Menguatkan Fondasi Transisi Energi Rendah Karbon
Oleh: Puteri Anggina Ramadhani* Menguatkan fondasi transisi energi rendah karbon merupakan langkah strategis yang menegaskan komitmen Indonesia dalam membangun sistem energi nasional yang tangguh, modern, dan berdaya saing global. Transformasi yang dijalankan PT Pertamina (Persero) melalui inisiatif Green Terminal di Terminal LPG Tanjung Sekong, Cilegon, menjadi bukti konkret bahwa agenda dekarbonisasi tidak berhenti pada tataran visi, melainkan diwujudkan dalam kebijakan operasional dan investasi teknologi yang terukur. Fasilitas yang menyuplai sekitar 35–40 persen kebutuhan LPG nasional tersebutkini diposisikan sebagai model percontohan pengelolaan terminal energi berbasisEnvironmental, Social, and Governance (ESG), sekaligus tonggak penting dalammemperkuat arsitektur energi rendah karbon nasional. Penerapan asesmen delapan pilar Green Terminal menunjukkan pendekatankomprehensif yang mencakup aspek operasional, keselamatan, lingkungan, sosial, tata kelola, serta transformasi digital. Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero), Agung Wicaksono, menegaskan bahwa Green Terminal merupakanbagian integral dari strategi keberlanjutan bisnis dan implementasi Roadmap Net Zero Emission 2060. Pernyataan Agung Wicaksono memperlihatkan bahwa Pertamina menempatkan keberlanjutan sebagai strategi inti korporasi, sekaligus pengungkit dayasaing jangka panjang. Integrasi standar global dalam pengelolaan terminal energistrategis memperkuat fondasi transisi energi rendah karbon yang tidak hanya ramahlingkungan, tetapi juga andal dan efisien. Langkah konkret tersebut diperkuat melalui pemanfaatan energi terbarukan di fasilitasoperasional. Pemasangan pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 85,5 kWp di Terminal LPG Tanjung Sekong dan 1.700 kWp di Integrated Terminal Tanjung Uban menjadi simbol percepatan dekarbonisasi berbasis teknologi. Direktur Utama PT Pertamina Energy Terminal (PET), Bayu Prostiyono, menyampaikan bahwa diversifikasienergi juga dilakukan melalui peralihan penggunaan genset berbahan bakar fosil kejaringan listrik nasional serta persiapan pengembangan hidrogen hijau terintegrasidengan proyek panas bumi Ulubelu. Pernyataan Bayu Prostiyono menegaskan bahwatransformasi operasional berjalan sistematis dan progresif, memperkuat posisi terminal sebagai simpul energi modern berstandar internasional. Pengembangan ekosistem hidrogen hijau berbasis panas bumi Ulubelu menjadilompatan strategis dalam memperkuat fondasi energi rendah karbon. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mengalokasikan investasi sekitar 3 juta dolar AS untukproyek percontohan produksi hidrogen hijau dengan kapasitas 80–100 kilogram per harimenggunakan teknologi anion exchange membrane electrolyzer berdaya efisiensi tinggi. Direktur Utama…
