Cek Kesehatan Gratis Jadi Solusi Akses Kesehatan Merata

Oleh: Chandra Arif Pratama )*

Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) kian menegaskan posisinya sebagai instrumenstrategis pemerintah dalam mewujudkan akses kesehatan yang merata danberkeadilan. Di tengah tantangan geografis, kesenjangan layanan, serta meningkatnyabeban penyakit tidak menular, kehadiran CKG menjadi jawaban konkret atas kebutuhanpemeriksaan kesehatan yang mudah dijangkau seluruh lapisan masyarakat.

Pelaksanaan CKG kini tidak lagi terbatas di puskesmas. Pemerintah memperluascakupan layanan hingga ke sekolah, tempat kerja, serta berbagai institusi publiklainnya. Langkah ini mencerminkan komitmen negara untuk mendekatkan layanankesehatan kepada masyarakat, bukan sebaliknya.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan capaian program ini terus meningkat. Hingga awal 2026, lebih dari 4,5 juta masyarakat telah mengikuti pemeriksaan melaluiskema CKG. Angka tersebut menggambarkan tingginya respons publik sekaligusefektivitas pendekatan jemput bola yang diterapkan pemerintah.

Fokus utama program ini adalah deteksi dan pengobatan hipertensi, diabetes, obesitas, serta gangguan kesehatan gigi yang masih banyak ditemukan di berbagai kelompokusia. Penyakit-penyakit tersebut kerap berkembang tanpa gejala, sehinggamembutuhkan skrining rutin untuk mencegah komplikasi serius.

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa tujuan utama CKG adalah memastikan masyarakat tidak terlambat mendapatkan pengobatan. Iamenjelaskan bahwa menjaga kesehatan bukan sekadar mengetahui kondisi tubuh, melainkan memastikan setiap potensi gangguan dapat ditangani sejak dini agar tidakberkembang menjadi masalah yang lebih berat.

Pendekatan preventif ini memperlihatkan perubahan paradigma kebijakan kesehatannasional. Pemerintah tidak lagi hanya berfokus pada pengobatan kuratif, tetapimenempatkan deteksi dini sebagai fondasi utama pembangunan kesehatan.

Kementerian Kesehatan juga menekankan pentingnya intervensi yang menyeluruh, berkelanjutan, dan melibatkan berbagai sektor, terutama dalam menghadapi tantanganpenuaan penduduk. Temuan dari pelaksanaan CKG serta pembelajaran dari studiHealth, Aging, and Retirement in Thailand menunjukkan bahwa Indonesia menghadapidinamika serupa dengan negara lain di kawasan, yakni peningkatan populasi lanjut usiayang diiringi risiko penyakit tidak menular.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, menjelaskan bahwa pemerintah telah membangun infrastruktur skrining yang luasmelalui CKG dengan memanfaatkan layanan primer dan dukungan sistem digital. Program ini dirancang menjangkau seluruh siklus hidup, termasuk kelompok lansiayang membutuhkan perhatian khusus.

Capaian skrining pada lansia menunjukkan hasil yang signifikan. Sekitar 6 juta lansiaatau lebih dari sepertiga target nasional telah mengikuti pemeriksaan. Meski demikian, data hasil skrining juga mengungkap adanya tantangan klinis yang memerlukan strategitindak lanjut yang lebih terarah. Temuan tersebut justru memperkuat urgensikeberlanjutan program agar cakupan semakin luas dan intervensi semakin tepatsasaran.

Di lapangan, implementasi CKG terus diperkuat. Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono, saat meninjau pelaksanaan di Puskesmas Cikupa, KabupatenTangerang, menegaskan bahwa pemeriksaan mencakup deteksi diabetes, hipertensi, hingga gangguan pernapasan. Ia menyampaikan bahwa banyak penyakit baruteridentifikasi melalui tes laboratorium karena sebelumnya tidak bergejala.

Menurutnya, peserta yang terdeteksi memiliki masalah kesehatan langsungmemperoleh layanan pengobatan awal selama sekitar 10 hingga 15 hari. Sambilmenjalani terapi, mereka juga difasilitasi untuk mengurus kepesertaan BPJS Kesehatanapabila belum terdaftar. Skema ini memastikan tidak ada peserta yang terhenti padatahap diagnosis semata.

Cakupan CKG di Kabupaten Tangerang sendiri telah mencapai sekitar 1,3 jutapemeriksaan. Pemerintah daerah bersama Kementerian Kesehatan memperluas titiklayanan tidak hanya di fasilitas kesehatan, tetapi juga di pasar, sekolah, kantor, perusahaan, hingga lingkungan RT dan RW. Strategi ini dinilai efektif dalam mengurangihambatan akses sekaligus meningkatkan partisipasi masyarakat.

Perluasan ini juga menunjukkan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalammemastikan program berjalan optimal. Dukungan lintas sektor memperkuat efektivitaslayanan, sekaligus membangun kesadaran kolektif bahwa kesehatan merupakantanggung jawab bersama. Dengan model pelayanan yang adaptif dan responsifterhadap kebutuhan masyarakat, CKG berpotensi menjadi fondasi jangka panjang bagisistem kesehatan yang lebih tangguh.

Secara keseluruhan, Cek Kesehatan Gratis telah berkembang menjadi solusi sistemikuntuk pemerataan layanan kesehatan. Program ini bukan sekadar agenda pemeriksaanrutin, melainkan bagian dari transformasi layanan primer yang memperkuat fondasikesehatan nasional. 

Melalui deteksi dini, pengobatan cepat, dan perluasan akses hingga ke tingkatkomunitas, pemerintah menunjukkan komitmen nyata dalam membangun masyarakatyang lebih sehat, produktif, dan terlindungi secara berkelanjutan.

Ke depan, konsistensi pelaksanaan dan penguatan kualitas tindak lanjut menjadi kunciagar manfaat program semakin optimal. Pemerintah telah meletakkan dasar kebijakanyang kuat dengan menjadikan skrining sebagai pintu masuk pelayanan kesehatan yang terintegrasi. 

Dengan dukungan data yang semakin akurat, koordinasi lintas sektor yang solid, sertapartisipasi aktif masyarakat, CKG berpotensi menekan beban pembiayaan kesehatanjangka panjang sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Upaya ini memperlihatkan bahwa pembangunan kesehatan tidak dilakukan secarasporadis, melainkan melalui perencanaan terukur yang berorientasi pada hasil dankeberlanjutan.

*) Pengamat Kebijakan Sosial – Lembaga Sosial Madani Institute

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *