LENSA SR Menjadi Benteng Informasi Sekolah Rakyat dari Hoaks Digital

Oleh Firly Ismail )*

Transformasi digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh, mengolah, dan menyebarkan informasi. Di tengah arus informasi yang bergerak begitu cepat, persoalan utama bukan lagi sekadar ketersediaan informasi, melainkan bagaimana memastikan informasi tersebut benar, terverifikasi, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan. Kondisi ini menjadi semakin penting ketika informasi menyangkut program pemerintah yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, termasuk Sekolah Rakyat. Kehadiran Layanan Ekosistem Narasi Sekolah Rakyat yang Adaptif atau LENSA SR yang diluncurkan Kementerian Sosial menjadi langkah strategis untuk membangun benteng informasi sekaligus memperkuat tata kelola komunikasi publik di tengah ancaman hoaks digital.

Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Komunikasi dan Media Massa Fatkhurohman Taufik menilai LENSA SR dapat menjadi instrumen untuk mengintegrasikan seluruh informasi mengenai Sekolah Rakyat dari tingkat pusat hingga daerah. Integrasi tersebut penting agar masyarakat memperoleh informasi yang valid dan cepat sekaligus memiliki perlindungan dari narasi hoaks yang beredar di media sosial. Dengan adanya sistem komunikasi yang terkoordinasi, potensi munculnya perbedaan informasi antarlembaga atau antarwilayah dapat ditekan. Publik pun memiliki rujukan yang lebih jelas ketika menemukan informasi yang meragukan.

Kekuatan LENSA SR terletak pada pendekatan yang tidak berhenti pada aktivitas publikasi. Kanal tersebut dirancang untuk mengelola informasi sekaligus menghimpun berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat. Laporan dari Command Center 171, portal SP4N-LAPOR!, pemberitaan media massa, maupun percakapan di ruang digital dapat menjadi sumber untuk membaca isu secara lebih komprehensif. Aduan dan informasi tersebut kemudian melalui enam tahapan kurasi internal di tingkat pusat. Proses tersebut mencakup validasi data kepada unit teknis, penyusunan rekomendasi respons, hingga penyampaian jawaban resmi kepada publik.

Di tengah kemunculan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence, tantangan informasi menjadi semakin kompleks. Masyarakat kini dapat menemukan teks, gambar, suara, hingga video yang tampak meyakinkan, tetapi belum tentu memiliki dasar informasi yang benar. Sekretaris Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian Sulawesi Selatan Sultan Rakib mengingatkan bahwa masyarakat tidak boleh menerima begitu saja informasi yang dihasilkan teknologi AI. Verifikasi mandiri tetap diperlukan karena AI bekerja dengan mengolah data yang tersedia di internet, termasuk data yang mungkin mengandung bias ataupun hoaks yang telah beredar sebelumnya.

Peringatan tersebut relevan dengan pengelolaan informasi Sekolah Rakyat. Teknologi dapat membantu mempercepat produksi dan distribusi informasi, tetapi tidak dapat menggantikan tanggung jawab manusia dalam memastikan kebenaran sebuah informasi. Kecepatan tanpa verifikasi justru dapat memperbesar dampak kesalahan. Karena itu, penggunaan teknologi dalam komunikasi publik harus selalu ditempatkan dalam kerangka kehati-hatian, transparansi, dan tanggung jawab.

Sekretaris Jenderal Kementerian Sosial Robben Rico juga memandang LENSA SR perlu dikembangkan secara berkelanjutan sebagai bagian dari tata kelola komunikasi publik Sekolah Rakyat. Pengembangannya dapat mencakup pelembagaan Forum Isu Mingguan, konsolidasi berbagai isu, aduan, pemberitaan, media sosial, serta informasi lapangan dalam bentuk matriks atau dashboard. Pembaruan FAQ dan bank narasi berdasarkan hasil pengolahan isu juga menjadi bagian penting agar pemerintah memiliki kesiapan dalam menjawab persoalan yang berulang maupun isu baru yang berkembang cepat.

LENSA SR memiliki peluang untuk menjadi model tata kelola informasi bagi berbagai program Kementerian Sosial. Dengan sistem yang terintegrasi, masyarakat tidak harus mencari informasi dari banyak sumber yang belum tentu memiliki tingkat akurasi yang sama. Pemerintah dapat menghadirkan satu ekosistem informasi yang mudah diakses, responsif, dan memiliki mekanisme verifikasi yang jelas.

Namun, keberhasilan LENSA SR tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan sistem internal pemerintah. Literasi digital masyarakat tetap menjadi faktor penting. Publik perlu membangun kebiasaan memeriksa sumber, membandingkan informasi, membaca konteks secara utuh, serta tidak terburu-buru membagikan konten yang belum terverifikasi. Pemerintah dan masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi dalam menciptakan ruang digital yang sehat.

Untuk Sekolah Rakyat, kebutuhan terhadap informasi yang akurat memiliki konsekuensi yang lebih besar karena program ini berkaitan dengan anak dan keluarga rentan. Kesalahan informasi bukan hanya dapat menimbulkan kebingungan, tetapi juga berpotensi memengaruhi persepsi masyarakat terhadap penerima manfaat. Oleh karena itu, komunikasi publik harus mengedepankan prinsip kehati-hatian, menjaga keamanan data, serta menghormati martabat anak dan keluarga yang dilayani.

LENSA SR dengan demikian bukan sekadar kanal komunikasi baru. Jika dikelola secara konsisten, sistem ini dapat menjadi benteng informasi yang mempertemukan kecepatan, verifikasi, koordinasi, dan kebutuhan masyarakat dalam satu ekosistem. Di tengah derasnya arus hoaks dan perkembangan AI, kekuatan utama pemerintah bukan sekadar kemampuan berbicara lebih cepat, melainkan kemampuan memastikan bahwa setiap informasi yang disampaikan benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Sekolah Rakyat membutuhkan ekosistem informasi seperti itu agar kepercayaan publik tumbuh seiring dengan pelaksanaan program. Sebab perang melawan hoaks bukan hanya perang teknologi, tetapi juga perang melawan ketidakpedulian terhadap kebenaran. LENSA SR dapat menjadi salah satu fondasi penting untuk memenangkan pertarungan tersebut.

)* Penulis Merupakan Pengamat Kebijakan Teknologi Informasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *