Papeda Summit 2026 dan Harapan Baru bagi Masa Depan Tanah Papua

Oleh : Loa Murib Papeda Summit 2026 menjadi momentum penting untuk menegaskan bahwa pembangunan di Tanah Papua tidak hanya diukur melalui pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik. Lebihdari itu, pembangunan harus mampu menjaga keseimbangan antara kemajuan ekonomi, kelestarian lingkungan, keberlanjutan sosial, serta penghormatan terhadap masyarakat adatsebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan Papua. Forum yang akan berlangsung di Kota Sorong pada 2-4 September 2026 ini membawa harapan baru bagi lahirnya kesepahamanbersama tentang arah pembangunan Papua yang berkelanjutan dan berkeadilan. Persiapan yang dilakukan Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya menunjukkan keseriusandaerah dalam menyukseskan forum tersebut. Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu menekankan pentingnya kekompakan, keterbukaan, dan kerja sama seluruh pihak yang terlibatdalam pelaksanaan Papeda Summit. Pandangan tersebut mencerminkan satu pesan pentingbahwa masa depan Papua tidak dapat dibangun secara sendiri-sendiri. Pembangunan membutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, tokoh adat, dan seluruh pemangku kepentingan. Komitmen tersebut patut diapresiasi karena Papua memiliki tantangan pembangunan yang kompleks sekaligus potensi yang sangat besar. Kekayaan sumber daya alam, keanekaragamanhayati, hutan tropis, wilayah pesisir, serta kekayaan budaya merupakan modal strategis bagipembangunan masa depan. Namun, seluruh potensi tersebut harus dikelola secara bijaksanaagar kemajuan hari ini tidak justru menjadi beban bagi generasi yang akan datang. Di tengah perubahan iklim dan meningkatnya perhatian dunia terhadap isu keberlanjutan, Tanah Papua memiliki posisi yang sangat strategis. Kawasan ini bukan hanya memilikikekayaan alam yang bernilai ekonomi, tetapi juga memegang peranan penting dalam menjagakeseimbangan ekologis. Karena itu, pembangunan Papua harus diarahkan untuk menciptakankesejahteraan tanpa mengorbankan lingkungan yang menjadi sumber kehidupan masyarakat. Papeda Summit 2026 membuka ruang dialog untuk membahas berbagai persoalan tersebutsecara menyeluruh. Isu lingkungan, sosial, ekonomi, ekonomi hijau, ekonomi biru, pengelolaankarbon, hingga pemberdayaan masyarakat adat menjadi bagian dari agenda yang akandibicarakan. Luasnya cakupan pembahasan menunjukkan bahwa pembangunan berkelanjutantidak dapat dilihat dari satu sektor saja. Keberhasilan pembangunan harus lahir darikemampuan menyelaraskan berbagai kepentingan agar pertumbuhan ekonomi berjalan seiringdengan perlindungan alam dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Ketua Panitia Papeda Summit 2026 Julian Kelly Kambu memandang forum ini sebagai ruanguntuk menyamakan persepsi mengenai pembangunan berkelanjutan di Tanah Papua. Pandangan tersebut memiliki arti strategis karena selama ini pembangunan sering menghadapipersoalan perbedaan sudut pandang antara berbagai pihak. Pemerintah memiliki target pembangunan, masyarakat adat memiliki nilai dan kearifan lokal, dunia usaha memilikikepentingan investasi, sementara akademisi menghadirkan kajian ilmiah sebagai dasarpengambilan kebijakan. Seluruh perspektif tersebut perlu dipertemukan dalam ruang dialog yang terbuka dan konstruktif. Papeda Summit menjadi kesempatan untuk membangun titik temu di antara berbagaikepentingan tersebut. Pembangunan…

Read More

Membangun Papua Berkelanjutan Melalui Semangat Kolaborasi Papeda Summit 2026

Oleh : Frans Nawipa Pembangunan Papua dilakukan secara terpadu dan komprehensif melibatkan lintassektoral. Kompleksitas persoalan, kekayaan sumber daya alam, keberagaman sosialdan budaya, serta karakteristik geografis yang khas menuntut hadirnya ruang bersamayang mampu mempertemukan seluruh pemangku kepentingan. Pembangunan berkelanjutan di Tanah Papua membutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, masyarakat adat, akademisi, organisasi masyarakat sipil, pelaku usaha, dan berbagaimitra pembangunan. Dalam konteks inilah Papeda Summit 2026 memiliki arti pentingsebagai ruang untuk menyatukan gagasan, memperkuat kerja sama, dan membangunarah pembangunan Papua yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Pelaksanaan Papeda Summit 2026 di Sorong, Papua Barat Daya, pada 2-4 September mendatang menjadi momentum strategis untuk memperkuat kesadaran bahwa masa depan Papua harus dibangun melalui kebersamaan. Forum ini tidak sekadar menjaditempat berkumpul dan berdiskusi, melainkan ruang untuk mempertemukan beragampandangan serta menyusun langkah bersama menghadapi tantangan pembangunan. Kehadiran berbagai unsur dari enam provinsi di Tanah Papua menunjukkan bahwapembangunan berkelanjutan harus dilihat sebagai agenda bersama yang melampauibatas administrasi dan kepentingan sektoral. Dukungan Gubernur Papua Pegunungan John Tabo terhadap pelaksanaan Papeda Summit 2026 memperlihatkan pentingnya komitmen pemerintah daerah dalammemperkuat kolaborasi pembangunan. John Tabo memandang forum tersebut sebagaikegiatan yang baik karena mempertemukan berbagai pihak untuk membahas masa depan Papua. Dukungan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pembangunan yang berhasil tidak hanya bergantung pada besarnya anggaran atau banyaknya program, tetapi juga pada kemampuan seluruh pihak untuk duduk bersama, menyamakanpandangan, dan membangun kerja sama berdasarkan kepentingan masyarakat. Salah satu gagasan penting yang disampaikan John Tabo adalah perlunyapengembangan komoditas lokal Papua sebagai penggerak ekonomi masyarakat adat. Pandangan ini patut menjadi perhatian dalam agenda pembangunan berkelanjutan. Papua memiliki berbagai potensi ekonomi lokal yang dapat dikembangkan untukmeningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa harus mengabaikan kelestarianlingkungan dan nilai-nilai budaya. Pengembangan potensi tersebut harus diarahkanagar masyarakat menjadi pelaku utama, bukan sekadar penonton dalam aktivitasekonomi yang berlangsung di wilayahnya. Pembangunan ekonomi yang berkelanjutan harus memberikan manfaat nyata kepadamasyarakat di sekitar sumber daya tersebut berada. Karena itu, masyarakat adat perlumemperoleh ruang yang memadai untuk berpartisipasi dalam pengelolaan wilayah dan sumber daya alam. Pembangunan yang menghormati hak masyarakat adat tidakseharusnya dipandang sebagai hambatan, melainkan sebagai fondasi untukmenciptakan kebijakan yang lebih adil, diterima masyarakat, dan mampu bertahandalam jangka panjang. Ketika masyarakat merasa memiliki ruang dalam menentukanmasa depannya, pembangunan akan memperoleh legitimasi sosial yang lebih kuat. Kepala Regional EcoNusa Wilayah Papua Maryo Sanuddin menyampaikan bahwaakademisi menjadi salah satu kelompok yang akan dilibatkan dalam Papeda Summit 2026. Forum yang diperkirakan menghadirkan sekitar 500 peserta dan sekitar 100 pembicara serta moderator tersebut menunjukkan besarnya peluang pertukarangagasan yang dapat terjadi. Keterlibatan pemerintah pusat, perwakilan kedutaan besar, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan mitra pembangunan dapat menciptakanjejaring kolaborasi yang lebih luas untuk mendukung agenda pembangunanberkelanjutan di Tanah Papua. Pameran produk lokal dan praktik baik masyarakat adat dari enam provinsi di Tanah…

Read More

Libatkan Tokoh, Papeda Summit Perkuat Pembangunan Berkelanjutan di Tanah Papua

Papua – Pelaksanaan Papeda Summit 2026 mendapat dukungan dari berbagai pihak sebagai forum strategis untuk memperkuat kolaborasi pembangunan berkelanjutan di Tanah Papua. Keterlibatan pemerintah daerah, tokoh masyarakat, akademisi, organisasi masyarakat sipil, hingga mitra pembangunan diharapkan mampu menghasilkan kesepahaman bersama dalam mendorong pembangunan yang berpihak pada masyarakat adat dan potensi lokal. Gubernur Papua Pegunungan John Tabo…

Read More

Papeda Summit 2026 Jadi Ruang Penting Pembangunan Berkelanjutan di Tanah Papua

SORONG – Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya mematangkan persiapan pelaksanaan Papua Sustainable Development (Papeda) Summit 2026 yang akan berlangsung pada 2-4 September 2026 di Kota Sorong. Forum tersebut diharapkan menjadi ruang strategis untuk menyatukan pandangan berbagai pemangku kepentingan dalam merumuskan arah pembangunan berkelanjutan di Tanah Papua. Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu meminta seluruh panitia…

Read More

RUU Perampasan Aset Menjadi Jalan Baru Melawan Korupsi yang Makin Canggih

Oleh: Rania Zafirah )* Pemberantasan korupsi menghadapi tantangan yang semakin kompleks seiringberkembangnya modus kejahatan dan cara pelaku menyembunyikan hasil tindak pidana. Korupsi tidak lagi hanya berkaitan dengan pemberian uang secara langsung, tetapi dapatmelibatkan jaringan luas, pemindahan aset, penggunaan pihak lain, hingga penyamarankepemilikan kekayaan. Kondisi tersebut membuat penindakan terhadap pelaku perlu diikutistrategi untuk memastikan hasil kejahatan dapat ditelusuri dan dikembalikan kepada negara. Dalam konteks tersebut, Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset menjadiinstrumen yang relevan untuk memperkuat pemberantasan korupsi. Regulasi ini diharapkanmelengkapi perangkat hukum yang telah tersedia, terutama ketika aset hasil tindak pidanasulit dijangkau melalui mekanisme penindakan konvensional. Ketika pelaku semakin mampumengalihkan atau menyembunyikan kekayaan, negara membutuhkan mekanisme hukumyang efektif untuk melacak dan mengamankan aset tersebut. Pembahasan RUU Perampasan Aset oleh DPR RI menjadi bagian dari proses menghadirkanlandasan hukum yang lebih kuat. Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman mengatakantelah menargetkan pembahasan dan pengesahan regulasi tersebut dapat dirampungkan pada akhir 2026. Proses pembahasan tetap memperhatikan aspek kehati-hatian, kepastian hukum, serta masukan dari berbagai pihak. Percepatan diperlukan agar regulasi dapat segera hadir, namun kualitas dan ketepatan setiap ketentuan tetap harus menjadi perhatian. Pentingnya regulasi tersebut berkaitan dengan kebutuhan memastikan hasil tindak pidanatidak tetap berada di tangan pelaku atau pihak lain.  Pengesahan RUU Perampasan Aset penting untuk memperkuat upaya pemberantasan korupsi, termasuk melalui pemiskinankoruptor. Regulasi tersebut dapat menutup celah dalam pengembalian aset hasil korupsi yang selama ini sulit dijangkau, terutama ketika pelaku melarikan diri, meninggal dunia, atauproses hukum berlangsung lama sehingga aset telah dialihkan maupun disamarkan. RUU Perampasan Aset menjadi terobosan penting dalam pemberantasan korupsi apabila didukungpengawasan ketat dan kelembagaan yang kuat. Perampasan aset memiliki arti strategis karena pemberantasan korupsi tidak cukup hanyaberorientasi pada pemidanaan pelaku. Hukuman penting sebagai bentukpertanggungjawaban, tetapi pemulihan kerugian negara juga menjadi bagian yang tidakterpisahkan. Tanpa mekanisme pengembalian aset yang efektif, hasil kejahatan berpotensitetap berada di tangan pelaku atau pihak lain meskipun proses pidana telah berjalan. Persoalan tersebut semakin rumit ketika aset telah dipindahkan atau disamarkan. Kekayaanhasil tindak pidana dapat dialihkan kepada pihak lain, ditempatkan dalam berbagai bentukinvestasi, atau diubah menjadi aset dengan kepemilikan yang sulit dilacak. Proses hukumjuga dapat menghadapi kendala apabila pelaku melarikan diri, meninggal dunia, atau proses peradilan berlangsung lama. Karena itu, pendekatan pemberantasan korupsi perlumemperhatikan keberadaan aset, bukan hanya keberadaan pelaku. Dengan mekanisme perampasan aset yang dirancang secara tepat, negara memiliki peluanglebih besar untuk mengejar hasil kejahatan sekaligus mempersempit ruang bagi pelakumenikmati kekayaan yang diperoleh secara ilegal. Kebijakan tersebut juga dapat memberikanefek pencegahan karena pelaku tidak hanya menghadapi risiko kehilangan kebebasan, tetapijuga kehilangan manfaat ekonomi dari tindak pidana. Namun, efektivitas RUU Perampasan Aset harus dibangun di atas prinsip hukum yang kuat. Perampasan harta menyangkut hak kepemilikan warga negara sehingga prosedur yang jelas, mekanisme pembuktian yang terukur, pengawasan, serta kesempatan bagi pihakberkepentingan memberikan klarifikasi menjadi unsur penting. Kepastian tersebut diperlukanagar kewenangan negara tetap digunakan secara tepat sasaran dan berada dalam koridorhukum. Proses penyusunan RUU yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan menjadi bagianpenting untuk memastikan keseimbangan tersebut. DPR RI melalui Komisi III terusmenyerap aspirasi dan masukan melalui rapat dengar pendapat umum. Partisipasimasyarakat, akademisi, praktisi hukum, aparat penegak hukum, serta kelompok terkait dapatmemperkaya substansi sekaligus mengidentifikasi potensi persoalan sebelum regulasidiberlakukan. Aspek pemulihan aset juga memiliki arti penting bagi negara. Kekayaan yang berhasildikembalikan dapat menjadi bagian dari pemulihan kerugian akibat tindak pidana dan memberikan manfaat bagi kepentingan publik. Dengan demikian, pemberantasan korupsitidak berhenti pada proses hukum terhadap pelaku, tetapi juga memastikan sumber daya yang semestinya menjadi hak negara dapat kembali digunakan untuk kepentingan masyarakat. Kehadiran RUU Perampasan Aset dapat menjadi bagian dari pembaruan strategi pemberantasan korupsi di Indonesia. Perkembangan teknologi dan sistem keuangan membuatcara menyembunyikan kekayaan semakin beragam sehingga pendekatan penegakan hukumperlu terus menyesuaikan diri. Negara membutuhkan instrumen yang mampu menghadapipola kejahatan yang terus berkembang. Pembahasan RUU Perampasan Aset yang diarahkan selesai pada akhir 2026 menjadimomentum untuk memperkuat fondasi pemberantasan korupsi. Proses yang melibatkanberbagai masukan diharapkan memastikan setiap ketentuan memiliki dasar yang kuat, sementara pengawasan dan kesiapan kelembagaan menjadi penopang implementasinya. Pemberantasan korupsi membutuhkan lebih dari sekadar penindakan terhadap pelaku. Negara perlu memastikan hasil kejahatan tidak mudah disembunyikan, dipindahkan, atau dinikmatipelaku dan jaringannya. Dengan kepastian hukum, pengawasan ketat, kelembagaan kuat, serta mekanisme perlindungan hak yang memadai, RUU Perampasan Aset berpotensimenjadi instrumen penting untuk mempersempit ruang gerak korupsi sekaligus memastikanhasil kejahatan dapat dikembalikan bagi kepentingan publik.  *) Penulis adalah Content Writer di Biro Kajian Hukum Indonesia

Read More

RUU Perampasan Aset: Babak Baru Perang Negara Melawan Korupsi Modern

Oleh: Dhita Karuniawati )* Pemberantasan korupsi memasuki babak baru. Negara tidak lagi cukup hanya mengejar pelaku dan menjatuhkan hukuman, tetapi juga harus memastikan hasil kejahatan tidak tetap dinikmati, disembunyikan, atau dialihkan melalui berbagai bentuk aset. Arah tersebut tercermin dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset yang kini memasuki tahap penting di DPR. Komisi III DPR RI mengusulkan…

Read More

Pemberantasan Korupsi Diperkuat lewat RUU Perampasan Aset Tindak Pidana

Jakarta – Pembahasan RUU Perampasan Aset Tindak Pidana menjadi langkah penting dalam memperkuat pemberantasan korupsi dan kejahatan yang merugikan negara maupun masyarakat. Regulasi ini diharapkan mampu mempercepat pemulihan kerugian negara, mencegah pelaku menikmati hasil kejahatannya, serta mengatur perampasan aset yang berasal dari tindak pidana bermotif ekonomi dan berdampak signifikan. Dalam pembahasannya, DPR RI telah memasukkan…

Read More

RUU Perampasan Aset Dipercepat, Pemberantasan Korupsi Jadi Sasaran Utama

Jakarta — Langkah maju dalam agenda penegakan hukum di Indonesia kian nyata. Komitmen penyelesaian Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset kini tengah dipacu agar segera disahkan pada akhir tahun 2026. Regulasi ini dinilai sebagai instrumen krusial yang tidak hanya menargetkan para koruptor, tetapi juga membidik berbagai tindak pidana berdimensi ekonomi lainnya demi menyelamatkan kekayaan negara. Mengamati…

Read More

Pemerintah Tepat Mendisiplinkan SPPG agar MBG Tidak Berjalan Asal-asalan

Oleh: Revan Ananda )* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu agenda strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, khususnya anak-anak. Dengan cakupan program yang luas, pelaksanaannya membutuhkan tata kelola yang kuat, standar pelayanan yang jelas, serta pengawasan berkelanjutan. Karena itu, langkah pemerintah dalam mendisiplinkan Satuan Pelayanan Pemenuhan…

Read More

Perkuat Mutu MBG, Pemerintah Tegakkan Disiplin Kepala SPPG

Oleh: Rivka Mayangsari*) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu program strategis pemerintah yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, khususnya dalam pemenuhan gizi bagi generasi penerus bangsa. Karena menyangkut kesehatan dan keselamatan jutaan penerima manfaat, penyelenggaraan program tersebut tidak dapat hanya mengandalkan semangat pelayanan. Dibutuhkan standar operasional yang ketat, pengawasan berlapis, serta kedisiplinan tinggi dari seluruh pihak…

Read More