Di Tengah Ketidakpastian Global, Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Kuat

Oleh: Winna Nartya *)

Belakangan ini berkembang narasi bahwa perekonomian Indonesia sedang berada dalam kondisiyang mengkhawatirkan. Pelemahan nilai tukar rupiah, dinamika pasar keuangan global, sertaketidakpastian geopolitik internasional sering dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa ekonominasional sedang menuju arah yang negatif. Namun, jika dicermati secara lebih objektif danberbasis data, gambaran tersebut sesungguhnya tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi riilperekonomian Indonesia saat ini.

Dalam ilmu ekonomi, persepsi memang memiliki pengaruh penting terhadap perilaku pasar. Akan tetapi, penilaian terhadap kesehatan ekonomi sebuah negara tidak dapat hanya didasarkan padasatu atau dua indikator yang bersifat jangka pendek. Yang lebih penting adalah melihatfundamental ekonomi secara menyeluruh, mulai dari kondisi fiskal, daya tahan sektor keuangan, tingkat investasi, hingga kemampuan pemerintah menjaga stabilitas ekonomi dalam menghadapitekanan global.

Dalam konteks tersebut, sejumlah indikator justru menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia masihberada pada jalur yang relatif kuat. Ekonom Senior INDEF, Prof. Didik J. Rachbini, menilai bahwakondisi fiskal Indonesia hingga pertengahan 2026 masih berada dalam kategori sehat danterkendali. Salah satu indikator penting adalah defisit anggaran yang hingga Mei 2026 tercatathanya sekitar 0,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Angka tersebut menunjukkan bahwa pemerintah masih mampu menjaga keseimbangan antarapenerimaan dan pengeluaran negara dalam batas yang aman. Di banyak negara berkembang, defisit fiskal yang membengkak sering menjadi sumber ketidakstabilan ekonomi. Namun kondisiIndonesia justru memperlihatkan disiplin fiskal yang tetap terjaga di tengah berbagai program pembangunan yang sedang dijalankan.

Kinerja penerimaan negara juga menunjukkan tren yang menggembirakan. Hingga Mei 2026, pendapatan negara tercatat tumbuh sekitar 19 persen dibandingkan periode yang sama tahunsebelumnya. Penerimaan perpajakan bahkan meningkat sekitar 22 persen secara tahunan, didorong oleh membaiknya aktivitas ekonomi dan penguatan penerimaan dari berbagai sektorproduktif.

Di saat yang sama, penerimaan negara bukan pajak juga mengalami peningkatan yang signifikan. Fakta ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi nasional masih berjalan dengan baik dan mampumenghasilkan sumber-sumber penerimaan yang mendukung keberlanjutan pembangunan.

Narasi bahwa Indonesia semakin bergantung pada utang luar negeri juga tidak sepenuhnyasesuai dengan data yang tersedia. Ekonom Myrdal Gunarto mencatat bahwa pertumbuhan utangluar negeri Indonesia hingga April 2026 hanya sekitar 1,9 persen secara tahunan. Dengan total utang luar negeri sekitar 439,8 miliar dolar Amerika Serikat, posisi Indonesia masih tergolongmoderat dibandingkan banyak negara berkembang lainnya. Pertumbuhan utang yang relatifrendah menunjukkan bahwa pemerintah maupun sektor swasta tidak mengandalkan pembiayaaneksternal secara berlebihan. 

Selain faktor fiskal dan utang, indikator lain yang patut diperhatikan adalah kepercayaan investor. Dalam beberapa waktu terakhir muncul narasi bahwa investor asing mulai meninggalkanIndonesia. Namun fakta di lapangan justru menunjukkan hal yang berbeda. KeberhasilanDanantara Investment Management menerbitkan obligasi global senilai 1,5 miliar dolar Amerika Serikat dengan tingkat permintaan yang tinggi menunjukkan bahwa Indonesia masih dipandangmenarik oleh investor internasional. Akademisi Universitas Esa Unggul, Iswadi, bahkan menilaikeberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa pasar global masih memiliki keyakinan terhadapprospek ekonomi Indonesia.

Dengan kata lain, narasi “Sell Indonesia” yang sering muncul dalam perdebatan publik tidakmemperoleh dukungan kuat dari perilaku investor global. Yang terjadi justru sebaliknya, yaitu tetaptingginya minat terhadap berbagai instrumen investasi yang terkait dengan Indonesia.

Di sisi lain, pemerintah juga tidak tinggal diam menghadapi tantangan global yang masihberlangsung. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa pemerintah telahmenyiapkan berbagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligusmelindungi daya beli masyarakat. Langkah tersebut mencakup pengendalian harga pangan, menjaga stabilitas harga BBM bersubsidi, memastikan stok energi dan beras nasional tetap aman, memperkuat disiplin fiskal, hingga meningkatkan efektivitas belanja negara. Pemerintah jugamemperkuat sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter agar respons terhadap dinamika ekonomiglobal menjadi lebih terintegrasi.

Tidak hanya itu, berbagai stimulus yang menyentuh langsung masyarakat juga terus digulirkan. Mulai dari bantuan pangan, diskon transportasi, dukungan sektor perumahan, hingga program magang dan vokasi yang bertujuan memperluas kesempatan kerja. Kebijakan semacam inimenunjukkan bahwa fokus pemerintah bukan hanya menjaga angka-angka makroekonomi, tetapijuga memastikan manfaat pertumbuhan dapat dirasakan oleh masyarakat luas.

Pada sektor pangan, pemerintah terus memperluas pelaksanaan Gerakan Pangan Murah gunamenjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat. Keberhasilan mengendalikan inflasi panganmenjadi salah satu faktor penting yang membuat tekanan ekonomi global tidak sepenuhnyaditeruskan kepada rumah tangga Indonesia.

Masyarakat tidak perlu terjebak dalam pesimisme yang berlebihan. Fundamental fiskal yang sehat, penerimaan negara yang meningkat, posisi utang yang moderat, kepercayaan investor yang tetap terjaga, serta berbagai langkah antisipatif pemerintah menjadi modal penting bagiIndonesia untuk terus bertumbuh di tengah ketidakpastian global. Dengan fondasi ekonomi yang masih kuat dan koordinasi kebijakan yang terus diperkuat, Indonesia memiliki kapasitas yang memadai untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus melanjutkan agenda pembangunan nasionalsecara berkelanjutan.

*) Pemerhati Ekonomi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *