Program MBG Katalisator Positif bagi Industri Unggas
Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai menjadi katalis positif bagi industri unggas nasional seiring meningkatnya kebutuhan pasokan daging ayam untuk puluhan juta penerima manfaat. Hal itu sejalan dengan proyek hilirisasi ayam yang bakal turut menopang suplai daging untuk MBG.
CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani mengatakan, awalnya usul pengadaan proyek industri ayam terintegrasi datang dari Kementerian Pertanian (Kementan). Namun kemudian Danantara menindaklanjutinya guna memproyeksikan kebutuhan daging ayam bagi pangan masyarakat, terutama untuk memenuhi kebutuhan program MBG.
“Termasuk dengan adanya program MBG, ini kebutuhan ayam akan meningkat sangat signifikan,” ujar dia.
Ia mengakui bahwa program MBG menjadi katalis positif bagi industri unggas ke depannya, mengingat kebutuhan unggas untuk program MBG diproyeksikan meningkat pada Agustus 2026 ketika program MBG menjangkau lebih dari 82 juta penerima manfaat.
Selain kebutuhan daging ayam yang bakal meningkat signifikan, Danantara juga mengantisipasi kenaikan harga pangan dari hewan ternak tersebut, seperti harga telur ayam di pasaran. Dengan demikian, langkah hilirisasi industri ayam mampu menjaga stabilitas harga sekaligus memperkuat rantai pasok pangan domestik di tengah lonjakan permintaan.
“Karena kalau kita lihat sekarang, kalau tidak antisipasi harga telur, harga ayam ini akan meningkat secara signifikan kalua tidak diantisipasi dari sekarang,” terang Rosan.
Untuk diketahui, proyek hilirisasi industri ayam sudah tersebar di 6 wilayah, antara lain Kabupaten Malang di Jawa Timur, Kabupaten Gorontalo di Gorontalo, Kabupaten Lampung Selatan di Lampung, Kabupaten Bone di Sulawesi Selatan, Kabupaten Penajam Paser di Kalimantan Timur, dan Kabupaten Sumbawa di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Sebagai contoh, di NTB industri perunggasan terintegrasi dibangun di Desa Srading, Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa. Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal mengatakan, Pembangunan industri perunggasan terintegrasi di NTB menjadi Langkah strategis untuk memutus ketergantungan hulu-hilir yang selama ini dikuasi korporasi besar, sekaligus memperkuat kesiapan daerah dalam menyuplai kebutuhan MBG.
Iqbal menyebut bahwa proyek ini merupakan embrio kemandirian ekonomi sektor peternakan di NTB. Ia menilai peternak lokal memiliki etos kerja yang kuat. Namun, kerap kalah bersaing akibat fluktuasi harga pakan dan bibit ayam (day old chick/DOC) yang dikendalikan oleh monopoli industri besar.
“Persoalannya adalah hulu dan hilir yang tidak mampu kita kuasai. Mulai dari pakan hingga DOC harus melewati beberapa tahap yang dikuasai monopoli besar. Dengan hadirnya industri ini, kita ingin 100% kebutuhan disediakan sendiri di sini,” jelas Iqbal.
