Kenaikan UMP sebagai Bukti Hadirnya Negara, Tolak Provokasi Mobilisasi Massa

Oleh: Gina Winarsih )*

Kebijakan kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) tahun 2026 menjadi penanda kuathadirnya negara dalam melindungi hak dan kesejahteraan pekerja. Pemerintahmenempatkan pengupahan sebagai instrumen strategis untuk menjaga daya belimasyarakat, mengurangi kesenjangan pendapatan, sekaligus memastikanpertumbuhan ekonomi tetap inklusif dan berkelanjutan.

Dalam situasi ekonomi global yang penuh ketidakpastian, langkah ini menunjukkankeberanian pemerintah mengambil kebijakan yang berpihak pada pekerja tanpamengabaikan keberlangsungan dunia usaha. Oleh karena itu, pemerintahmengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap provokasi ajakan demonstrasi yang berpotensi mengganggu stabilitas ketenagakerjaan dan iklim usaha. Aksi-aksi yang bersifat provokatif dinilai tidak sejalan dengan semangat kebijakan pengupahan yang mengedepankan keseimbangan dan dialog sosial.

Melalui Peraturan Pemerintah tentang Pengupahan, pemerintah memperkenalkanformula kenaikan upah yang berbasis pada inflasi dan pertumbuhan ekonomi, denganpenyesuaian koefisien alfa pada rentang 0,5 hingga 0,9. Pendekatan berbasis data inimenegaskan bahwa peningkatan kesejahteraan pekerja ditempuh melalui mekanismekebijakan yang terukur, bukan melalui tekanan atau mobilisasi yang berisiko merugikanpekerja dan dunia usaha dalam jangka panjang.

Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, menilai formula tersebut memberikan ruang yang lebih adil dan fleksibel bagi pemerintah daerah untuk menyesuaikan kebijakan upahdengan kebutuhan hidup layak pekerja di masing-masing wilayah. Menurutnya, pendekatan ini merupakan perbaikan signifikan dibandingkan formula sebelumnya yang dinilai terlalu sempit dalam mengakomodasi kondisi ekonomi daerah.

Yassierli menjelaskan bahwa penyusunan PP Pengupahan telah melalui proses panjang dan komprehensif dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Serikat pekerja dan buruh, kalangan pengusaha, serta akademisi dilibatkan dalampembahasan, sehingga regulasi yang dihasilkan tidak hanya bersifat normatif, tetapijuga berangkat dari realitas lapangan. Seluruh hasil kajian tersebut kemudiandisampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto dan menjadi bagian penting dalamperumusan rancangan peraturan pemerintah sebelum ditetapkan secara resmi.

Dalam proses tersebut, Presiden Prabowo disebut turut mendengarkan secaralangsung aspirasi dari serikat pekerja dan berbagai pihak terkait. Hal ini menunjukkanbahwa kebijakan pengupahan tidak diputuskan secara sepihak, melainkan melaluidialog sosial yang mempertimbangkan kepentingan pekerja dan dunia usaha secaraseimbang. Formula yang ditetapkan dalam PP Pengupahan kemudian menjadi acuannasional dalam penetapan UMP dan upah minimum sektoral di tingkat provinsi, kabupaten, dan kota.

PP Pengupahan juga memberikan kewenangan yang lebih besar kepada gubernuruntuk menetapkan UMK dan UMSK berdasarkan rekomendasi Dewan PengupahanDaerah. Penetapan upah minimum diwajibkan paling lambat pada 24 Desember 2025, dengan formula inflasi tahunan ditambah pertumbuhan ekonomi yang dikalikankoefisien alfa. Pemerintah menegaskan bahwa alfa dimaknai sebagai cerminankontribusi tenaga kerja terhadap pertumbuhan ekonomi sekaligus instrumenpenyesuaian ketika terdapat kesenjangan antara upah yang berlaku dan kebutuhanhidup layak.

Perluasan rentang koefisien alfa dari sebelumnya 0,1–0,3 menjadi 0,5–0,9 dinilaisebagai langkah progresif dan responsif. Yassierli menilai kebijakan ini merupakantindak lanjut atas putusan Mahkamah Konstitusi sekaligus jawaban atas kebutuhandaerah yang memiliki karakteristik ekonomi berbeda-beda. Dengan pendekatantersebut, daerah dengan pertumbuhan ekonomi yang tidak merata tetap memiliki ruanguntuk menetapkan kenaikan upah yang lebih adil bagi pekerja.

Dalam formula baru ini, pemerintah juga memastikan tidak ada mekanisme penurunanupah. Apabila pertumbuhan ekonomi daerah tercatat negatif, Dewan PengupahanDaerah tetap dapat merekomendasikan kenaikan upah berdasarkan inflasi. Pemerintahpusat berkomitmen melakukan pembinaan dan pendampingan agar seluruh daerahdapat menjalankan penetapan UMP sesuai ketentuan dan tenggat waktu yang ditetapkan.

Direktur Eksekutif Great Institute, Dr Sudarto, menyambut positif kebijakan perluasanrentang alfa tersebut. Ia memandang keputusan Presiden sebagai sinyal kuatkeberpihakan negara terhadap pekerja. Meski demikian, ia mendorong agar implementasi formula benar-benar menghasilkan kenaikan upah yang nyata dan tidaklebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. 

Menurut kajian Great Institute, terdapat sejumlah provinsi yang berpotensi mencatatkenaikan UMP relatif rendah meskipun menggunakan alfa tertinggi, sehinggapemerintah perlu memastikan hasil akhir kebijakan tetap melindungi daya beli pekerja.

Sementara itu, Peneliti Ekonomi Great Institute, Adrian Nalendra Perwira, menilaisecara ekonomi kebijakan perluasan alfa merupakan langkah logis untuk memperbaikiketimpangan distribusi pendapatan. Ia berpandangan bahwa formula lama belumsepenuhnya mencerminkan kontribusi tenaga kerja terhadap produk domestik bruto. Dengan alfa yang lebih tinggi, transmisi pertumbuhan ekonomi ke pendapatan rumahtangga dinilai akan berjalan lebih cepat dan mendorong konsumsi domestik sebagaimotor utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Adrian juga menekankan pentingnya kehati-hatian dalam penerapan kebijakan di tingkat daerah. Menurutnya, penggunaan rentang alfa perlu disesuaikan dengan kondisiekonomi setempat agar kenaikan upah tidak menimbulkan tekanan berlebihan pada biaya produksi. Ia menilai keseimbangan antara perlindungan pekerja dan keberlanjutan usaha harus menjadi prinsip utama, sehingga kebijakan upah tidakberujung pada pemutusan hubungan kerja atau tekanan inflasi dari sisi biaya.

Secara keseluruhan, kebijakan kenaikan UMP 2026 mencerminkan peran aktif negara dalam melindungi pekerja melalui regulasi yang lebih adil, adaptif, dan berbasis dialog. Dengan formula baru yang lebih fleksibel, dukungan kebijakan pendamping, sertakomitmen pengawasan dari pemerintah pusat dan daerah, kenaikan UMP diharapkanbenar-benar menjadi instrumen perlindungan sosial yang memperkuat kesejahteraanpekerja sekaligus menjaga fondasi pertumbuhan ekonomi nasional.

*) pemerhati ekonomi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *