MBG Menggerakkan Ekonomi Daerah: Dari Piring Anak ke Pasar Petani
Oleh: Rangkai Ahmad Yusuf
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama ini lebih banyak dibicarakan dari perspektifpemenuhan gizi, kualitas sumber daya manusia, dan besarnya anggaran negara. Perspektiftersebut tentu penting. Namun, ada dimensi lain yang mulai terlihat semakin nyata. MBG berpotensi menjadi mesin penggerak ekonomi daerah melalui penciptaan permintaan pangandalam skala besar dan berkelanjutan.
Dalam teori kebijakan publik, belanja pemerintah memiliki nilai strategis ketika mampumenghasilkan manfaat berlapis. Satu rupiah yang dibelanjakan negara idealnya tidak berhentipada satu tujuan administratif, tetapi menciptakan multiplier effect terhadap produksi, kesempatan kerja, pendapatan masyarakat, dan aktivitas ekonomi lainnya.
MBG mempunyai karakter yang memungkinkan efek pengganda tersebut terjadi. Setiap hari, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) membutuhkan beras, telur, ayam, ikan, sayuran, buah, dan berbagai bahan pangan lainnya. Kebutuhan yang berlangsung terus-menerus inipada dasarnya menciptakan sesuatu yang sangat dibutuhkan produsen pangan adalahkepastian pasar.
Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Budiman Sudjatmikomenangkap dimensi tersebut ketika mengatakan bahwa MBG perlu memastikan petani, UMKM, BUMDes, koperasi, hingga masyarakat miskin di sekitar lokasi program ikutmemperoleh manfaat. Konsep MBG 80 persen menggunakan produk wilayah setempat. Pihaknya ingin memastikan masyarakat miskin ikut dan tidak tertinggal dari kemanfaatanprogram nasional tersebut.
Di sinilah integrasi MBG dengan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) menjadistrategis. Persoalan klasik produsen kecil di Indonesia sering kali bukan sekadar kemampuanmemproduksi, tetapi akses terhadap pasar yang stabil. Petani dapat menghasilkan sayuran, peternak menghasilkan telur dan ayam, tetapi mereka membutuhkan agregator yang mampumenghubungkan produksi skala kecil dengan permintaan besar secara konsisten.
Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian juga melihat MBG sebagai instrumenyang dapat membantu pembangunan daerah. Menurut Tito, manfaatnya bukan hanyamenekan stunting dan kemiskinan serta memperbaiki kualitas sumber daya manusia. Permintaan pangan dari MBG juga dapat membantu daerah menyerap komoditas masyarakat.
Mekanisme semacam ini menarik karena MBG berpotensi menciptakan automatic demandterhadap komoditas pangan. Ketika produksi telur, ayam, ikan, atau sayuran meningkatsementara pasar melemah, kebutuhan SPPG dapat menjadi salah satu sumber permintaanyang membantu menyerap produksi.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro melihat belanja yang diturunkan melaluiprogram pemerintah seperti MBG dan Koperasi Desa Merah Putih ikut berkontribusiterhadap kinerja investasi. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) pada kuartal II-2026 tercatat tumbuh 6,67 persen secara tahunan dan memberikan kontribusi 2,06 poin persentaseterhadap pertumbuhan ekonomi, meningkat dibandingkan 1,79 poin persentase pada kuartalsebelumnya.
Angka tersebut menunjukkan belanja sosial tidak selalu identik dengan konsumsi semata. Jika desain kebijakannya tepat, permintaan yang diciptakan pemerintah dapat memicuinvestasi baru. SPPG membutuhkan bangunan dan peralatan. Distribusi membutuhkankendaraan. Peternak yang memperoleh kepastian pembeli memiliki insentif memperbesarkapasitas. Pedagang pangan membutuhkan gudang. Koperasi memerlukan fasilitaspenyimpanan dan logistik. Dengan kata lain, satu piring MBG sesungguhnya mempunyairantai ekonomi yang jauh lebih panjang daripada yang terlihat.
Pemerhati isu strategis Safriady menggambarkannya secara tepat dimana uang negara tidakhanya menghasilkan makanan di atas meja anak sekolah, tetapi juga menghidupkan kandangayam, gudang pakan, koperasi, transportasi, tenaga kerja dan perdagangan lokal.
Dari perspektif pembangunan, MBG karena itu mempunyai peluang menghasilkan dua dividen sekaligus. Dividen pertama adalah human capital dividend. Anak yang memperolehasupan gizi lebih baik memiliki fondasi kesehatan dan kemampuan belajar yang lebih baik. Dalam jangka panjang, kualitas manusia merupakan salah satu faktor paling menentukanproduktivitas sebuah negara.
Dividen kedua adalah local economic dividend. Pengadaan pangan menciptakan permintaan, permintaan mendorong produksi, produksi menciptakan pekerjaan dan pendapatan, sementara pendapatan kembali berputar menjadi konsumsi dan investasi di daerah.
Tentu potensi tersebut tidak terjadi secara otomatis. Pemerintah harus memastikan rantaipasok lokal benar-benar kompetitif, transparan dan memenuhi standar keamanan pangan. Jangan sampai semangat membeli produk lokal mengorbankan kualitas, atau sebaliknya, standar pengadaan justru terlalu rumit sehingga petani dan UMKM lokal tidak mampumasuk.
Karena itu, agenda berikutnya bukan sekadar memperluas MBG, tetapi membangunekosistem ekonomi MBG, memetakan komoditas unggulan setiap daerah, menghubungkanprodusen dengan KDKMP dan SPPG, memperkuat kapasitas UMKM pangan, membangunlogistik, serta memastikan pembayaran kepada pemasok berjalan cepat dan transparan.
Ukuran keberhasilan MBG tidak semestinya hanya berapa juta porsi makanan yang dibagikan. Kita juga perlu menghitung berapa banyak telur peternak lokal terserap, berapaton sayuran petani dibeli, berapa UMKM memperoleh pasar baru, berapa lapangan kerjatercipta, dan berapa besar uang negara yang kembali berputar di desa.
Jika rantai tersebut dapat dibangun secara konsisten, MBG akan memiliki maknapembangunan yang jauh lebih besar. Di hilir, anak Indonesia memperoleh makanan bergizi. Di hulu, petani, peternak, nelayan, koperasi dan UMKM memperoleh pasar. Di tengahnya, pekerjaan, investasi, dan aktivitas ekonomi tumbuh. MBG dapat berkembang dari program pemenuhan gizi menjadi salah satu instrumen penggerak ekonomi daerah, membangunmanusia sekaligus menghidupkan ekonomi dari desa.
*) Pemerhati Kebijakan Publik
