KABIN M. Herindra Soroti Ancaman Spionase dan IntervensiAsing, Indonesia Perlu Perkuat Regulasi

*)Pandu Wibowo Indonesia sebagai negara yang kaya akan sumberdaya alam dan sumber daya manusia menjadi negara yang memiliki nilai strategis yang tinggi. Tentunya hal tersebut menjadi perhatian dunia dan tidak dapat ditutup mata dengan aksi spionase dan intervensi asing. Seperti diketahui bahwaSpionase merupakan instrumen klasik dan vital yang diterapkan negara untuk memperolehkeunggulan strategis, melakukan sabotase, serta memetakan kapabilitas dan kebijakan aktormusuh atau pesaing geopolitik.  Aktivitas spionase tersebut berpusat pada pengumpulan dan pencurian informasi strategis, rahasia negara, maupun rahasia dagang untuk kepentingan politik, militer, dan ekonomi. Kendatispionase dan intervensi asing merupakan pelanggaran terhadap kedaulatan serta prinsip non-intervensi, hukum internasional-termasuk Piagam PBB, Konvensi Wina 1961, dan UNCLOS-tidak secara eksplisit melarang spionase, sehingga negara-negara di dunia cenderungmeresponsnya secara pragmatis melalui tindakan hukum dan kebijakan domestik masing-masing.  Seperti yang disebutkan diawal bahwa dengan nilai strategis Indonesia saat ini menjadi “magnet” yang luar biasa bagi negara besar. Dengan begitu Indonesia menjadi sasaran utama operasiintelijen dan pengaruh asing. Rekam jejak sejarah dan dinamika terkini memperlihatkankompleksitas ancaman spionase di Indonesia, mulai dari pembocoran dokumen Edward Snowden pada tahun 2013 yang mengungkap penyadapan oleh National Security Agency (NSA) Amerika Serikat terhadap Presiden, Wakil Presiden, dan pejabat tinggi Indonesia, dugaan operasipengaruh dan penyaluran aliran dana asing terselubung untuk memengaruhi politik dalam negeri dan proses pemilu, hingga kekhawatiran pemerintah terhadap infiltrasi dan pengaruh asing yang masuk melalui pendanaan lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan ruang publik yang berpotensi memicu instabilitas.  Sejak dekade kedua abad ke-21, spionase bertambah secara masif di ruang siber (cyber espionage). Ruang siber Indonesia telah berkembang menjadi medan perang hibrida (hybrid warfare) yang melibatkan kelompok Advanced Persistent Threats (APTs) yang didanai negara asing. Bentuk operasinya mencakup penyusupan jaringan pemerintah, eksfiltrasi data teknologipertahanan dan sistem kritis, pengintaian massal (mass surveillance), serta perang kognitif(cognitive warfare) berbasis manipulasi opini dan disinformasi digital.  Kebijakan hilirisasi komoditas strategis Indonesia (seperti nikel, bauksit, tembaga, batu bara, dan kelapa sawit) meningkatkan ketegangan geopolitik dan menjadikan sektor ekonomi nasionalsasaran spionase ekonomi (economic espionage). Pihak asing diduga menggunakan berbagaimodus operandi, seperti pencurian data riset strategis, manipulasi data perdagangan, penggunaanperusahaan cangkang (shell companies), praktik under/over-invoicing terstruktur, hingga indikasimanipulasi pasar saham untuk menguasai emiten sektor vital.   Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), M. Herindra mengatakan spionase dan intervensi asingmerupakan ancaman nyata. Aktivitas spionase dan intervensi asing bukan sekadar kemungkinan, tetapi realitas yang dapat memengaruhi kepentingan nasional….

Read More

Menguatkan Benteng Nasional: Urgensi Undang-Undang Anti-Spionase

Oleh: Zafran Adidaya *) Di tengah eskalasi kompetisi geopolitik global dan krisis multidimensional, kedaulatansebuah negara tidak lagi hanya diuji oleh ancaman militer konvensional yang tampak di bataswilayah. Ancaman modern bergeser ke dalam ranah yang jauh lebih terselubung, kompleks, dan multidimensional. Praktik spionase serta intervensi asing kini menjadi bagian nyata daridinamika internasional yang terus mengintai pertahanan nasional. Ketimpangan antaraakselerasi modus infiltrasi asing dan ketersediaan payung hukum domestik menjadi tantanganstrategis yang menuntut respons kebijakan yang cepat, tegas, serta terukur dari pemerintah. Kebutuhan akan sistem pertahanan negara yang adaptif ini mengemuka dalam Seminar Nasional bertajuk “Kedaulatan di Garis Depan: Kebijakan Nasional PenanggulanganSpionase dan Intervensi Asing” yang diselenggarakan oleh ASEAN Study Center FISIP Universitas Indonesia. Forum strategis tersebut menegaskan bahwa keterbukaan Indonesia tidak boleh dibiarkan tanpa batas hukum yang jelas. Dalam pembukaan seminar, Dekan FISIP UI, Profesor Evi Fitriani, menyampaikan bahwa dinamika krisis multidimensional saat inimewajibkan negara memiliki mekanisme perlindungan yang relevan terhadap seluruh bentukancaman, baik yang terlihat maupun terselubung. Inisiatif akademis ini menjadi buktipartisipasi nyata perguruan tinggi dalam menyumbangkan rekomendasi kebijakan bagipenguatan kedaulatan negara. Secara fakta operasional, Indonesia berada dalam posisi geopolitik yang sangat strategisdengan sumber daya alam melimpah serta populasi yang besar. Posisi yang berada di pusatrivalitas kawasan menjadikan negara ini target bernilai tinggi bagi pengumpulan data intelijenasing. Kebaikan serta keterbukaan sikap diplomasi yang diterapkan selama ini kerapdisalahartikan oleh aktor luar yang berkompetisi secara tidak sehat. Berbagai negara di duniaterus bersaing untuk saling mengintip, memetakan kelemahan, dan menyerap informasistrategis guna membatasi potensi keunggulan pesaing geopolitiknya. Praktik pengumpulan informasi ilegal dan infiltrasi pengaruh asing modern telah melampauibentuk-bentuk konvensional. Kegiatan pengintipan informasi kini bergerak dari pencuriandokumen fisik menuju ranah digital, siber, serta manipulasi operasi pengaruh. Kepala BadanIntelijen Negara, Jenderal TNI (Purn.) Muhammad Herindra, yang hadir memberikan pidatokunci dalam seminar tersebut, menegaskan bahwa ancaman dari intervensi serta spionaseasing bukanlah isu hipotesis semata, melainkan realitas operasional yang dirancang secaraterstruktur. Operasi semacam ini kerap memanfakturkan isu tertentu untuk melemahkanposisi strategis nasional tanpa harus secara langsung melakukan pelanggaran pidanakonvensional. Lebih lanjut, ranah operasi spionase era modern kerap memanfaatkan area abu-abu (grey zone). Penetrasi intelijen asing tidak lagi terbatas pada agen resmi beridentitas rahasia, melainkan dapat direkrut melalui jaringan lembaga swadaya masyarakat, riset ilmiah, lembaga keagamaan, hingga sektor profesional komersial. Pemanfaatan celah hukum inimemungkinkan aktor asing menyusupkan agenda terselubung guna memengaruhi persepsipublik, mengarahkan kebijakan publik, atau menghambat penguasaan teknologi strategisdalam negeri. Kerentanan tersebut makin membesar mengingat belum tersedianya aturanperundang-undangan khusus yang secara spesifik membatasi serta menindak aktivitasspionase modern secara komprehensif. Selama ini, perangkat hukum yang dimiliki Indonesia masih terfragmentasi ke dalamberbagai undang-undang sektoral. Instrumen seperti Kitab Undang-Undang Hukum Pidanamaupun Undang-Undang Intelijen Negara hanya mengatur fungsi dasar deteksi dini danperingatan awal ancaman keamanan nasional. Belum ada definisi operasional yang eksplisitmengenai tindak spionase siber, spionase ekonomi, maupun intervensi asing. Ketiadaanbatasan definitif tersebut menyebabkan rantai penegakan hukum sering kali terhenti dan gagalmenciptakan efek jera bagi para pelaku infiltrasi yang memanfaatkan ruang abu-abu sistemhukum domestik. Keadaan vakum regulasi khusus ini disadari betul oleh para legislator sebagai celahkeamanan yang berisiko tinggi. Anggota Komisi I DPR RI, Hj. Nurul Arifin, yang jugamenjadi pembicara dalam seminar FISIP UI tersebut, mengungkapkan bahwa kebutuhan akanperumusan rancangan undang-undang yang mengatur penanggulangan spionase danintervensi asing sudah pada tahap sangat mendesak. Menurutnya, percepatan pembahasanregulasi ini perlu masuk ke dalam Program Legislasi Nasional untuk memastikan negaramemiliki instrumen penindakan yang sah, mengingat undang-undang intelijen yang ada saatini belum menjangkau delik spionase secara komprehensif. Langkah penguatan kerangka hukum penanggulangan spionase dan campur tangan asingsama sekali tidak ditujukan untuk menekan kebebasan sipil atau mengembalikan trauma pendekatan kekuasaan masa lalu. Direktur Eksekutif ASEAN Study Center FISIP UI, EdyPrasetyono, Ph.D., menekankan bahwa pengkajian isu penanggulangan spionase dilakukanuntuk mematangkan kebijakan nasional agar mampu menjawab tantangan teknologi yang berkembang pesat tanpa mengorbankan iklim demokrasi. Bahkan, berbagai negara dengansistem demokrasi yang maju telah lama menerapkan rezim hukum ketat untuk melindungirahasia negara dan aset informasi strategis mereka. Penyusunan undang-undang penanggulangan spionase merupakan wujud nyata kewajibanpemerintah dalam melindungi segenap rakyat, infrastruktur vital, dan data strategis nasional. Kedaulatan pada era digital mewajibkan ketahanan menyeluruh yang mencakup perlindunganpusat data, sistem informasi pemerintahan, kebijakan ekonomi strategis, hingga stabilitasopini publik dari manipulasi pihak luar. Melalui pembentukan undang-undang yang khususdan terintegrasi serta didukung kolaborasi antara lembaga pemerintah, komunitas intelijen, dan akademisi, Indonesia akan memiliki benteng nasional yang tangguh, mandiri, sertaberwibawa di panggung internasional. *) Pengamat Keamanan Siber

Read More

Kedaulatan di Garis Depan: Saatnya Indonesia Memiliki UU Penanggulangan Spionase dan Intervensi Asing

Oleh: Dimas Aryatama* Kedaulatan Indonesia pada era modern menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Ancaman terhadap kepentingan nasional tidak lagi hanya hadir dalam bentuk konflik bersenjata atau pelanggaran batas wilayah. Perkembangan teknologi, persaingan geopolitik, transformasi ekonomi digital, serta derasnya arus informasi telah menciptakan bentuk-bentuk ancaman baru yang bergerak di ruang yang tidak selalu mudah dijangkau oleh instrumen…

Read More

Kepala BIN Herindra Dorong UU Penanggulangan Spionase dan Intervensi Asing

Oleh: Agustine Evelia Hannie *) Kedaulatan sebuah negara pada abad ke-21 tidak lagi hanya diuji di perbatasan teritorial. Informasi strategis, teknologi, infrastruktur digital, kepentingan ekonomi, proses politik, hingga pembentukan opini publik telah menjadi arena baru kompetisi antarnegara. Dalamlanskap ini, Indonesia membutuhkan perangkat hukum yang mampu mengenali perubahankarakter ancaman tanpa mengorbankan demokrasi dan kebebasan sipil. Pesan tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional bertajuk “Kedaulatan di Garis Depan: Kebijakan Nasional Penanggulangan Spionase dan Intervensi Asing” yang diselenggarakanASEAN Study Center (ASC) FISIP Universitas Indonesia di JW Marriott Hotel Jakarta, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis, 27 Agustus 2026. Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal TNI (Purn.) Dekan FISIP Universitas Indonesia Prof. Evi Fitriani, Ph.D. menilai perubahan lingkungan strategis global menuntut Indonesia memiliki sistempertahanan yang semakin adaptif. Menurutnya, dunia tengah menghadapi krisismultidimensional di tengah persaingan geopolitik negara-negara besar, sehingga Indonesia membutuhkan mekanisme pertahanan yang mampu merespons bukan hanya ancaman yang terlihat secara kasat mata, tetapi juga ancaman nonkonvensional yang bekerja secaratersembunyi dan semakin sulit dikenali. Muhammad Herindra menyampaikan pandangan yang patut menjadi perhatian. Berangkatdari perspektif keamanan dan pengalamannya sebagai praktisi, Herindra menilai Indonesia masih terlalu terbuka ketika berhadapan dengan aktivitas spionase maupun intervensi asingyang menurutnya nyata terjadi. Ia bahkan menggunakan metafora yang cukup keras denganmenyebut Indonesia terlalu “telanjang”. Persoalannya bukan bahwa Indonesia harus berubahmenjadi negara tertutup, melainkan keterbukaan tersebut belum sepenuhnya diimbangiinstrumen hukum yang memberikan batas jelas terhadap aktivitas yang dapat membahayakankepentingan nasional. Herindra mengingatkan bahwa spionase dan intervensi asing kerap bekerja di wilayah abu-abu. Sebuah aktivitas belum tentu memenuhi unsur tindak pidana berdasarkan regulasi yang tersedia, tetapi dampaknya dapat memengaruhi kepentingan strategis negara. Menurutnya, pihak yang menjalankan operasi semacam itu bahkan dapat memanfaatkan sistem hukumnegara sasaran. Di sinilah urgensi gagasan Undang-Undang Penanggulangan Spionase dan Intervensi Asing menemukan relevansinya. Kerangka hukum Indonesia memang telah memiliki KUHP, UU Intelijen Negara, UU ITE, UU Ormas, dan sejumlah regulasi sektoral. Namun, sebagaimanadipotret dalam kerangka seminar ASC FISIP UI, perangkat tersebut masih tersebar dan belumsecara komprehensif mengatur spektrum ancaman kontemporer seperti spionase siber, spionase ekonomi, agen asing, ataupun foreign interference. Ancaman bahkan semakin kompleks karena infrastruktur sipil dan teknologi kini memilikikarakter dual use. Satelit komersial, infrastruktur bawah laut, kecerdasan buatan, cloud…

Read More

Praktisi Dorong UU Spionase, Nurul Arifin: Kekosongan Hukum Jadi Kerentanan

JAKARTA – Indonesia dinilai perlu memperkuat regulasi dan kapasitas kontraintelijen menghadapi spionase serta intervensi asing yang semakin kompleks, mulai dari ancaman siber, ekonomi, teknologi hingga operasi pengaruh terhadap opini dan kebijakan publik. Hal tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional “Kedaulatan di Garis Depan: Kebijakan Nasional Penanggulangan Spionase dan Intervensi Asing” yang diselenggarakan ASEAN Study Center (ASC)…

Read More

Kedaulatan Tak Lagi Sekadar Batas Wilayah, Pakar Soroti Ancaman Spionase dan Intervensi Asing

JAKARTA – Ancaman spionase dan intervensi asing kini tidak lagi berlangsung melalui cara konvensional, tetapi bergerak lintas ruang fisik, digital, ekonomi, politik, dan sosial. Perubahan ancaman itu menjadi sorotan dalam Seminar Nasional “Kedaulatan di Garis Depan: Kebijakan Nasional Penanggulangan Spionase dan Intervensi Asing” yang diselenggarakan ASEAN Study Center FISIP UI di JW Marriott Hotel Jakarta,…

Read More

FISIP UI Gelar Seminar, Akademisi Soroti Ancaman Spionase Asing

JAKARTA — Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) menggelar seminar nasional yang membahas ancaman spionase dan intervensi asing terhadap Indonesia. Akademisi menilai perkembangan teknologi dan persaingan geopolitik membuat ancaman tersebut semakin kompleks. Seminar nasional bertema “Kedaulatan di Garis Depan: Kebijakan Nasional Penanggulangan Spionase dan Intervensi Asing” digelar di Jakarta, Kamis (27/8)….

Read More

Akademisi dan Pakar Soroti Urgensi Regulasi Nasional Hadapi Spionase dan Intervensi Asing

Jakarta — Urgensi memperkuat regulasi nasional untuk menghadapi ancaman spionase dan intervensi asing menjadi perhatian pemerintah, akademisi, dan pakar internasional dalam Seminar Nasional “Kedaulatan di Garis Depan: Kebijakan Nasional Penanggulangan Spionase dan Intervensi Asing” yang digelar ASEAN Study Center (ASC) FISIP Universitas Indonesia di Hotel JW Marriott, Jakarta, Kamis (27/8/2026). Seminar membahas ancaman terhadap kedaulatan…

Read More

DPR Dorong Penguatan Regulasi Hadapi Ancaman Spionase dan Intervensi Asing di Era Digital

Jakarta – Dinamika geopolitik global dan perkembangan teknologi digital mendorong Indonesia memperkuat kewaspadaan terhadap potensi spionase serta intervensi asing. Ancaman tersebut kini tidak lagi terbatas pada pencurian informasi konvensional, tetapi berkembang ke ruang siber, ekonomi, riset, hingga operasi pengaruh yang dapat menyasar kepentingan strategis nasional. Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) RI Jenderal TNI (Purn.) Muhammad…

Read More