Pemerintah Komitmen Kawal Penanganan Bencana di Sumatera hingga Tuntas

Sejumlah relawan membersihkan material yang menutup saluran sungai akibat banjir di Dusun Krajan, Kalibaru, Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (9/11/2022). Proses penanganan paska banjir yang mengakibatkan 35 rumah warga hilang terseret air itu, terkendala medan yang tidak dapat dilalui alat berat sehingga dilakukan penanganan secara manual oleh warga dan relawan. ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/YU

Oleh: Satria Wisnu Putra )*

Bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera menjadiujian serius bagi ketahanan nasional dan kapasitas negara dalam melindungiwarganya. Di tengah situasi darurat tersebut, pemerintah menegaskan komitmen penuhuntuk mengawal penanganan bencana hingga seluruh tahapan pemulihan selesai, dengan menempatkan keselamatan rakyat sebagai prioritas utama danmengoptimalkan seluruh kekuatan nasional yang dimiliki Indonesia.

Sejak hari pertama bencana terjadi, pemerintah pusat mengambil peran sentral dalamkoordinasi penanganan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Pendekatanyang diterapkan berskala nasional, tidak menunggu proses administratif penetapanstatus tertentu, melainkan langsung berorientasi pada kecepatan respons, efektivitasmobilisasi sumber daya, serta pemenuhan kebutuhan mendesak masyarakatterdampak. Langkah ini menunjukkan kesadaran pemerintah bahwa dalam situasidarurat, kehadiran negara harus diwujudkan melalui tindakan konkret, bukan sekadarkeputusan formal.

Staf Khusus Kepala Staf Kepresidenan, Timothy Ivan Triyono, menyampaikan bahwapemerintah sejak awal mengandalkan kapasitas dalam negeri sebagai fondasi utamapenanganan bencana di Sumatera. Menurutnya, Indonesia memiliki sumber dayamanusia, institusi negara, serta infrastruktur penanggulangan bencana yang cukupuntuk menangani situasi tersebut secara mandiri. 

Seluruh kementerian dan lembaga dikerahkan ke lapangan sesuai dengan arahanPresiden untuk mempercepat respons dan pemulihan di wilayah terdampak. Dukungandan solidaritas internasional tetap diapresiasi, namun pemerintah menegaskan bahwapenanganan utama dilakukan melalui kekuatan nasional yang telah terbangun.

Optimalisasi sumber daya nasional tersebut mulai memperlihatkan hasil, terutamadalam pemulihan infrastruktur dasar. Pemerintah mencatat progres signifikan dalamperbaikan akses jalan dan jembatan di Sumatera Utara dan Sumatera Barat, sementaraAceh terus dikejar pemulihannya mengingat luasnya wilayah terdampak dankompleksitas medan. 

Pemulihan akses fisik di wilayah bencana ini dipandang penting karena menjadiprasyarat bagi kelancaran distribusi bantuan, layanan kesehatan, serta aktivitasekonomi masyarakat. Pemerintah menilai bahwa percepatan infrastruktur bukansekadar proyek teknis, melainkan bagian dari upaya memulihkan kehidupan sosialwarga.

Sebagai wujud kepemimpinan langsung dan penguatan koordinasi di lapangan, Presiden RI Prabowo Subianto dijadwalkan mengunjungi sejumlah wilayah yang masihmengalami keterbatasan akses. Kehadiran Presiden dipahami sebagai upayamemastikan bahwa kebijakan pusat berjalan selaras dengan kebutuhan riil di daerah, sekaligus memberi dorongan moral bagi aparat dan masyarakat yang tengah berjuangmenghadapi dampak bencana.

Pemerintah juga memberikan perhatian besar kepada para petugas di garis depan yang bekerja dalam kondisi penuh tantangan. Ribuan personel TNI, Polri, BNPB, Basarnas, tenaga kesehatan, serta petugas kelistrikan dan infrastruktur terus menjalankan tugastanpa mengenal lelah. 

Proses pemulihan listrik, khususnya di Aceh, masih berlangsung secara bertahaphingga seluruh wilayah kembali menikmati layanan dasar secara normal. Kerja para petugas ini dipandang sebagai bukti nyata bahwa negara hadir melalui pengabdianlangsung aparatnya.

Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, menegaskan bahwa penanganan bencana di tiga provinsi tersebut telah berskala nasional sejak hari pertama, tepat setelah bencanamelanda. Penjelasan ini disampaikan untuk merespons perdebatan publik mengenaistatus bencana nasional. 

Pemerintah, menurut Teddy, memilih untuk tidak terjebak pada perdebatan administratif, melainkan langsung melakukan mobilisasi kekuatan nasional secara menyeluruh. Lebihdari puluhan ribu personel gabungan dikerahkan, dengan fokus utama padapenyelamatan warga dan pemenuhan kebutuhan dasar pada fase awal tanggapdarurat.

Selain pengerahan personel, pemerintah pusat juga memastikan dukungan anggarantersedia penuh. Alokasi anggaran pusat digunakan secara bertahap untukpembangunan hunian sementara dan hunian tetap, pemulihan fasilitas publik, hinggaperbaikan kantor pemerintahan daerah yang rusak. 

Pemerintah daerah pun diberikan dukungan dana secara langsung agar memilikikeleluasaan merespons kebutuhan mendesak di lapangan. Dalam aspek logistik daninfrastruktur, ratusan armada laut dan udara serta ribuan unit alat berat dikerahkan dariberbagai wilayah untuk mempercepat evakuasi dan pemulihan akses.

Dukungan terhadap langkah pemerintah juga datang dari kalangan masyarakat sipil. Aktivis 98 sekaligus pemrakarsa 98 Resolution Network, Haris Rusly Moti, menilaipemerintahan Presiden Prabowo Subianto telah mengambil langkah-langkah yang optimal dalam penanganan bencana di Sumatera. 

Haris berpandangan bahwa fokus utama pemerintah pada penyelamatan warga, penanganan darurat, serta pemulihan infrastruktur kerap membuat aspek komunikasipublik tidak menjadi prioritas awal, sehingga memunculkan persepsi yang tidaksepenuhnya mencerminkan kondisi di lapangan. 

Namun secara substansial, menurut Haris Rusly Moti, pemerintah telah menetapkanbencana di Sumatera sebagai prioritas nasional dengan mengerahkan sumber dayapusat secara maksimal sejak fase awal tanggap darurat.

Haris juga menekankan bahwa aparat negara yang bertugas di lapangan bukanlahpelaku komunikasi media sosial, melainkan pekerja kemanusiaan yang memusatkanenergi pada penyelamatan dan pemulihan. Dalam konteks tersebut, ia mengapresiasiupaya pemerintah yang secara bertahap menjawab berbagai informasi keliru denganpenjelasan berbasis data dan fakta lapangan. Menurutnya, keterlibatan langsungpemerintah pusat dan pengucuran anggaran nasional merupakan jawaban substantifatas kritik yang berkembang.

Dengan pendekatan berskala nasional, optimalisasi sumber daya, serta pengawalanberkelanjutan hingga fase rehabilitasi dan rekonstruksi, pemerintah menegaskan bahwapenanganan bencana di Sumatera tidak berhenti pada tahap darurat. Komitmen inimencerminkan kehadiran negara yang tidak hanya tanggap saat krisis, tetapi jugabertanggung jawab memastikan masyarakat dapat pulih dan bangkit secaraberkelanjutan.

*) Pengamat Kesejahteraan Masyarakat Aceh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *