Fundamental Ekonomi Indonesia Kuat, Masyarakat Tak Perlu Panik
Oleh: Bhaila Magnanagari *)
Dalam situasi ekonomi global yang penuh ketidakpastian, kekhawatiran publik adalah halyang wajar. Harga pangan, nilai tukar, inflasi, dan pergerakan pasar keuangan memangmenjadi isu yang langsung bersentuhan dengan kehidupan masyarakat. Namun, kekhawatirantidak boleh berkembang menjadi kepanikan. Jika membaca data secara jernih, ekonomiIndonesia saat ini masih berada dalam kondisi yang cukup kuat, terkendali, dan memilikiprospek yang menjanjikan.
Salah satu indikator paling penting adalah inflasi. Pada Mei 2026, inflasi nasional secaratahunan tercatat sebesar 3,08 persen. Angka ini masih berada dalam rentang target pemerintah, yakni 1,5 persen hingga 3,5 persen. Artinya, secara umum laju kenaikan hargamasih terkendali dan belum menunjukkan gejala lonjakan yang membahayakan daya belimasyarakat.
Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian menyampaikan bahwa inflasi nasionalmasih terkendali, meski terdapat beberapa komoditas yang perlu diwaspadai. Ia menyorotikelompok makanan, minuman, tembakau, transportasi, serta informasi, komunikasi, dan jasakeuangan sebagai sektor yang memberi tekanan. Untuk pangan, komoditas seperti cabai danminyak goreng tetap menjadi perhatian pemerintah.
Namun ada kabar baik yang patut dicatat. Beras, sebagai kebutuhan pokok paling pentingbagi mayoritas masyarakat Indonesia, tidak lagi masuk dalam kelompok utama penyumbanginflasi bulanan. Tito Karnavian menilai kondisi ini positif karena beras selama ini kerapmenjadi komoditas yang paling menentukan stabilitas harga nasional. Dengan terkendalinyaharga beras, tekanan terhadap rumah tangga menjadi lebih ringan.
Kepala Badan Pangan Nasional sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, jugamenyampaikan bahwa inflasi beras berhasil dijaga dalam dua tahun terakhir. Pada Mei 2024, inflasi beras sempat berada pada level 3,59 persen. Namun pada Mei 2026, angkanya turunjauh menjadi 0,38 persen. Penurunan ini menunjukkan bahwa intervensi pemerintah dalammenjaga pasokan dan stabilisasi harga pangan mulai memberi hasil nyata.
Pemerintah juga terus memperluas pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) sebagaiinstrumen menjaga daya beli masyarakat. Sejak Januari hingga awal Juni 2026, GPM telahdigelar sebanyak 5.308 kali di 37 provinsi dan lebih dari 350 kabupaten/kota. Program inipenting karena tidak hanya membantu konsumen memperoleh pangan dengan hargaterjangkau, tetapi juga menjaga agar distribusi pangan tetap berjalan di berbagai daerah.
Di sisi pasar keuangan, sinyal positif juga terlihat. Pengamat pasar modal Elandry Pratamamenilai peluang Indonesia untuk tetap bertahan dalam kategori emerging market MSCI masihbesar. Menurutnya, Indonesia memiliki sejumlah keunggulan fundamental, mulai darilikuiditas pasar yang besar, kapitalisasi pasar yang memadai, hingga peran strategis sebagaisalah satu kekuatan ekonomi utama di Asia Tenggara.
Status tersebut penting karena memengaruhi persepsi investor global terhadap pasarIndonesia. Jika status emerging market tetap terjaga, ketidakpastian dapat berkurang dan arusmodal asing berpeluang kembali masuk ke pasar domestik. Dalam ekonomi modern, kepercayaan investor adalah salah satu indikator penting bahwa sebuah negara masihdianggap memiliki prospek pertumbuhan yang sehat.
Optimisme itu juga terlihat dari penguatan Indeks Harga Saham Gabungan dalam beberapawaktu terakhir. Dony Oskaria, Chief Operating Officer Danantara Indonesia, menilaipenguatan IHSG menunjukkan bahwa investor masih percaya terhadap fundamental ekonomiIndonesia dan kinerja perusahaan-perusahaan nasional. Ia menekankan bahwa meskipunsentimen jangka pendek bisa memengaruhi pasar, pada akhirnya investor akan kembalimelihat kekuatan fundamental negara dan perusahaan.
Sinyal lain datang dari pergerakan rupiah. Ekonom Universitas Indonesia dan University of Amsterdam, Josua Pardede, menilai penguatan rupiah mulai memberi ruang optimisme bagisektor riil, termasuk industri otomotif. Rupiah yang lebih kuat dapat membantu menekanbiaya impor komponen, sehingga produsen memiliki ruang untuk menjaga harga tetapkompetitif. Bagi masyarakat, stabilitas ini penting karena dapat menahan tekanan hargabarang konsumsi yang bergantung pada bahan baku impor.
Tentu, optimisme tidak berarti menutup mata terhadap risiko. Beberapa harga komoditasmasih perlu diawasi. Minyak goreng, cabai, bawang merah, dan sejumlah komoditashortikultura tetap membutuhkan pemantauan ketat. Gejolak global juga masih dapatmemengaruhi nilai tukar, arus modal, dan harga energi. Namun, yang perlu digarisbawahiadalah pemerintah memiliki instrumen dan respons kebijakan yang terus berjalan.
Karena itu, narasi bahwa ekonomi Indonesia sedang memburuk secara drastis tidaksepenuhnya sesuai dengan data. Inflasi masih dalam sasaran, harga beras relatif terkendali, gerakan pangan murah terus berjalan, pasar modal tetap menunjukkan kepercayaan, danrupiah mulai memberi sinyal penguatan pada sektor riil.
Masyarakat tentu berhak kritis terhadap kebijakan ekonomi. Namun kritik akan lebih sehatbila dibangun di atas data yang utuh, bukan rasa panik. Dalam situasi global yang tidakmudah, Indonesia tidak sedang berdiri di atas fondasi rapuh. Justru berbagai indikatormenunjukkan bahwa ekonomi nasional tetap memiliki daya tahan.
Pada akhirnya, yang dibutuhkan publik adalah kewaspadaan yang tenang. Pemerintah perluterus menjaga harga pangan, memperkuat koordinasi kebijakan, dan memastikan stabilitasekonomi dirasakan sampai ke rumah tangga. Namun masyarakat juga tidak perlu larut dalamnarasi pesimistis. Dengan inflasi terkendali, pangan utama relatif stabil, pasar keuangan tetapdipercaya, dan fundamental ekonomi yang masih kuat, Indonesia memiliki alasan yang cukupuntuk tetap optimistis.
*) Pemerhati Kebijakan Publik
