Optimalisasi Aset BUMN Jadi Fokus Pengelolaan Danantara

Oleh: Dimas Aditya Wiguna )*

Pemerintah menempatkan optimalisasi aset badan usaha milik negara sebagai salah satu strategi utama dalam memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi nasional. Melaluipembentukan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara, negara mendorong konsolidasi dan transformasi pengelolaan BUMN agar lebih efisien, terarah, dan mampu memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi perekonomian.

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa pertumbuhanekonomi yang kuat memerlukan tata kelola negara yang solid serta pengelolaan modal yang efisien. Dalam berbagai forum internasional, Presiden menyampaikan bahwaDanantara dibentuk sebagai instrumen strategis untuk mengelola aset negara secaraprofesional dan modern, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam ekosisteminvestasi global.

Presiden memandang kehadiran Danantara sebagai langkah penting untukmengonsolidasikan kekuatan ekonomi nasional. Dengan aset BUMN yang nilainyasangat besar, pengelolaan yang terintegrasi dinilai mampu menjadikan Indonesia mitraekonomi yang lebih setara di tingkat global, sekaligus membuka peluang kerja samainvestasi jangka panjang dengan berbagai negara.

Dalam kerangka kebijakan nasional, Danantara dirancang untuk membiayai industri-industri masa depan yang memiliki nilai tambah tinggi. Pemerintah melihat pengelolaanaset BUMN bukan sekadar upaya korporasi, melainkan bagian dari agenda besarpercepatan industrialisasi, hilirisasi, dan penguatan struktur ekonomi nasional.

Sejalan dengan arahan Presiden, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, menjelaskan bahwa Danantara dibentuk untuk menyatukan pengelolaan lebihdari seribu BUMN dalam satu kerangka strategis. Menurutnya, konsolidasi tersebutmemungkinkan keputusan investasi dilakukan secara lebih terukur, terkoordinasi, dan selaras dengan prioritas pembangunan nasional.

Rosan menilai bahwa struktur pengelolaan yang terpusat memberi ruang optimalisasidividen BUMN agar dapat diinvestasikan kembali tanpa ketergantungan penuh pada APBN. Pendekatan ini dinilai penting untuk memperkuat kapasitas pembiayaan proyek-proyek strategis, sekaligus meningkatkan daya tarik Indonesia bagi investor global melalui skema investasi bersama.

Rosan juga menekankan bahwa konsolidasi aset BUMN merupakan bagian daritransformasi kelembagaan agar perusahaan negara lebih adaptif terhadap perubahanekonomi global. Dengan pengelolaan yang lebih terintegrasi, efisiensi operasionaldiharapkan meningkat, sementara tumpang tindih investasi antar-BUMN dapat ditekansecara signifikan.

Di tengah kebutuhan pembiayaan pembangunan jangka menengah yang terusmeningkat, pemerintah memandang optimalisasi aset BUMN sebagai sumberpendanaan alternatif yang kredibel. Langkah ini memungkinkan kesinambunganpembangunan infrastruktur, pengembangan energi bersih, dan percepatan hilirisasiindustri tanpa menambah tekanan berlebihan pada ruang fiskal negara.

Danantara juga menegaskan bahwa reformasi BUMN akan memasuki fase yang lebihintensif mulai 2026. Agenda tersebut mencakup perbaikan operasional, penguatanstruktur keuangan, optimalisasi aset, serta penyederhanaan jumlah entitas agar BUMN menjadi lebih fokus dan produktif. Presiden Prabowo sendiri telah menetapkan arahkebijakan untuk merampingkan jumlah BUMN secara bertahap sebagai bagian daritransformasi jangka panjang.

Dalam Danantara Economic Outlook 2026, lembaga ini mencatat bahwa sejumlahBUMN besar menunjukkan prospek pemulihan kinerja yang kuat. Bank-bank miliknegara dinilai berada pada posisi yang solid seiring perbaikan biaya dana dan pertumbuhan penyaluran kredit, sementara Telkom Indonesia dipandang siapmenciptakan nilai tambah melalui optimalisasi aset dan penguatan bisnis digital.

Kemajuan restrukturisasi juga tercatat pada sejumlah BUMN strategis seperti Garuda Indonesia, Krakatau Steel, dan Timah. Capaian tersebut memperkuat kredibilitasDanantara sebagai pengelola investasi negara sekaligus agen transformasi BUMN yang berorientasi pada kinerja dan keberlanjutan.

Chief Operating Officer BPI Danantara, Dony Oskaria, menjelaskan bahwa penataanaset juga mencakup pengembalian fokus bisnis Danareksa sebagai perusahaanmanajemen aset. Menurutnya, langkah ini bertujuan memastikan setiap entitas BUMN beroperasi sesuai kompetensi inti, sehingga pengelolaan aset negara dapat dilakukansecara lebih optimal dan profesional.

Dony juga menyoroti penataan ulang bisnis kawasan industri BUMN yang berada di bawah Danantara. Saat ini, Danantara mengelola sejumlah kawasan industri aktif, dengan Kawasan Industri Terpadu Batang sebagai proyek prioritas. Rencana integrasilahan tambahan ke kawasan tersebut diharapkan meningkatkan kapasitas industrinasional dan memperkuat daya tarik investasi.

Selain perluasan kawasan, model bisnis juga diarahkan pada pengembanganpendapatan berulang melalui penyediaan utilitas dan layanan pendukung. Pergeseranini dinilai penting untuk menciptakan sumber pendapatan yang lebih stabil dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat kontribusi kawasan industri terhadappertumbuhan ekonomi.

Dengan total aset BUMN yang mencakup lebih dari separuh PDB nasional, pemerintahmeyakini bahwa setiap peningkatan tata kelola dan efisiensi pengelolaan akanberdampak luas. Melalui Danantara, optimalisasi aset BUMN diarahkan untukmemperkuat stabilitas ekonomi, menciptakan nilai tambah, serta memastikanpertumbuhan nasional yang inklusif dan berdaya saing jangka panjang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *