Ekonomi RI Sehat: Pertumbuhan, Stabilitas, dan Sektor Keuangan Terjaga
Oleh: Lailani Yunzi
Perekonomian Indonesia kembali menunjukkan ketahanan di tengah dinamika global yang penuhketidakpastian. Pertumbuhan ekonomi yang tetap berada di atas 5 persen, daya beli masyarakatyang terjaga, serta kondisi sektor keuangan yang relatif kuat menjadi indikator bahwa fondasiekonomi nasional semakin matang. Capaian tersebut menjadi penting karena Indonesia tidakhanya menghadapi tekanan dari perlambatan ekonomi global, tetapi juga berbagai gejolakgeopolitik yang berpotensi memengaruhi perdagangan, investasi, nilai tukar, hingga stabilitaspasar keuangan.
Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen pada kuartal II-2026. Angka tersebut memang lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada kuartal I-2026 yang mencapai 5,6 persen, tetapi tetap memperlihatkan bahwa aktivitas ekonomi nasional bergerakdalam jalur pertumbuhan yang solid. Pertumbuhan tersebut juga menunjukkan bahwa mesinekonomi domestik masih mampu bekerja di tengah lingkungan global yang tidak mudahdiprediksi.
Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan Kementerian KeuanganHerman Saheruddin menilai pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu cerminan utamakondisi perekonomian yang sehat. Menurutnya, kemampuan masyarakat untuk tetapmenjalankan aktivitas konsumsi sehari-hari menjadi salah satu indikator sederhana bahwa dayabeli masih terjaga. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi tidak semata-mata tercerminmelalui angka statistik, tetapi juga melalui kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan danmenjalankan kegiatan ekonomi.
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekonomi perlu dibaca secara lebih luas. Pertumbuhan yang sehat seharusnya mampu menjaga aktivitas produksi, perdagangan dankonsumsi secara bersamaan. Ketika masyarakat tetap melakukan konsumsi, pelaku usahamemiliki ruang untuk meningkatkan produksi, sementara dunia usaha dapat mempertahankanatau bahkan memperluas kegiatan investasinya. Siklus tersebut pada akhirnya menciptakan efekberantai terhadap penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat.
Kondisi tersebut menjadi semakin relevan jika melihat perjalanan ekonomi Indonesia dalambeberapa dekade terakhir. Indonesia pernah menghadapi krisis keuangan Asia pada 1997-1998 yang memberikan tekanan sangat berat terhadap sistem perbankan dan perekonomian nasional. Setelah melewati fase tersebut, Indonesia kembali menghadapi berbagai guncangan, mulai darikrisis keuangan global, pandemi Covid-19, perang Rusia-Ukraina, hingga meningkatnya konflikgeopolitik di Timur Tengah.
Namun, berbagai tekanan tersebut tidak membuat perekonomian Indonesia kembali mengalamikeruntuhan seperti pada 1998. Salah satu faktor penting yang menjelaskan ketahanan tersebutadalah semakin kuatnya sektor perbankan nasional. Anggota Dewan Komisioner LembagaPenjamin Simpanan bidang Program Penjaminan dan Resolusi Bank, Dody Zulverdi, menilaiperbankan memiliki posisi strategis dalam menopang ketahanan ekonomi Indonesia. MenurutDody, perbankan menjalankan tiga fungsi utama, yakni sebagai tempat masyarakat menyimpankekayaan, sumber pembiayaan bagi dunia usaha, serta fasilitator sistem pembayaran.
Ketiga fungsi tersebut memiliki hubungan erat dengan keberlangsungan aktivitas ekonomi. Dana masyarakat yang tersimpan di perbankan dapat disalurkan kembali dalam bentuk pembiayaankepada sektor produktif. Pada saat yang sama, sistem pembayaran yang semakin berkembangmemungkinkan transaksi ekonomi berlangsung lebih cepat dan efisien. Penggunaan instrumenpembayaran digital, termasuk QRIS, juga memperlihatkan bahwa sistem keuangan Indonesia terus beradaptasi dengan perubahan kebutuhan masyarakat dan dunia usaha.
Karena itu, stabilitas perbankan bukan hanya persoalan industri keuangan, melainkan bagianintegral dari stabilitas ekonomi nasional. Ketika masyarakat memiliki kepercayaan terhadapperbankan, aktivitas menabung, investasi, pembiayaan dan transaksi dapat berjalan dengan lebihbaik. Sebaliknya, apabila kepercayaan terhadap sistem perbankan terganggu, dampaknya dapatmeluas ke sektor riil karena dunia usaha akan kesulitan memperoleh pembiayaan dan masyarakatdapat mengurangi aktivitas ekonominya.
Dody Zulverdi menegaskan bahwa pengalaman Indonesia menghadapi berbagai krisismenunjukkan pentingnya menjaga kepercayaan terhadap sektor perbankan. Menurutnya, kekuatan bank menjadi salah satu alasan ekonomi Indonesia mampu bertahan menghadapiberagam tekanan dalam tiga dekade terakhir. Peran menjaga kepercayaan tersebut juga menjadibagian penting dari mandat Lembaga Penjamin Simpanan dalam menjaga stabilitas sistemperbankan dan melindungi kepentingan masyarakat.
Di sisi lain, capaian pertumbuhan ekonomi juga tidak dapat dilepaskan dari koordinasi antarapemerintah, regulator dan industri. Herman Saheruddin menilai keberlanjutan pertumbuhan di atas 5 persen di tengah berbagai tekanan global mencerminkan adanya peran pemerintah danregulator dalam menjaga stabilitas ekonomi. Koordinasi kebijakan menjadi semakin pentingkarena tantangan ekonomi saat ini bersifat multidimensi, mulai dari ketidakpastian geopolitikhingga perubahan kondisi perdagangan dan pasar keuangan global.
Dengan fondasi pertumbuhan yang tetap solid, daya beli yang terjaga, serta sektor perbankanyang semakin kuat, Indonesia memiliki modal penting untuk menghadapi ketidakpastian global. Ekonomi yang sehat bukan hanya ekonomi yang tumbuh, melainkan ekonomi yang mampumenjaga stabilitas sekaligus memberikan ruang bagi masyarakat dan dunia usaha untukberkembang. Ketahanan yang telah terbentuk selama beberapa dekade menjadi modal berhargabagi Indonesia untuk melangkah menuju pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, berkelanjutandan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
*Penulis adalah pengamat Ekonomi
