Menggerakkan Pemda Majukan Koperasi Desa Merah Putih

Oleh: Alexander Royce*)

Upaya pemerintah menguatkan ekonomi kerakyatan melalui pengembangan Koperasi DesaMerah Putih kian menunjukkan arah yang semakin terstruktur dan progresif. Di tengah tantanganekonomi global, inflasi pangan, serta kebutuhan memperkuat daya tahan ekonomi lokal, koperasidesa menjadi instrumen strategis yang bukan hanya relevan, tetapi juga krusial. Koperasi tidaklagi diposisikan sekadar sebagai badan usaha tradisional, melainkan sebagai motor penggerakpembangunan desa, penguat rantai pasok pangan, sekaligus sarana distribusi kesejahteraan yang berkeadilan. Dalam konteks inilah, peran pemerintah daerah menjadi sangat menentukan, karenamerekalah yang berada paling dekat dengan realitas sosial, ekonomi, dan kebutuhan masyarakatdesa.

Dorongan kuat kepada pemda untuk merealisasikan program penguatan Koperasi Desa Merah Putih mencerminkan keseriusan pemerintah pusat dalam memastikan kebijakan nasional tidakberhenti di level regulasi, tetapi benar-benar terimplementasi hingga ke akar rumput. Kebijakanini sejalan dengan agenda besar pemerintahan saat ini yang menempatkan desa sebagai subjekpembangunan, bukan sekadar objek. Desa diposisikan sebagai pusat pertumbuhan baru, simpulekonomi produktif, serta basis ketahanan pangan dan ekonomi nasional. Dengan koperasisebagai instrumen utama, pembangunan desa diarahkan agar lebih inklusif, berkelanjutan, dan berorientasi pada pemberdayaan masyarakat.

Dirjen Bina Pemerintahan Desa Kemendagri, La Ode Ahmad P Bolombo, menegaskanpentingnya peran aktif pemda dalam mendorong realisasi program pengembangan Koperasi DesaMerah Putih. Ia memandang bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada komitmenpemerintah daerah dalam melakukan pendampingan, pembinaan, serta integrasi program koperasi dengan kebijakan pembangunan desa. Menurutnya, koperasi desa tidak bisa berdirisendiri tanpa ekosistem kebijakan yang mendukung, mulai dari perencanaan pembangunan, penganggaran daerah, hingga sinergi lintas sektor. 

Dorongan kepada pemda bukan sekadar administratif, tetapi merupakan upaya membangunsistem yang memastikan koperasi desa tumbuh sehat, profesional, dan berdaya saing. Dalamperspektif ini, pemda diposisikan sebagai penggerak, fasilitator, sekaligus penjagakesinambungan program agar tidak berhenti sebagai proyek jangka pendek, melainkan menjadifondasi ekonomi desa jangka panjang.

Menko Pangan Zulkifli Hasan juga menempatkan Koperasi Desa Merah Putih sebagai bagianintegral dari strategi besar ketahanan pangan nasional. Ia melihat koperasi desa sebagai simpuldistribusi dan produksi pangan yang mampu memotong rantai pasok panjang, mengurangiketergantungan pada tengkulak, serta memperkuat posisi tawar petani dan pelaku usaha desa. Dalam pandangannya, pemda memiliki peran strategis untuk memastikan koperasi tidak hanyaberdiri secara formal, tetapi benar-benar berfungsi sebagai pusat aktivitas ekonomi desa, mulaidari pengelolaan hasil pertanian, distribusi bahan pangan, hingga pengembangan usaha produktifberbasis potensi lokal. Sinergi antara koperasi desa dan kebijakan ketahanan pangan nasionalmenjadi kunci dalam membangun sistem pangan yang tangguh, adil, dan berkelanjutan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa koperasi tidak hanya dilihat sebagai entitas ekonomi, tetapisebagai instrumen kebijakan publik untuk menjaga stabilitas sosial dan ekonomi masyarakatdesa.

Menkop Ferry Julianto menekankan bahwa transformasi koperasi desa harus diarahkan pada penguatan kelembagaan dan modernisasi tata kelola. Ia melihat Koperasi Desa Merah Putihsebagai wajah baru koperasi Indonesia yang adaptif terhadap perkembangan zaman, termasukpemanfaatan digitalisasi, penguatan manajemen profesional, serta integrasi dengan sistemekonomi nasional. Dalam kerangka ini, peran pemda menjadi krusial sebagai penghubung antarakebijakan pusat dan implementasi di lapangan. 

Ferry menilai bahwa tanpa dukungan kebijakan daerah, koperasi desa akan sulit berkembangsecara optimal. Oleh karena itu, sinergi pusat dan daerah harus terus diperkuat, baik dalam aspekregulasi, pembiayaan, maupun pendampingan sumber daya manusia. Koperasi desa tidak hanyaditargetkan tumbuh secara kuantitatif, tetapi juga berkualitas, sehat secara finansial, dan berkelanjutan secara kelembagaan.

Relevansi program Koperasi Desa Merah Putih juga semakin kuat jika dikaitkan dengandinamika terkini, seperti fokus pemerintah pada pengendalian inflasi pangan, stabilisasi hargabahan pokok, serta penguatan ekonomi lokal pascapandemi dan di tengah ketidakpastian global. Koperasi desa dapat menjadi instrumen distribusi pangan yang efektif, memperpendek jalurdistribusi, serta menekan biaya logistik. Selain itu, kebijakan pembangunan desa yang terintegrasi dengan koperasi sejalan dengan program nasional seperti penguatan UMKM, pengembangan ekonomi desa, dan transformasi ekonomi hijau berbasis potensi lokal. 

Lebih dari sekadar program ekonomi, Koperasi Desa Merah Putih juga memiliki dimensi sosialdan ideologis yang kuat. Ia merepresentasikan semangat gotong royong, kemandirian, dan keadilan sosial yang menjadi nilai dasar pembangunan nasional. Pemerintahan saat ini secarakonsisten menempatkan nilai-nilai tersebut sebagai fondasi kebijakan, sehingga pembangunantidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pemerataan kesejahteraan. 

Menggerakkan pemda untuk memajukan Koperasi Desa Merah Putih bukan sekadar agenda teknokratis, tetapi merupakan strategi besar membangun Indonesia dari desa, memperkuatfondasi ekonomi nasional dari lapisan terbawah, dan menciptakan sistem ekonomi yang lebihadil dan berkelanjutan. Dengan sinergi kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat desa, koperasi desa berpotensi menjadi tulang punggung ekonomi rakyat sekaliguspilar ketahanan nasional.

*) Penulis merupakan Pengamat Sosial

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *