Pencapaian Swasembada Pangan 2025 Tingkatkan Kesejahteraan Petani dan Cadangan Pangan Nasional
Oleh: Dini Asmirandah )*
Swasembada pangan 2025 menjadi tonggak penting dalam sejarah pertanianIndonesia, sekaligus bukti nyata keberhasilan kebijakan pemerintah dalammemperkuat kesejahteraan petani dan ketahanan pangan nasional. Di bawahkepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, kedaulatan pangan dijadikan porosutama pembangunan nasional, karena tanpa kemampuan menghasilkan pangansendiri, sebuah bangsa tidak dapat dikatakan merdeka secara sesungguhnya.
Capaian swasembada pangan ini bukan sekadar target produksi, melainkan hasilkerja keras lintas sektor. Produksi beras nasional tahun 2025 diproyeksikanmencapai 34,71 juta ton, melampaui kebutuhan domestik. Surplus ini menjadifondasi stabilitas pasokan pangan dan memperkuat cadangan beras pemerintahyang sempat mencapai rekor 4,2 juta ton pada pertengahan tahun. Penyaluranberas untuk bencana dan pengendalian stok menunjukkan kehadiran negara dalamtata kelola pangan, sekaligus memastikan harga hasil pertanian tetapmenguntungkan petani. Kepastian serapan dari Perum BULOG mendorong motivasipetani untuk meningkatkan produktivitas, menandai keberhasilan kebijakan pro-petani yang diterapkan pemerintah.
Dampak ekonomi dari pencapaian ini terlihat nyata. Pertanian kembali menjadimotor penggerak ekonomi nasional dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto(PDB) sektor pertanian mencapai 10,52 persen pada triwulan pertama 2025, tertinggi dalam 15 tahun terakhir. Kinerja ini tidak hanya menegaskan kontribusisektor pertanian terhadap ekonomi domestik, tetapi juga memperluas eksporpertanian yang mencapai USD 38,33 miliar sepanjang Januari hingga Oktober 2025, dengan surplus perdagangan sebesar USD 18,79 miliar. Hasil tersebut menegaskanbahwa penguatan sektor pertanian berperan langsung dalam stabilitas ekonomi dan ketahanan nasional.
Keberhasilan ini juga tercermin dari kesejahteraan petani. Nilai Tukar Petani (NTP) pada Desember 2025 mencapai 125,35 persen, tertinggi sepanjang sejarah. Angkaini menunjukkan meningkatnya daya beli petani, seiring membaiknya harga hasilpertanian dan terkendalinya biaya produksi. Langkah pemerintah menaikkan hargagabah, menurunkan harga pupuk bersubsidi, serta mempercepat distribusi pupukmenjadi faktor penting yang mendorong produktivitas dan memastikan keberpihakannyata kepada petani. Kebijakan-kebijakan ini membuktikan bahwa swasembadapangan bukan sekadar jargon politik, melainkan sarana untuk meningkatkankesejahteraan petani secara konkret.
Swasembada pangan 2025 merupakan kerja kolektif, bukan hasil usaha satu pihak. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan bahwa keberhasilan inimelibatkan seluruh elemen bangsa, mulai dari kementerian terkait, BUMN, PerumBULOG, TNI, Polri, penyuluh lapangan, hingga para petani sendiri. Sinergi antarakepemimpinan politik, dukungan birokrasi, dan komitmen masyarakat menjadi kuncitercapainya kedaulatan pangan yang berkelanjutan.
Di sisi lain, pencapaian ini juga membuka peluang memperluas swasembada kekomoditas strategis lain, seperti jagung, gula, daging, dan susu. Indonesia memilikisumber daya alam yang kaya dan tenaga kerja pertanian yang besar, sehinggadengan kebijakan yang tepat, kemandirian pangan nasional dapat ditingkatkan lebihluas. Fokus pemerintah tidak hanya pada produksi beras, tetapi juga memperkuatfondasi ketahanan pangan nasional secara menyeluruh.
Namun, keberhasilan swasembada pangan tidak boleh berhenti pada angkaproduksi dan cadangan. Ketua Bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan PP KAMMI, Aulia Furqon, menekankan pentingnya keberlanjutan dan dampak langsungbagi masyarakat. Ia mengingatkan bahwa harga pangan di tingkat konsumen harusterjangkau, distribusi harus efisien, dan kebijakan tidak boleh mengorbankanlingkungan maupun keadilan agraria. Swasembada yang berkelanjutan harusberjalan beriringan dengan perlindungan petani, keberlanjutan ekologis, dan keadilan sosial, sehingga kedaulatan pangan benar-benar dapat dirasakan olehseluruh lapisan masyarakat.
Pencapaian ini juga menegaskan posisi pertanian sebagai sektor utama penyeraptenaga kerja. Pada Agustus 2025, tercatat 38,2 juta orang bekerja di sektorpertanian, dengan peningkatan tenaga kerja sebanyak 0,38 juta orang dibandingkanperiode sebelumnya. Dengan kontribusi sebesar 26,07 persen terhadap penyerapantenaga kerja nasional, pertanian kembali membuktikan perannya sebagai pilarekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Swasembada pangan 2025 adalah simbol Era Kebangkitan Pertanian Indonesia. Program ini menunjukkan bahwa kombinasi kepemimpinan politik yang tegas, kebijakan yang progresif, dan kerja kolektif lintas sektor mampu menciptakankedaulatan pangan, meningkatkan kesejahteraan petani, dan memperkuat ekonominasional. Ke depan, tantangan utama adalah menjaga momentum ini agar pertaniantidak hanya menjadi sumber produksi, tetapi juga pendorong pembangunan yang berkelanjutan, inklusif, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat luas.
Dengan keberhasilan ini, swasembada pangan bukan lagi sekadar angka ataustatistik, melainkan cerminan strategi pembangunan pertanian yang berpihak pada petani, memperkuat cadangan pangan, dan menegaskan posisi Indonesia sebagaibangsa yang mampu mengelola sumber daya pangan secara mandiri. Pencapaianini adalah bukti bahwa kedaulatan pangan bukan hanya slogan, melainkankenyataan yang membawa manfaat langsung bagi masyarakat dan negara.
)* Peneliti Lembaga Studi Indonesia Sentris
