Harga Bahan Pokok Terkelola Baik, Ramadan Kian Tenang

Oleh: Dewi Maharani*

Menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026, stabilitas harga bahan pokok menjadiindikator utama kesiapan negara dalam menjaga ketahanan pangan sekaligusketenangan sosial. Tahun ini, optimisme publik bertumpu pada data dan kebijakanyang terukur. Pemerintah memastikan bahwa harga kebutuhan pokok relatifterkendali, stok melimpah, serta distribusi berjalan lancar. Kondisi tersebutmemperkuat narasi bahwa harga bahan pokok terkelola baik, sehingga Ramadan kian tenang dan masyarakat dapat menjalankan ibadah tanpa dibayangikekhawatiran lonjakan harga.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan bahwa sebagian besar hargakomoditas pangan pokok secara nasional berada pada level aman. Pemerintahmemantau pergerakan harga melalui Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok(SP2KP) guna menjamin keterjangkauan daya beli seluruh lapisan masyarakat. Ia menyampaikan bahwa transparansi informasi harga memungkinkan masyarakatmemeriksa perkembangan nilai barang pokok secara aktual dan akurat setiap hari. Penurunan harga MinyaKita menjadi Rp16.020 setelah sebelumnya sempatmenyentuh Rp16.800 menunjukkan efektivitas regulasi harga eceran tertinggisebesar Rp15.700. Menurutnya, koreksi harga tersebut menjadi indikator positifstabilitas inflasi pangan di tingkat konsumen.

Stabilitas harga juga terlihat pada komoditas protein dan hortikultura. Harga dagingsapi nasional tercatat Rp133.618 per kilogram, masih jauh di bawah harga acuanpemerintah Rp140.000. Bawang putih berada di rata-rata Rp36.875 per kilogram, di bawah batas eceran tertinggi Rp38.000. Meski telur ayam ras berada di Rp30.570 per kilogram atau sedikit melampaui harga acuan Rp30.000, pemerintah memastikanpasokan dalam kondisi cukup sehingga tekanan harga tidak berkembang menjadigejolak. Kebijakan pasar murah Ramadan yang melibatkan 75 pemasok pangantanpa dukungan APBN turut memperkuat stabilitas. Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan Isy Karim menjelaskan bahwa kolaborasi dengan pelaku usahamemungkinkan barang dijual dengan harga jauh lebih rendah dibanding hargapasaran reguler, sebagai wujud nyata kehadiran negara menjaga daya belimasyarakat di tengah efisiensi anggaran.

Dari sisi hulu, Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Amran Sulaiman memastikan stok pangan nasional dalam kondisi aman untuk menyambutRamadan dan Lebaran 2026. Ia menyatakan bahwa produksi tinggi dan stokmelimpah menjadi jaminan stabilitas harga. Sembilan komoditas strategis tercatatsurplus hingga April mendatang, meliputi beras, gula konsumsi, cabai besar, cabairawit, jagung, minyak goreng, daging ayam, telur ayam, dan bawang merah. Ia menegaskan bahwa tidak ada alasan bagi kenaikan harga beras karena cadangannasional mencapai 3,4 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah dan lebih dari dua kali lipat kondisi normal yang berkisar 1 hingga 1,5 juta ton. Pemerintah juga menyiapkan 1,5 juta ton beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan dengan harga maksimal Rp12.500 per kilogram sebagai bantalan tambahan.

Amran juga mengingatkan pelaku usaha agar tidak menjual komoditas melampauiaturan Harga Eceran Tertinggi. Ia menekankan bahwa pemerintah tidak akanmemberi ruang bagi praktik penimbunan maupun spekulasi harga. Menurutnya, stokminyak goreng pemerintah mencapai 700 ribu ton dengan harga maksimalRp15.700, daging ayam memiliki harga acuan pembelian Rp40.000, dan daging sapiRp140.000. Kepastian angka-angka tersebut memperlihatkan bahwa kebijakan hargadidukung oleh kapasitas produksi dan cadangan riil, bukan sekadar imbauanadministratif.

Data Badan Pusat Statistik memperkuat optimisme tersebut. Potensi produksi padi sepanjang Januari hingga Maret 2026 diperkirakan mencapai 17,65 juta ton Gabah Kering Giling, meningkat 2,41 juta ton atau naik 15,80 persen dibanding periodeyang sama tahun lalu. Kenaikan signifikan ini menegaskan fondasi produksi domestikyang semakin solid. Surplus produksi menjadi bantalan kuat menjaga stabilitas hargadi tingkat konsumen sekaligus memperkecil risiko impor mendadak.

Pengawasan distribusi dilakukan secara ketat melalui kolaborasi lintas kementerian, pemerintah daerah, serta aparat penegak hukum. Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional I Gusti Ketut Astawa memastikan hargabawang merah dan daging sapi masih berada dalam rentang Harga AcuanPemerintah berdasarkan hasil inspeksi di Pasar Induk Kramat Jati dan sejumlahpasar lainnya. Ia menjelaskan bahwa secara prinsip pasokan relatif baik dan suplaiharian komoditas strategis tetap tersedia. Meski cabai rawit merah sempat berada di atas harga acuan, tren harga menunjukkan penurunan dari Rp90.000 menjadiRp80.000 per kilogram berkat fasilitasi distribusi pangan.

Dari sisi penegakan hukum, Brigjen Zain Dwi Nugroho dari Satgas Pangan Polrimenegaskan bahwa koordinasi lintas instansi terus diperkuat untuk memonitorketersediaan dan stabilitas harga. Pengawasan difokuskan pada sumber distribusibesar seperti pabrik dan distributor utama, bukan pedagang kecil, guna memastikanrantai pasok hulu berjalan sesuai ketentuan. Langkah preventif ini menegaskanbahwa stabilitas harga adalah komitmen bersama yang dijaga secara struktural.

Keseluruhan langkah tersebut menunjukkan bahwa stabilitas harga bukan hasilkebetulan musiman, melainkan buah dari perencanaan, produksi, distribusi, dan pengawasan yang terintegrasi. Dengan stok melimpah, cadangan beras tertinggisepanjang sejarah, pasar murah kolaboratif, serta pengawasan tegas, Ramadan 2026 hadir dalam suasana yang lebih kondusif. Harga bahan pokok yang terkelolabaik menghadirkan rasa aman di tengah masyarakat, memperkuat daya beli, dan memungkinkan umat menjalankan ibadah dengan lebih khusyuk. Dalam konteks ini, Ramadan kian tenang bukan sekadar harapan, melainkan refleksi nyata dari tata kelola pangan nasional yang semakin matang dan berpihak pada kepentingan rakyat luas.

*Penulis merupakan Analis Data Statistik Pangan dan Perdagangan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *