Dari Desa ke Pasar Global: Koperasi Desa Merah Putih Tembus Ekspor
Oleh : Donsutoro Imanuel*
Di tengah arus globalisasi yang semakin kompetitif, kisah keberhasilan sebuah koperasidesa menembus pasar ekspor menjadi bukti bahwa kekuatan ekonomi nasional tidakhanya bertumpu pada korporasi besar, tetapi juga tumbuh dari akar rumput. KoperasiDesa Merah Putih hadir sebagai representasi kebangkitan ekonomi berbasis komunitasyang mampu bertransformasi dari entitas lokal menjadi pemain yang diperhitungkan di pasar global. Perjalanan koperasi ini menunjukkan bahwa desa bukan lagi sekadarobjek pembangunan, melainkan subjek aktif yang mampu menciptakan nilai tambahdan daya saing internasional.
Transformasi tersebut tidak terjadi dalam semalam. Berawal dari upaya menghimpunpetani dan pelaku usaha mikro di desa untuk memperkuat posisi tawar terhadaptengkulak, Koperasi Desa Merah Putih memulai langkahnya dengan membangun tata kelola yang profesional dan transparan. Prinsip gotong royong yang menjadi ruhkoperasi dipadukan dengan manajemen modern, termasuk pencatatan keuanganberbasis digital dan sistem kontrol mutu produk yang ketat. Perubahan pola pikir inilahyang menjadi fondasi penting sebelum koperasi berani melangkah ke pasar yang lebihluas.
Produk unggulan koperasi yang semula hanya dipasarkan di tingkat kabupaten kinimampu menembus pasar mancanegara. Komoditas olahan pertanian dan produkturunan berbasis kearifan lokal menjadi daya tarik tersendiri di pasar global yang semakin menghargai produk berkelanjutan dan beretika.
Dengan dukungan fasilitasi dari Kementerian Koperasi dan UKM serta promosi dagangyang dilakukan oleh Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, koperasi ini mulaimengikuti pameran internasional dan business matching dengan calon pembeli luarnegeri. Dari sinilah kontrak ekspor perdana berhasil diraih, membuka babak baru dalamperjalanan koperasi desa tersebut.
Akselerasi ekspor non tambang Sulawesi Tenggara (Sultra) memasuki babak baru. Dari kawasan pesisir Kecamatan Kolono, Kabupaten Konawe Selatan, Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih Awunio resmi melepas ekspor perdana arang tempurung kelapasebanyak 50 ton senilai Rp 750 juta melalui Pelabuhan New Port Kendari, Sabtu, 21 Februari 2026.
Wakil Gubernur Sultra, Hugua, yang juga menjabat sebagai Ketua Tim PercepatanEkspor Sulawesi Tenggara mengatakan Kopdes Merah Putih Awunio tercatat sebagaikoperasi desa kedua di Indonesia yang berhasil menembus pasar ekspor, sekaligusyang pertama di kawasan Indonesia Timur. Capaian ini menjadi bukti untuk kita bahwadesa mampu menjadi motor penggerak ekonomi daerah jika dikelola secara profesionaldan terintegrasi
Keberhasilan menembus ekspor tidak hanya berdampak pada peningkatan pendapatananggota, tetapi juga menciptakan efek berganda bagi perekonomian desa. Lapangankerja baru tercipta, terutama bagi perempuan dan generasi muda yang sebelumnyamemilih merantau ke kota. Rantai pasok lokal pun semakin hidup karena kebutuhanbahan baku, pengemasan, hingga logistik melibatkan pelaku usaha di sekitar desa. Dengan demikian, koperasi berfungsi sebagai simpul ekonomi yang menggerakkanberbagai sektor sekaligus memperkuat ketahanan sosial masyarakat.
Digitalisasi menjadi kunci penting dalam memperluas jangkauan pasar. Melalui platform pemasaran daring dan pemanfaatan media sosial, koperasi mampu membangun citramerek yang kuat dan menjangkau pembeli lintas negara tanpa harus sepenuhnyabergantung pada perantara. Transparansi proses produksi dan cerita mengenai asal-usul produk desa menjadi nilai tambah yang diapresiasi konsumen global. Di era ekonomi berbasis narasi dan keberlanjutan, kisah tentang pemberdayaan petani dan komitmen terhadap praktik ramah lingkungan justru menjadi daya saing utama.
Program Koperasi Merah Putih merupakan inisiatif pemerintah untuk memperkuatekonomi desa. Pemerintah menargetkan pembangunan sekitar 80.000 koperasi di seluruh Indonesia, dengan 30.000 unit di antaranya ditargetkan terbangun hinggapertengahan 2026.
Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, mengatakan pemerintah melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Agrinasmengambil langkah strategis dengan memutuskan mengimpor sebanyak 105.000 unit kendaraan niaga jenis pikap dan truk dari India. Kebijakan ini dilakukan sebagai bagiandari dukungan program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
Keberhasilan Koperasi Desa Merah Putih juga memberi pesan strategis bahwa model ekonomi kolektif tetap relevan di tengah dominasi kapitalisme korporasi. Koperasimenawarkan distribusi manfaat yang lebih merata karena keuntungan dibagikankepada anggota, bukan terpusat pada segelintir pemilik modal. Hal ini sejalan dengansemangat konstitusi yang menempatkan koperasi sebagai sokoguru perekonomiannasional. Ketika koperasi desa mampu menembus ekspor, maka yang menguat bukanhanya neraca perdagangan, tetapi juga struktur ekonomi rakyat.
Lebih jauh, kisah ini dapat menjadi inspirasi bagi ribuan desa lain di Indonesia. Potensikomoditas lokal yang beragam, mulai dari hasil pertanian, perikanan, hingga kerajinantangan, sesungguhnya memiliki peluang besar di pasar global apabila dikelola secaraprofesional dan terintegrasi. Dukungan kebijakan pemerintah, akses pembiayaan, sertapendampingan teknis menjadi faktor krusial yang perlu terus diperkuat agar keberhasilan satu koperasi dapat direplikasi di berbagai daerah.
Pada akhirnya, perjalanan Koperasi Desa Merah Putih menembus pasar ekspormerupakan gambaran konkret bahwa pembangunan inklusif bukan sekadar jargon. Dari desa yang sederhana, lahir produk yang mampu bersaing di etalase dunia. Dari semangat gotong royong, tumbuh daya saing global.
)* Pengamat Kebijakan Ekonomi Nasional
