Program Taruna Akmil di Sekolah Rakyat Fokus Cegah Perundungan dan Bangun Kemandirian
*) Oleh : Gavin Asadit
Pemerintah terus memperkuat desain pembangunan sumber daya manusia melaluipendekatan yang tidak hanya menekankan akses pendidikan, tetapi juga pembentukan karakter dan lingkungan belajar yang sehat. Dalam pengembanganSekolah Rakyat sebagai salah satu program prioritas sosial, pemerintah mulaimemperluas pendekatan pendidikan berasrama dengan menambahkan penguatanpendampingan karakter bagi peserta didik. Salah satu langkah terbaru yang dijalankan pada 2026 adalah pelibatan taruna Akademi Militer (Akmil) untukmendampingi siswa Sekolah Rakyat dalam proses adaptasi kehidupan berasrama, pembentukan kemandirian, serta pencegahan perundungan. Pemerintah menilaibahwa pendidikan yang efektif tidak cukup hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga harus membangun lingkungan yang aman, tertib, dan mendukungperkembangan karakter peserta didik.
Program pendampingan tersebut menjadi bagian dari penguatan ekosistem SekolahRakyat yang dirancang untuk menjangkau kelompok masyarakat rentan dan memperluas kesempatan pendidikan yang lebih setara. Dalam pelaksanaannya, sekitar 1.000 taruna Akmil tingkat I dan II diterjunkan untuk mendampingi siswa di 178 titik Sekolah Rakyat di berbagai daerah. Pendampingan dijadwalkan berlangsungselama lima hari pada periode 3 – 8 Agustus 2026 dengan pendekatan berbasiskehidupan asrama dan pembiasaan karakter sehari-hari. Pemerintah menegaskanbahwa kehadiran para taruna bukan untuk mengambil alih fungsi guru atau mengubahorientasi pendidikan, melainkan membantu siswa membangun kemampuan adaptasidan kemandirian sejak awal memasuki lingkungan baru.
Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo Priyono menjelaskan bahwa pelibatan tarunadilakukan berdasarkan pengalaman mereka dalam menjalani sistem kehidupanberasrama yang disiplin dan terstruktur. Menurutnya, pengalaman tersebut relevanuntuk membantu siswa Sekolah Rakyat yang sebagian besar akan menjalani polapendidikan berbasis asrama dan membutuhkan proses penyesuaian sosial. Pemerintah melihat masa awal adaptasi menjadi fase penting karena kemampuansiswa untuk merasa aman dan nyaman akan sangat memengaruhi proses belajardalam jangka panjang. Karena itu, pendampingan difokuskan pada pembentukankebiasaan positif yang sederhana tetapi memiliki dampak besar terhadapperkembangan karakter anak.
Dalam praktiknya, materi pendampingan tidak diarahkan pada pelatihan militerataupun kegiatan akademik formal. Taruna akan membimbing siswa dalam berbagaiaktivitas keseharian seperti menata tempat tidur, merapikan lemari, menjagakebersihan diri, menyetrika pakaian, mengatur perlengkapan pribadi, sertamembangun kebiasaan hidup yang tertib dan mandiri. Pemerintah memandangpembentukan kebiasaan tersebut sebagai bagian penting dari pendidikan karakteryang selama ini sering kali belum memperoleh ruang yang cukup dalam sistempembelajaran konvensional. Pendekatan ini juga diharapkan dapat mempercepatproses adaptasi siswa yang tinggal jauh dari keluarga agar tetap merasa nyamanmenjalani kehidupan berasrama.
Selain membangun kemandirian, salah satu tujuan utama program ini adalahmenciptakan lingkungan pendidikan yang bebas dari perundungan. Pemerintahmenilai pencegahan kekerasan di lingkungan pendidikan harus dimulai sejak awalpembentukan budaya sekolah. Karena itu, para taruna juga diberikan peran untukmelakukan pembinaan preventif agar tidak muncul praktik senioritas, intimidasi, maupun bentuk perundungan lain yang dapat mengganggu proses tumbuh kembangpeserta didik. Pendekatan ini dipilih karena pemerintah ingin memastikan bahwakehidupan berasrama menjadi ruang pembelajaran sosial yang positif, bukan sumbertekanan psikologis bagi siswa.
Menteri Sosial, Saifullah Yusuf sebelumnya juga menekankan bahwa Sekolah Rakyat dibangun bukan hanya untuk memperluas akses pendidikan, tetapi menjadi instrumenmobilitas sosial yang mampu membantu anak-anak dari keluarga kurang mampumemperoleh kesempatan berkembang secara lebih optimal. Dalam kerangkatersebut, penguatan karakter dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan daripenguatan kualitas pendidikan. Pemerintah ingin memastikan bahwa siswa tidakhanya memperoleh fasilitas belajar, tetapi juga tumbuh dalam lingkungan yang mampu membentuk kepercayaan diri, kedisiplinan, kemampuan hidup mandiri, dan kesiapan menghadapi masa depan.
Program pendampingan taruna juga memiliki landasan kebijakan yang terhubungdengan agenda pengentasan kemiskinan dan pembangunan manusia. Pemerintahmenempatkan Sekolah Rakyat sebagai bagian dari pelaksanaan Instruksi PresidenNomor 8 Tahun 2025 tentang optimalisasi pengentasan kemiskinan dan penghapusankemiskinan ekstrem. Dalam konteks tersebut, pendidikan dipandang sebagaiinstrumen strategis untuk membuka kesempatan yang lebih luas bagi kelompokrentan sekaligus memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia dalam jangkapanjang.
Dari sisi pendidikan karakter, keterlibatan unsur pendamping yang memilikipengalaman hidup kolektif dan disiplin juga dinilai dapat memperkaya metodepembelajaran di luar ruang kelas. Pemerintah menilai bahwa pembentukan karaktermembutuhkan teladan dan pengalaman langsung yang dapat diterapkan dalamkeseharian siswa. Karena itu, program pendampingan dirancang berlangsung secaraintensif dan dekat dengan aktivitas sehari-hari siswa agar proses pembelajaranberlangsung lebih natural dan efektif.
Pelibatan taruna Akmil dalam Sekolah Rakyat menunjukkan arah baru pembangunanpendidikan yang semakin menekankan keseimbangan antara penguatan akademikdan pembentukan karakter. Pemerintah optimistis bahwa lingkungan belajar yang aman, bebas perundungan, dan mendukung kemandirian akan memberikan dampakpositif terhadap perkembangan peserta didik. Melalui kolaborasi lintas sektor antarapendidikan, sosial, dan pembinaan karakter, Sekolah Rakyat diharapkan tidak hanyamenjadi ruang belajar, tetapi juga menjadi tempat tumbuh bagi generasi yang lebihpercaya diri, mandiri, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
)* Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial dan Kemasyarakatan
