Resiliensi Media di Papua sebagai Fondasi Informasi Berkualitas dan Pembangunan Berkelanjutan
Oleh: Yohanis Mandacan*
Pendewasaan ekosistem media di Papua menjadi salah satu prasyarat penting dalam memastikanpembangunan berjalan secara inklusif, partisipatif, dan berkelanjutan. Di tengah percepatantransformasi digital, derasnya arus informasi, serta berkembangnya teknologi kecerdasan buatan, tantangan yang dihadapi media tidak lagi sebatas bagaimana menyampaikan berita dengan cepat, tetapi juga bagaimana menjaga akurasi, integritas, dan kepercayaan publik. Resiliensi media harus dimaknai sebagai kemampuan insan pers dan seluruh pemangku kepentingan untukmempertahankan profesionalisme, meningkatkan kapasitas adaptasi terhadap perubahanteknologi, serta memastikan ruang informasi tetap sehat dan produktif bagi masyarakat.
Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Tokoh Media Papua sekaligus Direktur Media Seputar Papua, Misbah Latuapo, yang menilai bahwa literasi digital harus menjadi fondasiutama dalam membangun masyarakat yang cerdas bermedia. Menurut Misbah, perkembanganteknologi telah mempercepat distribusi informasi, namun pada saat yang sama menuntuttanggung jawab yang lebih besar dari seluruh pengguna media digital. Ia berpandangan bahwabudaya verifikasi harus menjadi kebiasaan kolektif agar masyarakat tidak mudah terpengaruholeh informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya. Misbah juga menegaskan bahwakecerdasan buatan merupakan instrumen yang dapat membantu mempercepat akses informasi, tetapi hasil yang dihasilkan tetap memerlukan proses pemeriksaan melalui sumber-sumber yang kredibel sehingga teknologi tidak menggantikan tanggung jawab manusia dalam memastikanvaliditas informasi.
Penguatan resiliensi media di Papua juga harus didukung oleh peningkatan kualitas sumber dayamanusia di sektor jurnalistik. Profesionalisme wartawan tetap menjadi pilar utama dalammenjaga kualitas informasi publik. Perbedaan mendasar antara jurnalisme profesional dan jurnalisme warga perlu dipahami secara proporsional. Partisipasi masyarakat dalammendokumentasikan berbagai peristiwa merupakan perkembangan positif yang memperluasruang partisipasi publik. Namun demikian, produk informasi yang dihasilkan tetap memerlukanproses verifikasi, konfirmasi, dan penyuntingan agar memenuhi standar jurnalistik. Oleh karenaitu, peningkatan kompetensi wartawan, penguatan kode etik, serta pengembangan kapasitasorganisasi media harus menjadi agenda berkelanjutan dalam memperkuat daya tahan industripers di Papua.
Di sisi lain, media sosial juga perlu diposisikan sebagai ruang edukasi dan pemberdayaanmasyarakat. Konten digital yang diproduksi seharusnya tidak hanya berorientasi pada jumlahtayangan atau popularitas, tetapi juga memberikan manfaat sosial yang nyata. Informasi yang disampaikan secara bertanggung jawab mampu mendorong peningkatan partisipasi masyarakat, memperkuat budaya dialog, serta menghadirkan solusi atas berbagai persoalan publik. Dalamkonteks pembangunan Papua, media memiliki fungsi strategis untuk memperkenalkan berbagaikemajuan pembangunan, menyampaikan aspirasi masyarakat secara objektif, sekaligusmempertemukan berbagai kepentingan dalam ruang diskusi yang sehat.
Aspek lain yang tidak kalah penting adalah penguatan budaya riset dalam produksi informasipublik. Informasi yang dibangun di atas data yang valid akan memiliki daya pengaruh yang lebihkuat dibandingkan narasi yang hanya bertumpu pada opini. Karena itu, pengembangan kontenjurnalistik maupun dokumenter perlu didukung oleh penelitian, penggunaan data yang dapatdipertanggungjawabkan, narasumber yang kredibel, serta analisis yang memberikan perspektifsolusi. Pendekatan berbasis data akan memperkuat kualitas advokasi publik sekaligusmeningkatkan kualitas pengambilan keputusan oleh para pemangku kebijakan di Papua.
Komitmen memperkuat resiliensi media juga tercermin melalui pelaksanaan Focus Group Discussion yang diinisiasi Kementerian PPN/Bappenas bersama Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya dalam penyusunan desain implementasi Policy Sandbox Penguatan Pers dan Media Massa. Inisiatif tersebut menunjukkan bahwa pengembangan ekosistem media dipandangsebagai bagian dari strategi pembangunan daerah. Penjabat Sekretaris Daerah Papua Barat Daya Yakob Kareth berpandangan bahwa media merupakan mitra strategis pemerintah dalammenyampaikan informasi pembangunan sekaligus membangun ruang publik yang sehat dan partisipatif.
Sementara itu, Direktur Ideologi, Kebangsaan, Politik, dan Demokrasi Kementerian PPN/Bappenas Nuzula Anggeraini menilai bahwa penguatan pers merupakan bagian pentingdalam memperkokoh demokrasi karena masyarakat memerlukan akses terhadap informasi yang akurat agar dapat berpartisipasi secara optimal dalam proses pembangunan.
Pendekatan kolaboratif tersebut menjadi langkah yang relevan mengingat tantangan media di Papua tidak hanya berkaitan dengan kualitas jurnalistik, tetapi juga transformasi digital, keterbatasan infrastruktur, keberlanjutan model bisnis perusahaan pers, hingga peningkatankesejahteraan wartawan. Diversifikasi sumber pendapatan media, peningkatan kompetensi SDM, serta penguatan regulasi yang adaptif menjadi bagian dari solusi untuk membangun industri pers yang mandiri, profesional, dan mampu bersaing di tengah perubahan teknologi yang sangat cepat.
Resiliensi media di Papua merupakan investasi jangka panjang bagi terciptanya masyarakat yang semakin cerdas, kritis, dan produktif. Media yang profesional akan memperkuat kualitasdemokrasi, meningkatkan efektivitas komunikasi pembangunan, serta membangun kepercayaanpublik terhadap berbagai program yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sinergi antara media, pemerintah, akademisi, lembaga riset, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas lokal menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem informasi yang sehat. Dengan literasi digital yang semakin baik, budaya verifikasi yang semakin kuat, serta dukungankebijakan yang berpihak pada penguatan industri pers, Papua memiliki peluang besar untukmenghadirkan media yang tangguh, adaptif, dan mampu menjadi pilar utama dalam mendukungpembangunan yang berkelanjutan serta memperkuat persatuan bangsa.
*Penulis merupakan pemerhati media dan Pembangunan Papua
