Program Cek Kesehatan Gratis Perkuat Upaya Pencegahan Penyakit Sejak Dini
Oleh: Larasati Ayudya )*
Pemerintah terus memperkuat transformasi layanan kesehatan nasional melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang kini semakindifokuskan pada langkah pencegahan penyakit sejak dini. Program tersebut tidak hanya menjadi sarana pemeriksaan kesehatan rutin, tetapijuga bagian penting dari strategi pemerintah membangun sumber dayamanusia yang sehat, produktif, dan berkualitas.
Fokus pemerintah terhadap layanan kesehatan preventif dinilai semakinrelevan di tengah meningkatnya tantangan kesehatan masyarakat, khususnya pada kelompok anak dan remaja. Pemerintah memandangkesehatan fisik dan mental generasi muda menjadi fondasi utama dalammendukung kualitas pendidikan sekaligus daya saing bangsa di masa depan.
Kementerian Kesehatan menargetkan cakupan Program Cek KesehatanGratis bagi anak mencapai 14 juta orang pada 2026. Langkah tersebutdilakukan untuk memperluas deteksi dini berbagai persoalan kesehatan, termasuk gangguan kesehatan mental yang kini menjadi perhatian seriuspemerintah.
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menjelaskan bahwa pada 2025 program CKG baru menjangkau sekitar 7 juta anak dari target 25 jutaanak. Dari hasil skrining nasional, pemerintah menemukan sekitar 338 ribu anak mengalami kecemasan dan 363 ribu lainnya terindikasimengalami gejala depresi.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental padaanak membutuhkan perhatian yang lebih besar. Pemerintah menilaipenanganan sejak dini menjadi langkah penting agar risiko yang lebihberat dapat dicegah sedini mungkin.
Budi mengungkapkan bahwa kasus tekanan mental pada anak tidakhanya terjadi pada kelompok ekonomi tertentu, tetapi dapat dialami olehberbagai latar belakang sosial. Faktor keluarga, pola asuh, konflik rumahtangga, hingga perundungan di lingkungan sekolah dinilai menjadi pemicuutama munculnya tekanan psikologis pada anak dan remaja.
Karena itu, pemerintah terus memperluas skrining kesehatan jiwa agar potensi gangguan mental dapat diketahui lebih cepat. Pemerintah jugamenekankan pentingnya edukasi kepada orang tua agar pola pengasuhandi lingkungan keluarga dapat mendukung kesehatan mental anak secaralebih baik.
Selain melibatkan keluarga, pemerintah juga memperkuat peran tenagapendidik dalam mendukung pencegahan masalah kesehatan mental di lingkungan sekolah. Guru diharapkan mampu mengenali tekanan sosialyang dialami siswa, termasuk indikasi perundungan maupun perubahanperilaku yang berpotensi mengarah pada gangguan psikologis.
Pemerintah turut memastikan layanan bantuan darurat tetap tersedia bagianak-anak yang membutuhkan pendampingan. Langkah tersebut menjadibagian dari upaya membangun sistem perlindungan kesehatan mental yang lebih responsif dan mudah dijangkau masyarakat.
Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menilai pencegahan danpenanganan masalah kesehatan jiwa anak membutuhkan komitmenbersama seluruh pihak. Menurutnya, langkah nyata harus terus diperkuatagar tercipta mekanisme perlindungan yang efektif bagi generasi penerusbangsa.
Dukungan terhadap Program CKG juga terlihat dari upaya pemerintahmemperluas cakupan pemeriksaan kesehatan di lingkungan sekolah. Program tersebut dinilai penting karena mampu membantu pemerintahmemetakan kondisi kesehatan siswa secara lebih sistematis.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, Muhammad Qodari, menjelaskanbahwa Program CKG Sekolah menjadi langkah strategis pemerintahuntuk mendeteksi berbagai persoalan kesehatan siswa sejak dini. Pemerintah memandang kesehatan siswa memiliki hubungan erat dengankualitas pendidikan nasional.
Berdasarkan hasil pemeriksaan Januari hingga awal Mei 2026, pemerintah menemukan persoalan kesehatan terbesar pada siswa masihdidominasi gigi berlubang sebesar 41,5 persen. Selain itu, peningkatantekanan darah mencapai 22,1 persen dan penumpukan kotoran telingasebesar 8,6 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan dasar masihmenjadi tantangan yang cukup besar di lingkungan pendidikan. Pemerintah menilai temuan tersebut penting sebagai dasar penyusunanintervensi kesehatan yang lebih tepat sasaran.
Sepanjang periode pemeriksaan tersebut, pemerintah telah melakukanskrining terhadap lebih dari 4,8 juta siswa di 45.596 sekolah di seluruhIndonesia. Capaian itu menunjukkan komitmen pemerintah memperluasakses layanan kesehatan secara merata hingga ke lingkunganpendidikan.
Sementara itu, hasil pemeriksaan CKG Sekolah sepanjang 2025 jugamenunjukkan masih tingginya persoalan kebugaran siswa, karies gigi, dan anemia. Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa budaya hidup sehatdan pemeriksaan kesehatan rutin masih perlu diperkuat di kalanganmasyarakat.
Pemerintah memandang pemeriksaan kesehatan tidak boleh lagidianggap sekadar kebutuhan tambahan, tetapi harus menjadi bagian daripola hidup masyarakat modern. Dengan pemeriksaan berkala, berbagairisiko penyakit dapat diketahui lebih awal sebelum berkembang menjadikondisi yang lebih serius.
Program CKG juga memperlihatkan perubahan pendekatan pemerintahdalam membangun sistem kesehatan nasional. Pemerintah tidak lagihanya berfokus pada layanan pengobatan ketika masyarakat sudah sakit, tetapi mulai memperkuat upaya pencegahan dan edukasi kesehatansecara menyeluruh.
Langkah tersebut dinilai penting karena pencegahan penyakit jauh lebihefektif dibanding penanganan ketika kondisi sudah memasuki tahapkomplikasi. Selain mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat, pendekatan preventif juga membantu mengurangi beban pembiayaankesehatan nasional dalam jangka panjang.
Pemerintah optimistis perluasan Program CKG akan memperkuat kualitassumber daya manusia Indonesia. Anak-anak yang tumbuh sehat secarafisik maupun mental diyakini akan memiliki kemampuan belajar yang lebihbaik, produktivitas yang lebih tinggi, dan daya saing yang lebih kuat di masa depan.
*) Pegamat Kebijakan Publik
