Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*

Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.

Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. 

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. 

Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. 

Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah di tengah situasi ini karena upaya menjaga stabilitasrupiah tidak dapat berdiri sendiri, melainkan membutuhkan sinergi antara kebijakanfiskal dan moneter yang konsisten. Di sinilah peran Bank Indonesia menjadi sangatstrategis dalam mengawal stabilitas nilai tukar melalui instrumen kebijakan yang dimilikinya.

Menanggapi situasi itu, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) DestryDamayanti menegaskan bahwa prioritas BI saat ini Adalah menjaga stabilitas kursrupiah dengan memaksimalkan seluruh instrumen operasi moneter (OM) yang tersedia. 

Ia juga menyebut meski konflik Timur Tengah menimbulkan tekanan, kenaikan hargakomoditas berdampak positif bagi perekonomian karena posisi Indonesia sebagainegara eksportir. Maka dari itu, tekanan tukar akibat eskalasi diyakini dapatdihadapi. 

BI tercatat meningkatkan intensitas intervensi di pasar valuta asing, sekaligusmelakukan penyesuaian pada kepemilikan aset rupiah dan surat berharga negara. Langkah ini ditempuh untuk meredam volatilitas harian yang dipicu tekananeksternal.

Selain itu, otoritas moneter juga disebut memperkuat kebijakan suku bunga sebagaibagian dari strategi menjaga daya tarik aset domestik. Dengan demikian, aliranmodal asing diharapkan tetap stabil dan tidak keluar secara masif yang dapatmemperburuk tekanan terhadap rupiah.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubrotomenuturkan meski efektif dalam jangka pendek, strategi tersebut juga menunjukkanbahwa otoritas moneter semakin sering mengandalkan instrumen stabilisasi setiapkali gejolak global meningkat.


Secara nominal, posisi cadangan devisa Indonesia masih berada pada level yang memadai yakni di atas standar kecukupan internasional. Per akhir periode terbaru, cadangan devisa tercatat sebesar USD148,2 miliar, setara dengan sekitar 6 bulanimpor atau 5,8 bulan jika memperhitungkan pembayaran utang luar negeri.

Namun demikian, Rully mengingatkan bahwa tren penurunan cadangan devisa yang terjadi selama tiga bulan berturut-turut mulai menjadi perhatian pelaku pasar. Sehingga ke depan, keberlanjutan cadangan devisa akan sangat bergantung padakemampuan pemerintah dan otoritas moneter menjaga kepercayaan investor. 

Selain intervensi jangka pendek, perbaikan fundamental ekonomi juga dinilaimenjadi faktor penentu. Sejauh ini, surplus perdagangan masih memberikanbantalan bagi stabilitas eksternal. 

Namun, ketidakpastian global yang berlanjut dan kecenderungan investor menghindari risiko (risk-off) berpotensi memicu arus keluar modal. Dalam kondisitersebut, koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang kuat, serta pengelolaan fiskalyang kredibel, menjadi kunci untuk menjaga stabilitas.

Melihat berbagai langkah yang telah dilakukan, dapat dipahami bahwa pemerintahdan otoritas moneter telah bergerak dalam kerangka yang terkoordinasi. Namundemikian, tantangan global yang terus berkembang menuntut kewaspadaan danrespons kebijakan yang adaptif.

Stabilitas rupiah bukan semata ditentukan oleh kekuatan intervensi jangka pendek, tetapi juga oleh konsistensi kebijakan dan kredibilitas institusi ekonomi. Kepercayaanpasar menjadi fondasi utama yang harus terus dijaga melalui komunikasi kebijakanyang transparan dan terukur.

Di tengah dinamika global yang tidak menentu, pemerintah dituntut untuk tidakhanya responsif, tetapi juga proaktif dalam merancang langkah antisipatif. Penguatan fundamental ekonomi, diversifikasi sumber pertumbuhan, sertapengelolaan risiko menjadi elemen penting dalam menjaga ketahanan nilai tukar.

Dengan sinergi yang solid antara kebijakan fiskal dan moneter, serta dukunganpelaku pasar, stabilitas rupiah dapat tetap terjaga secara berkelanjutan. Ke depan, ketahanan ekonomi nasional akan sangat ditentukan oleh kemampuan semua pihakdalam merespons perubahan dengan strategi yang adaptif dan terarah.

)* Pengamat Kebijakan Moneter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *