan usaha kakao di wilayahnya. Selama lebih dari dua dekade, para petani Yapen telah membudidayakan kakao dengan konsistensi tinggi. Kini, denganadanya dukungan kebijakan dan komitmen investasi, pemerintah daerah siapmemperkuat produksi, meningkatkan kualitas, serta membangun sistem pemasaranyang lebih modern. Kehadiran Otsus dalam kerangka pemberdayaan ekonomimemberi harapan baru bagi petani untuk meningkatkan pendapatan dan memperluas skala usaha. Pemberdayaan ekonomi melalui Otsus juga ditopang oleh penguatan infrastrukturdan perencanaan pembangunan yang lebih terintegrasi. Pemerintah Provinsi Papua menghimpun data infrastruktur dari sembilan kabupaten/kota melalui forum sinkronisasi program dan perencanaan data infrastruktur tahun 2026. PelaksanaTugas Kepala Dinas PUPR Papua, Natir Renyaan, menegaskan pentingnya akurasidata penanganan jalan, jembatan, pelabuhan, pertanian, dan perumahan sebagaidasar pengawalan Dana Tambahan Infrastruktur dan Otsus. Infrastruktur yang terhubung dan efisien akan memperlancar distribusi hasil produksi kakao sertamenekan biaya logistik, sehingga daya saing komoditas Papua semakin meningkat di pasar nasional. Di Papua Barat, percepatan finalisasi dokumen rencana anggaran program Otsus turut memperlihatkan keseriusan pemerintah daerah dalam memastikan penyalurandana berjalan tepat waktu dan tepat sasaran. Pelaksana Tugas Kepala BappedaPapua Barat, Prof Charlie…

Read More

Upaya Kolektif Membangun Ketahanan Pangan di Bumi Cenderawasih

Oleh: Sylvia Mote *) ​Papua kini berada di ambang transformasi besar yang tidak lagi hanya bertumpu padakekayaan ekstraktif, melainkan pada kedaulatan di atas tanahnya sendiri melalui sektorpangan. Langkah ini bukan sekadar upaya pemenuhan kebutuhan dasar, melainkanpengejawantahan dari visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuatketahanan nasional. Di tengah dinamika global yang tidak menentu, kemandirianpangan menjadi benteng pertahanan paling krusial. Pemerintah, melalui kolaborasilintas sektoral antara aparat keamanan, pemerintah daerah, dan masyarakat lokal, sedang membangun fondasi agar Bumi Cenderawasih tidak lagi bergantung padapasokan komoditas dari luar pulau. Terbaru, ​pergerakan masif ini terlihat jelas di Papua Barat Daya. Kepolisian Negara Republik Indonesia mengambil peran strategis yang melampaui tugas konvensionalmenjaga keamanan. Kapolda Papua Barat Daya, Brigjen Pol Gatot Haribowo, menegaskan bahwa institusinya berkomitmen penuh mengawal dan menyukseskanprogram pemerintah pusat hingga ke level akar rumput. Dukungan Polri tidak hanyaberhenti pada tataran koordinasi administratif, tetapi menyentuh aspek implementatif di lapangan. ​Salah satu langkah nyata yang diambil adalah optimalisasi program khusus sertapelibatan personel dalam penanaman komoditas alternatif. Di lahan milik Polda Papua Barat Daya, para personel aktif membantu petani lokal untuk menanam jagung pipil. Inisiatif ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi pangan agar masyarakat tidakhanya terpaku pada padi dan beras. Kasubbid Penmas Bidhumas Polda Papua Barat Daya, Kompol Anis DJ, menjelaskanbahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk dukungan nyata terhadap agenda swasembada pangan yang dicanangkan pemerintah pusat. Dengan memanfaatkanlahan-lahan yang tersedia, Polri berusaha memberikan dampak ekonomi langsung bagimasyarakat sekitar sekaligus mengedukasi warga mengenai potensi pertanian modern. ​Transformasi serupa juga berdenyut di Provinsi Papua. Pemerintah daerah telahmengambil langkah melalui program cetak sawah seluas 30.000 hektare. Sebagailangkah awal, Distrik Muara Tami di Kota Jayapura menjadi titik tolak penanamanperdana padi pada 19 Februari 2026. Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, danPangan Provinsi Papua, Lunanka V.M.L. Daimboa, mengungkapkan bahwa wilayahtersebut telah siap mengelola alokasi cetak sawah perdana sebesar 100 hektare. Program ini bukan sekadar proyek fisik, melainkan sebuah agenda strategis untukmenjadikan Papua sebagai wilayah yang mandiri dan berdaulat secara pangan. Target luas lahan yang mencapai puluhan ribu hektare tersebut menunjukkan optimismepemerintah bahwa Papua memiliki potensi agraris yang luar biasa jika dikelola denganfokus dan konsistensi. ​Kunci keberhasilan agenda besar ini terletak pada sinergi di lapangan, terutama dalammemberikan pendampingan kepada para petani asli Papua. Sementara itu, di Kabupaten Mimika, kolaborasi antara TNI AU melalui Lanud YohanisKapiyau dan petugas penyuluh lapangan menjadi mesin penggerak bagi Kelompok TaniMandiri Paive di Kampung Nawaripi. Serka Kasimirus Anitu bersama penyuluh pertaniansecara aktif memonitor kesiapan lahan dan bibit padi. Pendampingan ini menjadi sangatpenting karena petani lokal seringkali menghadapi kendala teknis dalam memutus siklushama maupun menjaga kegemburan tanah. ​Pentingnya kehadiran negara di tengah petani lokal diakui oleh Ketua Kelompok TaniMandiri Paive, Viktoria Mahuze. Ia menyampaikan bahwa masyarakat lokal di KampungNawaripi memerlukan bimbingan berkelanjutan agar mampu membudidayakan tanamanpadi dengan hasil optimal. Kebutuhan akan transfer teknologi dan metode pertanianmodern adalah aspirasi yang harus terus dijawab oleh pemerintah. Dengan adanyapendampingan intensif, masyarakat lokal tidak lagi menjadi penonton dalam hiruk-pikukpembangunan, melainkan menjadi aktor utama dalam mewujudkan ketahanan pangandi daerahnya sendiri. ​Pemerintah juga menyadari bahwa ketahanan pangan sangat erat kaitannya dengansituasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas). Oleh karena itu, selainmendorong produktivitas lahan, aparat keamanan tetap memperketat pengamanan di titik-titik rawan. Kondisi wilayah yang kondusif adalah prasyarat mutlak bagi para petaniuntuk bekerja dengan tenang dan bagi investasi di sektor pertanian untuk terustumbuh. Stabilitas harga dan ketersediaan stok pangan, terutama menjelang hari besarkeagamaan, juga menjadi fokus utama untuk mencegah gejolak sosial di tengahmasyarakat. Aspek kebersihan lingkungan juga tidak dikesampingkan, di mana Polriaktif melibatkan personel Polair dalam gerakan memerangi sampah guna memastikanekosistem pertanian tetap sehat dan berkelanjutan. ​Arah kebijakan pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan di Papua menunjukkan konsistensi yang kuat antara visi nasional dan aksi lokal. Integrasi antaraprogram cetak sawah yang masif, diversifikasi tanaman melalui budidaya jagung, sertapendampingan teknis bagi petani lokal merupakan strategi komprehensif untukmemutus rantai ketergantungan pangan. Jika sinergi antara pemerintah, aparatkeamanan, serta masyarakat adat terus diperkuat, Papua tidak hanya akan mampumemberi makan penduduknya sendiri, tetapi juga berpotensi menjadi lumbung panganbaru bagi Indonesia Timur. Keberhasilan di Bumi Cenderawasih ini akan menjadi buktinyata bahwa kedaulatan pangan nasional dimulai dari pemanfaatan potensi lokal yang dikelola dengan hati dan profesionalisme. *) Pengamat Kebijakan Publik

Read More

Stabilitas Keamanan Kunci Percepatan Pembangunan Papua

Oleh : Yohanes Wandikbo )* Teror yang dilakukan kelompok kriminal bersenjata di Papua kembali menunjukkan wajah kekerasan yang tidak hanya menyasar aparat keamanan, tetapi juga merampas hak hidup masyarakat sipil dan mengganggu denyut pembangunan. Penembakan pesawat perintis Smart Air PK-SNR di Bandara Koroway Batu, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, menjadi bukti bahwa aksi kekerasan tersebut…

Read More