Hulu Migas dalam Agenda Ketahanan Energi Nasional

Oleh : Andi Sudjatmiko*)

Ketahanan energi nasional menjadi salah satu isu strategis yang semakin penting di tengah ketidakpastian global, fluktuasi harga energi, dan meningkatnya kebutuhandalam negeri. Dalam konteks ini, sektor hulu migas memiliki peran krusial sebagaifondasi utama penyedia energi primer nasional. Hulu migas mencakup seluruhkegiatan eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi, mulai dari pencariancadangan hingga proses produksi. Tanpa kinerja hulu migas yang kuat dan berkelanjutan, upaya mencapai kemandirian dan ketahanan energi akan sulitdiwujudkan, karena ketergantungan pada impor energi akan terus meningkat.

Indonesia sejatinya memiliki potensi sumber daya migas yang cukup besar, baikyang sudah terbukti maupun yang masih bersifat prospektif. Namun, tantanganutama terletak pada menurunnya produksi dari lapangan-lapangan tua yang telahdieksplorasi sejak puluhan tahun lalu. Kondisi alamiah penurunan produksi ini perludiimbangi dengan penemuan cadangan baru dan optimalisasi lapangan eksisting. Di sinilah hulu migas menjadi agenda strategis negara, bukan semata sebagai sektorekonomi, tetapi sebagai instrumen menjaga stabilitas pasokan energi nasionaldalam jangka panjang.

Kepala Divisi Formalitas SKK Migas, George N.M. Simanjuntak menjelaskanpemerintah terus mendorong peningkatan investasi di sektor hulu migas melaluipenyederhanaan regulasi, perbaikan skema kontrak, dan pemberian insentif fiskalyang lebih menarik. Langkah ini penting karena kegiatan eksplorasi migasmembutuhkan modal besar, teknologi tinggi, serta mengandung risiko yang tidakkecil. Dengan iklim investasi yang lebih kompetitif dan kepastian hukum yang kuat, diharapkan minat investor dalam dan luar negeri untuk mengembangkan wilayah kerja migas di Indonesia dapat kembali meningkat, sehingga target produksinasional lebih realistis untuk dicapai.

Selain aspek investasi, penguatan hulu migas juga erat kaitannya denganpenguasaan teknologi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia nasional. Pemanfaatan teknologi enhanced oil recovery, digitalisasi operasi, sertapenggunaan data seismik yang lebih akurat menjadi kunci untuk meningkatkantingkat perolehan cadangan. Pada saat yang sama, keterlibatan tenaga kerja dan perusahaan nasional perlu terus diperluas agar manfaat ekonomi dari sektor hulumigas dapat dirasakan lebih luas, sekaligus memperkuat kemandirian teknologi di bidang energi.

Plt Direktur Jenderal Ketenagalistrikan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam(KESDM), Tri Winarno mengatakan, dalam agenda ketahanan energi, hulu migastidak berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dengan sektor hilir dan kebijakan energisecara keseluruhan. Produksi minyak dan gas yang stabil akan mendukungketahanan sektor transportasi, industri, dan kelistrikan yang masih sangat bergantung pada energi fosil. Gas bumi, khususnya, dipandang sebagai energitransisi yang relatif lebih bersih dan fleksibel, sehingga peran hulu migas menjadisemakin strategis dalam menjembatani peralihan menuju energi baru dan terbarukan.

Ketahanan energi juga tidak hanya diukur dari besarnya produksi, tetapi darikemampuan negara mengelola sumber daya secara berdaulat dan berkelanjutan. Pengelolaan hulu migas yang transparan, akuntabel, dan berorientasi pada kepentingan nasional menjadi tuntutan publik. Penerimaan negara dari sektor iniharus mampu mendukung pembangunan, memperkuat fiskal, dan membiayaitransformasi energi di masa depan. Dengan tata kelola yang baik, hulu migas dapatmenjadi penggerak pembangunan sekaligus penyangga stabilitas nasional.

Di tengah komitmen global terhadap penurunan emisi dan transisi energi, peran hulumigas sering dipandang kontradiktif. Namun, dalam realitas kebutuhan energinasional, migas masih menjadi bagian penting yang tidak bisa ditinggalkan secaratiba-tiba. Yang dibutuhkan adalah pengelolaan yang lebih efisien, rendah emisi, dan selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan. Dengan pendekatan ini, hulumigas tetap relevan sebagai bagian dari strategi besar ketahanan energi, tanpamengabaikan agenda lingkungan.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, LaodeSulaeman menjabarkan, dalam dua tahun terakhir terdapat peningkatan penemuanarea yang berpotensi memiliki cadangan migas nasional. Laode menegaskan, pemerintah akan melelang 110 wilayah kerja migas tersebut. Sejauh ini, ia mencatatsudah ada beberapa tawaran dari investor yang hendak terlibat dalam lelang wilayah kerja migas tersebut. Selain memperkuat produksi dan cadangan migas, KESDM juga aktif menjalankan program mandatory pencampuran BBM solar dengan minyaksawit sebesar 40% atau B40. Tak tanggung-tanggung, program B40 bahkan dinilaisudah mendongkrak devisa negara hingga Rp 130 triliun. Program tersebut juga sukses membuka lapangan pekerjaan baru yang menjangkau 2 juta pekerja di Indonesia.

Pada akhirnya, hulu migas dalam agenda ketahanan energi nasional harus dipahamisebagai upaya strategis jangka panjang. Ia bukan sekadar soal produksi dan angkalifting, tetapi menyangkut kedaulatan energi, stabilitas ekonomi, dan keberlanjutanpembangunan. Sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat menjadikunci agar potensi migas nasional dapat dikelola secara optimal. Dengan hulu migasyang kuat, Indonesia memiliki pijakan yang lebih kokoh untuk menghadapi tantanganenergi masa kini dan masa depan.

*) Penulis adalah Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *