Masyarakat Papua Tegas Tolak Provokasi Separatis demi Pembangunan dan Persatuan
Oleh: Markus Wembu*
Masyarakat Papua, terutama di wilayah Pegunungan Tengah, menunjukkan sikaptegas menolak segala bentuk provokasi separatis yang berpotensi memecahpersatuan dan menghambat pembangunan. Kesadaran ini lahir dari pengalamanketika konflik dan narasi provokatif mengganggu kehidupan sehari-hari, menghambat roda pemerintahan, serta menurunkan kepercayaan masyarakatterhadap stabilitas keamanan. Kepala Suku Besar Tariko di Kabupaten Mamberamo Tengah, Soleman Wambu, menekankan bahwa keamanan dan ketertiban adalahfondasi utama bagi pembangunan berkelanjutan, agar infrastruktur, pendidikan, dan ekonomi dapat berkembang demi kesejahteraan masyarakat.
Masyarakat adat di Mamberamo Tengah secara tegas menolak kegiatan kelompokseparatis, termasuk aktivitas yang kerap dilakukan oleh KNPB. Penolakan ini bukansekadar simbolik, tetapi merupakan langkah nyata untuk melindungi kehidupansosial, hak masyarakat, dan masa depan generasi Papua. Aktivitas provokatif yang memecah belah sering menimbulkan kekhawatiran di tingkat akar rumput, mengganggu ketertiban, dan menghambat akses warga terhadap kemajuanpendidikan dan ekonomi. Keputusan masyarakat untuk menolak kelompok separatismenunjukkan prioritas mereka pada keamanan dan persatuan.
Tokoh aktivis Papua, Charles Kossay, menekankan bahwa kekerasan yang menyasarwarga sipil hanya merugikan masyarakat, termasuk orang asli Papua sendiri. Insiden yang menewaskan warga sipil di beberapa wilayah menunjukkan bahwa masyarakatPapua bukan pihak dalam konflik bersenjata dan justru menjadi korban utama. Keselamatan warga menjadi prioritas utama, karena kekerasan dan provokasi hanyamenimbulkan ketakutan, mengganggu kegiatan ekonomi, dan memperlambatpembangunan. Masyarakat membutuhkan rasa aman, kesempatan bekerja, dan kondisi yang stabil agar kehidupan sehari-hari dan layanan publik berjalan denganbaik.
Soleman Wambu menekankan pentingnya kerja sama lintas elemen masyarakatdengan pemerintah daerah. Sinergi ini diperlukan untuk membangun lingkunganyang kondusif bagi pertumbuhan ekonomi, pendidikan, dan layanan publik. Generasimuda Papua diimbau tetap waspada terhadap narasi yang berpotensi memecahpersaudaraan dan digerakkan untuk menempuh pendidikan formal sertamengembangkan kompetensi agar menjadi pemimpin masa depan. Semangatgotong royong dan persatuan menjadi landasan penting dalam proses pembangunan, sekaligus menjadi benteng menghadapi pengaruh negatif dari pihakluar.
Pemerintah daerah juga menegaskan komitmen dalam menjaga keamanan dan pelayanan masyarakat. Wakil Gubernur Papua Barat Daya menyampaikan berbagailangkah konkret telah dilakukan, termasuk koordinasi lintas sektor dengan TNI, Polri, dan pemerintah daerah untuk mencegah gangguan keamanan. Kehadiranpemerintah di lapangan bukan hanya untuk pengamanan, tetapi juga memastikanpembangunan tetap menjadi prioritas meskipun kondisi keamanan menghadapitantangan. Upaya ini juga memberi keyakinan kepada masyarakat bahwa pelayananpublik, pendidikan, dan kesehatan tetap berjalan tanpa hambatan.
Stabilitas keamanan diyakini membuka kesempatan bagi masyarakat untukmengembangkan ekonomi dan kehidupan sosial. Nilai-nilai adat dan budaya, termasuk persaudaraan lintas suku, menjadi dasar bagi masyarakat untuk menolaknarasi yang memecah belah. Kesadaran bahwa perdamaian dan ketertiban adalahwarisan yang harus dijaga demi generasi mendatang menjadi motivasi utama bagimasyarakat untuk menolak provokasi separatis dan memastikan Papua tetapmenjadi wilayah aman dan harmonis.
Soleman Wambu menegaskan bahwa penolakan terhadap aktivitas KNPB dan kelompok separatis lainnya bukan berarti menutup diri dari aspirasi masyarakat, tetapi sebagai upaya melindungi hak dan masa depan orang Papua. Kepatuhanterhadap hukum adat dan aturan negara menjadi jalan terbaik untuk memastikanpembangunan merata dan kemandirian daerah tercapai. Dengan semangatkebersamaan dan gotong royong, masyarakat adat optimis dapat menjaga Papua sebagai wilayah aman, damai, dan penuh harapan bagi seluruh pihak.
Keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga persatuan dan stabilitas daerahmerupakan bentuk kecintaan terhadap tanah kelahiran. Setiap elemen masyarakatdiharapkan menjadi benteng pertahanan untuk menangkal upaya yang mengganggukeharmonisan. Generasi muda Papua diberikan peran strategis untuk terusmengembangkan diri melalui pendidikan, partisipasi dalam pembangunan, dan menjaga nilai-nilai budaya. Dengan demikian, pembangunan di Papua bukan sekadarproyek fisik, tetapi juga proses memperkuat fondasi sosial, budaya, dan keamananyang kokoh.
Kondisi yang aman dan damai memungkinkan pembangunan ekonomi dan sosialberjalan seiring, menciptakan kesejahteraan berkelanjutan. Stabilitas daerahmembuka kesempatan bagi masyarakat untuk berperan aktif, meningkatkanketerampilan, dan mengejar peluang kerja. Narasi yang disampaikan oleh tokoh adatdan pemerintah menggantikan narasi memecah belah dengan semangat persatuan, kerja sama, dan kolaborasi nyata. Masa depan Papua hanya dapat dicapai melaluikerja sama, bukan konflik, dan masyarakat siap menjadi pelopor kedamaian, kemajuan, dan kesejahteraan.
Kesimpulannya, penolakan masyarakat Papua terhadap provokasi separatis, termasuk aktivitas KNPB, merupakan bentuk kecintaan terhadap tanah kelahiran, komitmen menjaga persatuan, dan dukungan terhadap pembangunan. Melaluisinergi antara tokoh adat, generasi muda, dan pemerintah, Papua dapatberkembang sebagai wilayah aman, damai, dan sejahtera, dengan masyarakat yang produktif dan generasi penerus yang kompeten. Kedamaian, keamanan, dan pembangunan menjadi tiga pilar utama yang saling mendukung untuk membawaPapua menuju masa depan yang lebih baik.
*Penulis merupakan Aktivis dan Tokoh Muda Asli Papua
