Ramadan dan Ujian Kebangsaan: Menjaga Iman, Merawat Persatuan

Oleh: Kumaidi Masamper*

Ramadan 1447 H/2026 M kembali hadir sebagai bulan yang dinanti, bukan hanya karenanilai spiritualnya, tetapi juga karena daya transformasinya bagi kehidupan kebangsaan. Dalam konteks nasional, Ramadan bukan sekadar momentum ibadah personal, melainkanruang penguatan komitmen kolektif untuk menjaga harmoni sosial dan memperkokohpersatuan di tengah dinamika sosial, ekonomi, dan politik yang terus berkembang. 

Di tengah tantangan global, fluktuasi ekonomi, serta derasnya arus informasi, Ramadan menghadirkan kesempatan reflektif untuk meneguhkan nilai pengendalian diri, kesederhanaan, dan empati—fondasi utama dalam membangun kehidupan berbangsa yang kokoh. Oleh karena itu, ajakan para pemimpin agar Ramadan dijadikan momentum memperkuat kesalehan sosial relevan untuk dimaknai sebagai upaya mempererat solidaritas, menjaga stabilitas nasional, dan meneguhkan semangat kebersamaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia, menegaskan bahwa Ramadan adalahmomentum untuk memperkuat kesalehan sosial dan merawat harmoni kebangsaan. Seruantersebut bukan sekadar pesan normatif, melainkan panggilan strategis bagi umat Islam sebagai mayoritas bangsa ini. Ibadah puasa, sebagaimana disampaikan beliau, mengajarkanpengendalian diri dan hidup secara proporsional. Nilai ini sangat penting untuk membangunkehidupan sosial yang adil, tidak eksploitatif, serta berkelanjutan, baik terhadap sesamamanusia maupun terhadap alam.

Puasa melatih kita menahan diri dari yang halal sekalipun, apalagi dari yang haram. Dalam konteks sosial, ini berarti menahan diri dari keserakahan, dari keinginan menguasai sumberdaya secara berlebihan, dari perilaku konsumtif yang mengabaikan kepentingan bersama. Ketika nilai pengendalian diri ini benar-benar diinternalisasi, maka ia akan melahirkanmasyarakat yang lebih adil dan berempati. Inilah bentuk kesalehan sosial yang diharapkan: keberagamaan yang berdampak nyata bagi kehidupan publik.

Meneladani Rasulullah SAW yang dikenal sebagai pribadi paling dermawan, terutama di bulan Ramadan, Menteri Agama juga mengimbau agar solidaritas sosial diperkuat. Di tengahmeningkatnya kebutuhan masyarakat selama bulan suci, kehadiran negara melalui berbagaikebijakan stabilisasi harga dan bantuan sosial harus disambut dengan partisipasi aktifmasyarakat. Negara bekerja, masyarakat pun bergerak. Sinergi inilah yang akan memperkuatharmoni kebangsaan.

Senada dengan itu, Masyitoh Chusnan, Ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah, mengajak umatIslam memaknai puasa sebagai jihad akbar atau perjuangan besar melawan hawa nafsu dan keserakahan. Tafsir ini sangat relevan dalam konteks modern, ketika gaya hidup konsumtifdan eksploitasi sumber daya kerap menjadi ancaman bagi keberlanjutan lingkungan.

Ramadan, menurut beliau, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi momentum ibadah menyeluruh yang mendorong perubahan perilaku. Shalat Tarawih, tadarus Al-Qur’an, dan amal sosial seharusnya berdampak pada pola hidup yang lebih sederhana, pengendaliankonsumsi energi, serta pengurangan produksi sampah. Dalam perspektif kebangsaan, pengendalian diri ini adalah kontribusi nyata umat beragama dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan yang tengah digencarkan pemerintah.

Kita menyadari bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk bersikap serakah. Namuniman membekali kita dengan kemampuan untuk mengendalikan dorongan tersebut. Ketika Ramadan dimaknai sebagai perjuangan melawan nafsu berlebihan, maka ia menjadi kekuatanmoral untuk mendukung kebijakan-kebijakan yang mendorong efisiensi energi, ketahananpangan, dan perlindungan lingkungan. Spirit jihad akbar ini pada akhirnya memperkuatketahanan nasional dari dalam.

Sementara itu, Cucun Ahmad Syamsurijal, Wakil Ketua DPR RI, menyampaikan bahwaRamadan adalah ruang pembelajaran spiritual dan sosial yang sangat mendalam. Ia mengajakmasyarakat menjadikan bulan suci sebagai momentum memperkuat kebersamaan, memperdalam ketakwaan, dan merawat persatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pernyataan ini penting di tengah dinamika politik nasional yang kerap memunculkanperbedaan tajam. Ramadan mengajarkan kesabaran, keikhlasan, dan empati serta nilai-nilaiyang menjadi fondasi Indonesia yang rukun dan harmonis. Dalam suasana puasa, kita dilatihuntuk tidak mudah terpancing emosi, tidak mudah menyebarkan ujaran kebencian, serta lebihmengedepankan dialog dan musyawarah.

Sebagai pimpinan lembaga legislatif, Cucun juga menekankan pentingnya menjaga stabilitasdan memastikan kebijakan tetap berpihak kepada rakyat, terutama ketika kebutuhanmasyarakat meningkat selama Ramadan. Pernyataan ini menunjukkan bahwa semangatRamadan tidak berhenti pada ranah spiritual, tetapi juga harus tercermin dalam kebijakanpublik yang responsif dan berkeadilan.

Ramadan adalah ujian kebangsaan. Ia menguji apakah kita mampu menjadikan agama sebagai perekat, bukan pemecah; sebagai sumber etika publik, bukan sekadar ritual privat.Ujian itu hadir dalam berbagai bentuk. Ujian untuk tidak menyebarkan hoaks yang dapatmemecah belah. Ujian untuk tidak menimbun bahan pokok demi keuntungan pribadi. Ujianuntuk tetap menghormati perbedaan pilihan politik dan pandangan keagamaan. Ujian untuktetap percaya bahwa persatuan adalah modal utama Indonesia dalam menghadapi tantanganglobal.

Dalam konteks ini, dukungan terhadap kebijakan pemerintah yang bertujuan menjagastabilitas harga, memperkuat bantuan sosial, serta memastikan keamanan dan ketertibanselama Ramadan adalah bagian dari tanggung jawab kebangsaan. Stabilitas bukan hanyatugas aparat, tetapi tanggung jawab kolektif seluruh elemen bangsa.

Ramadan mengajarkan bahwa kemenangan sejati bukanlah kemenangan atas orang lain, melainkan kemenangan atas diri sendiri. Ketika kita mampu menahan amarah, mengendalikan konsumsi, memperbanyak sedekah, dan menjaga lisan, sesungguhnya kitasedang memperkuat fondasi persatuan nasional.

(* Penulis merupakan anggota Gusdurian kota Banjarmasin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *