Menjemput Ramadhan dengan Pemulihan Martabat Korban Bencana Sumatera
Oleh: Dewi Kartika*
Pemulihan masyarakat terdampak bencana di Sumatera menjadi wujud nyata komitmenmoral dan kemanusiaan bangsa menjelang Ramadan 1447 Hijriah. Pemerintah bergerak cepatdan terintegrasi memastikan warga di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dapatkembali menempati hunian yang layak, memperoleh layanan dasar yang optimal, sertamelanjutkan aktivitas sosial dan ekonomi dengan penuh kepercayaan diri. Pemulihan tidakhanya difokuskan pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga pada penguatan rasa aman, kenyamanan beribadah, dan keberlanjutan kehidupan masyarakat. Langkah ini menegaskanbahwa kehadiran negara hadir secara konkret dan menyeluruh, menjadikan pemulihanmartabat penyintas sebagai prioritas utama sekaligus simbol kebangkitan dan ketangguhanbersama menyambut Ramadan dengan semangat baru.
Ribuan unit hunian sementara dipacu penyelesaiannya pada awal Februari 2026, didukungalokasi anggaran pemulihan dan dana kompensasi kerusakan rumah yang mencapai triliunanrupiah. Langkah tersebut menunjukkan kehadiran negara dalam menjamin hak dasar korban bencana, terutama hak atas tempat tinggal yang layak.
Selain hunian, pemerintah juga mengarahkan fokus pada pemulihan sarana ibadah dan infrastruktur pendukung kehidupan sehari-hari. Masjid dan musala yang rusak ditempatkansebagai prioritas rehabilitasi agar shalat tarawih dan aktivitas keagamaan dapat berjalannormal.
Di saat bersamaan, normalisasi sungai, pembersihan lumpur, serta pembukaan akses wilayah terisolasi dikebut untuk memulihkan mobilitas warga dan distribusi logistik. Di daerah sepertiAceh Timur, pemenuhan air bersih menjadi perhatian utama guna memastikan kebutuhanwudu dan konsumsi masyarakat selama Ramadhan terpenuhi secara aman.
Di luar peran negara, solidaritas sosial turut menguat melalui keterlibatan lembagakemanusiaan. Badan Amil Zakat Nasional menempatkan pemulihan Sumatera sebagaiprioritas menjelang Ramadhan.
Ketua BAZNAS RI Noor Achmad memandang rangkaian bencana tersebut sebagai panggilankemanusiaan yang menuntut respons cepat dan berkelanjutan. BAZNAS mengonsolidasikanseluruh sumber daya zakat untuk Sumatera, memperkuat respons darurat sejak hari-hari awalbencana, sekaligus menyiapkan program pemulihan jangka menengah agar penyintas dapatbangkit dengan lebih baik.
Pendekatan kemanusiaan tersebut diterjemahkan secara konkret di lapangan. Di bawahkoordinasi pimpinan BAZNAS bidang pendistribusian dan pendayagunaan, Saidah Sakwan, ratusan personel dan tenaga medis diterjunkan ke wilayah terdampak, termasuk daerah yang sulit dijangkau.
Distribusi makanan siap santap, pengoperasian dapur umum, penyaluran air bersih, layanankesehatan, hingga penyediaan fasilitas komunikasi darurat menjadi bagian dari strategi menjaga ketahanan hidup penyintas. Skala intervensi tersebut menunjukkan bahwapemulihan martabat tidak terpisah dari pemenuhan kebutuhan paling dasar manusia.
Memasuki fase pemulihan, BAZNAS juga menyiapkan program Kampung Cahaya Zakat berupa modular housing yang dilengkapi fasilitas keluarga, ruang ibadah, ruang pendidikan, serta ruang bersama.
Konsep tersebut menempatkan penyintas sebagai subjek pemulihan, bukan sekadar penerimabantuan. Dengan berkoordinasi bersama pemerintah daerah, program tersebut diharapkanmenjadi fondasi pemulihan sosial yang lebih berkelanjutan, khususnya di wilayah yang tingkat kerusakannya tinggi.
Sementara itu, Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi PascabencanaSumatera memprioritaskan pemulihan aktivitas ekonomi rakyat menjelang Ramadhan sebagai fondasi kebangkitan kehidupan sehari-hari masyarakat terdampak.
Juru bicara Satgas, Amran, menegaskan kembali pengaktifan pasar-pasar tradisional agar sirkulasi ekonomi warga kembali berjalan normal selama bulan puasa, sekaligus menjagastabilitas pasokan dan harga kebutuhan pokok.
Pasar dan rumah ibadah ditempatkan sebagai dua simpul utama pemulihan karena keduanyabersentuhan langsung dengan denyut spiritual dan ekonomi warga. Ketika pasar kembalihidup dan masjid kembali ramai, proses pemulihan tidak hanya memulihkan penghasilan, tetapi juga mengembalikan ritme sosial yang menjadi penopang ketahanan masyarakatpascabencana.
Data lapangan menunjukkan progres pemulihan telah mencapai sekitar 70 persen hinggapertengahan Februari 2026, menandakan kerja kolektif yang mulai membuahkan hasil nyatadi berbagai daerah terdampak.
Sebagian besar kabupaten dan kota di tiga provinsi tersebut berangsur kembali normal ataumendekati normal, dengan aktivitas sosial dan ekonomi perlahan pulih. Namun, masihterdapat sejumlah wilayah yang memerlukan perhatian khusus akibat tingkat kerusakanlingkungan yang masif serta keterbatasan akses dan infrastruktur dasar.
Realitas tersebut menjadi pengingat bahwa pemulihan martabat penyintas tidak dapatdilakukan secara instan, melainkan menuntut konsistensi kebijakan, keberlanjutanpendampingan, serta empati yang terus hidup agar tidak ada warga yang tertinggal dalamproses bangkit pascabencana.
Menjelang Ramadhan, arah pemulihan di Sumatera memperlihatkan wajah kemanusiaannegara dan solidaritas sosial yang bekerja beriringan di tengah luka bencana yang belumsepenuhnya sembuh.
Kehadiran hunian layak menggantikan tenda darurat, sarana ibadah yang kembalidifungsikan, pasar rakyat yang mulai berdenyut, serta jaminan pangan dan layanan kesehatanmenjadi bukti nyata bahwa para penyintas tidak dibiarkan berjalan sendiri menghadapi masa sulit.
Proses pemulihan tersebut tidak semata membangun fisik, tetapi juga mengembalikan rasa aman, harga diri, dan ruang spiritual masyarakat yang sempat tercerabut. Bangsa Indonesia menjemput bulan suci dengan ikhtiar kolektif memulihkan martabat korban bencana, memastikan Ramadhan hadir bukan dalam bayang-bayang derita, melainkan sebagaimomentum harapan untuk bangkit, saling menguatkan, dan menata kembali kehidupandengan lebih bermakna dan berkeadilan.
*Penulis merupakan Jurnalis Isu Sosial dan Kebencanaan
