1.000 Hari Pertama Kehidupan dan Urgensi MBG 3B

Oleh: Dhita Karuniawati )*

Masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), terhitung sejak awal kehamilan hingga anak berusia dua tahun, merupakan periode emas yang sangat menentukan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Pada fase ini pertumbuhan otak berlangsung sangat cepat, fondasi sistem imun dibangun, serta perkembangan fisik dan kognitif mengalami lompatan signifikan. Kekurangan gizi pada periode ini dapat menimbulkan dampak jangka panjang yang sulit diperbaiki, mulai dari stunting, gangguan belajar, hingga meningkatnya risiko penyakit kronis saat dewasa.

Di tengah tantangan tersebut, kebijakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diusung pemerintahan Prabowo Subianto menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat kualitas gizi anak Indonesia. Terlebih lagi, jika dikaitkan dengan konsep 3B yakni Bumil (Ibu Hamil), Bayi, dan Balita, program ini memiliki urgensi yang sangat besar dalam memastikan generasi masa depan tumbuh sehat dan optimal.

Badan Gizi Nasional (BGN) menginstruksikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk memprioritaskan kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B) dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Penegasan ini dikeluarkan guna meluruskan pemahaman di lapangan, di mana sejumlah mitra SPPG kedapatan langsung menyasar sekolah saat dapur baru mulai beroperasi, padahal kelompok rentan harus menjadi sasaran utama.

Wakil Kepala BGN, Sony Sonjaya mengatakan bahwa kelompok 3B harus menjadi prioritas utama saat dapur MBG mulai beroperasi. Seharusnya, ketika dapur baru dibangun oleh mitra, yang pertama dicari adalah kelompok rentan, yakni balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Menurut Sony, program MBG di Indonesia memiliki keunggulan dibandingkan 77 negara lain yang hanya menjalankan school meal atau makan gratis di sekolah. Indonesia menjadi pionir dengan menghadirkan inovasi “School Meal Plus”, yakni mengantarkan makanan bergizi langsung ke rumah kelompok 3B melalui bantuan kader posyandu demi mengawal 1.000 hari pertama kehidupan.

Sony menilai program MBG bukan sekadar pemberian makanan, melainkan investasi jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045. Hal ini tercermin dari mulai berubahnya pola pikir masyarakat, di mana anak-anak dari Aceh hingga Papua kini mulai memahami pentingnya unsur lengkap dalam makanan, yakni karbohidrat, protein, serat, dan vitamin.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk kelompok 3B yang menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD dipastikan terdiri atas makanan siap santap dan paket sehat. Skema distribusi dan frekuensi pengiriman MBG 3B telah diatur rinci dalam petunjuk teknis yang tercantum pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 115 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Program MBG.

Sekretaris Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola BGN, Ermia Sofiyessi, mengatakan pengiriman dilakukan terjadwal agar manfaat gizi diterima optimal oleh sasaran.Distribusi MBG siap santap setiap Senin dan Kamis. Pengiriman MBG siap santap dilakukan pada Senin, sambil kader pendamping membawa MBG paket sehat untuk Selasa dan Rabu, demikian juga pada Kamis.

Untuk ibu hamil dan ibu menyusui, MBG siap santap disusun sebagai makanan lengkap yang mengandung karbohidrat, protein, serat, dan lemak sesuai angka kecukupan gizi (AKG) yang telah ditetapkan ahli gizi. Sementara itu, paket MBG sehat mencakup minuman khusus ibu hamil atau menyusui yang dilengkapi telur dan buah sebagai penunjang asupan harian.

Adapun bagi balita non-PAUD usia 0–2 tahun, MBG siap santap juga berupa makanan lengkap sesuai AKG. Sedangkan paket MBG sehat untuk kelompok ini terdiri atas makanan pendamping ASI (MPASI) dan buah dengan tekstur yang disesuaikan kebutuhan bayi di bawah dua tahun (baduta).

Ermia mengatakan, seluruh kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) harus aktif melakukan pendataan ibu hamil, ibu menyusui, dan balita dengan berkoordinasi bersama puskesmas, posyandu, serta kelurahan.

Untuk wilayah terpencil, BGN telah merancang skema distribusi khusus yang di sejumlah SPPG sudah dijalankan. Selain memastikan distribusi tepat sasaran, kader juga memegang peran penting dalam memberikan edukasi gizi kepada penerima manfaat 3B.

Keberhasilan program MBG berbasis 3B akan memberikan efek domino yang luas. Anak-anak yang tumbuh dengan gizi cukup cenderung memiliki performa akademik lebih baik, daya tahan tubuh kuat, dan produktivitas tinggi di masa dewasa. Dalam jangka panjang, ini berarti peningkatan kualitas tenaga kerja nasional.

Secara ekonomi, investasi gizi pada 1.000 HPK terbukti memberikan return yang tinggi. Berbagai studi global menunjukkan bahwa setiap rupiah yang diinvestasikan untuk perbaikan gizi anak dapat menghasilkan manfaat ekonomi berlipat ganda melalui peningkatan produktivitas dan penurunan biaya kesehatan.

1.000 Hari Pertama Kehidupan adalah periode emas yang tidak dapat diulang. Kekeliruan atau kelalaian dalam pemenuhan gizi pada masa ini dapat berdampak seumur hidup. Oleh sebab itu, kebijakan seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menekankan pendekatan 3B yakni Bumil, Bayi, dan Balita, memiliki urgensi yang sangat tinggi.

Lebih dari sekadar program bantuan sosial, MBG 3B adalah investasi strategis untuk membangun generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan produktif. Jika dijalankan secara konsisten, terukur, dan tepat sasaran, program ini dapat menjadi tonggak penting dalam mewujudkan Indonesia yang lebih maju dan berdaya saing di masa depan.

*) Penulis adalah Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *