Sinergi Pusat dan Daerah, Kunci Indonesia Keluar dari Middle Income Trap

Oleh: Adnan Ramdani )*

Upaya Indonesia untuk keluar dari middle income trap atau jebakan pendapatanmenengah membutuhkan lebih dari sekadar pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Indonesia perlu memastikan pertumbuhan tersebut berlangsung secara berkualitas, produktif, merata, dan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat. Dalamkonteks tersebut, sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah menjadisalah satu fondasi penting untuk mempercepat transformasi ekonomi menujuIndonesia sebagai negara berpendapatan tinggi.

Tantangan tersebut semakin relevan karena perekonomian nasional tidak berdirisendiri. Pertumbuhan ekonomi nasional merupakan akumulasi dari kinerja ekonomidaerah. Karena itu, kebijakan pusat yang baik perlu diterjemahkan menjadi program konkret di tingkat provinsi, kabupaten, dan kota. Sebaliknya, berbagai potensiekonomi daerah harus mendapatkan dukungan regulasi, pembiayaan, infrastruktur, dan kepastian investasi dari pemerintah pusat.

Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menegaskan pentingnya peranbersama pemerintah pusat dan daerah dalam mengejar pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi, Tito menyampaikan bahwaIndonesia perlu meningkatkan pertumbuhan ekonomi untuk keluar dari middle income trap. Pihaknya menekankan bahwa konsumsi rumah tangga, investasi, belanja pemerintah, serta ekspor merupakan komponen penting yang harusdioptimalkan secara bersama.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa daerah bukan sekadar pelaksanakebijakan nasional, melainkan bagian penting dari mesin pertumbuhan ekonomi. Ketika pemerintah daerah mampu menjaga daya beli, mempercepat investasi, meningkatkan kualitas pelayanan publik, dan mengembangkan sektor unggulanlokal, maka kontribusinya akan langsung memperkuat perekonomian nasional. Dengan demikian, agenda keluar dari middle income trap harus dibangun melaluipembagian peran yang jelas antara pusat dan daerah.

Senada, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnyamenegaskan bahwa pemerintah memiliki target besar menuju pertumbuhan ekonomi8 persen dan daerah harus terus didorong karena pertumbuhan nasional pada dasarnya merupakan agregasi dari pertumbuhan daerah. Pesan tersebutmenunjukkan bahwa keberhasilan transformasi ekonomi nasional sangat bergantungpada kemampuan setiap daerah mengoptimalkan potensi yang dimilikinya.

Sinergi pusat dan daerah perlu diwujudkan melalui pembangunan yang lebihterintegrasi. Pemerintah pusat dapat memberikan arah kebijakan nasional, sementara pemerintah daerah memastikan implementasinya sesuai dengankarakteristik wilayah. Daerah dengan basis pertanian dapat diarahkan menujuhilirisasi agroindustri, wilayah pesisir dapat mengembangkan ekonomi maritim, sementara daerah dengan potensi industri dan jasa dapat memperkuat kawasanekonomi, pariwisata, ekonomi digital, maupun industri berbasis teknologi.

Aspek investasi juga menjadi bagian penting, pemerintah daerah memiliki posisistrategis karena berhadapan langsung dengan pelaku usaha dan masyarakat. Perizinan yang cepat, kepastian tata ruang, ketersediaan infrastruktur, sertapelayanan publik yang efisien dapat meningkatkan daya tarik investasi. Investasiyang masuk kemudian diharapkan tidak berhenti pada penciptaan modal, tetapimenghasilkan lapangan kerja berkualitas, transfer teknologi, peningkatanproduktivitas, dan penguatan rantai pasok lokal.

Pada saat yang sama, pemerintah pusat perlu memastikan pembangunaninfrastruktur dan konektivitas antardaerah terus diperkuat. Ketimpangan infrastruktur dapat meningkatkan biaya logistik dan membuat potensi ekonomi daerah sulit berkembang. Karena itu, pembangunan jalan, pelabuhan, bandara, energi, jaringan telekomunikasi, hingga infrastruktur digital harus diarahkan untuk memperkuat keterhubungan pusat-pusat produksi dengan pasar nasional maupun global.

Pembangunan sumber daya manusia juga tidak boleh dipisahkan dari agenda tersebut. Indonesia tidak akan keluar dari middle income trap apabila pertumbuhan ekonomi hanya mengandalkan sumber daya alam dan tenaga kerja berbiaya murah. Peningkatan kualitas pendidikan, keterampilan vokasi, kesehatan, serta kemampuan adaptasi terhadap teknologi menjadi investasi jangka panjang untuk menghasilkan tenaga kerja yang produktif dan inovatif.

Rancangan pembangunan nasional juga telah memberikan ruang besar bagi penguatan ekonomi wilayah. Bappenas menekankan bahwa RKP 2027 diarahkan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi inklusif dan berkelanjutan, dengan kontribusi daerah menjadi salah satu kunci pencapaian target tersebut. Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menegaskan bahwa penguatan ekonomi daerah akan berdampak langsung terhadap kekuatan ekonomi nasional.

Karena itu, sinergi pusat dan daerah harus bergerak dari sekadar koordinasi administratif menuju kolaborasi berbasis hasil. Setiap program pembangunan perlu memiliki indikator yang terukur, mulai dari penciptaan lapangan kerja, peningkatan produktivitas, pertumbuhan investasi, penurunan kemiskinan, hingga peningkatan pendapatan masyarakat. Pendekatan berbasis data juga penting agar pemerintah dapat mengetahui sektor mana yang berkembang, wilayah mana yang tertinggal, serta intervensi apa yang paling efektif.

Keluar dari middle income trap bukan hanya persoalan mengejar angka pertumbuhan ekonomi. Tantangan utamanya adalah mengubah struktur ekonomi agar semakin produktif, inovatif, kompetitif, dan mampu memberikan kesejahteraan yang lebih luas. Sinergi pusat dan daerah menjadi kunci karena transformasi tersebut harus berlangsung secara serentak di berbagai wilayah Indonesia.

Dengan kebijakan nasional yang konsisten dan pemerintah daerah yang semakininovatif, Indonesia memiliki peluang besar mempercepat peningkatan produktivitasdan pemerataan pembangunan. Pusat menyediakan arah, regulasi, serta dukunganstrategis, sedangkan daerah menjadi ujung tombak implementasi sekaligus sumberpertumbuhan baru. Jika keduanya bergerak dalam satu visi dan target yang sama, agenda keluar dari middle income trap dapat menjadi langkah nyata menujuIndonesia Emas 2045.

)* Penulis merupakan Pengamat Ekonomi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *