Pemerintah Kunci Bunga KPR Subsidi FLPP, MBR Terlindungi dari Kenaikan BI Rate

Jakarta – Pemerintah memastikan suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) tetap terjaga untuk melindungi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dari dampak kenaikan suku bunga acuan. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya menjaga akses masyarakat terhadap hunian layak sekaligus memperkuat program perumahan nasional. Presiden Prabowo Subianto, mengatakan bahwa kepemilikan…

Read More

Capaian Penyaluran FLPP Tunjukkan Program Rumah Subsidi Bergerak Positif

Jakarta – Program rumah subsidi melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) terus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan di tahun 2026. Di tengah upaya pemerintah mempercepat pemenuhan kebutuhan hunian layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), realisasi penyaluran FLPP telah mencapai 77.532 unit rumah atau sekitar 22,15 persen dari target nasional sebanyak 350.000 unit rumah tahun ini….

Read More

Skema FLPP Dorong Pertumbuhan Penyaluran Rumah Subsidi Secara Positif

Oleh: Indah Puspitasari* Upaya pemerintah dalam memperluas akses kepemilikan rumah bagi masyarakat berpenghasilanrendah terus menunjukkan hasil yang positif. Melalui skema Fasilitas Likuiditas PembiayaanPerumahan (FLPP), penyaluran rumah subsidi sepanjang 2026 mengalami pertumbuhan yang menggembirakan. Program tersebut menjadi salah satu instrumen penting dalam membantumasyarakat memperoleh hunian layak dengan harga yang terjangkau. Kehadiran skemapembiayaan ini dinilai mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang selama ini terkendalaketerbatasan kemampuan finansial untuk memiliki rumah pertama. Dengan dukungan subsididari pemerintah, masyarakat berpenghasilan rendah memperoleh kesempatan yang lebih besaruntuk mendapatkan hunian yang layak sekaligus meningkatkan kualitas hidup mereka. Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) mencatat hingga pertengahan Juni 2026, realisasi penyaluran rumah subsidi melalui skema FLPP telah mencapai 77.532 unit atausekitar 22,15 persen dari target pemerintah tahun ini sebanyak 350.000 unit. Capaian tersebutmenunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap program pembiayaan perumahan bersubsidiyang terus diperkuat pemerintah. Komisioner BP Tapera Heru Pudyo Nugroho menilai tren penyaluran FLPP masih berada dalamjalur yang positif. Menurutnya, BP Tapera terus melakukan pemantauan terhadap kinerja bank penyalur dan asosiasi pengembang, sekaligus memperluas sosialisasi agar semakin banyakmasyarakat berpenghasilan rendah dapat memanfaatkan program tersebut. Keberhasilan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara BP Tapera dengan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman, perbankan, serta berbagai asosiasi pengembang. Penyaluran FLPP telah terealisasi di 8.859 kawasan perumahan subsidi yang dibangun oleh 9.163 pengembang di 375 kabupaten dan kota yang tersebar pada 35 provinsi di Indonesia. Dari sisi perbankan, Bank BTN masih menjadi penyalur terbesar dengan realisasi sebanyak37.657 unit rumah atau sekitar 48,56 persen dari total capaian nasional. Posisi berikutnyaditempati Bank Syariah Nasional dengan 19.088 unit atau 24,61 persen. Sementara Bank BRI telah menyalurkan 6.275 unit, Bank BNI sebanyak 5.608 unit, dan Bank Mandiri mencapai 2.755 unit. Sisanya berasal dari sejumlah bank mitra lainnya. Kontribusi besar juga datang dari kalangan pengembang. Real Estat Indonesia (REI) menjadiasosiasi dengan realisasi tertinggi melalui pembangunan 32.026 unit rumah atau sekitar 41,3 persen dari total penyaluran. Selanjutnya terdapat Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) dengan 23.048 unit, Himpunan PengembangPermukiman dan Perumahan Rakyat (Himperra) sebanyak 10.426 unit, Asosiasi Pengembangdan Pemasar Rumah Nasional (Asprumnas) sebanyak 3.532 unit, serta PI dengan 2.475 unitrumah. Data BP Tapera juga memperlihatkan tingginya minat generasi muda terhadap program rumahsubsidi. Kelompok usia 19 hingga 25 tahun menjadi penerima manfaat terbesar dengan jumlahmencapai 28.060 unit rumah atau sekitar 36,19 persen dari total penyaluran nasional. Kondisi inimenunjukkan bahwa semakin banyak generasi muda yang mulai berupaya memiliki rumahpertama melalui fasilitas pembiayaan bersubsidi….

Read More

Generasi Muda Jadi Penerima Terbesar Rumah Subsidi FLPP 2026

Oleh: Siti Aulia Putri* Keberhasilan pemerintah dalam memperluas akses kepemilikan rumah bagi masyarakatberpenghasilan rendah patut mendapat apresiasi. Melalui program Fasilitas LikuiditasPembiayaan Perumahan (FLPP), semakin banyak masyarakat yang berhasil memiliki hunianlayak dengan cicilan terjangkau. Bahkan, sepanjang tahun terakhir, berbagai kebijakan sektorperumahan menunjukkan hasil positif, ditandai dengan meningkatnya penyaluran rumah subsididan tingginya antusiasme generasi muda untuk memiliki rumah pertama mereka. Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) mencatat penyaluran rumah subsidimelalui skema FLPP telah mencapai 77.532 unit hingga pertengahan Juni 2026. Jumlah tersebutsetara dengan 22,15 persen dari target pemerintah sebanyak 350.000 unit rumah subsidisepanjang tahun ini. Capaian tersebut menunjukkan bahwa program perumahan rakyat terusbergerak sesuai dengan target yang telah ditetapkan pemerintah. Menariknya, kelompok usia 19 hingga 25 tahun atau kalangan Milenial dan Gen Z menjadipenerima manfaat terbesar program tersebut. Sebanyak 28.060 unit rumah atau sekitar 36,19 persen dari total penyaluran tahun ini telah dimanfaatkan oleh generasi muda. Fakta tersebutmemperlihatkan tingginya kebutuhan rumah pertama di kalangan usia produktif dan semakinbesarnya minat mereka terhadap program pembiayaan yang didukung pemerintah. Komisioner BP Tapera Heru Pudyo Nugroho menilai penyaluran bantuan pembiayaan rumahsubsidi melalui FLPP terus menunjukkan perkembangan yang positif. Heru Pudyo Nugroho menjelaskan bahwa BP Tapera tidak hanya melakukan pemantauan terhadap bank penyalur dan asosiasi pengembang, tetapi juga terus memperluas sosialisasi kepada masyarakat berpenghasilanrendah agar semakin banyak yang dapat mengakses program tersebut. Keberhasilan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara BP Tapera dengan 36 bank penyalurdan 21 asosiasi pengembang. Realisasi FLPP telah tersebar di 8.859 kawasan perumahan subsidiyang dibangun oleh 9.163 pengembang pada 375 kabupaten dan kota di 35 provinsi di Indonesia. Luasnya jangkauan program tersebut menunjukkan komitmen pemerintah dalam menghadirkanpemerataan akses perumahan bagi masyarakat. Dari sisi perbankan, Bank BTN masih menjadi penyalur terbesar rumah subsidi FLPP. Hinggapertengahan Juni 2026, BTN telah menyalurkan pembiayaan bagi 37.657 unit rumah atau sekitar48,56 persen dari total realisasi nasional. Posisi berikutnya ditempati kelompok bank syariah nasional dengan 19.088 unit rumah atau 24,61 persen. Sementara Bank BRI menyalurkan 6.275 unit rumah, Bank BNI sebanyak 5.608 unit, dan Bank Mandiri sebanyak 2.755 unit. Kontribusi besar juga datang dari kalangan pengembang. Real Estat Indonesia (REI) menjadiasosiasi dengan penyaluran terbesar, yakni mencapai 32.026 unit rumah atau sekitar 41,3 persendari total realisasi FLPP. Selanjutnya terdapat Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) dengan 23.048 unit rumah atau 29,72 persen, diikutiHimpunan Pengembang Permukiman dan Perumahan Rakyat (Himperra) dengan 10.426 unitatau 13,44 persen. Adapun Asosiasi Pengembang dan Pemasar Rumah Nasional…

Read More

Global Bond Danantara Dinilai Jadi Prestasi Finansial Pemerintah

Jakarta – Keberhasilan penerbitan global bond perdana Danantara Indonesia senilai USD1,5 miliar dinilai sebagai prestasi finansial pemerintah yang mencerminkan tingginya kepercayaan investor internasional terhadap prospek ekonomi Indonesia. CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani menyebut penerbitan obligasi tersebut berhasil melampaui target awal, menegaskan kuatnya minat dan kepercayaan pasar global terhadap perekonomian nasional. “Dari rencana 1 miliar dolar…

Read More

Global Bond Danantara Oversubscribed, Kepercayaan Investor Dunia terhadap Indonesia Menguat

Jakarta – Keberhasilan penerbitan obligasi global (global bond) perdana Danantara Indonesia senilai USD1,5 miliar menjadi sinyal kuat meningkatnya kepercayaan investor internasional terhadap prospek ekonomi Indonesia. Antusiasme investor yang menempatkan pesanan jauh melampaui jumlah obligasi yang ditawarkan memberikan posisi tawar yang lebih baik bagi emiten dalam menentukan tingkat kupon yang kompetitif. Kondisi ini memungkinkan biaya pendanaan…

Read More

Global Bond Danantara sebagai Bukti Kredibilitas Ekonomi Nasional

Oleh: Rina Oktavia)* Pembuktian Global Bond Danantara Indonesia menjadi penanda pentingmeningkatnya pengakuan internasional terhadap kredibilitas ekonomi nasional. Di tengah tantangan ekonomi global yang masih dipengaruhi ketidakpastian geopolitikdan perlambatan ekonomi di sejumlah negara, tingginya minat investor internasionalterhadap instrumen keuangan Indonesia menunjukkan bahwa fundamental ekonominasional tetap kuat dan dipercaya pasar global. Capaian tersebut sekaligusmempertegas posisi Indonesia sebagai negara dengan prospek pertumbuhan yang menjanjikan dan kebijakan ekonomi yang kredibel. Penerbitan obligasi global senilai USD1,5 miliar menjadi salah satu pencapaianstrategis yang mencerminkan kepercayaan investor terhadap arah pembangunanekonomi Indonesia. Permintaan investor yang mencapai sekitar USD4,5 hinggaUSD4,6 miliar atau sekitar tiga kali lipat dari nilai penerbitan menunjukkan tingginyaantusiasme pasar internasional. Kondisi ini mendorong peningkatan nilai penerbitandari target awal USD1 miliar menjadi USD1,5 miliar, menandakan kuatnya keyakinaninvestor terhadap stabilitas ekonomi nasional. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, mengatakan capaian tersebut menjadiindikator nyata tingginya kepercayaan investor terhadap Indonesia. Melaluirangkaian kunjungan ke pusat-pusat keuangan dunia seperti Hong Kong, Singapura, Boston, London, dan New York, Danantara bertemu dengan 122 investor global yang menunjukkan minat besar terhadap instrumen investasi Indonesia. Responspositif tersebut memperlihatkan bahwa Indonesia semakin dipandang sebagainegara tujuan investasi yang memiliki tata kelola ekonomi yang baik. Kredibilitas ekonomi nasional juga tercermin dari tingkat imbal hasil obligasi yang kompetitif. Obligasi tenor lima tahun berhasil ditutup dengan imbal hasil sebesar5,35 persen, sedangkan tenor sepuluh tahun mencapai 5,95 persen. Tingkat pengembalian tersebut dinilai mencerminkan kepercayaan pasar terhadapkemampuan Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi dan mengelola risikosecara berkelanjutan. Keberhasilan memperoleh pendanaan dengan skema yang kompetitif semakin memperkuat citra positif Indonesia di pasar keuanganinternasional. Penerbitan obligasi tersebut terbagi ke dalam dua tenor, masing-masing senilaiUSD750 juta untuk tenor lima tahun dan sepuluh tahun. Proses penandatangananyang telah dilakukan serta pencairan dana yang segera terealisasi menunjukkanbahwa kepercayaan investor telah diwujudkan dalam komitmen investasi nyata. Dana yang diperoleh melalui global bond ini diharapkan dapat memperkuatkapasitas pembiayaan pembangunan dan mendukung agenda transformasi ekonominasional. Lebih jauh, tingginya permintaan investor membuka peluang bagi Danantara untukmenerbitkan surat utang dengan tenor yang lebih panjang hingga 30 tahun. Prospektersebut menunjukkan bahwa investor global memiliki keyakinan terhadapkeberlanjutan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang. Stabilitaspertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai mampu bertahan di tengah berbagaidinamika siklus ekonomi global, sehingga meningkatkan daya tarik Indonesia di mata investor internasional. Komposisi investor global juga memperlihatkan luasnya kepercayaan internasionalterhadap Indonesia. Investor dari Amerika Serikat menjadi pembeli terbesar obligasiDanantara, baik untuk tenor lima tahun maupun sepuluh tahun. Pada tenor lima tahun, investor dari Amerika Serikat berkontribusi sebesar 38 persen, Eropa dan Timur…

Read More

Diplomasi Finansial Indonesia Lewat Global Bond Danantara

Oleh Yunita Ardilla )* Keberhasilan Indonesia dalam menerbitkan obligasi global melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menjadi salah satu pencapaian strategis yang menunjukkan semakin kuatnya posisi bangsa di mata komunitas investasi internasional. Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang dipengaruhi oleh dinamika geopolitik, fluktuasi pasar keuangan, dan perlambatan pertumbuhan di berbagai negara, Indonesia justru…

Read More

PSN di Papua Berdampak Penguatan Ekonomi Masyarakat Lokal

*) Oleh: Yohanes Murib Program Strategis Nasional (PSN) yang saat ini dijalankan pemerintah merupakansalah satu instrumen penting dalam memperkuat fondasi pembangunan Indonesia di tengah tantangan global yang semakin kompleks. Selain diarahkan untuk memperkuatketahanan pangan nasional, program ini juga membawa misi yang lebih luas, yaknimenciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan hingga ke daerah-daerah. Papua menjadi salah satu wilayah yang memiliki potensi besar untukmemperoleh manfaat dari implementasi program tersebut. Dengan kekayaan sumberdaya alam, keragaman pangan lokal, dan posisi strategis di kawasan timur Indonesia, Papua memiliki peluang untuk menjadi bagian penting dalam agenda pembangunannasional. Dalam pandangan Ketua Melanesian Youth Diplomacy Forum, Steve Mara, PSN merupakan langkah strategis yang menunjukkan keseriusan pemerintah di bawahkepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran RakabumingRaka dalam mempersiapkan masa depan bangsa. Menurutnya, program ini tidakhanya berfokus pada pencapaian target produksi pangan nasional, tetapi juga berpotensi menciptakan iklim ekonomi yang sehat bagi masyarakat. Kehadiran PSN dinilai mampu membuka ruang pertumbuhan ekonomi baru yang memberikanmanfaat langsung bagi masyarakat kecil sekaligus meningkatkan kapasitas ekonominasional secara keseluruhan. Oleh karena itu, dukungan publik menjadi faktor pentingagar program tersebut dapat berjalan optimal dan memberikan dampak yang berkelanjutan. Selain itu, PSN memiliki potensi besar dalam membuka peluang usaha baru bagigenerasi muda. Selama ini, tantangan pembangunan di berbagai daerah sering kali berkaitan dengan terbatasnya akses terhadap pasar, investasi, dan pengembanganusaha produktif. Melalui PSN, berbagai sektor pendukung ekonomi dapat tumbuhsecara simultan, mulai dari pertanian, perdagangan, logistik hingga industripengolahan. Kondisi ini akan menciptakan lapangan usaha yang lebih luas sekaligusmeningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan ekonomi produktif. Dengandemikian, pembangunan tidak hanya menghasilkan pertumbuhan angka statistik, tetapi juga memperkuat kesejahteraan masyarakat secara nyata. Lebih jauh, Steve Mara menilai keberhasilan PSN di Papua sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat adat. Kolaborasitersebut penting untuk memastikan bahwa pembangunan yang dilakukan tidak hanyamemenuhi kepentingan nasional, tetapi juga memperhatikan kebutuhan sertakarakteristik lokal. Papua memiliki kekayaan pangan tradisional yang telah menjadibagian dari identitas budaya masyarakat selama berabad-abad. Karena itu, pembangunan sektor pangan perlu dirancang dengan pendekatan yang menghormatidan memberdayakan potensi lokal tersebut. Selanjutnya, keberadaan pangan lokal seperti sagu dan berbagai jenis umbi-umbianmemiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi komoditas bernilai ekonomitinggi. Selama ini, pangan lokal Papua sering dipandang hanya sebagai kebutuhankonsumsi masyarakat setempat. Padahal, jika dikelola secara modern dan terintegrasidengan sistem produksi nasional, komoditas tersebut dapat menjadi sumberpertumbuhan ekonomi baru. Pengembangan konsep gastropangan berbasiskekayaan lokal berpotensi meningkatkan nilai tambah produk sekaligus memperkuatidentitas budaya daerah. Di saat yang sama, langkah ini akan memperluas pilihansumber pangan nasional yang lebih beragam dan berkelanjutan. Tidak hanya itu, penguatan pangan lokal juga dapat menjadi strategi penting dalammeningkatkan daya saing Papua di tingkat regional. Steve Mara melihat peluangbesar bagi Papua untuk berkembang menjadi salah satu sentra produksi pangan yang mampu melayani kebutuhan kawasan Pasifik. Dengan dukungan infrastruktur, investasi, dan kebijakan yang tepat, Papua berpotensi menjadi pemasok berbagaikomoditas pangan lokal ke negara-negara tetangga. Potensi tersebut tidak hanyaakan meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok pangan kawasan. Namun demikian, pembangunan ekonomi harus tetap berjalan beriringan denganperlindungan terhadap lingkungan dan hak-hak masyarakat adat. Dalam konteksPapua, keberadaan hutan adat dan kawasan sakral memiliki nilai sosial, budaya, sertaekologis yang sangat tinggi. Oleh sebab itu, implementasi PSN harusmengedepankan prinsip pembangunan berkelanjutan yang memperhatikankeseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Pelibatanmasyarakat adat dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan menjadilangkah penting untuk memastikan pembangunan berjalan harmonis dan diterimaoleh masyarakat. Sementara itu, generasi muda memiliki peran strategis dalam mengawal keberhasilanPSN. Di tengah derasnya arus informasi dan berbagai narasi yang berkembang di ruang publik, diperlukan sikap kritis dan objektif dalam menilai setiap kebijakanpembangunan. Steve Mara mengingatkan bahwa program pembangunan harus dilihatberdasarkan manfaat jangka panjang yang dapat dihasilkan bagi masyarakat. Dukungan konstruktif dari generasi muda akan menjadi modal sosial yang pentinguntuk memastikan berbagai program strategis nasional dapat berjalan secara efektifdan tepat sasaran….

Read More

PSN Papua Dukung Ketahanan Pangan Lokal dan Buka Peluang Ekonomi Baru

Papua – Program Strategis Nasional (PSN) Papua di sektor pangan dinilai memiliki potensi besar dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat lokal. Melalui pengelolaan yang inklusif dan berkelanjutan, PSN di Papua diyakini mampu mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat tanpa mengabaikan kekayaan budaya dan pangan lokal. Ketua Melanesian Youth Diplomacy Forum, Steve Mara,…

Read More