Pemuda yang Membaca, Meneliti, dan Berdiskusi adalah Modal DemokrasiDewasa

Oleh: Dwi Saputri)*

Demokrasi yang dewasa tidak cukup hanya diukur dari terselenggaranya pemiluatau tingginya partisipasi masyarakat dalam memberikan suara. Demokrasi juga membutuhkan warga yang mampu memahami persoalan, menguji informasi, menyampaikan pendapat, dan terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Dalamkonteks ini, generasi muda memiliki posisi strategis. Mereka bukan sekadarkelompok yang akan menerima dampak kebijakan hari ini, tetapi bagian penting darikekuatan yang menentukan arah bangsa pada masa depan.

Ketua Umum PP Singa Muda Hanura Abraham mengatakan generasi muda tidakboleh hanya ditempatkan sebagai objek dalam pembangunan maupun politik. Anak muda harus diberikan ruang untuk ikut menentukan arah bangsa. Pandangan inipenting karena keterlibatan pemuda tidak semestinya berhenti pada mobilisasiketika momentum politik tiba. Pemuda perlu hadir sebagai subjek yang memilikigagasan, memahami persoalan, dan mampu memberikan kontribusi nyata terhadapkebijakan publik.

Ruang tersebut juga perlu dibuka melalui partai politik. Sekjen EN-LMND RiskiOktari Putra menekankan pentingnya partai politik membuka ruang yang lebih luasbagi anak muda. Partai politik juga dinilai perlu lebih aktif menyosialisasikan dan mendistribusikan gagasan kepada masyarakat. Dengan demikian, komunikasi politiktidak hanya berlangsung menjelang pemilu, tetapi menjadi proses yang terusberjalan antara partai, masyarakat, dan kelompok pemuda.

Komunikasi politik yang terbuka akan membuat masyarakat lebih memahamigagasan dan program politik, bukan sekadar hadir sebagai pemilih ketika pemiluberlangsung. Bagi generasi muda, ruang komunikasi semacam ini penting untukmembangun tradisi politik yang berbasis pengetahuan. Pemuda dapat menilaigagasan berdasarkan substansi, membandingkan program, serta menyampaikankritik terhadap kebijakan tanpa harus terjebak pada fanatisme politik.

Demokrasi pada dasarnya membutuhkan perbedaan pandangan. Karena itu, kebebasan berpikir dan menyampaikan pendapat harus tetap dijaga bersamaandengan komitmen terhadap persatuan nasional. Kelompok Pemuda CendekiaPriangan Timur menegaskan komitmennya menjaga persatuan nasional tanpamengorbankan kebebasan berpikir dan menyampaikan pendapat. Sikap tersebutmenunjukkan bahwa persatuan tidak harus berarti keseragaman.

Perbedaan pandangan politik merupakan sesuatu yang wajar dalam demokrasi. Yang perlu ditolak adalah cara-cara yang merusak kehidupan demokratis, sepertiprovokasi, kekerasan, politik kebencian, disinformasi, serta upaya memecahmasyarakat berdasarkan identitas politik maupun kelompok. Di tengah derasnyaarus informasi digital, tantangan tersebut semakin nyata karena sebuah informasidapat menyebar luas sebelum kebenarannya sempat diperiksa.

Karena itu, budaya intelektual harus diperkuat sejak generasi muda. Pemuda Cendekia Priangan Timur mengajak para pemuda membangun kebiasaanmembaca, meneliti, berdiskusi, menyampaikan kritik, hingga menawarkan solusi. Kebiasaan tersebut bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan modal pentinguntuk membentuk warga negara yang mampu mengambil keputusan secararasional.

Membaca memperluas wawasan dan membantu pemuda melihat sebuah persoalandari berbagai sudut pandang. Meneliti mengajarkan pentingnya data dan buktisebelum menarik kesimpulan. Berdiskusi melatih kemampuan mendengar sekaligusmempertahankan argumentasi. Sementara kritik dan tawaran solusi membuatpemuda tidak berhenti sebagai pihak yang menunjukkan kesalahan, tetapi ikutmemikirkan jalan keluar.

Demokrasi juga tidak akan berkembang apabila masyarakat hanya diminta menjagaketertiban tanpa diberikan ruang untuk berpikir dan menyampaikan pendapat. Kelompok Aliansi Intelektual Muda Nusantara menilai persoalan kebangsaan tidakcukup dijawab hanya dengan seruan menjaga ketertiban dan persatuan. Demokrasimembutuhkan masyarakat yang berani berpikir, menyampaikan pendapat, sekaligusbertanggung jawab atas setiap sikap dan pernyataannya.

Kebebasan menyampaikan pendapat dan kritik merupakan bagian fundamental daridemokrasi. Namun, kebebasan tersebut harus berjalan bersama tanggung jawab. Masyarakat, mahasiswa, dan pemuda perlu menyampaikan aspirasi secara damai, rasional, dan berbasis data. Kritik yang disampaikan dengan argumentasi dan buktiakan jauh lebih bermanfaat dibandingkan kritik yang dibangun dari kemarahan atauinformasi yang belum terverifikasi.

Di sinilah kehati-hatian dalam menerima informasi menjadi penting. Generasi mudaperlu membangun kebiasaan untuk tidak langsung mempercayai setiap informasiyang beredar. Sumber informasi perlu diperiksa, data perlu dibandingkan, dan konteks perlu dipahami sebelum sebuah pernyataan disebarluaskan. Sikap kritisbukan berarti selalu menolak informasi, melainkan memiliki kemampuan untukmenguji apakah informasi tersebut layak dipercaya.

Tradisi intelektual semacam ini juga dapat menjadi penangkal polarisasi. Pemuda yang terbiasa membaca dan berdiskusi tidak mudah melihat perbedaan sebagaipermusuhan. Mereka belajar bahwa satu persoalan dapat memiliki lebih dari satusudut pandang dan bahwa sebuah gagasan dapat dikritik tanpa harus merendahkanorang yang menyampaikannya.

Demokrasi yang dewasa membutuhkan pemuda yang tidak hanya aktif bersuara, tetapi juga memiliki pengetahuan sebelum bersuara. Pemuda perlu diberi ruanguntuk membaca persoalan, melakukan penelitian, berdiskusi, menyampaikan kritik, dan menawarkan solusi. Partai politik, organisasi masyarakat, kampus, dan berbagairuang publik perlu menjadi tempat tumbuhnya kebiasaan tersebut.

Membangun demokrasi yang dewasa bukan hanya soal memastikan suaramasyarakat terdengar, tetapi juga memastikan suara tersebut lahir daripengetahuan, pertimbangan yang rasional, dan tanggung jawab. Di tangan generasimuda yang mau membaca, meneliti, dan berdiskusi, demokrasi dapat tumbuh bukansekadar sebagai mekanisme memilih pemimpin, melainkan sebagai budayakehidupan berbangsa yang sehat, kritis, dan matang.

)* Pemerhati isu sosial-ekonomi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *